
Masih di ruangan Kenny. Kenny sudah berbaring namun tidak tidur. Sementara Sandra dan Rose duduk di sofa. Sandra tampak termenung, wanita itu sedang memikirkan sesuatu. Rose sudah memperhatikannya sesari tadi.
"San,,, sandra!!!" Panggil Rose.
"Eh,,, iya? " Sandra tersadar.
"Daritadi aku perhatikan kau sedang memikirkan sesuatu. Ada apa? Tidak mau bercerita dengan ku?" Ucap Rose lembut.
Sandra menarik nafas panjang dan langsung di helakan dengan kasar.
"Aku sedang memikirkan Keenan. Tadi malam aku sempat berbicara banyak dengan nya perihal mencari pasangan hidup."
"Kenapa lagi? Apa Keenan menolak lagi?"
"Begitulah. Aku sempat tidak enak hati padamu. Karena pada akhirnya Keenan tidak mau di jodohkan dengan keponakan mu Shella." Sandra memegang tangan Rose.
" Tidak masalah. Itu hak mereka. Kita tidak bisa memaksakan diri. Shella juga sudah berbicara padaku bahwa mereka lebih cocok menjadi teman. Jangan terlalu memikirkan itu San."
"Aku hanya ingin ada wanita yang menemani Keenan disini. Mengurus keperluannya. Tapi Dia hanya fokus bekerja."
"Mungkin saja dia punya calon lain San, dan dia lebih nyaman mencari pendamping sendiri. Sudahlah jangan pikirkan hal-hal yang berat. Kita sudah mulai tua dan harus jaga tubuh kita agar terus sehat." Rose mengeratkan genggaman tangannya pada Sandra.
"Lalu bagaimana pencarian mu? Apakah sudah ada titik terang?" Tanya Sandra pada Rose. Wajah Rose seketika berubah. Dan dia menggelengkan kepalanya.
"Sabar ya. Aku selalu berdoa agar kau segera menemukannya." Sandra membelai lengan Rose. Dan Rose ternyum tapi tampak luka begitu dalam dari raut wajahnya. Sandra terlalu hanyut pada masalahnya sampai dia tidak menyadari masalah sahabatnya jauh lebih rumit. Tapi Rose tetap tersenyum seperti tidak ada masalah apapun.
***
Malam hari sebelumnya.
"Lalu kapan lagi kau akan menikah sayang? Kau sudah memiliki bekal yang mama rasa sudah sangat cukup." Tanya Sandra pada Keenan yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Keenan langsung menatap wajah ibu nya yang sudah begitu berharap. Keenan langsung meletakkan ponselnya.
"Aku akan menikah di saat aku mau ma, jangan paksa aku, saat ini aku belum bisa ma, karena mama juga tau sendiri saat ini aku tidak bisa menyentuh siapa pun terlebih itu wanita, rasa nya sangat sakit dan menyiksa ma. Aku tidak akan menyiksa diriku sendiri atau pun mereka yang akan menjadi istriku kelak.
"Apakah terapi mu dengan Josh belum menampakkan hasil nak?" Tanya Sandra khawatir. Dan di jawab dengan gelengan kepala oleh Keenan.
"Selain Mama dan Kenny, ada seseorang yang bisa aku sentuh bahkan dia dapat meredakan penyakitku jika aku menyentuh nya ma." Ucap Keenan sambil menatap kosong ke arah depannya.
"Siapan sayang?" Tanya Sandra dan dia beranjak dari duduknya untuk duduk di sebalah Keenan.
"Namanya Ruby, dia bekerja di perusahaan ku juga. Dan sekarang aku sudah menjadikan dia sebagai sekretarisku di kantor ma"
"Apa?" Sandra membesarkan matanya.
"Lalu bagaimana anaknya? Kenapa kau tidak membawa nya kesini?" Tanya Sandra.
"Dia ada di sebelah ruangan Kenny, tepatnya dia adalah adik dari pria yang menyelamatkan Kenny ma." Sandra kembali terngangak mendengar ucapan Keenan.
"Dunia memang sempit nak. Kebetulan sekali ya. Lalu apa kau menyukainya?"
"Tentu tidak ma, aku tidak mungkin menyukainya, dia sangat bawel dan menyebalkan. Tapi aku heran kenapa malah dengan gadis menyebalkan itu aku tidak merasakan sakit apapun. Dia bagai magnet dan selalu memicu getaran di dada ini. Pedih tetapi aku menikmati saat dekat dengannya. Aku begitu membencinya tapi sentuhannya bagaikan Surga yang aku rindukan, begitu menenangkan." Eluh Keenan yang secara blak-blakan terbuka pada sang ibu.
"Itu tandanya kau menyukainya sayang. Hanya saja kau gengsi." Sandra menarik pelan telinga putranya. Keenan meringis.
"Aku juga tidak mengerti dengan perasan ku ma." Keenan tertunduk.
