Come Back My Love

Come Back My Love
28. Berakhirnya Ramon (1)


__ADS_3

Di Toilet ujung sekolah.


Clarissa terus menangis tersedu, dia tidak bisa menahan agar air mata nya tidak lagi jatuh.


"Mengapa air mata ini terus saja mengalir, padahal aku sudah tidak ingin menangis lagi. Sialan,,,, " Teriak Clarissa kesal sendiri.


"Seharusnya aku senang, akhirnya Keenan menjauh dariku dan membenci ku.


**


3 jam sebelumnya di parkiran sekolah. Clarissa berjalan hendak ke dalam kelas. Tiba-tiba Jesika menghentikannya.


" Clarissa,,, bisa kita bicara sebentar? Ada yang ingin aku sampaikan padamu. "


"Tentang apa?" Tanya Clarissa datar.


"Keenan." Jawab Jesika singkat sontak membuat Clarissa mengerutkan keningnya dan langsung menatap wajah cantik dan modis yang ada dihadapannya.


"Aku menyukai Keenan dan begitu pun sebaliknya. Tapi belakangan ini aku lihat kalian lumayan dekat." Ucap Jesika seolah menangkap basah Clarissa yang sudah merebut kekasih nya.


"Tidak, itu tidak benar. " Jawab Clarissa tegas.


"Syukurlah kalau begitu. Jadi kedepannya aku minta padamu jauhi Keenan. Jangan mendekatinya lagi. Karena dia tidak pantas berdekatan dengan mu. Seharusnya kau tau itu. Mulai lah sadar diri. Dia bagaikan langit dan kau? Kau bukan siapa-siapa yang pantas berdampingan bahkan dekat dengan nya." Ungkapan Jesika benar-benar menampar wajah, hati dan perasaan Clarissa. Tapi Clarissa mencoba tenang walau rasanya ingin menjerit.


"Kau tenang saja. Aku tidak punya hubungan apapun dengan nya. Bahkan jika pun pantas aku juga tidak akan tertarik dekat dengan nya." Ucap Clarissa singkat dan langsung meninggalkan Jesika yang mesin berdiri sambil menyeringai, senyumnya sangat sinis.

__ADS_1


"Sombong sekali." Ucap Jesika sinis.


**


Toilet ujung sekolah.


Clarissa masih termenung, sesekali menghapus air mata nya yang keluar begitu saja. Pikirannya tidak karuan terlebih Ayahnya harus kehilangan pekerjaan yang entah darimana pokok permasalahannya. Kenapa hidup nya terlalu rumit. Clarissa pun menarik nafas sambil membersihkan sisa air mata nya dan segera kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Mata nya terlihat sembab. Saat sampai di kelas dan akan duduk di bangku sekilas Clarissa melirik Keenan yang sama sekali tidak melihat nya walau merasa risih tapi Clarissa merasa lebih baik seperti ini. Saat Clarissa duduk mata Keenan langsung beralih melihat Clarissa. Pandangan yang sulit di artikan.


Sepulang sekolah, seperti biasa Clarissa pulang setelah sekolah sunyi. Dia pun segera ke parkiran.


"Hei gadis manis. Apa kabar mu hari ini? Kenapa wajah mu begitu murung?" Tanya Dodo sang penjaga parkiran.


"Bapak terlalu perhatian, aku seperti memiliki seorang Ayah." Ucap Clarissa sambil tersenyum hangat.


"Aku baik-baik saja pak. Nama nya juga baru selesai belajar. Jadi kepala ku sedikit buyar karena mata pelajaran semakin sulit di semester akhir ini pak." Ucap Clarissa ngeles.


"Baiklah, Terima kasih atas perhatian mu Pak. Aku sangat bersyukur selalu di beri perhatian oleh mu. Aku pamit pulang dulu ya pak, sampai jumpa besok pagi. " Clarissa nyengir dan beranjak sambil melambaikan tangan.


"Hati-hati di jalan nak." Teriak Dodo sambil tersenyum dan di jawab dengan lambaian tangan oleh Clarissa yang sudah mulai mengendari sepeda nya.


Saat di perjalan hendak pulang Clarissa melihat Keenan dan Jesika yang tumben ke sekolah dengan sepeda. Mereka sedang berjalan beriringan. Yah mungkin mereka sedang pendekatan batin Clarissa. Clarissa berinisiatif untuk mencari jalan pintas agar cepat sampai ke rumah tanpa harus melewati kedua sejoli itu. Itu sangat tidak mungkin. Jadi Clarissa memilih jalan pintas yang melewati hutan yang lumayan belukar tetapi masih ada jalan setapak untuk pengguna sepeda maupun sepeda motor.


