
Didalam ruangan perawatan. Tubuh pria yang selama ini terlihat sehat dan bugar terbaring lemah dengan infus yang menempel di lengannya. Wajah tampan nya terlihat sendu dan juga pucat. Kakek dan Ayah nya terlihat begitu khawatir. Karena belum pernah seumur-umur Keenan masuk rumah sakit dan terbaring tidak berdaya seperti itu.
"Cucu ku. " Tuan Newton memegang dada nya yang terasa nyeri. Melihat hal itu Anderson dengan sigap memegang ayah nya.
"Ayah tidak apa-apa? Ayo kita duduk dulu yah." Sambil memapah sang ayah duduk di sofa dan memberikannya segelas air minum.
"Minum dulu yah. Ayah jangan terlalu banyak pikiran. Keenan pasti baik-baik saja. Jangan Khawatir yang berlebihan. Ayah juga belum begitu pulih dari sakit." Ucap nya sambil memberikan minum.
"Terima kasih." Tuan Newton mengambil minum tersebut sambil menatap lamat wajah putra nya. Sudah lama rasa nya dia tidak mendapat perhatian seperti ini dari Putra nya. Semenjak kepergian ibu nya, anak ini berubah drastis. Anderson sadar dengan tatapan itu.
"Kenapa ayah melihatku seperti itu?" Tanya Anderson lembut.
"Tidak,,, aku hanya merasa sudah lama tidak melihat mu perhatian seperti ini." Ujar Tuan Newton tak berdaya.
"Mungkin perasaan ayah saja. Aku tidak merasa seperti itu." Jawab nya sambil mengalihkan pandangannya.
"Semenjak kepergian ibu mu, aku tidak pernah melihat senyum tulus mu lagi. Biasanya kau selalu bertanya banyak hal padaku. Sekarang seakan kau menghindari ku. Untung saja menantu ku begitu perhatian."
"Kapan aku tidak perhatian. Aku selalu memperhatikan mu. Ayah saja yang sering mengabaikan ku. Lebih mengutamakan Ramon. Semenjak tidak ada ibu aku merasa tidak ada yang mendengarkan ku. Karena selama ini hanya ibu yang selalu sabar mendengarkan ku. Ayah selalu mengabaikan ku" Sindirnya dengan wajah datar.
"Kau mencemburui sepupu mu?"
"Tidak, aku hanya merasa dia yang merupakan putra kandung mu dan aku hanya orang lain. Kau juga tidak pernah mendengar saran ku tentang perusahaan. Lebih mendengarkan keponakan mu." Senyum nya miris.
__ADS_1
Tuan Newton langsung memegang bahu Anderson.
"Maafkan aku. Jika selama ini mengabaikan mu, tapi aku tidak pernah mencintai anak lain selain dirimu. Kau putra ku satu-satunya. Hanya saja kau sedikit keras kepala."
"Sifat ini menurun dari mu. Dan sekarang malah ke Keenan. Dia juga sangat keras dan susah menerima saran dari orang lain." Mereka pun sama-sama tertawa pelan.
"Setelah melihat Keenan terbaring lemah seperti ini aku jadi ingat ibu mu. Jantung ku terasa sakit. Aku takut kehilangan Keenan dan aku juga takut kehilangan mu. Kau selalu berada di dekat ku tapi terasa begitu jauh." Wajah Tuan Newton tampak begitu bersedih.
Anderson menarik nafas dalam. Dia pun merasakan hal yang sama.
"Maafkan aku ayah. Jika aku belum bisa jadi anak yang baik. Aku selalu mengecewakan mu. Bahkan sekarang ini lagi-lagi aku gagal. Gagal melindungi putraku sendiri." Anderson menundukkan kepala nya. Tuan Newton menepuk pelan punggung Anderson dan mengelusnya lembut.
"Mari sama-sama kita perbaiki. Ayah juga ayah yang buruk untuk mu. Dan juga kakek yang gagal bagi Keenan. Kita harus sama-sama berjanji hal ini tidak akan terulang lagi. Keenan satu-satu nya penerus hidup kita. Dia harus kuat dan harus selalu sehat." Senyum Tuan Newton begitu hangat. Anderson menggangguk sambil tersenyum. Dia kembali merasakan kehangatan itu. Dan mereka pun saling berpelukan. Beberapa detik mereka berpelukan terdengar suara leguhan dari Keenan. Mereka pun melerai pelukannya.
