
Di Apartement Keenan.
Setelah selesai Meeting online Keenan menyempatkan diri untuk berolahraga ringan agar tubuhnya tetap Fit dan bugar. Saat selesai berolahraga Keenan pun menuju dapur karena dia merasa sudah lapar. Aroma masakan sudah tercium dari saat dia keluar ruangan. Hal itu membuatnya semakin lapar. Sesampainya di dapur Keenan melihat kesana kemari tetapi tidak menemukan Ruby. Dia melihat di meja makan sudah tersedia banyak makanan. Ada Iga bakar mentega sesuai permintaan Keenan, ada steak dan juga puding buah untuk pencuci mulut. Keenan juga menemui satu buah kertas yang sepertinya dari gadis itu.
"Aku pamit, aku sudah masak sesuai permintaan mu dan juga sudah masak makanan untuk makan malam. Tugasku selesai. Semoga lekas sembuh dan pulih. Ruby...!!! " Tulisnya.
"Cara bicara nya seperti sudah mengenalku sejak lama saja. Dia lupa jika aku adalah bos nya. Tetapi entah kenapa aku senang mendengar nya." Keenan pun tersenyum tipis. Tapi segera di tepisnya dan senyumnya seketika hilang dan berubah menjadintatapan yang datar. Dia sudah bertekad tidak akan tertarik dengan gadis itu. Dia hanya akan bermain saja dan jika dia bosan dia bisa menyingkirkannya dengan mudah.
Keenan pun duduk dan mulai menyantap menu masakan yang sudah di sediakan oleh Ruby. Mata Keenan terbelalak saat dia mulai menyicipi Iga bakar buatan Ruby yang sangat enak, bahkan lebih enak di banding masakan restauran terkenal. Dengan sekejap makanan itu pun langsung habis. Setelah itu Keenan mulai mencoba memakan puding buah. Puding buahnya juga tidak kalah enak. Sangat segar. Dia benar-benar puas makan hari ini. Steaknya akan dia makan malam hari nanti.
****
Keesokan hari nya di apartement Ruby. Gadis cantik itu masih pulas tidur dibaluti selimut tebalnya. Tiba-tiba pnsel Ruby berdering, tetapi Ruby tidak mendengarnya. Ponsel itu pun terus berdering. Ruby mulai sadar dan mencoba meraba ponselnya di atas nakas sebelah ranjangnya untuk mengambil ponselnya. Setelah mendapatkannya Ruby langsung menolak panggilan itu. Tapi tetap saja ponsel itu terus berdering.
"Siapa manusia kurang kerjaan pagi-pagi begini sibuk menghubungi. Apa dia tidak tau hari ini Weekend." Ucap nya kesal dan mencoba mengumpulakan kesadarannya. Matanya sediki menyipit melihat nomor tidak di kenal yang menghubunginya.
"Nomor tidak di kenal? Siapa?" Ruby pun mengangkat panggilannya.
"Halo,,, " Ucapnya dengan nada suara seraknya.
"30 menit jika kau tidak sampai di Apartement ku, siap-siap saja aku akan memecatmu." Ucap Pria itu tegas.
Ruby terkejut dan melihat ponselnya dan memeriksa kembali siapa yang menghubunginya dengan nada ketusnya.
"Apa kau mendengar ku?"
'Seperti suara Keenan.' batin Ruby.
"I,, iyaa, apa ini Pak Keenan?" Tanya Ruby gagap, jantungnya berdegup kencang. Dari mana pria itu mengetahui nomornya.
"Kau benar-benar lupa suaraku? Kenapa bertanya lagi. Sekarang juga ke Apartement ku. Aku terjatuh di kamar mandi dan kaki ku semakin sakit." Ucapnya sambil menyeringai.
"Maaf pak, tapi tau kah anda jika ini hari libur?" Jawab Ruby yang mulai kesal.
"Saya tidak perduli, selama kaki ini belum sembuh kau harus tetap bekerja dan tetap bertanggung jawab. Apa kau lupa? " Nada suara Keenan meninggi.
