Come Back My Love

Come Back My Love
134. Kembali Berwarna


__ADS_3

Keenan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia memutuskan untuk menjemput Ruby di kantor. Hatinya teresa gusar dan juga khawatir. Dia begitu menyesali sikap nya yang terlalu kekanak-kanakan. Dia membayangkan bagaimana gadis itu duduk sendirian untuk menyelesaikan semua pekerjaannya. 


Sesampainya di kantor, Keenan langsung berlari kedalam kantor yang hampir di tutup tanpa memarkirkan mobilnya. 


"Jangan di kunci dulu." Perintah Keenan pada security. 


"Baik pak." Jawabnya. 


Keenan menaiki lift, perasaannya tidak karu-karuan. Setelah lift terbuka Keenan langsung berlari menuju ruangannya.


Namun sialnya Ruby sudah tidak ada di meja kerjanya. Gadis itu sudah pulang. 


Keenan masuk ke dalam ruangannya. Saat ingin duduk Keenan melihat berkas yang sudah dia selesikan sedari tadi. Dan ada selembar kertas di atasnya. 


"Semua pekerjaan sudah aku kirim via email. Silahkan cek kembali. Maaf untuk hari ini karena aku tidak disiplin, tapi aku bersumpah tidak memanfaatkan posisiku untuk menyalahi aturan. Maaf juga karena aku tidak meminta izin mu. Siang tadi aku kerumah ayah. Karena ada sedikit masalah. Yang kau lihat siang tadi juga tidak seperti yang kau bayangkan. Aku ingin ceritakan padamu namun sepertinya tidak perlu karena kau juga tidak akan mendengarkanku. Anggap saja aku seperti apapun yang ada di hati dan fikiranmu. Terima kasih sudah membentakku hari ini. Mengabaikan ku, bahkan berlalu tanpa menoleh sedikitpun. Terima kasih,,,karena hal ini membuat aku benar-benar sadar akan satu hal."


Keenan meremuk kertas itu dan membantingnya dengan kasar. Keenan benar-benar menyesal. Ruby pasti sangat kecewa padanya. 


Keenan kembali turun untuk pulang. Saatdi depan kantor Keenan sempat bertanya pada security. 


"Pukul berapa sekretarisku keluar kantor?" Tanya Keenan. 


"Ohh Nona Ruby keluar 3 menit sebelum anda tiba pak." Jawab Security. 


"Berarti baru saja?" Keenan terbelalak. 


"Iya pak." 


"Kenapa tidak memberitahuku? " Ujar Keenan kesal. 


"Bapak tidak bertanya. Saya juga tidak tau bapak ke kantor untuk apa pak." Jawab security dengan polos. 


"Kau benar-benar ya din." Celotehnya kesal dan langsung meninggalkan udin sang security. 


Keenan kembali melajukan mobilnya dan segera menyusul Ruby. Dia yakin Ruby belum jauh. Keenan berusaha menghubungi Ruby namun ponselnya tidak aktif. 


Di jalanan yang mulai sunyi. Ruby memutuskan untuk berjalan menuju Apartement nya. Dia sudah menunggu bus selama 15 menit di halte  namun bus itu tidak ada yang lewat. Ruby juga ingin memesan taksi online namun ponselnya mati karena dayanya habis.


Saat di tengah jalan Ruby merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Perasaannya mulai tidak enak. Dia kembali teringat dengan teror yang dia terima siang tadi. 


Ruby mempercepat langkahnya namun orang di belakangnya pun juga mempercepat langkahnya. 


Ruby tidak berani menoleh kebelakang karena takut orang yang mengikutinya melakukan hal yang tidak-tidak. 


Apartemen Ruby tidak begitu jauh lagi. Dia semakin mempercepat langkahnya seperti setengah berlari. Namun siapa sangka orang yang mengikutinya semakin dekat dengannya. Ruby pun hendak berlari namun tangannya langsung di cekal. Ruby membesarkan matanya. 


Dengan sigap Ruby menarik tangan orang itu dan memplintirnya. Ruby hendak memberi pukulan pada orang itu namun belum sempat memukulnya Ruby langsung membesarkan matanya melihat siapa pria yang mengikutinya tadi. 


"Aarghh,,,ampun, ampun,,,!!! " Teriak pria itu. 


"Kau??? " Ujar Ruby shock. 


"Iya ini aku Leon,,,!!! " Sahut pria itu sambil meringis kesakitan. 


"Kau beneran Leon?" Ucap Ruby memastikan lagi. 


"Iya ini aku Ca, aku Leon." Wajah pria yang sangat tidak asing bagi Ruby. 


"Astaga,,, kau mengagetkan ku saja. Kenapatl tidak memanggilku? Aku fikir kau orang jahat yang ingin merampok."


"Tadinya aku ingin memanggilmu tapi aku ragu Ca, karena yang aku tau kau sudah tiada. Jadi aku memutuskan untuk mengikutimu saja. Tapi kau malah mempercepat langkah mu" Ucap Leon kesal. 


