
Di kediaman Max.
"Ada apa dengan mu nak? Kenapa kau tampak ketakutan begini? " Tanya Max pada Ruby.
Alex datang membawa air minum.
"Minumlah dulu, agar kau bisa tenang." Ujar Alex memberikan minum.
Ruby pun langsung minum dan meneguk habis air dalam gelas. Ruby mencoba tenang lalu mulai berbicara.
"Aku menerima pesan singkat, berupa ancaman. Hal itu membuat aku ketakutan. Rasanya aku kembali ke masa 8 tahun lalu ayah." Ruby mulai menangis.
"Tenang lah nak, semua akan baik-baik saja. Ayah tidak akan membiarkan mereka berbuat sesuatu yang buruk padamu." Ucap Max sambil memeluk Ruby.
"Aku mengkhawatirkan Keenan. Orang itu mengancam akan mencelakai Keenan jika aku tidak menjauhinya." Ruby jelas memikirkan keselamatan Keenan.
"Pria itu tidak perlu kau khawatirkan. Dia ketua gangster, tidak mungkin orang berani mencelakainya. Seharusnnya kau mengkhawatirkan dirimu. Kau yang lebih terancam disini. Tapi tenanglah, ayah akan mengerahkan semua personil ayah untuk melindungimu." Max menenangkan Ruby walau dia juga sedang berfikir keras bagaimana cara menangkap penjahat yang telah meneror Ruby.
Max yakin orang ini adalah orang yang sama, orang yang mencoba melenyapkan Ruby.
"Berikan nomornya padaku. Aku akan lacak nomor siapa itu." Perintah Alex dan Ruby pun mengangguk.
"By,,, apa kau tau kabar Kenny? Dimana dia sekarang? "
Ruby menoleh dan berbalik menatap Alex.
"Kenapa kakak mencarinya? Kakak tidak akan ribut dengannya lagi kan?" Tanya Ruby khawatir.
"Tidak,,, kakak hanya khawatir padanya." Ucap Alex malu-malu.
Wajah khawatir Ruby seketika berubah saat Alex mengatakan kalau dia mengkhawatirkan Kenny.
"Sepertinya Kenny tinggal di Apartemen Keenan kak. Karena dia juga belum ada menghubungiku. Dan aku yakin Kenny pasti bersama Keenan. Keenan belum mengizinkan Kenny menggunakan ponsel."
Alex menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hatinya dia berfikir keras bagaimana caranya dia bertemu dengan gadis itu. Gadis yang beberapa hari ini memenuhi fikirannya. Dia juga bingung kenapa dia terus memikirkan Kenny. Wajah gadis itu terus terbayang dan membuat jantungnya berdegup kencang.
"Syukurlah jika dia tinggal bersama kakak nya. Aku bisa sedikit lega." Ceplosnya.
"Tumben kakak bersikap seperti ini. Biasanya kakak cuek padanya."
Alex tidak menjawab, Dia hanya tersenyum malu.
" Aku berharap hubungan kakak dengan Kenny bisa lebih baik setelah ini. Jangan memaksakan diri kak. Buat dia nyaman bersama kakak. Karena aku yakin trauma itu masih terus menghantui nya.
"Iya By, aku mengerti." Sahut Alex sambil tersenyum, Max pun ikut tersenyum.
"Kenapa kalian janjian untuk saling dekat dengan keluarga itu. Kalian jadi mengabaikan ku." Eluh Max bercanda.
"Ayah,,, kami tidak akan mengabaikan Ayah. Karena Ayah segalanya untuk kami." Ucap Ruby. Ketiganya pun saling berpelukan.
"Ayah,,, kakak, aku harus kembali ke kantor. Aku sudah sangat terlambat. Keenan pasti mencariku." Ujar Ruby.
"Aku akan mengantarmu. Kebetulan aku mau ke Club gym." Sahut Alex.
"Iya, antar Ruby sampai depan kantor. Pastikan adik mu aman." Perintah Max.
__ADS_1
"Siap laksanakan Bos."
Ruby dan Max tersenyum melihat tingkah Alex.
Perusahaan Emerald Corporate.
Keenan galisah karena sampai saat ini Ruby belum juga muncul setelah makan siang. Fikirannya bercampur aduk, antara khawatir, kesal dan juga rindu. Ya Keenan begitu merindukan Ruby. Baru beberapa jam dia tidak bertegur sapa degan Ruby namun terasa begitu lama dan sungguh menyiksa dirinya.