Sandra mengekus lembut punggung putra nya itu.
"Jika menurut mu dia baik untuk mu, tidak salah jika kau mendekatinya. Apalagi sangat baik untuk kesehatanmu. Dengan siapapun mama akan mendukung mu nak. Yang penting Putra ku bahagia." Sandra tersenyum hangat.
"Tapi aku tidak yakin pada Papa. Dia tidak akan menerima terlebih Ruby bukan dari keluarga kaya."Ujar Keenan pasrah.
__ADS_1
"Tenang saja. Urusan Papa mu serahkan pada Mama. Lain kali bawa dia ke Mama. Mama ingin mengenalnya." Pinta Sandra dan Keenan mengangguk tapi wajah nya tampak sangat ragu.
"Lalu bagaimana dengan wanita dengan satu anak yang kemarin papa mu katakan? Anak itu benar bukan anak mu kan?" Tanya Sandra.
Keenan menatap lamat wajah ibunya namun dia tidak mampu berkata apapun tentang Inez dan juga Noah. Keenan terlihat bimbang, ragu dan juga khawatir, Keenan hanya diam dan Sandra pun tidak menuntut penjelasan putranya. Dia yakin kalau suatu saat Keenan akan bercerita padanya.
"Tidak perlu dijawab. Jika sudah waktunya dan kau siap menjelaskan semuanya, mama siap mendengarkannya sayang." Sandra mengelus kepala putra kesayangannya itu.
Dikantor Keenan, pria tampan itu benar-benar sibuk dengan pekerjaannya. Ruby juga sibuk dengan tugasnya. Dia duduk tepat di depan ruangan Keenan. Keenan maupun Ruby dapat melihat satu sama lain melalui kaca.
Sesekali Keenan melirik ke arah Ruby, dia masih kesal pada Ruby yang sejak semalam tidak ada menghubunginya. Sementara dia tidak dapat tidur dengan nyenyak.
"Pasti kau tidur dengan nyenyak tadi malam nona." Ucap Keenan geram, dia bermonolog sendiri sambil melirik Ruby dari dalam.
Keenan menghelakan nafas dengan kasar lalu kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Di meja kerja Ruby, dia di sibukkan dengan tumpukan berkas yang baru di serahkan oleh semua departement untuk melaporkan hasil pekerjaan mereka setiap minggunya. Lalu setelah itu memberikan semua berkas itu pada Keenan.
Tidak berapa lama Ruby melihat seorang wanita yang tampak masih muda sambil menggandeng seorang anak kecil. Wanita itu begitu cantik, mulus dan juga modis. Terlihat seperti wanita berkelas. Dan setelah itu Ruby menatap anak laki-laki tampan dan wajah nya sangat mirip dengan wanita yang menggandengnya. Dan semua orang juga bisa melihat bahwa mereka adalah ibu dan anak.
"Hai bibi yang cantik." Sapa anak kecil itu dengan ramah.
"Hai juga anak ganteng, ada yang bisa aku bantu?" Jawab Ruby tak kalah ramah, dia sudah berdiri di hadapan kedua orang itu.
"Aku ingin bertemu Da,,,,!!!" Ucapannya terhenti ketika wanita bersama nya menghentikannya.
"Noah,,!!" Ucap wanita itu sambil menggeleng kepala. Anak itu langsung patuh.
"Maaf Nona anak ini terlalu ramah." Ucapnya.
"Tidak masalah, dia anak yang pintar dan menggemaskan." Sahut Ruby tersenyum ramah.
Sejenak wanita itu memandang kagum wajah Ruby, dia juga menatap Ruby dari atas sampai bawah.
"Iya betul sekali. Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Ruby ramah.
"Kami ingin bertemu Pak Keenan? Apa dia ada didalam?" Tanya wanita itu, suaranya sangat tidak asing dan terdengar begitu lembut.
"Tentu saja, kebetulan pak Keenan ada di dalam. Silahkan masuk Nyonya dan adik ganteng." Ucap Ruby sambil menunduk ke arah Noah.
"Terima kasih Bibi yang cantik." Sahut Noah.
"Kami masuk dulu ya." ucap Inez.
"Silahkan,,,!!! Jawab Ruby tersenyum
Kedua nya pun masuk kedalam ruangan Keenan. Didalam hati Ruby dia juga penasaran siapa kedua orang itu. Lalu dia kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya.
Didalam ruangan Keenan.
" Daddy,,,, ! " Teriak Noah sambil berlari menuju Keenan.
Keenan cukup terkejut namun dia senang melihat anak laki-laki itu. Keenan langsung tersenyum merentangkan tangannya menyambut anak itu.
"Noah,,,!!! " Keduanya berpelukan. Mereka saling merindukan satu sama lain.
"Kenapa tidak menghubungi Daddy kalau mau kesini? Daddy bisa menjemput mu." Keenan menggendong Noah.
