
Clarissa dan Keenan pun akhirnya sampai di depan rumah Clarissa. Keenan belum mengatakan apapun sedari tadi. Clarissa tau Keenan masih marah padanya. Tapi itu tidak begitu penting baginya. Mereka berhenti tepat di halaman depan rumah Clarissa.
Clarissa berbalik ke arah Keenan yang masih memasang wajah ketat dan kesal nya. Wanitanya sama sekali tidak membujuk nya.
"Terima kasih sudah mengantarku. Terima kasih juga sudah menyelamatkan ku." Nada suara Clarissa sedikit pelan tapi dapat di dengar oleh Keenan yang berada tak jauh dari nya.
"Hm,, " Jawab Keenan singkat.
"Sebaiknya kau pulang. Aku yakin keluarga mu juga khawatir karena kau tidak pulang semalaman."
Keenan tidak menjawab, dia hanya menatap tajam wajah Clarissa yang benar-benar tidak peka pada sikap dingin nya.
"Suamikuuuu,,,, " Terdengar teriakan dari dalam rumah Clarissa, sontak membuat Clarissa dan Keenan melihat ke sumber suara itu. Jantung Clarissa berdegup kencang. Perasaannya langsung tidak enak dan bertanya-tanya apa yang terjadi di dalam sana. Tanpa fikir panjang Clarissa langsung berlari masuk kedalam rumah. Keenan pun mengikuti nya.
****
Saat di depan pintu.
"Ayah aku pulang,,,, " Teriak Clarissa. Max dan Clara menoleh ke arah Clarissa.
Betapa terkejutnya Clarissa melihat kondisi rumah nya yang porak poranda. Sangat berantakan. Banyak tubuh yang bergelimpangan tak berdaya. Dan jantungnya terasa tercekat saat melihat pria yang begitu dia cintai juga tergeletak dengan lumuran darah di sekujur tubuhnya. Kaki nya seakan lumpuh tidak dapat bergerak badannya terasa kaku dan pikirannya sudah mengambang kemana-mana.
"A,, ayaahh,,, " Perlahan Clarissa bejalan tertatih menuju Ayah nya yang di kelilingi Max dan Clara. Keenan juga ikut syok melihat keadaan rumah Clarissa dan juga Ayah Clarissa yang terbaring tak berdaya.
"Ayah,,, " Clarissa terduduk di samping Ayah nya. Ada apa dengan ayah. Kenapa ayah bisa berdarah seperti ini? Ibu,, paman Max, ayah kenapa?" Clarissa mulai menangis.
"Ayah mu,,, sudah tiada. " Ucap Max miris.
Clarissa menggelengkan kepalanya. Airmatanya membanjiri wajah cantiknya. Dadanya terasa sesak. Dia tidak percaya ayah yang dia cintai sudah pergi meninggalkannya.
"Ti,, tidak mungkin. Paman berbohong kan. Paman ini tidak benarkan? Ayah ku tidak apa-apa kan? Hanya pingsan kan? Ayah,,,,, " Teriak Clarissa menangis histeris sambil menggoynag-goyang tubuh sang ayah.
"Ayah bangun,,, jangan pergi ayah. Aku sudah kembali ayah. Bangunlah,,,, " Clarissa semakin terisak. Keenan ikut merasakan kesedihan yang sama. Dia mengalihkan diri nya untuk melihat senjata yang ada di tangan penjahat yang sudah tak berdaya di sebelahnya. Senjata yang tidak asing bagi nya.
__ADS_1
"Siapa yang melakukan ini paman? Jawab aku paman. Ibu berbicara lah. Kenapa kalian diam saja?" Tangis memilukan Clarissa semakin kuat.
"Berhentilah berpura-pura bodoh Clarissa. Seharusnya kau sadar suami ku meninggal itu karena ulah mu. Semua karena kau anak pembawa sial." Teriak Clara yang membuat mata Clarissa melotot.
"Clara apa yang kau katakan. Berhenti menyalahkan Clarissa. Dia tidak tau apa-apa." Ujar Max membela Clarissa.
"Kau jangan membela anak sialan ini. Kalau saja dia tidak pernah hadir di kehidupanku dan Teddy. Mungkin saat ini suami ku masih bersama ku. Dia tidak akan mati konyol seperti ini. Semua karena mu anak pembawa sial." Clara berteriak menangis dengan nada kebencian yang sudah tidak terbendung lagi. Perkataannya bagaikan petir di siang bolong. Tapi Clarissa mencoba kuat dan kembali fokus pada sang ayah.
"Siapa yang tega melakukan ini pada ayah paman? Siapa? Tanya Clarissa sambil terisak.
"Aku masih belum menyelidiki nya. Tapi yang pasti para penjahat itu mencari Tuan Muda Kiel." Ujar Max membuat Keenan terkejut Mata nya beralih pada Max. Begitu pun dengan Clarissa. Dia begitu terkejut dan tidak menyangka kenapa keluarga Kiel tega melakukan ini.
"Paman juga melihat kalau senjata itu sepertinya milik keluarga Kiel. Karena ada lambang Kiel pada senjata itu."
