
Di Apartemen Ruby.
Ruby sedang menyiapkan makanan untuk dirinya dan Kenny. Gadis itu sedang duduk diam tanpa kata, pandangannya tampak kosong. Sudah beberapa hari ini Kenny selalu begitu.
Melihat Kenny, Ruby jadi mengingat dirinya 8 tahun yang lalu saat dia mengalami depresi. Jadi dia sangat paham bagaimana rasanya menjadi Kenny.
Ruby dengan sabar dan telaten merawat Kenny. Dia melakukannya dengan senang hati.
Selama Ruby merawat Kenny, Ruby tidak datang ke kantor untuk beberapa hari ini.
Begitupun dengan Keenan, setiap harinya dia selalu datang ke Apartemen untuk melihat keadaan Kenny dan Ruby.
"Makanan siap,,,waktunya kita makan!!!" Teriak Ruby dengan gembira. Ruby menghampiri Kenny dan mengiringnya ke kursi makan. Wanita itu hanya menurut.
Ruby meletakkan makanan Kenny di hadapannya, sedikit mengaduk bubur ayam buatannya.
"Selama disini apa kau menyukai masakan ku? Aku harap kau suka, karena Keenan mengatakan kalau masakan ku itu enak. Aku tidak tau dia serius atau berbohong." Ucap Ruby berbicara walau tanpa jawaban Kenny.
Ruby sering melakukan hal itu, terkadang Ruby sampai lelah bercerita, namun tetap saja Kenny tidak merespon.
"Buka mulutnya." Ucap Ruby lembut. Dia seperti sedang menyuapi bayi dengan sabar.
Kenny membuka mulutnya, namun tetap saja dia tidak berbicara sama sekali.
"Cepat sembuh ya. Kami semua sedih melihatmu seperti ini. Terutama Keenan, Keenan selalu merasa bersalah, dia merasa gagal menjaga mu." Ruby masih menyuapi Kenny.
"Aku juga berharap kau lekas sembuh untuk segera menyelamatkan Alex yang masih di tawan oleh Keenan. Keenan sudah tau bahwa ini hanya kelalaian pelayan, tidak ada hubungnnya dengan mu atau Alex. Semua terjadi karena kecelakaan. Namun Keenan masih kekeh menyergap Alex. Aku tidak tau apa alasannya. Aku mohon sembuhlah. Alex membutuhkan mu." Ruby memegang tangan
Kenny.
Kening Keeny tampak mengernyit setelah mendengar bahwa Alex melakukannya karena minuman itu.
Kenny masih tidak menjawab namun wajahnya mulai berubah.
"Kenny, aku harap kau tidak cemburu padaku seperti Keenan yang cemburu pada Alex. Aku dan Alex sudah seperti saudara. Aku sudah menganggapnya seperti kakak kandung ku sendiri. Dan masalah perasaan Alex aku yakin dia pasti bisa membuka hatinya untuk mu. Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Aku menyayanginya sebagai kakak. Kau percaya padaku kan?" Ruby semakin banyak bicara.
Airmata Kenny mengalir mengitu saja. Ruby tersenyum melihat nya. Dia tau Kenny mendengar dan mengerti apa yang baru dia katakan.
"Kau tau, dari dulu sampai sekarang aku hanya menyukai 1 pria. Dan itu hanyalah kakakmu yang menyebalkan itu. " Ruby memikirkan Keenan sambil tersenyum.
"Walau dia menyebalkan, namun aku selalu merindukannya setiap waktu. Aneh bukan. Aku malah tidak risih dengan sikapnya yang tidak tertebak." Ruby membersihkan pipi Kenny yang baru saja selesai makan.
"Benarkah? Aku tidak menyangka kau begitu menyanjung diriku disaat aku tidak ada sayang." Sahut Keenan yang tiba-tiba datang.
Ruby terkejut dan merasa malu.
"Kau sudah tiba." Tanya Ruby salah tingkah.
Keenan tersenyum hangat, dia sangat senang menjalani kehidupan seperti ini. Dia merasa seperti memiliki istri.
Keenan menghampiri Ruby yang juga berjalan menuju Keenan dengan membawa teh.
"Teh untuk mu." Senyum Keenan semakin merekah. Lelahnya hilang begitu saja.
Dia meraih teh buatan Ruby, setelah minum Keenan langsung memeluk Ruby.
"Aku merindukanmu." Ucap Keenan penuh cinta.
"Benarkah, kita bertemu setiap hari." Ruby sumringah.
"Aku memang merindukanmu setiap harinya. Aku ingin selama 24 jam bersama mu." Ucap Keenan sambil mencium ceruk leher Ruby.
Ruby pun tertawa mendengar gombalan Keenan.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Kenny. Apa ada perkembangan?" Tanya Keenan.
"Aku rasa dia mendengar dan mengerti apa yang aku katakan padanya. Karena tadi dia sempat menangis.
" Menangis kenapa?"
"Aku bercerita tentang masa lalu ku." Jawab Ruby.