"Aku harus sampai di rumah tepat waktu. Jika melewati mereka pasti aku yakin akan membuat mereka tak nyaman. Lebih baik dari hutan saja." Ucapnya sambil berbelok ke arah hutan. Di dalam hutan yang rimbun dan hanya terdengar suara air mengalir dari sungai dan suara binatang-binatang yang sama sekali tidak menggetarkan hati Clarissa. Dia gadis yang lumayan pemberani. Saat di hutan Clarissa melewati bangunan tua yang sudah tidak di gunakan lagi.


"Dorr,,,!!! Terdengar suara tembakan dari dalam bangunan tua itu. Clarissa sangat terkejut, dia juga mulai mendekati bangunan itu. Dia mengira ada pemburu binatang di hutan ini. Dia pun sudah berada di depan bangunan. Terdengar suara teriakan seorang Pria.

__ADS_1


"Silahkan bunuh saja aku. Aku tidak akan mengatakan apapun pada kalian. Percuma saja" Ucap pria itu sambil menyeringai senyuman nya juga terlihat licik. Pria itu adalah Ramon. Para penjahat berhasil menangkapnya dan kembali menyekapnya di gedung tua itu.


"Sialan kau. Kaki mu sudah tertembak dan kau masih belum mengatakan apapun. Apa kau tidak menyayangi nyawa mu? Tanya si penjahat. Clarissa begitu terkejut setelah melihat ada orang jahat di dalam gedung tersebut. Dia mengintip dari sela-sela jendela bangunan yang agak terbuka. Dia sangat terkejut dan mulai ketakutan.


"Bos kata habisi saja dia. Dia tidak berguna sama sekali" Ucap penjahat lainnya yang baru saja menerima panggilan dari bos besar mereka.


"Bunuh saja aku. Pekerjaan kalian akan sia-sia jika hanya menahan ku. Karena aku tidak akan mengatakan apapun."


Bang*at kau melawan kami? Lebih baik kau mati saja" Salah satu penjahat menendang Ramon. Para penjahat sudah habis akal di buat Ramon yang terus membuat mereka marah. Salah satu penjahat mengambil pistol yang ada di saku nya dan mulai mengarahkan pistol itu pada Ramon dan dengan tega melepaskan peluru dari tempatnya dan menembakkan nya pada Ramon. Mereka menebak beberapa kali keseluruh tubuh Ramon. Darah segar keluar dari dalam tubuh Ramon. Seketika dia terkapar di lantai dengan berlumur darah. Clarissa yang melihat itu langsung terkejut dan syok. Di didepan mata nya melihat seseorang membunuh dengan tega nya. Dan lebih terkejutnya Clarissa mengenali si pembunuh itu. Clarissa menutup mulut nya agar tidak menjerit karena jika dia menjerit para penjahat itu malah akan menangkapnya dan juga akan menembak dirinya.


Clarissa perlahan jalan mundur dengan wajah dan tubuh gemetaran, dia tidak menyangka menyaksikan seseorang dibunuh dengan sadis nya. dan tanpa sadar menyenggol sampah minuman yang malah membuat para penjahat menoleh pada sumber suara itu. Para penjahat melihat ternyata ada seorang gadis yang mengintip mereka melakukan pembunuhan itu.


"Siapa disitu?" Teriak penjahat. Clarissa semakin panik dan mulai buru-buru mengambil sepeda nya. Clarissa sempat terjatuh beberapa kali. Tapi dia terus berusaha keras agar segera pergi dari tempat ini. Para penjahat mulai berkeliaran mencari Clarissa.


"Tangkap gadis itu sampai dapat. Jangan biarkan dia lolos begitu saja. Dia oasti sudah melihat aksi kita hari ini dan itu akan membahayakan karir dan hidup ku" Ucap ketua penjahat yang ada disitu dan segera dia mengambil ponselnya dan segera menghubungi bos besar nya.


"Dia sudah di tembak mati bos." Ucap penjahat.


"Baiklah tidak masalah. Karena dia juga tidak berguna." Ucap sang bos.


"Tapi bos pada saat Ramon di tembak ada seorang gadis yang melihat. Dia menyaksikan tertembaknya Ramon.


" Dasar bodoh, kenapa kalian begitu ceroboh. Jika anak itu mengambil tindakan untuk melapor ke penduduk desa. Kalian bisa bahaya terutama kau. Keluarga dan karir mu di desa itu akan hancur. Dan aku ingin kalian menangkap gadis itu hingga dapat. Malah jika perlu bunuh dia untuk menghilangkan jejak. Habisi gadis itu bagaimana pun cara nya." Teriak Bos yang sedang marah.


"Baik bos, kami akan laksanakan perintah." Ucap nya.

__ADS_1


"Cepat kejar gadis itu." Ucap nya dengan hati yang sudah gelisah.


__ADS_2