Come Back My Love

Come Back My Love
129. Mencari Kebenaran


__ADS_3

Sesampainya di Rumah Sakit, Kenny langsung masuk UGD untuk pemeriksaan. Keenan hendak ikut masuk namun perawat melarangnya untuk masuk.


Ruby juga ikut serta, dia mengikuti kemana pun Keenan pergi. 


Saat ini Keenan terduduk tertunduk sambil memegang kepalanya. Dia sangat khawatir dengan keadaan adiknya. 


Ruby duduk di sebelah Keenan, mengelus lembut punggung pria itu. Melihat Keenan hanya diam Ruby langsung bangkit dari duduknya. Namun Keenan langsung menarik tangan Ruby. 


"Mau kemana?" Keenan mendongak dan bertanya dengan lembut. Wajah dan matanya tampak memerah. 


"Aku ingin membeli minuman di kantin." 


"Mau aku temani?"


"Tidak perlu, kau disini saja menunggu kabar Kenny. Aku akan segera kembali." Ucapnya sambil tersenyum. 


"Baiklah,,,!!" Keenan pun mengangguk.


Ruby pun pergi menuju kantin rumah sakit. Langkahnya tampak gontai, pikirannya kacau, satu sisi dia sedang memikirkan keadaan Alex, bagaimana pun Alex sangat berarti di hidupnya, namun dia juga harus menjaga hubungannya dengan Keenan yang baru saja membaik.


Ruby sudah membeli minuman dan langsung kembali ke UGD tempat Kenny diperiksa. Namun Ruby tidak melihat Keenan ditempat semula. Ruby langsung berjalan menuju ruang perawatan untuk mencari Keenan. 


Saat Ruby berjalan, Ruby melihat Keenan sedang berbicara lewat ponselnya. Ruby pun menghampirinya. 


"Aku tidak mau tau, siapkan pengacara terhebat yang bisa memproses masalah ini. Aku ingin dia di hukum seberat-beratnya. Namun aku sendiri yang harus menghukumnya dengan tanganku sendiri. Setelah itu aku akan menyerahknanya pada kalian. Aku harap kau juga bisa menjaga semuanya agar tidak di ketahui keluarga ku. Aku tutup dulu." Keenan langsung mengakhiri panggilannya dan langsung balik badan. Dia terkejut karena Ruby sudah berada di belakangnya. 


'Sudah berapa lama Ruby berdiri disini.' Batin Keenan. 


"Kau sudah lama?" Tanya Keenan berusaha santai. 


"Hhm,,, bagaimana keadaan Kenny?" Tanya Ruby dengan wajah tegangnya. Dia bertanya apa yang sedang Keenan rencanakan. 


"Kemarilah." Keenan menarik tangan Ruby dan membawanya duduk di depan ruangan VVIP tempat Kenny dirawat. 


Keduanya duduk diam tanpa kata, kedua nya masing-masing sibuk dengan fikiran mereka masing-masing. 


"Apa Kenny sudah sadar?" Tanya Ruby mencoba memecahkan suasana. 


Keenan hanya menggeleng kepala. Ruby semakin khawatir. Bagaimana nasib kakaknya setelah ini. 


"Tadinya dia sempat sadar, namun dokter menyuntikkannya obat penenang agar Ruby tidak histeris dan berteriak-teriak lagi. 


" Kenny sampai seperti itu?" Tanya Ruby membesarkan matanya. 


"Hhm,,, dia mengalami trauma berat dan takut pada semua orang terutama pria. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caranya aku memberitahukan hal ini pada kedua orang tua ku." keenan tampak frustasi. Keenan menghusap-usap kasar wajahnya. 

__ADS_1


"Keenan tenanglah, Kenny pasti akan baik-baik saja. Minumlah dulu." Ruby membuka minuman dan memberikannya pada Keenan. 


Keenan meneguk air mineral itu dan hatinya sedikit tenang. 