Keenan menaikkan sebelah alisnya. Penasaran dengan cerita masa lalu Ruby.
"Aku juga ingin mendengarnya Sayang." Rayu Keenan.
"Lain kali aku akan cerita." Ucap Ruby sambil membelai pipi Keenan.
"Aku menantikannya sayang." Jawab Keenan sambil mengecup lembut kening Ruby.
Keenan langsung menghampiri Kenny dan berjongkok di bawah. Dia menatap nanar wajah cantik adiknya yang tampak pucat.
"Apa aku boleh membawa Kenny ke luar sebentar. Ada yang ingin aku katakan padanya." Tanya Keenan.
" Katakan saja disini, aku akan ke kamar ku sebentar. Aku ingin mandi, sore ini aku harus pergi ke club gym untuk melihat Club Alex yang sudah lama di tinggkalkannya. "
"Kenapa tidak mengatakan sebelumnya padaku? Tanya Keenan.
" Aku baru saja mengatakannya sayang." Teriak Ruby dari kamar.
"Selalu saja begitu." Eluh Keenan. Dia kembali menatap mata Kenny yang tampak kosong. Dia tidak mengerti kenapa adiknya menjadi seperti ini.
"Bisakah kau mengatakan sesuatu pada kakak? Bicaralah, jangan seperti ini. Kakak bingung harus mengatakan kebohongan apalagi pada Mama dan Papa. Kakak juga bingung harus melakukan tindakan apalagi pada pria yang bernama Alex itu. Kau tau rasanya kakak ingin membunuhnya saja." Ucap Keenan dengan nada suara pelan namun terdengar sarkas.
Dahi Kenny terlihat berkerut, namun lagi-lagi dia tidak berbicara sedikit pun. Membuat Keenan semakin frustasi. Pancingan seperti apalagi agar membuat Kenny meresponnya.
"Tangan kakak rasanya sangat gatal ingin menembak kepala pria yang sudah menodaimu. Kau tau aku hanya sedang menahan diri dan tidak tau kapan waktu itu akan tiba, pria itu pasti akan mati di tangan kakak. Kakak juga selalu memberinya pelajaran di setiap harinya dengan cara melawan pengawal-pengawal kakak yang sudah terlatih, wajahnya sudah tidak setampan kemarin karena mereka selalu memberinya pukulan-pukulan maut. Kau tenang saja kakak akan membalaskan semuanya untuk mu. Dan kali ini kakak berniat memberinya kejutan untuk bermain bersama binatang buas peliharaan kakak di markas, seekor singa lapar yang siap menyantapnya bulat-bulat." Keenan semakin memprovokasi Kenny.
"Bicaralah dan katakan apa lagi yang harus kakak lakukan padanya agar dia menyesal sudah melakukan hal ini padamu. Jika kau ingin kakak membunuhnya, kakak akan lakukan."
Kenny mulai menundukkan kepalanya, dia semakin histeris, tubuhnya juga semakin bergetar.
Keenan panik, dia menyesal sudah memprovokasi Kenny, namun dia harus melakukannya agar Kenny bisa meresponnya.
Ruby mendengarkan perkataan Keenan yang begitu menghancurkan hatinya, Keenan benar-benar ingin melenyapkan Alex.
Ruby bingung harus berbuat apa. Ayah Max juga sudah mengetahuinya dan berniat akan menyelamatkan Alex walau harus berperang dengan geng mafia yang bekerjasama dengan Keenan.
Sebelumnya Ruby juga sudah mengetahui bahwa Keenan bergabung dengan salah satu Geng mafia terbesar di New York. Tadinya dia menganggap ini hal biasa karena Max dan Alex juga tergabung dengan Organisasi yang sama. Namun sepertinya dia tidak bisa menganggap remeh hal ini karena bisa saja Keenan melakukan perbuatan di luar nalar nya terlebih adik kesayangannya menjadi korban.
Ruby merasa ketakutan.
'Ayah sudah mengetahui semuanya dan mereka sudah berniat ingin melawan Geng Mafia yang Keenan pimpin. Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak ingin ada pertumpahan darah disini. Keenan sudah mengetahui segalanya bahwa Alex tidak bersalah, namun kenapa dia masih kekeh untuk menghabisi Alex?' Batin Ruby. Hatinya semakin berkecambuk.
Dia membutuhkan bantuan Kenny namun keadaan gadis itu juga tidak memungkinkan.
"By,,,!!! " Suara Keenan mengejutkan Ruby yang sedang berdiri di depan pintu.
Ruby langsung membersihkan wajahnya. Menghapus airmatanya. Dan segera keluar.
Ruby melihat Keenan berdiri sambil memegang ponsel, sepertinya pria itu sedang membalas pesan seseorang.
"Ada apa?" Tanya Ruby.
"By, bisa kah kau tunda pergi ke Club Gym? Aku harus pergi sekarang juga. Ada urusan penting dan mendadak, Kenny tidak mungkin di rumah sendirian." Ucapnya sambil mengambil sesuatu di dalam tas kerjanya.