"Aku dan Mommy ingin memberi Daddy kejutan. Benarkan Mommy?" Keenan melirik Inez, dan Inez pun tersenyum.
"Kami tidak mengganggu mu kan?" Tanya Inez.
"Tidak, kebetulan aku sedang tidak begitu sibuk. Kenapa tidak menghubungiku terlebih dahulu?" Tanya Keenan pada Inez.
__ADS_1
"Maaf ya, sebenarnya aku ingin mengabarimu. Tapi Noah tidak sabar ingin bertemu dan dia ingin memberi mu kejutan.
" Ayo duduk." Keenan mempersilahkan Inez untuk duduk di Sofa. Keenan juga ikut berjalan menuju Sofa. Sebelumnya dia meraih telepon kantor untuk menghubungi seseorang. Panggilan itu pun langsung tersambung.
"By tolong suruh OB untuk mengantar susu hangat dan teh kedalam ya."
"Baik pak." Sahut Ruby. Keenan langsung menutup telepon tersebut dan duduk di sebelah Inez dan juga Noah.
"Apa itu Bibi cantik yang ada di depan Daddy?" Tanya Noah dan Keenan tampak heran mendengar pertanyaan Noah. Dia langsung tersenyum dan mengangguk.
"Bibi itu sangat cantik Daddy. Jika aku sudah dewasa aku akan mencari wanita cantik seperti dia." Ucap Noah polos. Keenan tersenyum, begitu pun Inez, mereka juga saling tatap.
"Apa dia baru?" Tanya Inez.
"Iya dia sekretaris ku yang baru." Jawab Keenan lembut.
"Noah benar, dia sangat cantik." Ujar Inez dengan tatapan penuh arti. Keenan tidak merespon dia hanya senyum.
Di Pantry Ruby tidak melihat siapapun disitu, tadinya dia ingin OB membuatkan minuman untuk tamu Keenan. Namun tidak ada siapapun di Pantry itu. Ruby langsung berinisiatif membuatnya sendiri. Setelah selesai Ruby membawanya keruangan Keenan.
Di Ruangan Keenan. Noah bermain berlari kesana kemari. Dan tiba-tiba dia meraih balpoin milik Keenan dan melemparnya ke arah asal dan tanpa sengaja Balpoin itu mengenai Dahi Inez.
"Aduhh,,, " Inez merintih.
Keenan terkejut dan dengan sigap mendekati Inez namun tetap memberi jarak. Dia tidak ingin penyakitnya kambung lagi di hadapan keduanya.
"Nez,,, dahimu berdarah." Ujar Keenan.
"Ahh benarkah? Ini tidak apa-apa. Darahnya cuma sedikit" Ucap Inez.
"Sebentar aku ambil kotak P3K dulu." Keenan beranjak.
"Mommy maafkan aku, aku tidak sengaja." Ucap Noah merasa bersalah. Matanya juga mulai berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa sayang, lain kali main nya hati-hati ya." Jawab Inez lembut.
Keenan datang membawa kotak P3K, dia mengeluarkan kapas dan alkohol dan memberikan nya pada Inez. Dan Inez pun menerimanya.
"Daddy yang mengobatinya." Ucap Noah.
"Apa? Daddy? " Keenan terpelongok.
"Iya Mommy terluka, andai aku sudah dewasa pasti aku yang akan mengobatinya. Tapi disini hanya Daddy orang dewasa. Please Daddy." Mohon Noah.
" Noah tidak apa-apa. Mommy bisa sendiri nak." Ucap Inez merasa tidak enak hati pada Keenan, karena dia tau Keenan tidak akan mau menyentuhnya.
"Berikan padaku." Ucap Keenan membuat Inez mendongak. Keenan mengoleskan sedikit alkohol di kapas dan dengan rasa takut menyentuh dahi Inez. Dia mencoba mengobati dahi Inez tanpa menyentuh kulitnya. Dia jg mendekatkan wajah nya ke wajah Inez dan menghembus pelan luka itu agar tidak perih.
"Eshh,,!!! " Inez merintih.
"Apa ini sakit?" Tanya Keenan sambil menghembus lukanya.
"Sedikit.... " Inez menatap dalam wajah Keenan yang saat ini sangat dekat dengannya. Sementara Noah senyum-seyum melihat mereka.
"Yee Daddy cium Mommy, Daddy cium Mommy,,,!!! " Noah terus bersorak kesenangan.
Tiba-tiba Ruby masuk tanpa mengetuk pintu. Seketika mata Ruby terbelalak dan tangan Ruby melemah setelah melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Minuman yang di pegangnya lepas begitu saja. Gelasnya pun pecah.
"Craaaang....!!! "
Sontak ketiganya beralih pada sumber suara tersebut.
"By,,,!!! " Ucap Keenan bangkit dari duduknya.
__ADS_1