
"Kau pria yang bersamanya tadi malam kan?" Tanya Keenan ketus.
"Bagaimana kau tau? Kau mengikuti kami?" Leon bertanya sambil menyela.
Keenan mengernyitkan dahinya. Pria di hadapannya benar-benar menyebalkan.
"Kau pria beristri namun kau sangat lihai menggoda wanita lain. Apa istri mu mengetahui tabiat buruk mu?" Keenan tak kalah menyela Leon.
Wajah Leon seketika berubah suram namun tidak lama wajahnya kembali tersenyum bengis.
"Aku berteman dengan Cla, maksud ku Ruby, aku mengenalnya jauh sebelum kau mengenal Ruby. Jadi jangan terlalu khawatir. Kau tidak berubah sob. Masih sama seperti dulu." Leon menepuk bahu Keenan namun Keenan menepisnya dan tampak tidak senang.
"Apa maksud mu? Kau sudah lama mengenalku? Dan tadi kau mengucapkan Cla, siapa yang kau maksud? "
"Aku sudah mendengar kabarmu kalau kau kecelakaan dan mengakibatkan kau lupa ingatan. Tapi aku bersyukur sebab itu akan mempermudah jalanku." Leon mulai beranjak namun Keenan menahan lengannya.
"Kau berbicara apa? Jangan membuatku menerka-nerka, aku tidak menyukai tebak-tebakan."
"Kali ini kau harus suka karena ini sangat menarik sobat. Aku harus kembali, Next kita akan lebih sering bertemu, salam buat Rubyku." Ucap Leon memancing emosi Keenan.
Keenan tidak menjawab, amarahnya semakin membuncah.
"Sudah beristri tapi masih mengganggu wanita lain. Apa maksud nya pria itu. Cla,,,Apa Clarissa?dan Dia juga sangat mengenalku." Keenan memegang kepalanya. Tiba-tiba kepala Keenan terasa sakit.
Dia kembali keruangannya. Berjalan gontai dan melewati meja kerja Ruby.
Ruby melirik Keenan yang melewatinya, lagi-lagi tanpa menyapanya. Namun Ruby melihat wajah Keenan tampak pucat. Dia mengikuti Keenan masuk ke dalam ruangan.
Keenan menghempaskan tubuhnya di sofa dengan menyandarkan tubuhnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Ruby sambil memberikan segelas air putih.
"Hhm,,,,!!! " Jawab Keenan sambil meneguk minumannya.
"Sudah berapa lama kau mengenalnya?" Tanya Keenan ketus.
"Leon? Kami satu sekolah saat dibangku SMP."
"Apa kau menyukainya. Dia pria beristri".ujar Keenan tanpa melihat Ruby."
"Hhmm,,,lalu apa hubungannya denganku." Sahut Ruby.
"Dia sepertinya menyukaimu." Sindir Keenan.
"Bukan masalah yang besar bagiku pak Keenan. " Jawab Ruby santai."
Keenan semakin kesal karena Ruby tidak terpengaruh sama sekali.
"Kalian berpelukan, apa itu bukan hal yang besar?" Sindir Keenan membuat Ruby mengerutkan dahinya.
"Kenapa kau bisa tau?" Tanya Ruby.
"Aku kembali ke kantor untuk menyusul mu, namun kau sudah pulang. Saat di jalan aku melihat mu bersamanya. Lagi-lagi kau membuatku kembali kesal. Beberapa hari kau mangabaikan ku namun kau malah dengan cuma-cuma memberikan pelukan pada pria lain.
Ruby menjadi salah tingkah namun dia tetap bersikap tenang.
__ADS_1
"Mengabaikanmu? Kau tidak salah Tuan? Kaulah yang mengabaikanku." Sahut Ruby kesal.
"Arrgh.." Keenan meringis sambil memagang kepalanya.
Ruby langsung menghampiri Keenan.
"Masih sakit? Kita ke rumah sakit sekarang ya." Bujuk Ruby sambil memegang tangan Keenan.
"Tidak, aku baik-baik saja. Tidak perlu ke rumah sakit. Aku hanya perlu bersandar disini. Sakit itu akan hilang." Keenan langsung menyandarkan kepalanya dan bergelayut manja di dada Ruby.
Hati Ruby meluluh. Jujur saja dia begitu merindukan Keenan. Begitupun dengan Keenan.
Ruby refleks memeluknya. Sambil memejamkan mata Keenan tersenyum. Namun tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Alex muncul di layar ponsel Ruby. Rubu langsung menjawab panggilan itu. Namun Keenan masih berada dipeluknnya.
"Ada apa kak? " Tanya Ruby.
"Pulang kerja singgah ke club gym ya. Seseorang ingin menemuimu."
"Siapa kak?" Tanya Ruby penasaran.
"Kau akan tau nanti, langsung kesini jika kau sudah pulang." Perintah Alex.
Keenan mengerutkan dahinya tidak senang. Ada saja pengganggu.
"Baiklah kak, nanti aku akan singgah kesana." Jawab Ruby.
"Sudah ya, sampai ketemu nanti. Bye..!!! "
"Bye kak." Ruby mengakhiri panggilannya.
"Selalu saja mengganggu." Keenan menggerutu.
"Istirahatlah jika kau tidak enak badan." Saran Ruby.
"Masih terlalu pagi untuk membaringkan tubuh." Jawab Keenan datar.
"Aku tau kau tidak tidur semalaman."
"Lebih jelasnya 3 malam berturut-turut. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena mu.
Ruby terdiam merasa bersalah. Namun dia berusaha terlihat tidak perduli.
