
"Kau terlalu sombong Tuan." Ucap Clarissa remeh. Sejenak suasana hening tidak ada suara, kedua nya diam dengan pikiran mereka sendiri.
"Pesta ulang tahun Jesika, apa kau akan datang?" Tanya Clarissa.
"Belum tau. Aku kurang suka pesta. Lagian itu hanya membuang waktu saja." Jawab Keenan datar.
"Tapi dia sangat berharap kau bisa datang."
"Kenapa kau bicara seperti itu?" Tanya Keenan memutar bola mata nya ke arah Clarissa.
"Siapapun yang melihat sikap Jesika padamu semua pasti sudah mengerti jika dia menyukaimu. Apa kau tidak menyadarinya."
"Aku tidak akan menanggapi apapun yang tidak berguna. Sekalipun aku sadar, aku juga tidak akan perduli." Jawabnya tegas.
"Kau ini paling tidak mengerti wanita."
"Apa aku kurang mengerti dirimu? Candanya pada Clarissa dan tersenyum usil.
"Bukankah Jesika pacaran sama Leon ya? Kenapa sekarang malah ngomong sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi." Keenan heran, karena selama ini yang dia lihat Jesika dan Leon sering bermesraan. Pasangan yang aneh menurutnya.
"Aku juga tidak tau, mereka sudah jarang terlihat bersama-sama." Tugas Clarissa.
"Kau sering memperhatikan mereka?
"Menurutmu pasangan seperti mereka bisa di abaikan. Berbicara mesra saja terdengar hingga kantor kepala." Jawab Clarissa sambil tertawa. Keenan pun ikut tertawa.
"Tapi yang aku lihat Leon sering memperhatikan mu, sepertinya dia juga menyukai mu, walaupun sering mengganggu mu dan seperti tidak suka ketika aku dan kau berdekatan. Apa kalian punya cerita dimasa lalu." Seketika membuat Clarissa terpaku tetapi tetap diam tidak menjawab.
"Kenapa diam? Apa pertanyaanku benar? Keenan penasaran.
" Tidak, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Leon, dulu dia teman di bangku SMP tapi ketika SMA sudah berjarak."
"Kenapa? Tanya Keenan kembali. Dan di jawab dengan gelengan kepala oleh Clarissa.
" Ckck,,, ya sudah lah, tidak penting juga membahas ini." Ucapnya datar.
"Yang membahas deluan siapa? Kau yang terlalu banyak bertanya." Jelasnya cuek.
"Jika kau hadir ke pesta nya, aku juga akan mengusahakan hadir. " Ucap Keenan salah tingkah.
"Jangan berharap, aku tidak akan mungkin bisa datng. Tidak akan diberi izin oleh ibu ku.
" Aku akan minta izin pada ayahmu saat di Mansion. Dia pasti memberimu izin." Ucapnya dengan nada yang selalu datar. Walau sudah membuka diri untuk berteman dengan Clarissa tetapi sifat dingin Keenan masih kental terasa. Walau terkadang suka berubah-ubah.
"Tidak perlu, lagian aku juga tidak ingin datang kesana." Clarissa menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa? Kau takut mereka menggnggumu? "
Tanya Keenan. "Tenang saja, tidak akan ada yang berani mengganggu mu jika bersama ku."
"Kenapa kau begitu yakin? Aku saja tidak yakin." Senyum nya remeh.
"Kau lagi-lagi meremehkan ku. Kau harus yakin kalau kau akan aman bersama ku."
"Kau seperti pria yang melindungi kekasihnya. Membosankan." Clarissa bangkit dan meninggalkan Keenan.
Keenan seketika terpaku dan segera sadar ketika melihat Clarissa sudah tidak ada di sampingnya.
" Heeii,,, kenapa meninggalkan ku." Teriak Keenan sambil mengejar Clarissa. Clarissa berhenti ketika Keenan memanggilnya.
"Huhh,,, kau ini kebiasaan meninggalkan orang yang belum selesai bicara ya." Ucap Keenan kesal.
"Aku sudah selesai untuk apa berlama-lama disitu." Jawabnya ketus.
"Oh iya, Bagaimana kalau kau jadi pacar ku saja. Hehe,,, " Ceplos nya.
Clarissa terkejut hingga membuka mata dan mulut nya lebar-lebar. Dan segera dia memukul pelan lengan Keenan.
"Apa kau sedang mabuk?" Tanya Clarissa.
"Keenan kau kadang-kadang menyebalkan ya." Wajah Clarissa mulai bersemu dan kesal dalam bersamaan.
"Itu lihat wajah mu saja sudah memerah seperti udang di rebus. Sudah jujur saja. Kau menyukai ku kan? Ayo kita datang ke pesta sebagai pasangan" Mengedipkan sebelah mata nya. Clarissa langsung berlari kearah rumahnya, tanpa menanggapi Keenan lagi. Keenan langsung tersenyum puas.