"Tapi aku,,,!!! "
__ADS_1
"Aku mohon kali ini saja. Aku tidak bisa menundanya lagi. Aku titip Kenny ya." Ujarnya sambil mengecup pipi Ruby.
Pria itu memasukkan sesuatu kedalam sakunya dan Ruby melihat benda apa itu.
'Pistol' batinnya. Tubuh Ruby semakin bergetar. Dia yakin telah terjadi sesuatu.
Sebelum Keenan keluar pria itu sempat menerima panggilan.
"Jangan biarkan pria itu lepas atau nyawa kalian menjadi taruhannya. Aku akan segera kesana. Sementara amankan pria itu jangan sampai mereka mengambilnya." Ucap Keenan pelan namun Ruby dapat mendengarnya.
Suara Keenan pun mulai jauh tertanda bahwa dia sudah keluar dari Apartemen.
Ruby menjadi gelisah, dia berjalan mondar mandir, dia berniat mengikuti Keenan.
"Kenny,, aku ingin mengikuti Keenan. Sepertinya telah terjadi sesuatu pada Alex. Ayahku dan para pengikutnya sedang menuju markas untuk menyelamatkan Alex. Aku harus kesana untuk melerai mereka. Aku mohon tenang lah di rumah. Aku berjanji akan kembali secepatnya." Ucap Ruby panik, gadis itu pun mulai beranjak namun tangannya ditahan oleh Kenny.
Betapa terkejutnya Ruby, Kenny bisa menarik tangan Ruby dengan Kuat, Ruby langsung menoleh dengan mata berkaca-kaca. Dia melihat wajah Kenny sudah berlinnag airmata.
Wajahnya tampak memohon agar dia bisa ikut dengan Ruby.
"Kau mau ikut? Tapi kondisi mu belum terlalu baik Ken, aku tidak mau terjadi apa-apa padamu. Keenan pasti akan marah besar padaku jika terjadi sesuatu dengan mu.
Wajah Kenny semakin memelas, namun dia tidak bisa mengatakan apapun. Ruby menjadi iba.
" Baiklah, tapi berjanjilah kau akan baik-baik saja. " Ruby menggenggam tangan Kenny. Dan Kenny mengangguk patuh.
"Aku ambil kursi roda dulu. Kita akan menyusul Keenan. Aku yakin dia masih dibawah.
Mereka pun berangkat. Ruby mendorong cepat kursi roda Kenny, wajah gadis itu juga tampak panik.
Ruby sudah memanggil taksi, dan taksi itu sudah menunggu di depan apartement. Ruby baru saja melihat mobil Keenan yang baru keluar dari parkiran. Keduanya langsung menaiki taksi dan mengikuti Keenan drai belakang.
"Tolong ikuti mobil itu ya pak." Ucap Ruby.
"Baik Nona." Jawab Pak Supir.
Perjalanan pun memakan waktu 15 menit, akhirnya mobil Keenan pun tiba di sebuah bangunan besar di tengah perkampungan yang sunyi.
Ruby dapat melihat Keenan turun dari mobil dengan buru-buru dan langsung berlari masuk ke dalam bangunan itu.
Ruby dan Kenny pun keluar dari taksi. Ruby membantu Kenny turun dan mendudukkan Kenny di kursi Roda. Keduanya pun masuk dengan buru-buru namun Ruby tetap berhati-hati.
Saat di depan gerbang Ruby dan Kenny di hadang oleh 2 orang pengawal.
"Biarkan aku masuk." Ucap Ruby ketus.
"Siapa kau? Kau tidak bisa masuk jika tidak memiliki keperluan." Ujar pengawal itu.
"Aku kekasih Keenan dan ini gadis ini juga adik kandungnya. Kami tidak harus memiliki keperluan khusus untuk masuk."
"Tapi saat ini kondisi sedang tidak memungkinkan, kalian tidak bisa masuk. Sekarang pergilah." Usir pengawal itu.
Ruby pun pura-pura berbalik seperti ingin keluar namun tiba-tiba dia memukul punggung pengawal itu hingga membuat keduanya tersungkur tidak berdaya.
Ruby langsung mengeluarkan tali dan mengikat kedua pengawal itu agar tidak bisa menghalanginya untuk masuk.
Di dalam hati Kenny berseru melihat kehebatan Ruby yang kelihatan dari luar tampak begitu lemah namun ternyata Ruby bisa melumpuhkan lawan di hadapannya.
Setelah selesai mengikat kedua pengawal itu Ruby kembali mendorong kursi roda Kenny untuk segera masuk. Tapi baru beberapa langkah mereka langsung mendengar suara tembakan dari dalam gedung itu.
Jantung Ruby terasa mencelos. Dia terdiam tidak bisa mengatakan apapun. Fikirannya sudah buruk kemana-mana.
Begitupun dengan Kenny yang semakin menangis. Dia mengkhawatirkan Keenan dan juga Alex.
__ADS_1