"Heehh,,,!!! " Ruby mengatur nafasnya. 


"Aku tidak menyangka tanganmu lincah juga. Hampir saja tanganku patah." Eluh Leon. 


"Maaf,,, salah sendiri kenapa kau jadi penguntit." Ujar Ruby menggerutu. 

__ADS_1


"Aku senang bisa melihatmu lagi Ca, aku juga tidak menyangka kau masih hidup." Mata Leon berkaca-kaca. 


"Iya aku masih hidup, jangan panggil aku Clarissa. Panggil aku Ruby."


Leon langsung memeluk Ruby tanpa aba-aba. Pria itu begitu merindukan sosok Clarissa yang selama ini sangat dia cintai. 


Ruby membesarkan matanya, dia kaget dengan interksi Leon padanya. Ruby hendak melerai pelukannya namun Leon semakin mempereratnya. 


"Aku merindukanmu." Ucap Leon. 


Hal ini sontak mendapat tatapan tajam dari seseorang yang sedari tadi mengawasi mereka. 


Keenan yang berada tidak jauh dari Ruby dan Leon berdiri dengan wajah yang tidak mengenakkan. Namun Ruby tidak menyadari itu. 


'Siapa pria itu. Kenapa memeluk Ruby seperti itu. Brengsek,,,!!! " Batin Keenan menggerutu. 


Keenan langsung berbalik arah untuk kembali ke mobilnya. Dia mengurungkan niatnya untuk menghampiri kekasihnya. Hatinya benar-benar panas. Dia merasa belum mengenal Ruby sepenuhnya. Banyak hal yang tidak dia ketahui tentang Ruby dan siapa saja pria yang ada di kehidupannya. Hal itu semakin membuat Keenan Frustasi. 


Ruby langsung mendorong kuat tubuh Leon. Hingga pelukan mereka terlepas. 


"Maaf Ca, aku tidak bisa mengontrol diriku." Seru Leon sambil menghapus airmatanya. 


"Ini sudah malam, aku harus kembali ke apartement ku."


"Kau tinggal dimana? Biar aku antar." Leon menawarkan dirinya. 


"Tidak perlu, apartemen ku tidak jauh dari sini."


"Atau aku boleh minta kontak person mu?" Leon memberikan Ponselnya pada Ruby. 


"Hhm,,, baiklah." Ruby mengambil ponsel Leon dan menekan nomornya.


"Terima kasih Ca." Ujar Leon lembut. 


Ruby ingat betul panggilan itu yang sering Leon ucapkan saat mereka berteman.


"Aku pamit deluan ya. See You." Ruby tanpa ragu langsung melangkah meninggalkan Leon. 


Ponsel Leon terus berdering namun Leon masih mengabaikannya karena sedang asyik memantau Ruby. 


"Andai aku tau kau masih hidup Ca, aku tidak akan berada di titik menjenuhkan ini." Leon bermonolog di dalam mobil. 


Ponselnya kembali berdering. Dengan berat hati Leon menjawab panggilan itu. 


"Hmm,,,!!!"


"Kau dimana? Kenapa belum pulang juga?"


Terdengar suara lembut seorang wanita dari dalam ponsel Leon. 


"Sedang di pejalanan. Setengah jam lagi akan sampai." Jawabnya datar. 


"Baiklah hati-hati ya, aku menunggu mu di rumah."


"Hhm,,, baiklah." Leon langsung mengakhiri panggilan tanpa mendengar jawaban wanita itu. 


Leon mendengus kesal. Kehidupannya beberapa tahun belakangan ini sungguh sangat menjemu kan. Tidak ada hal yang menarik, namun setelah pertemuannya dengan Ruby hari ini membuat hatinya kembali bersemangat. Ada sesuatu yang muncul dalam benaknya. Seakan hidupnya kembali berwarna. 


Leon menatap sendu Apartemen dimana Ruby tinggal hingga membuatnya menyunggingkan senyuman manis yang selama ini tidak pernah lagi ada. 


Hari-hari pun berlalu, sudah 3 hari Keenan dan Ruby saling diam. Tidak banyak berinteraksi terlebih beberapa hari ini Keenan ada perjalanan dinas yang mengharuskannya pergi keluar kota tanpa campur tangan Sekretarisnya. Ruby merasa itu lebih baik, paling tidak keduanya saling introspeksi diri, Ruby juga belum ingin berbicara banyak pada Keenan karena hatinya cukup sakit atas perlakuan pria kemarin. 


Hari ini Keenan sudah kembali masuk kerja.  Ruby memberanikan diri untuk masuk ke ruangan Keenan. Ingin menyerahkan berkas meeting mereka pagi ini.


Saat di dalam ruangan, Keenan menyadari Ruby masuk namun dia berusaha untuk tidak melirik ataupun menyapa kekasihnya itu. 


"Selamat pagi pak, ini berkasnya sudah saya siapkan. Setengah jam lagi kita akan meeting dengan dengan Lion Group. 