Ruby mendengus kesal dan membanting-banting kaki nya di kasur.
'Kenapa ada manusia seperti mu.' batinnya kesal.
"25 menit lagi jika terlambat tunggu surat pemecatan mu di senin pagi." Tanpa menunggu jawaban dari Ruby Keenan langsung mematikan panggilannya.
__ADS_1
"Aaarghh sialaan....Ini masih terlalu pagi " Teriak Ruby sambil menggaruk kasar kepalanya. Ruby langsung bergegas ke kamar mandi.
Di tempat lain Keenan merasa bahagia karena dia merasa menang bisa mengelabui Ruby. Ruby si gadis bodoh yang terlalu mudah dibohongi. Keenan bangkit dari ranjang nya dan berjalan dengan baik, kaki nya tidak pernah sakit, dia hanya berpura-pura sakit untuk memberi pelajaran untuk Ruby.
30 menit kemudian pun Ruby sudah sampai di apartement Keenan. Dia masuk begitu saja dengan sandi apartement yang sudah diberitahu Keenan sebelumnya. Dia berjalan dengan hempasan kaki. Gadis itu begitu kesal karena Keenan tidak menghargai waktu liburnya.
Ruby langsung mengecek Keenan ke kamar dan memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Keenan. Beberapa kali dia mengetuk tetapi tidak mendapat sahutan dari pria menyebalkan itu. Ruby terusengetuk hingga akhirnya Keenan mempersilahkannya untuk masuk.
"Masuk,,,,!! " Teriak Keenan yang juga kesal, dia sengaja tidak menyahuti Ruby, ingin melihat apakah gadis itu langsung masuk saja ke dalam kamar tapi ternyata dugaannya salah.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Keenan ketus.
Tapi Ruby tidak menjawab sama sekali. Dia sudah habis kata-kata menghadapi Keenan.
"Kaki ku sakit, aku ingin ke dapur untuk makan tetapi kaki ku sangat sakit karena terjatuh tadi. Jadi saat ini aku benar-benar kesulitan bergerak. Itu sebab nya aku memanggilmu.
"Kenapa harus aku, bukan kah Asisten pribadi mu ada. Kau bisa menyuruhnya untuk datang kesini." Ruby semakin frustasi.
"Dia sedang libur, aku tidak bisa mengganggu libur nya." Sela Keenan.
"Lalu aku? Aku juga libur pak." Rengeknya hampir menangis.
"Tapi kau harus ingat, kau yang menyebabkan cedera di kaki ku. Kalau tidak aku juga sangat tidak ingin memanggil mu kesini. Itu akan merusak Mood ku di hari libur.
" Oke jika begitu bisakah aku pergi sekarang Pak Keenan? Aku tidak ingin merusak mood mu." Suara Ruby terdengar tegas dan wajahnya tampak menyela.
"Kau bisa pergi setelah masak sarapan untuk ku." Ucap Keenan yang langsung menoleh, tidak ingin melihat respon wajah gadis jutek itu.
"Haahh,,,, baiklah Tuan, setelah ini please izinkan aku pergi dan menikmati libur ku dengan tenang.
" Hhm,,, " Jawab Keenan singkat.
Ruby langsung bergegas keluar kamar tapi belum jauh melangkah Keenan sudah memanggilnya lagi.
"Tunggu...!!!" Ruby pun menghentikan langkah nya dan menghelakan nafas dengan kasar.
"Bantu aku ke ruang tengah, aku ingin menonton." Ucap nya asal.
Mata Ruby langsung beralih pada TV yang ada dikamar Keenan. Dan sebelum Ruby mengatakan sesuatu Keenan dengan cepat menyelanya.
"Jangan salah paham, TV ini kebetulan sedang rusak jadi aku tidak bisa nonton di kamar." Bohongnya.
__ADS_1
'TV sebesar ini bisa-bisa nya hanya menjadi pajangan di kamar seluas ini. Tidak masuk di akal.' Ruby bergumam dalam hati.