Keenan menggelengkan kepala nya.
"Paman jangan asal bicara. Tidak mungkin keluarga ku berani berbuat sebejat ini. Keluarga ku tidak pernah bermain-main dengan nyawa. Aku juga tidak mengenal mereka semua paman. Sedikit banyak nya aku mengenali semua anak buah Kakek dan Ayah ku. Jangan asal menuduh itu tidak mungkin." Keenan mencoba meyakinkan semua orang. Dia yakin semua ini pasti ada yang salah.
"Cla,,, percaya padaku. Ini bukan ulah keluarga ku. Mereka tidak pernah mempermainkan nyawa seseorang. Aku kenal betul keluarga ku." Keenan memegang erat tangan Clarissa. Clarissa langsung menghampaskan tangan Keenan. "Darah lebih kental dari air Keenan. Seperti apapun keluarga mu pasti kau akan tetap membela mereka daripada orang lain walaupun jika mereka bersalah." Clarissa semakin memojokkan Keenan.
"Clarissa,,,,!!! " Keenan begitu sedih melihat tatapan Clarissa yang tidak mempercayainya.
"Hentikan omong kosong kalian. Jangan membuat keributan di depan Jasad suami ku." Clara memeluk tubuh suami nya. Dia mulai depresi melihat suami nya yang sudah tidak bernyawa.
"Dan kau sebaiknya kau pergi dari sini. Jangan tunjukkan wajah mu lagi di depan ku. Aku tidak sudi melihat mu lagi. Aku tidak pernah sudi menjadi ibu mu lagi. Pergilah dan jangan pernah kembali." Tunjuk Clara ke depan wajah Clarissa.
"Tapi ibu, aku ingin mengantar ayah keperistirahatan terakhirnya. Aku mohon jangan usir aku bu." Clarissa semakin terisak. Hatinya begitu pilu. Kenapa kehidupannya begitu menyakitkan.
"Kau sama sekali tidak di butuhkan. Sekarang pergilah. Tidak ada lagi alasan untuk mu tetap tinggal disini. Ayah mu sudah tiada. Jadi pergilah. " Teriak Clara mengusir Clarissa.
Clarissa tidak tau harus berbuat apa. Diapun melangkah keq arah pintu dengna berjalan mundur sambil melihat jasad sang ayah.
"Maafkan aku ayah. " Clarissa semakin menangis sejadi-jadi nya.
__ADS_1
"Clarissa jangan pergi nak." Cegah Max.
"Clara apa yang kau lakukan. Jika kau mengusirnya dia hendak tinggal dimana." Celoteh Max yang tidak di gubris sama sekali oleh Clara.
"Clarissa,,, " Panggil Keenan dan dia megikuti Clarissa yang sudah berlari ke depan halaman rumah. Dia berlari sekuat yang dia mampu sambil menangis tersedu. Hingga sampailah dia di hutan. Keenan terus mengejarnya. Dia melihat sekeliling hutan. Dia tau dia tidak bisa terus berlari mengejar Clarissa tapi keselamatan Clarissa lebih penting untuk nya.
"Clarissa tunggu aku. Clarissa,,,, " Keenan meraih tangan Clarissa. Menggenggamnya erat.
"Apa lagi, lepaskan aku Keenan. Pergi dari sini. Jangan mengikuti ku. Aku tidak akan pernah memaafkan keluarga mu. Kalian pasti bahagia sudah melenyapkan ayah ku."
"Clarissa aku akan mencari tau siapa dalang nya, aku tidak akan membiarkan mereka menuduh keluarga ku seperti itu."
Clarissa menyeringai.
"Kau masih membela mereka. Lepaskan aku." Clarissa kembali menghempaskan tangan Keenan.
"Dorr,,,, " Terdengar suara tembakan tidak jauh dari posisi Keenan dan Clarissa saat ini. Membuat Clarissa dan Keenan menghentikan langkahnya. Segera Keenan berlari menuju Clarissa. Dan kembali meraih tangannya dan membawa Clarissa segera berlari.
"Clarissa,,,kita harus segera pergi." Keenan menarik tangan Clarissa.
Clarissa memahan diri nya dan langsung menghempaskan pegangan Keenan. Sontak Keenan terkejut melihat sikap Clarissa.
"Clarissa... " Keenan menatapnya heran.
"Aku tidak akan pergi bersama mu. Jikakau ingin pergi, pergi saja. Aku akan tetap disini." Ucapnya ketus.
"Clarissa ku mohon kali ini jangan keras kepala. Kau bisa tertangkap jika masih disini." Keenan mulai merasa lelah membujuk Clarissa yang keras kepala.
"Aku tidak perduli. Jika kau tidak mau pergi, baiklah, biar aku yang pergi tanpa kau."
"Tapi Clarissa,,, " Keenan mulai meraih tangan Clarissa. Tapi Clarissa menghindar. Clarissa langsung menolak kuat tubuh Keenan hingga membuat Keenan terjatuh di rerumputan. Dan dengan cepat Clarissa berlari meninggalkan Keenan.
"Clarissa,,,, " Teriak Keenan.
__ADS_1