Come Back My Love

Come Back My Love
42. Berjanjilah


__ADS_3

"Ruby Hill? " Ucap Max.


"Apa ini nama Clarissa?" Tanya Max.


Teddy mengangguk.


"Iya, aku yakin ini kalung yang di buat khusus untuk Clarissa. Tapi aku merubah nama nya dengan menambahkan nama Clara agar mereka bisa dekat. Tapi nyata nya Clara tidak bisa menerima nya." Teddy begitu bersedih. Max ikut bersedih melihat sahabat nya.


"Kau tidak bisa memaksakan keadaan. Mungkin Clara tidak bisa menerima nya karena bukan darah daging nya. Yang penting kau mencintai putri mu sepenuh hati." Ucap Max sambil memegang bahu sahabat nya. Max masih memegang kalung itu. Menatap dengan lamat.


"Hill mungkin nama keluarga besarnya." Tebak Max dan Teddy jawab dengan anggukan.


"Aku merasa tidak asing dengan nama ini. Sepertinya ini bukan merupakan orang biasa. Tapi kenapa mereka membuang nya ya? " Max mulai berfikir keras. Dia merasa pernah mendengar nama ini. Berdasarkan pengalaman nya yang sudah pergi kemana saja, dalam bahkan luar negri. Tapi dia tidak mengingatnya dimana dia pernah medengar nama ini.


"Aku juga tidak tau Max, anak secantik dan sepintar Clarissa bisa-bisa nya dibuang begitu saja. Aku yakin keluarganya pasti sangat menyesal sudah menyianyiakan nya." Teddy tersenyim miris.


"Aku yakin orang tua nya punya alasan yang kuat mengapa membuang Clarissa. Aku akan coba cari tau kau tenang saja." Kembali max menepuk bahu Teddy.


"Tidak mungkin semudah itu Max, pasti nama Hill itu banyak di dunia ini. Akan sulit bagi mu menemukan keluarga Clarissa." Canda Teddy.


"Kau meremehkan ku sobat." Max menyipitkan matanya.


"Tidak, aku sangat yakin padamu. Makanya aku percayakan kau menjaga nya seperti kau menjaga putri mu sendiri. Tapi cari pendamping hidup dulu agar terasa lengkap." Sindir Teddy.


"Heii,,,sudah aku katakan aku tidak akan menikah. Umur ku juga sudah tidak muda lagi. Jika aku merindukan wanita aku bisa tinggal memilih wanita mana yang aku inginkan, tapi tidak untuk di jadikan istri. Aku tidak berniat kesitu. Lebih baik aku mengadopsi banyak anak." Ucap nya remeh.


"Kau memang aneh, dimana-mana itu mencari pendamping agar memiliki keturunan." Teddy tertawa melihat tingkah sahabatnya.


"Doorr,,,! Terdengar suara tembakan di dalam rumah Teddy. Membuat Max dan Teddy terkejut dan memilih untuk tiarap menyelamatkan diri. Kalung yang di pegang Max pun terlepas dari tangannya.


"Bersembunyi Max. " Teriak Teddy sambil bersembunyi di balik sofa.


"Sialan, siapa mereka." Ucap Max marah. Max melihat kantong senjata nya berada di atas lemari yang sengaja dia taruh agar tidak terlihat siapapun.


'Bagaimana cara nya aku mengambilnya'. Batin Max yang hendak berdiri mengambil senjatanya.


"Max kau mau apa? Kau bisa tertembak." Teriak Teddy.

__ADS_1


"Senjataku." Ucap Max sambil menunjuk ke atas lemari.


"Itu tidak penting. Selamatkan dirimu terlebih dahulu."


"Jangan khawatirkan bajiangan sepertiku. Ini bukan hal yang sulit. Sebaiknya khawatirkan dirimu sendiri." Ucap Max sambil berdiri dan langsung meraih kantong senjatanya.


Terdengar suara beberapa langkah kaki masuk kedalam ruangan itu. Dan mulai berteriak.


"Keluar kalian. Dimana kalian sembunyikan Tuan Muda Kiel." Teriak si pemegang pistol.


Kening Max berkerut.


"Tuan Muda Kiel?"


"Mereka mencari Keenan, Anak dari keluarga Kiel yang hilang bersama Clarissa." Ujar Teddy.


"Jadi mereka para pesuruh keluarga itu? " Tanya Max.


"Aku tidak tau, mungkin saja. Tapi kenapa mereka mencari kesini? Apa mereka masih mengira aku yang berniat jahat menculik putranya?" Ucap Teddy kesal.


"Max kalung nya." Ucap Teddy


"Astaga aku lupa, kenapa bisa terjatuh disitu. Tenang ya, aku akan berusaha mengambilnya." Ujar Max tenang.


"Hati-hati Max" Bisik Teddy.