"Aku merasa bersalah karena tidak bisa menjaga adikku dengan benar. Kemarin dia hampir celaka karena ingin mencariku dan sekarang dia benar-benar celaka karena kurangnya pengawasanku. Aku kakak yang tidak berguna." Keenan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. 


"Jangan salahkan dirimu. Semua terjadi diluar kendali kita." Ruby mengelus lembut punggung Ruby. 


Keenan pun mulai menyandarkan dirinya di dinding sambil menutup matanya. Ruby memberanikan diri untuk bertanya tentang Alex. 


"Apa yang kau rencanakan Keenan? Alex,,, bagaimana kabar Alex? "


Dahi Keenan tampak berkerut mendengar Ruby membahas tentang Alex. 


"Bagaimana pun juga Alex adalah kakak ku. Aku sangat yakin dia tidak akan bermaksud melakukan ini jika tidak minum obat perangsang itu. 


Keenan duduk tegak dan menatap tajam Ruby. 


" Jadi kau membelanya? Kau sudah melihat sendiri bagaimana kondisi Adikku sekarang dan kau masih membelanya?" Suara Keenan mulai terdengar tidak senang. 


"Bukan begitu maksud ku Keen. Kita sama-sama belum tau kejelasannya bagaimana, kita harus menunggu Kenny sadar dulu." Ruby mencoba membujuk Keenan. Namun sepertinya tidak berhasil. 


"Aku tidak akan pernah memaafkannya, mungkin aku tidak bisa membunuhnya, tapi aku akan membuat hidupnya tidak berarti lagi." Tukas Keenan membuat Ruby melebarkan matanya. 


"Apa maksud mu Keen? Jangan lakukan itu. Aku sangat mengenal Alex. Aku yakin dia tidak akan melakukan hal itu."


"Aku sangat mengenalnya, selama 8 tahun kami bersama dan aku tau betul bagaimana Alex memperlakukan wanita." Ruby tetap kekeh dan hal itu semakin membuat Keenan tidak senang. 


"Kau ingin pamer mengatakan kalian sudah begitu dekat. Itu tidak akan merubah keputusanku By. Aku tidak tau bagaimana kondisi Kenny setelah ini, dia benar-benar sudah hancur By. Bagaimana caranya aku mengembalikan kebahagiaannya." Keenan semakin frustasi. 


"Sadarkah kau, kau juga melakukan hal yang sama. Pernahkah kau berfikir bagaimana kehidupanku setelah ini karena kau?"


"Kenapa kau menyamakan ku dengannya. Jelas berbeda. Aku bersama mu saat ini dan seterusnya. Kau tidak perlu meragukanku By."


"Kenny juga menyukai Alex Keen, dan aku pastikan Alex akan bertanggung jawab."


"Bagaimana dia mau bertanggung jawab jika dia mencintai gadis lain? Sama saja kau menjerumuskan adikku ke lubang yang lebih mengerihkan."


Wajah Ruby langsung berubah. Bagaimana Keenan bisa tau. 


"Kau tidak perlu menyembunyikannya padaku. Aku tau semuanya. Dia mencintaimu sejak lama." Keenan memandang datar wajah Ruby. 


"Bagaimana bisa kau bisa berfikir untuk menyatukan mereka. Adikku mungkin menyukainya tapi apakah dia bisa bahagia dengan cinta yang hanya sebelah pihak."


Ruby kehabisan kata, apa yang di ucapkan Keenan benar adanya.

__ADS_1


"Lain hal denganku, aku memang memiliki perasaan padamu namun aku tidak tau hatimu yang sebenarnya. Aku tidak tau bagaimana perasaan mu pada kakak angkatmu itu."


"Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya Keenan. Aku menyayanginya seperti kakak kandungku sendiri. Karena selama ini hanya dia yang menemaniku, menghiburku dan selalu ada untukku di saat aku benar-benar terjatuh." Ruby mulai menangis. 