Ruby langsung menghampiri Keenan dan dengan sigap menarik tangan Keenan untuk membantunya bangkit, setelah itu perlahan-lahan memapah Keenan dengan tubuh mungil lembutnya. Keenan mati kutu. Gadis sekecil ini mampu menariknya dan memapahnya.
Keenan terlalu banyak berfikir hingga kaki nya tidak sengaja menabrak kaki sebelahnya lagi, hingga membuatnya terjatuh, Ruby yang sedang memeluknya pun ikut terjatuh. Kali ini Ruby yang berada di atas tubuh kekar Keenan. Rambut Ruby menutupi wajah Keenan. Ruby mencoba bangkit tetapi sulit karena tangan Keenan menahan tubuhnya. Mata mereka pun saling bertatapan. Cukup lama dan dalam. Mereka diam dengan fikiran mereka masing-masing.
'Wangi... ' batin Keenan dengan debaran jantung yang terus berdetak kencang.
'Mata ini,,, ' Batin Ruby. Dia seperti sport jantung. Posisi mereka sangat intim. Hingga keduanya lupa diri.
Pandangan Keenan beralih ke arah bibir seksi Ruby yang merah. Tampak lembab dan pastinya sangat lembut. Keenan menelan saliva nya dan mulai menarik tengkuk leher Ruby dengan tanpa sadar ingin kembali menikmati bibir ranum gadis cantik itu. Tetapi Ruby sadar dengan cepat. Ruby menghindar dan dengan sigap menahan dada Keenan yang membuat dada pria itu tercekat.
"Aarghh,,, " Keenan merintih.
"Jangan macam-macam, atau aku akan berbuat lebih dari ini." Ruby bangkit dan segera meninggalkan Keenan di kamar sendirian.
Keenan masih terkapar di kasur sambil tersenyum senang. Dia senang melihat wajah kesal Ruby. Keenan memeriksa tubuhnya yang lagi-lagi tidak bereaksi sama sekali. Dan lagi-lagi bagian bawahnya kembali hidup dan kali ini benar-benar sangat ingin di keluarkan. Keenan langsung berlari ke kamar mandi untuk merendam dirinya dengan air dingin.
Sementara di dapur Ruby sedang sibuk berkutat dengan masakannya. Kali ini Ruby memasak nasi goreng. Tidak lama Keenan keluar dengan tongkatnya. Pria itu benar-benar mendalami peran nya sebagai seorang penipu. Keenan duduk di kursi makan dan melihat masakan Ruby. Cacing di perutnya terasa berdendang ria minta diberi makan.
"Silahkan." Ucap Ruby singkat sambil memberi jus jeruk hangat untuk Keenan.
'Aku benar-benar seperti pelayannya.' lagi-lagi Ruby bergumam dalam hati.
"Kau juga makan, aku tidak mungkin menghabiskan semua nya." Ujar Keenan dengan lembut.
"Kau deluan saja. Aku bisa makan nanti setelah kau selesai." Jawabnya datar.
"Tidak, aku ingin makan bersama. Makanlah." Ruby langsung menatapnya tajam, tapi dia tidak bisa menolak Keenan karena tidak pernah bisa menang berdebat dengan nya. Dengan berat hati Ruby mengambil piring makannya dan duduk di hadapan Keenan yang sedang lahap dengan makanan nya.
Ruby ikut makan bersama. Susah rasanya Ruby menelan nasi goreng buatannya sendiri.
"Sejak kapan kau pintar memasak?" Tanya Keenan untuk mencairkan suasana.
"Sejak dulu. " Jawab Ruby singkat.
"Enak...!!!! Selera makan ku jadi kembali setelah merasakan masakanmu. Tapijangan percaya diri dulu. Ini bukan hal yang luar biasa bagiku." Sela Keenan.
"Aku tau,,, " Jawan Ruby kecewa.
Keenan menatap wajah kecewa Ruby
__ADS_1