__ADS_1


Wangi Ruby justru membuat hati Keenan bergemuruh. Dia benar-benar merindukan wanita ini. Wanita yang sudah menjadi candunya. 


Namun dia juga merasa kesal karena sikap Ruby yang tampak biasa saja padanya. 


"Pak,,, apa anda mendengarkan saya?" Ruby memecah lamunan Keenan. Pria itu sontak terkejut dan langsung melihat wajah Ruby. Rasanya Keenan ingin sekali menarik Ruby kedalam pelukannya. Namun dia masih gengsi.


"Hmm,,,baiklah aku cek dulu." Keenan menerima berkas yang Ruby berikan dan langsung membacanya. 


Setengah jam lagi mereka akan mengadakan meeting dengan perusahaan baru. Hal ini membuat Keenan bersemangat. 


Sebenarnya di dalam hati Ruby juga merasa begitu gelisah, karena dia merasa Keenan semakin menjauh. Padahal dia sangat merindukan Keenan. Namun dia berusaha mengimbangi Keenan yang juga tampak biasa saja padanya. 


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Ternyata Jonas yang datang. 


"Bos pemimpin Lion Group sudah tiba dan sudah di arahkan ke ruang rapat. 


"Baiklah, aku akan segera kesana." Sahut Keenan sambil melirik Ruby.


Hari ini Ruby terlihat begitu cantik, dengan stelan blazernya berwarna coklat susu membuatnya terlihat menawan. Keenan khawatir Ruby akan jadi pemandangan indah di meeting penting hari ini. 


Keenan tentu menjadi gusar. Dia seharusnya tidak membiarkan Ruby bekerja. Ruby hanya miliknya dan hanya dia yang bisa menikmatinya. 


Keenan bangkit dari kursinya dan mulai melangkah, berjalan dengan gagah. Ruby mengikutinya dari belakang. 


Tiba di ruang meeting, Keenan masuk bersama dengan Ruby dan Jonas di sisinya. 


Wajah Keenan dingin dan mendominasi, sontak membuat para klien terkagum-kagum. 


Namun ada seseorang yang menatap dengan serius, pria itu jelas sangat mengenal Keenan dan juga Ruby. 


Ruby sempat melirik pria itu dan langsung mengerutkan keningnya. 


'Leon' batin Ruby. 


'Ternyata Keenan pemilik perusahaan ini. Aku tidak menyangka itu benar-benar Keenan. Dan Ruby masih bersamanya. Apa mereka masih menjalin hubungan?' Leon bertanya-tanya dalam hati. Dia juga melirik Ruby yang sudah duduk di hadapannya. 


"Terima kasih atas kehadirannya. Bisa kita mulai presentasinya?" Tanya Jonas. 


Leon masih menatap Ruby dengan intens dan Keenan menyadari hal itu. Yang di takutkan nya benar-benar terjadi. Belum apa-apa Ruby sudah menjadi pusat perhatian. 


"Bapak Leon apa sudah bisa kita mulai?" Tanya Jonas. Leon pun tersentak dan langsung melihat Keenan yang sedang menatapnya tajam. 


"Ohh maaf, asisten saya akan mempresentasikan." Tunjuk Leon pada asistennya dan mereka mulai meeting dengan seksama. 


Meeting pun selesai, akhirnya perusahaan Leon dan Keenan mulai bekerja sama. Dan kedua nya saling berjabat tangan. 


"Selamat bergabung." Ucap Keenan menjabat tangan Leon. 


"Selamat bergabung pak Keenan. Senang bisa bertemu dengan mu lagi. Kau masih mengingat ku?" Tanya Leon. 


"Tidak,,,!!! " Sahut Keenam sambil menggelengkan kepalanya. 


"Aku teman sekolahmu sial sekali, kau benar-benar melupakanku? "


Keenan mengerutkan dahinya. Dia seperti pernah melihat pria ini. Tapi dimana dia pun tidak ingat. 


Leon langsung beralih ke arah Ruby yang sedang memberesakan semua berkas-berkas. 


"Hai Ca,,,!!! " Sapa Leon dan sontak membuat Keenan heran. 


"Hai Leon.!!! " Jawab Ruby sambil tersenyum


"Aku tidak menyangka kita bertemu disini dan aku tidak menyangka kau dan Keenan masih bersama."


Ruby melirik Keenan yang juga sedang meliriknya. Ruby tersenyum kikuk, Leon semakin mendekati Ruby, namun dengan cepat Keenan bangkit dari duduknya dan langsung menarik tangan Ruby untuk menjauh dari Leon. Sekarang posisi Ruby sudah dekat dengan Keenan. 


"Tolong jaga sikap anda. Jaga jarak dengan sekretarisku." Ujar Keenan ketus. 

__ADS_1


"Tapi Cla,,,,!!! "


"Eheemm,,, maaf pak Leon saya harus deluan karena masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan." Ucap Ruby sambil sedikit membungkukkan badannya memberi hormat. Ruby pun langsung pergi meninggalkan keduanya. 


__ADS_2