"Clarissa,,, " Ucap Keenan pelan tetapi matanya masih tertutup. Airmatanya pun ikut menetes. Tuan Newton dan Anderson pun saling tatap.
"Keenan mengigau ayah. " Ujar Anderson sambil menghapus airmata Keenan denga Tissue.
"Sesakit itu kah nak sampai kau menangis dalam tidur mu, sedekat apa Keenan dengan gadis itu?" Tanya Tuan Newton dengan tatapan miris.
"Aku tidak tau ayah. Seperti nya memang sangat dekat. Karena Keenan di culik juga karena menyelamatkan gadis itu." Ucap Anderson sedikit salah tingkah.
__ADS_1
"Aku harap ini tidak akan meninggalkan trauma yang berat untuk Keenan. Aku khawatir ini berpengaruh ke masa depan."
"Tidak ayah. Jangan terlalu jauh berfikir. Keenan anak yang kuat. Dia pasti bisa melawan semua nya." Anderson menenangkan sang ayah agar tidak berfikir yang berat-berat. Karena Anderson takut hal ini mempengaruhi kesehatan ayahnya.
"Semoga saja." Tuan Newton menghela nafas
***
Toto pun sampai di pemakaman. Tampak banyak orang yang menghadiri pemakaman Teddy. Toto pun mendekati Ibu Clarissa dan disitu di dampingi oleh Max dan beberapa anak buahnya. Toto sedikit merinding karena dia tau Max merupakan orang yang kejam.
"Permisi nyonya, saya Toto ingin mengucapkan belasungkawa atas kepergian Tuan Teddy Snow, semoga keluarga di beri ketabahan. Dan saya juga ingin menyampaikan salam dari Tuan Besar Newton Kiel. Beliau tidak dapat hadir karena ada kepentingan yang tidak bisa di tinggalkan. Dan ini titipan dari Tuan Besar Kiel." Toto berusaha berbicara normal tanpa rasa takut saat berhadapan langsung dengan Maxime. Clara menoleh dan menatap Toto dengan tajam. Dia juga melirik amplop yang di pegang oleh Toto dan Clara segera berdiri mendekati Toto dan merampas amplop tersebut dari tangan Toto. Betapa terkejutnya Toto saat melihat respon tidak bersahabat dari Istri Teddy tersebut. Mata Clara terus melotot melihat Toto.
"Apa ini suapan dari Tuan besar Kiel? Setelah mereka membunuh suami ku? Apakah kalian pikir nyawa suami ku bisa di kembali kan? Ucap Clara kuat dan lantang terapi sambil menangis.
"Apa maksud nyonya saya tidak mengerti. "
"Apakah dengan memberikan kami uang masalah akan selesai dan melupakan kalau suami ku mati tertembak oleh suruhannya keluarga Kiel. Kalian semua bajingan. dan ini, aku tidak membutuhkan ini semua. Ini tidak akan membuat suami ku kembali lagi" Amplop yang di pegang Clara pun langsung di campakkan ke wajah Toto. Beberapa lembar uang tampak terjatuh. Toto melebarkan mata nya.
"Apa yang anda lakukan nyonya? Kenapa anda bicara seenaknya. Keluarga Kiel tidak mungkin melakukan hal sekeji itu. " Toto membela keluarga Kiel karena dia tau betul bagiamana Tuan Besar Newton sangat baik, dermawan dan tidak pernah mempermainkan nyawa orang lain.
"Kalian tidak bisa mengelak karena senjata itu jelas-jelas milik keluarga Kiel. Dan mereka tanpa hati membunuh suami ku. 'Tangis Clara histeris.
" Tapi nyonya itu tidak mungkin." Toto kembali menjelaskan.
"Cepat pergi sebelum nyawa mu melayang." Ancam Max pada Toto. Membuat pria itu bergetar hebat.
"Ba,,, baiklah kalau begitu aku pamit dulu. Mohon maaf sudah mengganggu ketenangan kalian. Ucap Toto sambil mengambil uang yang berserakan di tanah.
__ADS_1