"Aku tidak pernah menerima perasaannya. Namun tetap saja dia ingin bertahan. Namun begitu aku tidak sanggup jauh atau sampai melihatnya seperti ini Keen. Aku mohon tolong lepaskan Alex. Aku akan pastikan Alex akan bertanggung jawab. Dia pria yang baik. Aku yakin ada kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. Karena aku tau Alex atau pun Kenny bukanlah orang yang memiliki pemikiran yang kotor untuk saling menghancurkan."


'Aku bahkan tidak mengetahui dengan dalam bagaimana adikku. Namun Ruby bisa.' Batin Keenan sambil menatap nanar wajar Ruby yang begitu terluka. 


"Untuk saat ini jangan membujukku untuk melakukan apapun pada Alex. Aku ingin fokus terhadap kesembuhan Kenny." Keenan bersikeras. 


Keenan bangkit meninggalkan Ruby yang tengah menangis. Dia takut Keenan berbuat nekat. 


Seminggu pun berlalu, Keadaan Kenny belum ada kemajuan sedikitpun. Dia sadar namun tidak mau berbicara. Padangannya terlihat kosong. Dia mampu duduk dan berjalan namun tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. 


Keenan memboyong Kenny ikut ke California. Keenan sengaja menyembunyikan semuanya dari keluarganya. Keenan tidak ingin masalah ini semakin rumit jika Anderson mengetahui semuanya. Dia membawa Kenny bersamanya. Tadinya Kenny tinggal di bersama Keenan di apartemennya. Namun Kenny sering menangis berteriak ketakutan. Keenan frustasi dan bingung harus berbuat apa. Ruby menawarkan diri agar Kenny tinggal bersamanya di Apartemen sederhana milik Ruby. 


Keenan sedikit ragu namun Ruby kekeh ingin merawat Kenny hingga sembuh.


Setidaknya Ruby bertanggung jawab atas perbuatan yang Alex lakukan pada Kenny. 


3 hari sebelum kembali ke California Ruby memutuskan untuk datang ke Bar kemarin dan ingin mencaritahu kebenarannya. Dia tidak ingin Alex terpojok namun dia juga tidak ingin Keenan salah paham. 


Ruby datang sore hari saat Bar baru dibuka. 


"Selamat Sore Nona, ada yang bisa aku bantu?" Tanya salah satu pelayan.


"Maaf sebelumnya, apa aku bisa melihat rekaman CCTV 3 hari yang lalu. Di ruang private Room yang berada di ujung sana. 


" Oh itu Nona, sebelumnya ada seseorang juga yang datang menanyakan hal yang sama. Dan pria itu juga sudah membawa rekaman tersebut. Kami tidak memiliki salinannya lagi." Jawab Pelayan tersebut. 


"Apakah pria ini yang datang?" Tanya Ruby sambil menunjukkan foto Keenan. 


"Benar Nona."


"Dia adalah kekasihku, baguslah jika dia sudah menyelesaikannya. Namun dia tidak menceritakannya padaku apa yang sebenarnya terjadi." Ruby berpura-pura tidak tahu apa-apa. 


"Maafkan atas kelalaian kami Nona, karena pelayanan kami yang tidak baik jadi terjadi kekeliruan yang menimbulkan musibah ini."


"Apa maksudnya. Kenapa kelalaian kalian? "


"Iya salah satu pelayan kami salah memberikan minuman. Yang seharusnya minuman itu di berikan kepada pelanggan kami yang berada di private room sebelahnya. Kami sangat menyesalinya Nona. Kami juga sudah meneyerahkan pelayan itu pada kekasih anda untuk di beri perhitungan."


Ruby langsung mengernyitkan dahinya. Dia tidak menyangka Keenan sekejam itu.


Ruby pun kembali dan akan bersikap seolah tidak mengerti apapun. Dia hanya merasa heran. Jika Keenan sudah mengetahui kebenarannya, lalu mengapa Alex masih di tawan. Apa tujuan Keenan yang sebenarnya.

__ADS_1


Ruby terus berfikir keras. Dia benar-benar tidak mengerti pria yang saat ini bersamanya. 


__ADS_2