"Aku harus kembali bekerja." Ujar Ruby berdiri.
Keenan langsung menarik kuat tangan Ruby hingga membuatnya kembali terduduk. Kali ini wajah keduanya begitu dekat. Tanpa aba-aba Keenan langsung mengecup bibir Ruby. Ruby terkejut dan dia terdiam tanpa kata.
Keenan mengelus lembut wajah Ruby yang tampak bengong, wajah yang begitu dia rindukan. Keenan menarik tengkuk Ruby dan kembali mencium Ruby, perlahan dan lembut namun lama kelamaan menuntut. Ruby yang berusaha cuek pun akhirnya luluh. Dia membalas ciuman Keenan dengan gairahnya yang dia pendam selama beberapa hari ini. Rindu yang membuncah akhirnya tersalurkan.
"Aku merindukanmu." Bisik Keenan lembut dengan suara seraknya. Mata sayu Ruby jelas sangat menggodanya. Ingin rasanya dia menarik Ruby kedalam ruang pribadinya untuk menggagahi wanitanya ini.
"Aku harus kerja dulu." Ruby menilak lembut tubuh Keenan hingga pria itu sedikit menjauh dan Ruby merapikan dirinya yang sedikit berantakan. Keenan benar-benar tidak tau tempat.
"Jangan pergi." Eluh Keenan manja.
Ruby tersenyum namun dia langsung keluar dari ruangan Keenan.
__ADS_1
Keenan menghelakan nafas dengan kasar, namun dia juga merasa lega bisa memeluk wanita itu lagi.
Di kediaman Rose Hill.
Alex datang kerumah Rose karena Rose mengatakan bahwa Kenny datang kerumahnya. Alex dengan semangat langsung datang ke rumah Rose karena sebelumnya Rose mengatakan dia akan memberitahu Alex jika Kenny datang kerumahnya.
"Dimana dia?" Tanya Alex.
"Di taman belakang. Dia sedang merawat bunga di halaman belakang." Jawab Rose sambil tersenyum.
"Baiklah, aku kesana dulu ya tante."
"Silahkan nak." Jawab Rose.
Di taman belakang Kenny sedang merawat bunga-bunga yang tampak bermekaran.
Alex menatap Kenny dengan Intens.
"Sangat cantik." Ujar Alex sambil tersenyum melihat Kenny.
Kenny tiba-tiba menoleh kearah Alex, tubuhnya refleks menjauh dan sedikit bergetar. Dia mundur beberapa langkah kebelakang.
"Kenny,,, jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Tenanglah." Alex berjalan mendekat namun Kenny. Kenny sontak mundur, airmatanya mengalir begitu saja.
"Ken, please jangan seperti ini."
"Tidak,,, menjauhlah dari ku." Ucap Kenny dengan suara bergetar.
"Kenny maafkan aku, aku tidak bermaksud ingin menyakitimu." Alex terus mendekat.
Saat Kenny mundur-mundur dia tidak melihat lubang dibelakangnya. Kenny hampir terjatuh namun dengan cepat Alex menarik tangan dan tubuh Kenny kedalam pelukannya.
"Lepaskan aku, jangan sakiti aku lagi." Rintih Kenny dan sempat meronta. Namun lambat laun dia terhipnotis dengan belaian Alex, pria itu membelai lembut punggung Kenny dan bertutur begitu lembut.
"Maafkan aku Ken,,, maaf karena aku sudah menghancurkan hidupmu. Mau kah kau memaafkan aku dan kita mulai semua nya dari awal lagi? " Tanya Alex semakin mempererat pelukannya.
"Tidak,,, aku tidak akan memaksamu mendekati ku lagi. Apalagi dengan kondisi ku yang sekarang. Aku tidak bisa memaksa kehendakku seperti dulu lagi. Kau bisa pergi sekarang Lex." Kenny menangis sambil mencoba melerai pelukan Alex. Namun sulit. Alex tidak melepaskan pelukannya namun terdengar pria itu menangis. Kenny langsung terdiam.
'Apa dia menangis! 'Batin Ruby bertanya-tanya.
"Apa aku tidak pantas mendekatimu?" Ujar Alex bersedih.
"Apa aku tidak layak berada di sisi mu? Aku memang orang biasa yang tidak jelas kehidupannya. Namun aku ingin memulai semuanya lagi bersama mu. Tolong beri aku kesempatan Ken, aku terus memikirkanmu selama beberapa hari ini. Dan aku hampir gila karena tidak bisa melakukan apapun untuk mu. Tolong beri aku kesempatan Ken. Aku menyesali semuanya dan aku ingin bertanggung jawab." Suara Alex terdengar sengau dan bergetar. Dia benar-benar menangis.
Kenny terdiam namun airmatanya mengalir deras, dia sedang tidak bermimpi kan mendengar Alex mengungkapkan keinginannya.
"Maafkan Aku Ken, maafkan aku." Ucapan Alex bagai mantra untuk Kenny.
Kenny pun mulai menyentuh pinggang Alex untuk balas memeluk Alex.
Alex pun tersenyum senang.
"Bagaimana dengan perasaan mu? Seperti yang kakak ku katakan, aku tidak bisa menerima pria yang memiliki perasaan pada wanita lain." Ucap Kenny lirih.
"Aku akan terus berusaha melupakan perasaan itu sembari belajar untuk semakin mencintai mu." Jawab Alex tegas.
__ADS_1
Kenny pun menangis bahagia.
"Jangan menghindariku lagi. Aku bisa gila jika seperti ini terus." Ujae Alex dan di jawab dengan anggukan oleh Kenny.