
Seminggu pun berlalu, segala macam ujian akhir sudah dilaksanakan hanya tinggal menunggu kelulusan murid kelas XII. Hal ini membuat semua murid merasa tidak sabar dan juga takut. Berharap mendapat nilai akhir yang memuaskan. Untuk hubungan Keenan dan Clarissa masih seperti biasa. Clarissa selalu menghindar setiap kali Keenan mendekat begitu pun dengan Leon, semenjak kejadian saat dia ingin mencium Clarissa sejak itu dia tak berani mendekati Clarissa bahkan enggan untuk berbicara. Leon malu dan merasa jahat saat melakukan itu. Tetapi perasaannya masih tetap sama. Masih selalu menyukai Clarissa. Leon selalu memperhatikan Clarissa dari jauh. Tapi dia lega karena hubungan Clarissa dan Keenan juga tidak sebaik hubungannya. Paling tidak dia masih punya kesempatan untuk mendekati Clarissa walau masa sekolah sudah akan berakhir. Leon belum memikirkan hendak kemana dia melanjutkan pendidikannya. Waktu pun berlalu. Hasil akhir pun akhirnya keluar dan sudah tertera di papan pengumuman. Para murid XII berbondong-bondong untuk melihat nilai dan kelulusan mereka. Begitupun dengan Clarissa dan Lucy yang sedari tadi masih antri menunggu giliran untuk melihat nilai mereka.
"Aku takut sweety, takut nilai ku tidak memuaskan." Ucap Lucy murung.
"Tenang lah, aku yakin nilai mu pasti memuaskan." Ucap Clarissa.
"Hmm,, kalau nilai mu aku sudah yakin pasti nilai mu di urutan pertama. Teraktir aku makan yang enak jika nilai mu di peringkat pertama." Timpal Lucy sambil tersenyum jail.
"Beres. Kau tenang saja. Tapi kalau tidak di urutan pertama kau yang harus meneraktir ku."
"Baik Sweety. Kau tenang saja." Mereka tertawa renyah. Keenan, Josh dan di ikuti Jesika melirik Clarissa dan Lucy yang terkekeh geli.
"Lihat Sweety, kali ini nilai mu paling tinggi. Kau di peringkat pertama." Ucap Lucy sambil melihat-lihat. Aku masuk di peringkat 15."
"Tidak buruk sayang. Kau juga hebat. Selamat ya buat kita. Akhir nya kita lulus. " Clarissa dan Lucy melompat sambil berpelukan.
"Kau juga keren, tidak bisa di kalahkan." Puji Lucy pada sahabat nya.
"Ehemm,,,," Suara Josh membuat Clarissa dan Lucy menoleh kebelakang. Seketika wajah Clarissa berubah kembali ketus. Apalagi saat melihat Keenan yang selalu di dampingi Jesika kemana pun mereka pergi. Pasangan yang serasi batin Clarissa.
"Nona-nona cantik, bisa kah sedikit bergeser. Jika sudah selesai boleh minggir dulu? Kita juga mau melihat nilai." Sindir Josh sambil tersenyum mengejek. Dia langsung mencari nama nya.
Membuat Clarissa dan Lucy langsung bergeser.
"Yes peringkat 8. Tidak buruk lah." Ucap Josh menyombongkan diri. Dan segera mencari nama Keenan.
"Peringkat kedua sob. Kau memang keren. Tidak terkalahkan kan." Puji Josh.
__ADS_1
"Sudah jelas peringkat kedua, kau bilang tidak terkalahkan. Kau terlalu berlebihan memuji ku" Keenan hendak beranjak pergi. Tetapi di tahan oleh Jesika. Tangan Keenan di gandeng mesra oleh Jesika melihat itu mata Clarissa terasa sakit.
'Tidak tau malu.' batin Clarissa dan Lucy.
"Jangan pergi dulu. Aku belum melihat nilai ku." Jesika langsung mencari nama nya dan ternyata di urutan ke 50. Jesika langsung kaget tidak terima.
"Apa,,,? Peringkat ke 50? Tidak salah? " Ucap Jesika.
"Sudah jelas disitu tertera nama mu. Urutan 50. Mau apa lagi." Ucap Josh mengejek.
Jesika langsung murung. Keenan langsung menarik tangannya dari pegangan Jesika. Sekilas melirik Clarissa dan langsung pergi dari tempat itu.
"Ayo kita pergi. Kau harus meneraktir ku makan makanan yang enak nona." Ucap Lucy merayu.
