
Pagi harinya di ruang Kenny di rawat. Ada Sandra dan Rose di ruangan itu. Sandra dan Rose berbincang-bincang. Sementara Kenny baru terbangun dari tidurnya.
"Sayang, sudah bangun?" Tanya Sandra lembut dan Kenny hanya tersenyum dan merubah posisi tidur nya yang tadinya berbaring menjadi duduk.
"Ma aku ingin melihat Alex." Ucap Kenny.
"Pria disebelah?" Tanya Rose.
"Iya Bi, aku ingin melihat kondisinya."
"Baiklah kita akan kesana tapi kau harus sarapan lebih dulu ya." Ucap Sandra.
"Iya Ma." Sahut Kenny sambil menyantap makanannya.
"Kalian memang saling kenal Kenn?" Tanya Rose.
"Tidak Bibi, hanya tidak sengaja bertemu dan aku menemukan dompet nya yang terjatuh. Dari situ aku tau nama nya Alex. Hanya saja dia ketus dan cuek. Padahal wajahnya sangat tampan." Celetuk Kenny cemberut.
"Benarkah? Bibi jadi penasaran ingin melihatnya juga." Ujar Rose menggoda.
"Kau menyukainya? " Tanya Sandra.
"Tentu saja Mama, dia begitu tampan dan tangguh." Jawab Kenny refleks dan dia langsung membekap mulutnya sendiri karena sudah keceplosan berbicara.
Sandra dan Rose tertawa terbahak melihat tingkah Kenny yang polos.
"Maaf Ma, Bi aku hanya bergurau saja." Ucap Kenny tertunduk malu.
"Tidak masalah sayang. Itu hal yang wajar. Cepat habiskan makanan mu. Tante akan ikut mengantar mu kesebelah. Tante penasaran sekali ingin melihatnya.
Wajah Kenny semakin bersemu kemerahan. Dia merasa malu. Namun memang tidak di pungkiri. Dia sudah jatuh hati pada pria yang bernama Alex itu.
Kenny pun sudah selesai makan. Mereka minta izin pada dokter untuk membawa Kenny ke ruang sebelah untuk melihat Alex dan dokter pun mengizinkannya. Kenny menggunakan kursi roda karena tubuhnya belum begitu fit berjalan. Dia di dorong oleh Sandra.
Rose mengetuk pintu dan tidak berapa lama pria paruh baya muncul di hadapannya membukakan pintu. Sejenak Max terpaku melihat kedatangan Rose yang sejak semalam, wanita yang sangat mirip dengan Ruby. Rose juga sempat terpaku melihat Max. Mereka tersadar ketika Kenny berdehem.
"Ehemm,,,permisi paman. Aku Kenny. Aku boleh melihat Alex?" Tanya Kenny sambil tersenyum manis walau wajah nya masih terlihat begitu pucat.
"Ohh iya maaf. Aku sampai kaget melihat kalian. Tentu saja boleh. Mari silahkan masuk." Max sedikit salah tingkah.
Sandra, Rose dan Kenny pun masuk. Didalam mereka langsung melihat Alex yang sedang duduk. Dia juga baru selesai sarapan. Dia sempat terpaku melihat ketiga wanita yang baru saja masuk.
"Hai...!!! " Sapa Kenny.
Alex langsung tersenyum walau tidak menjawab.
"Bagaimana keadaan mu? Sudah membaik?" Tanya Kenny lagi.
__ADS_1
"Kau,,, kau Alex yang di Club Gym kan? Ujar Rose membesarka matanya.
" Iya Nyonya. Apa kabar?" Alex juga terkejut, dia memang seperti melihatnya tidak asing.
"Astaga ternyata Kau yang menyelamat Kenny. Aku sungguh tidak menyangka nak." Ujar Rose bahagia. Mereka sudah berdiri di sisi kanna dan kiri Alex.
"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Sandra.
"Tentu saja. Aku sering ke club gym nya. Tapi beberapa minggu ini aku jarang melihatnya." Ujar Rose.
"Iya Nyonya aku ada pekerjaan lain ke New York." Jawab Alex.
"Pantas saja. Bagaimana keadaan mu nak? Apa masih sakit?"
"Tidak Nyonya aku sudah merasa lebih baik."
"Terima kasih banyak nak Alex sudah membantu Kenny saat dalam bahaya. Aku tidak tau bagaimana cara membalas kebaikan mu." Ucap Sandra lembut dan terharu.
"Perkenalkan ini mama ku." Ucap Kenny memeperkenalkan Sandra.
Alex tersenyum ramah. Dia tidak melihat keangkuhan dari kedua keluarga Kiel ini. Dan begitu pun dengan Rose, Alex tidak menyangka tenyata Rose memiliki hubungan dengan keluarga Kiel.
"Sandra ini sahabatku semasa sekolah. Jadi saat mendengar Kenny kecelakaan dia langsung datang kesini. Dan by the way kau keren sekali bisa menyelamatkan Kenny dengan mengorbankan dirimu. Sudah seperti pahlawan tampan di film-film drama romantis." Canda Rose dan membuat semua orang di ruangan itu tertawa. Begitu pun dang Max yang masih terdiam mendengarkan mereka berbicara.