"Dorr dorr,,, " Suara tembakan kembali terdengar. Mex mengintip ada berapa banyak penjahat yang datang.


"Sialan mereka banyak sekali. Seperti mau perang saja." Ujarnya kesal. Max mulai mengarahkan pistol nya ke salah satu penjahat itu dan satu per satu penjahat nya mati tertembak. Selebihnya masih bersembunyi di sela-sela ruangan.


"Heii dimana kau? Beraninya kau bersembunyi. Keluar kau brengsek." Ucap penjahat. Dan tidak berapa lama penjahat yang baru saja berbicara langsung tertembak oleh peluru jitu Max.


"Mati kau, kau terlalu banyak bicara." Max tertawa senang. Dia berhasil melumpuhkan satu per satu penjahat itu. Teddy dapat bernafas lega. Akhirnya sahabatnya berhasil mengalahkan semua penjahat itu dengan keahlian bersembunyi nya. Tidak salah dia mempunyai teman berprofesi sebagai Mafia.


Max bangkit dan melihat ke kanan kiri nya. Dan setelah merasa aman dia melangkah menuju kalung yang terjatuh di dekat sofa yang di duduki nya tadi.


"Akhirnyaa,,, " Max mengambil kalung tersebut dan merasa lega.

__ADS_1


"Max awass,,,,, dorr doorr dorr,,," Suara tembakan kembali terdengar. Max menutup mata dan telinganya. Bayangannya adalah akhirnya dia tertembak juga. Tapi kenapa tidak ada rasa sakit yang di rasakannya. Max langsung membuka matanya. Betapa terkejutnya dia saat melihat Teddy sahabatnya sudah terkulai lemas dengan berlumuran darah di bagian perut dan dada nya. Teddy tertembak karena menyelamatkan Max.


"Teddy,,, " Teriak Max, dan langsung menembak mati penjahat yang sudah berani menyentuh sahabatnya.


"Teddy,,,,bertahan lah. Aku akan membawa mu ke Rumah sakit." Max panik bukan main. Sahabatnya sudah menyelamatkan nyawa nya.


"Max,,, ka,,kau baik-baik saja kan? Ucap Teddy terbata-bata.


"Dalam keadaan seperti ini kau masih mengkhawatirkan ku. Menyebalkan" Kesal Max bersedih. Dia memangku sahabatnya.


"M,,Max,,, " Teddy menggenggam erat tangan Max.


"Bertahanlah Teddy aku akan mambawa mu ke Rumah sakit. Bertahanlah." Teriaknya geram. Max merasa begitu kesal dan juga takut secara bersamaan.


"Ti tidak Max, tidak ada waktu la lagi. Aku sudah tidak sanggup."


"Kenapa kau begitu bodoh. Kenapa tidak membiarkan aku tertembak. Aku tidak akan semudah itu untuk mati. Kenapa kau malah mengorbankan nyawamu. Bagaimana cara nya aku membalas nya sialan." Ujar Max semakin terpuruk. Teddy pun tersenyum.


"Ber,, berjanjilah untuk menjaga Clarissa ku seumur hidup mu. Jadilah ayah yang sempurna untuknya. Jangan biarkan dia terpuruk apalagi ter tersakiti. Aku mohon. " Ucap Teddy terbata-bata.


"Tanpa mengorbankan dirimu aku juga akan lakukan Teddy. Bertahanlah. Kau pasti bisa selamat." Airmata Max mengalir begitu saja. Baru kali ini dia menangis.


"Serahkan kalung ini padanya di waktu yang tepat. Jelaskan padanya bahwa aku menyayanginya, mencintainya melebihi apapun." Teddy mulai tidak sanggup.


"Suami ku,,,,, " Terdengar teriakan dari arah dapur. Clara yang baru pulang dari pasar langsung syok melihat keadaan rumahnya dan juga suami nya yang sudah tak berdaya dengan lumuran darah. Dia terjatuh di samping suaminya.


"Sayang,,, apa yang terjadi. Kenapa kau bisa seperti ini? Max ada apa dengan suami ku?" Teriak Clara sambil memegang erat tangan suaminya. Max tidak bisa berkata-kata.


"Ma maafkan a aku, a aku belum bisa menjadi su suami yang ba baik untuk m mu." Ucap Teddy menghembuskan nafas terakhirnya.


"Teddy,,,,, "


" Suami kuu,,,, "


Ucap Max dan Clara bersamaan dengan tangisan yang begitu memilukan. Teddy meninggal dengan cara yang tragis.


'Aku berjanji akan menjaga Clarissa dengan baik seumur hidupku. Tenanglah sahabatku. Berbahagialah kau di Surga. Jangan ragukan aku. Bahkan nyawa ku juga akan aku kerahkan untuk menjaga Putrimu.' Batin Max tertunduk.

__ADS_1


__ADS_2