'Kau tampak sangat menggemaskan ketika sedang marah maupun sedang malu.' bergumam didalam hati.
Keenan pun kembali pulang ke Mansion, karena hari sudah mulai sore. Waktu sangat tidak terasa.
Malam harinya di rumah Clarissa. Dikamar Clarissa sedang berbaring mencoba menutup mata nya, tetapi bayangan Keenan selalu ada di pikirannya. Dia pun membuka matanya.
"Menyebalkan sekali, bisa-bisa nya dia berbicara seperti itu. Wajah ku juga tidak berhenti bersemu malu seperti ini. Clarissa yang benar saja. " Ucapnya sambil mengacak-acak rambut nya.
"Ting,,, Ting" Ponsel Clarissa berbunyi, dia mengambil Ponsel nya yang agak usang, dan melihat pesan dari nomor baru dan Clarissa mulai membaca nya.
"Aku mengundang mu ke acara ulang tahun ku minggu ini. Aku harap kau bisa hadir.Jesika"
"Huft,,,padahal aku tidak ingin hadir." Kembali meletakkan ponselnya dan kembali tidur.
**
Disebuah rumah mewah.
__ADS_1
"Aku punya rencana yang besar untuk Clarissa." Ucap Jesika yang sedang menelepon seseorang yang tak lain adalah Meilin sahabatnya.
"Rencana apa? Tanya Meilin penasaran.
"Tunggu saja, semoga kau takjub melihat tontonan yang akan aku persembahkan di acara Ulang tahun ku minggu depan." Ucap Jesika sambil tersenyum licik.
"Apa kau yakin akan melakakukannya Jes? Apa tidak akan berbahaya dan berdampak kemana-mana." Meilin sedikit khawatir.
"Kau tenang saja. Semua akan aman. "
"Baiklah aku tutup dulu. Bye. " Meilin mengakhiri panggilan.
**
Mendekati hari pesta, saat di sekolah.
"Ayah memberi ku izin untuk pergi ke pesta Jesika. Ucap Clarissa pada Lucy.
" Benarkah? Kalau begitu kita pergi bersama ya, kau harus selalu berada di samping ku. Agar kau aman. Aku akan menjaga mu dari orang-orang yang selama ini menyakitimu. " Ucap Lucy teguh.
"Mau kah kau jadi pacarku. Ucapan mu untuk menjaga ku sangat menjanjikan. Dan jika kau seorang pria aku akan merasa melayang."
Mereka pun tertawa terbahak-bahak.
"Kau bisa saja, masih sempat bergurau di saat aku serius." Balas nya yang tak berhenti tertawa.
"Keenan mengajak ku pergi berama." Seketika membuat Lucy terdiam.
"Kau serius cantik?" Tanya nya semakin penasaran dan di jawab dengan anggukan oleh Clarissa.
"Sepertinya dia begitu menyukaimu."
"Itu yang membuatku tidak yakin. Aku merasa dia hanya bermain-main saja. Tapi aku....
" Kau menyukainya? Tanya Lucy menuntut. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Clarissa yang wajah nya sudah memerah karena malu.
"Sejak kapan kau menyukainya Sweety? " Tanya nya sambil tersenyum tidak menyangka. Hati sahabatnya yang seperti batu akhirnya meluluh.
"Aku tidak tau dan belum yakin, tapi setiap aku menutup mata, entah kenapa wajah nya saja yang terlihat. Bukankah itu gila? Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Saat menatap wajahnya rasanya waktu berhenti. Tapi aku belum yakin, karena aku tidak ingin perasaan aneh ini berkelanjutan. Aku tidak ingin kecewa. " Jelasnya sambil menundukkan kepalanya.
"Jangan seperti itu, kau terlalu jauh berfikir sayang. Kalau menurutku Keenan juga menyukaimu. Karena dia selalu membela mu dan selalu ada saat kau dalam kesulitan." Lucy mulai memprovokasi Clarissa yang masih ragu.
"Dia itu orang kota, kaya raya dan mungkin di tempat dia berada banyak wanita yang cantik mengejarnya, dan tidak akan mungkin menyukai gadis desa seperti ku yang miskin ini." Hati Clarissa seperti tersayat, seketika dia mengingat kejadian sewaktu berteman dengan Leon. Leon yang dari keluarga yang tidak begitu kaya raya saja bisa langsung membatasi diri. Bagaimana dengan Keenan yang merupakan orang terkaya di desa itu. Itu hal yang sangat mustahil bagi Clarissa.
" Kau tidak bisa berpikiran seperti itu. Karena tidak semua orang itu sama. Aku tau kau orang yang tulus dan aku yakin Keenan juga tulus pada mu.
__ADS_1