"Terima kasih sudah datang menjengukku. Oh iya perkenalkan itu Ayah ku." Ucap Alex dan membuat semua mata melihat Max. Max terlihat kikuk namun langsung tersenyum ramah.
" Salam kenal Tuan." Ujar Sandra dan di balas senyuman oleh Alex.
Kenny terus menatap Alex yang sedang berbincang dengan Bibi dan juga Mamanya. Jantung terasa tidak aman ketika melihat Alex. Berdetak begitu kencang. Dia benar-benar tergoda dengan pria di hadapannya. Namun Alex tidak banyak berbicara pada Kenny. Dia hanya ramah pada kedua wanita paruh baya yang terlihat masih begitu cantik-cantik.
Alex sadar jika Kenny terus menatapnya, sesekali dia melirik namun ia tetap cuek.
Cukup lama mereka berbincang. Dan waktunya Kenny untuk kembali ke kamarnya.
"Nak Alex kami harus kembali membawa Kenny ke ruangan. Sudah lumayan lama kami disini. Kau juga butuh istirahat dan Kenny pun begitu." Ucap Sandra.
"Baiklah Nyonya, terima kasih sudah datang menjenguk ku. Aku cukup terhibur dan merasa sembuh setelah kedatangan kalian." Ujar Alex tulus.
"Sama-sama anak ganteng, cepat pulih supaya kita bisa latihan bersama lagi." Celetuk Rose.
"Pasti Nyonya." Lagi-lagi Alex tersenyum dan membuat Kenny semakin terpesona.
'Andai dia ramah seperti itu dengan ku.' Kenny merasa sedikit kecewa karena sikap Alex sama seperti pertama kali mereka bertemu.
"Ayo nak." Ajak Sandra pada Kenny.
"Iya Ma. Bye Alex. Sekali lagi terima kasih sudah menyelamatkan aku." Ucap Kenny lembut.
__ADS_1
Alex hanya tersenyum tipis dan sedikit mengangguk.
Ketika Rose hendak beranjak tiba-tiba matanya terfokus pada kalung yang di pakai Alex. Jantungnya berdegup kencang. Tapi Rose mencoba lebih tenang.
"Maaf nak, aku melihat kalung mu begitu indah." Ujar Rose pada Alex.
"Ohh,,, ini kalung milik adik ku. Dia menitipkan padaku." Sahut Alex.
Max terkejut mendengar pertanyaan Rose. Dia sedikit mencurigai wanita ini.
"Adik? Sekarang dia dimana?" Tanya Rose lagi.
"Kebetulan dia sedang bekerja Nyonya. Kenapa Nyonya?" Alex balik bertanya.
"Tidak, aku hanya penasaran. Ternyata kau masih memiliki adik." Senyum Rose tampak berubah canggung.
"Kalau begitu kami pamit ya." Ujar Rose undur diri dan kembali menatap Max yang juga sedang menatapnya. Rose tersenyum begitupun dengan Max. Mereka bertiga pun kembali ke ruangan Kenny. Tinggallah Max dan juga Alex di ruangan itu.
"Aku lihat ayah menatap Nyonya Rose terus menerus. Apa ayah suka padanya?" Tanya Alex menggoda.
"Kau ini. Sedang sakit masih saja bergurau. Tidak, aku hanya penasaran pada wanita itu. Dia begitu mirip dengan Ruby. Terlebih ketika dia bertanya tentang kalung yang kau pakai. Aku semakin penasaran.
"Dari awal bertemu dengannya juga aku berfikir seperti itu ayah. Aku mengira Ruby datang ke Club Gym, tapi ternyata bukan. Jika mereka di sandingkan aku yakin orang-orang akan mengira mereka kembar. Hanya perbedaan usia saja." jelas Alex dan Max hanya mengangguk sambil memikirkan sesuatu.
"Kapan Ruby kesini ayah?" Tanya Alex.
"Mungkin setelah pulang kerja. Oh iya tadi ayah ingin membayar biaya perobatanmu tapi saat ingin bayar, perawat mengatakan kalau Ruby sudah membayarnya." Ucap Alex.
"Ayah memberikan Kartu ku padanya?" Tanya Alex.
"Tidak, dia membayarnya sendiri pada bagian kasir. Jawab Max.
Alex merasa tidak enak hati, karena dia tau Ruby tidak akan memiliki uang sebanyak itu.
"Nanti aku akan bicara padanya ayah. Dan kapan aku bisa pulang yah? Aku sudah bosan sekali tinggal disini ayah."
"Besok pagi, tadi ayah sudah bertanya pada dokter sekalian bertanya kondisi mu."
"Ahhh syukurlah." Alex menghelakan nafas lega. Max masih berfikir panjang tentang wanita bernama Rose itu. Sampai dia tidak sadar kalau Alex memanggila.
"Ayah,,,,!!! " Suara Alex meninggi karena Max tidak mendengarnya.
"Ada apa? Kenapa kau berteriak?" Jawab Max kesal.
"Aku berulang kali memanggil ayah namu tidak menyahut. Ada apa dengan mu ayah. Kau seperti punya fikiran yang berat.
"Tidak ada masalah apa-apa. Istirahatlah agar besok kau pulih betul." Ucap Max sambil memeriksa ponselnya.
__ADS_1
"Baiklah ayah." Alex mendengus.