"Baik tuan putri, siap untuk melaksanakan perintah. " Jawab Clarissa dan kedua nya tertawa sambil meninggalkan tempat itu dan mengarah ke kantin sekolah.
Semenjak mengetahui tewas nya Ramon membuat kesehatan Tuan besar Newton Kiel mulai menurun. Dia tidak menyangka Keponakan sekaligus Asisten pribadinya telah tiada. Apalagi Ramon berkorban untuk diri nya. Tuan besar Kiel terbaring lemah di ranjang nya. Tidak berselera makan. Dia hanya diam meratapi kesedihannya.
"Ayah tidak mau makan suami ku. Aku sudah membujuk ayah agar dia mau makan dan minum obat nya." Ucap Sandra.
Anderson langsung duduk di samping ranjang sang ayah.
"Ayah,,, makan dulu ya. Sandra sudah masak makanan kesukaan ayah. Ayah makan dulu ya." Anderson dengan sabar berbicara dengan sang ayah yang sama sekali tidak menggubrisnya.
"Ayah begitu terpukul karena kepegian Ramon yang begitu mengenaskan. Mereka yang membunuh nya sangat tidak punya hati. Untung saja mereka masih belum tau keberadaan Keenan." Bisik Anderson dan menundukkan kepala nya. Pikirannya semakin tidak tenang.
"Kapan Keenan kembali kesini. Aku semakin khawatir karena para penjahat itu sudah berkeliaran di sekitar Mansion. Segera suruh Keenan pindah suami ku. Ujian juga sudah berakhir. Dia bisa melanjutkan pendidikan ke luar negri. Aku sudah menyiapkan beberapa Universitas yang akan di pilih Keenan." Sandra mulai panik.
__ADS_1
"Jangan gegabah. Untuk saat ini, Mansion dan sekolah masih aman. Perlahan nanti aku akan atur jadwal untuk mengurus pindahan Keenan.
" Jangan buang waktu lama-lama sayang. Aku sangat mengkhawatirkan putra kita. Dia belum mengetahui kematian paman nya. Dia juga belum tau kalau kakek nya juga sedang sakit. Ucap Sandra semakin Khawatir.
"Aku sengaja menutupi nya agar dia fokus pada ujiannya. Aku tidak ingin hal ini mengganggu pikirannya. Dan sepertinya malam ini kita harus bicara dengan nya. Ujian dan hasil nya sudah keluar
" Tapi Keenan belum ada menghubungi kita" Ucap Sandra.
"Nanti malam kita hubungi Keenan. Kita harus menjelaskan nya pelan-pelan. Ucap Anderson.
" Keenan,,, ucap Tuan Besar Newton memanggil nama Keenan.
"Keenan,,, panggilnya dengn suara gemetar.
" Ayah,,, tenang ya, nanti malam aku akan menghubungi cucu kesayangan mu karema siang ini pasti Keenan masih di sekolah karena hari ini perpisahan murid di sekolah itu."
Tuan Newton kembali tidur dan Semakin membuat Anderson kembali murung. .
'Aku harus menyelidiki siapa dalang semua kejahatan ini. Jika memang mereka sudah di desa itu kenapa para penjahat itu tidak berani mendekati Keenan. Apa sebenarnya rencana mereka. Aku yakin ada rencana lain yang ingin mereka lakukan. Aku harus bergerak cepat. Batin Anderson sambil memikirkan masalah yang tidak kunjung selesai. Putra nya dalam bahaya tapi dia juga tidak bisa gegabah memindahkan Keenan kembali kerumah ini. Sandra terus menenangkannya walau hati Sandra juga sakit dan panik memikirkan nasib putra nya di Mansion sana..
"Jangan banyak pikiran. Kau harus tenang. Aku tidak ingin kau ikut sakit seperti ayah. Jika kau sakit siapa lagi yang melindungi Keluarga Kiel. Kirim banyak orang untuk melindungi putra kita jika kondisi sudah aman. Ucap Sandra sambil memegang tangan suami nya. Hanya istri nya yang bisa membuat hati nya tenang. Segala masalah sejenak terlupakan.
"Terima kasih kau selalu berada di samping ku dalam keadaan apapun." Ucap Anderson sambil memegang erat tangan istri nya.
"Ini tanggung jawab dan tugas ku sebagai istri mu. Sudah sepantasnya selalu mendampingi kemana pun kau pergi."
Anderson tersenyum hangat pada sang istri tercinta.
__ADS_1