Keenan memutuskan untuk mencari Ruby. Keenna segera turun ke Loby dan saat Keenan keluar, dia di kejutkan dengan pemandangan yang tidak mengenakkan.
Ruby sedang berpelukan hangat dengan Max. Hati Keenan terasa panas melihat keduanya. Padahal kantor sedang ramai-ramainya.
'Sialan,,,, bisa-bisanya mereka bermesraan di depan umum begini, berpelukan bak sepasang kekasih di depan orang banyak. Apa mereka tidak punya malu.' Gumam Keenan kesal.
"Terima kasih kak, aku masuk dulu ya, kakak hati-hati dijalan." Pesan Ruby.
"Jangan khawatirkan aku, kau yang seharusnya berhati-hati. Segera hubungi aku jika ada sesuatu yang mencurigakan."
" Baik Bos,,,!!! Ruby menghormat Alex.
"Masuklah, nanti Keenan mencari mu." Ujar Alex sambil mengacak-acak rambut Ruby.
"Dah kakak,,,!!! " Teriak Ruby sambil melambaikan tangannya.
Saat hendak masuk seketikan Ruby terpaku saat melihat Keenan sedang berdiri dengan wajah dinginnya yang juga sedang melihat Ruby.
Ruby tak dapat berkata-kata. Di dalam fikirannya apakah Keenan masih berfikiran buruk padanya. Apalagi setelah melihat dirinya dan Alex berpelukan.
Keenan berbalik dan kembali keruangannya tanpa berbicara sepatah kata pun pada Ruby.
Saat di meja kerjanya. Ruby yang sedang sibuk di kejutkan dengan kedatangan Keenan dengan membawa beberapa tumpuk berkas-berkas yang harus Ruby selesaikan.
"Selesaikan semua hari ini. Ini adalah hukuman untuk karyawan yang tidak disiplin. Kau kembali ke kantor tidak tepat waktu. Jangan bersikap sesuka hatimu. Siapapun dirimu, kau harus mengetahui batasan dan mengingat tugas mu. Harus tetap profesional. Selesaikan hari ini juga." Ucap Keenan ketus.
"Baik pak." Jawab Ruby dengan suara bergetar.
Keenan sedikit melirik Wajah Ruby yang tampak bersedih, matanya tampak berkaca-kaca. Hati Keenan sedikit menyesal namun dia mengabaikannya. Keenan langsung kembali ke ruangannya.
Hati Ruby terasa sesak, kenapa Keenan berhicara seperti itu. Ruby jelas tau apa posisinya di kantor ini.
Ruby pun memulai menyelesaikan pekerjaannya, walau dia harus lembur, dia akan menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini juga.
Di dalam ruangan Keenan, pria terus memaki dirinya sendiri karena sudah berbicara kejam pada Ruby yang baru saja menjadi kekasihnya.
"Mulut ini benar-benar sialan. Bisa-bisanya berbicara kasar pada Ruby. Aaarghh,,,!!! " Keenan melenguh. Dia bersandar di kursi kebesarannya.
Sementara di luar Ruby sedang sibuk dengan berkasnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 18.30, sementara pekerjaan Ruby masih banyak yang belum selesai. Keenan mengambil jasnya dan langsung ia kenakkan. Pria itu hendak pulang. Saat di depan ruangan ponsep Keenan berdering. Dan pria itu langsung menjawabnya.
"Ya Nez,, ada apa?" Tanya Keenan sambil melirik Ruby.
Wajah Ruby menegang saat Keenan menyebut nama Inez dengan sangat lembut. Sangat berbeda saat Keenan berbicara padanya.
"Baiklah,,, aku akan segera kesana. Tunggu aku ya. Bye.!! " Ujar Keenan mengakhiri panggilannya. Dia berjalan melewati Ruby tanpa menyapa sedikitpun.
__ADS_1
Hati Ruby terasa sangat sakit, Keenan benar-benar mengabaikannya bak orang asing. Pria itu semakin jauh dan sama sekali tidak menoleh sedikitpun hal itu membuat Ruby semakin bersedih.
Dia pun menangis sambil menundukkan kepalanya agar tidak ada yang melihat menangis.
"Kenapa ini terasa sangat sakit? Aku mengira Keenan akan selalu bersikap baik padaku. Namun nyatanya. Semua tidak ada yang pasti. Dada ini terasa begitu sakit." Ruby menangis sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
Lama Ruby menangis, setelah mulai tenang dia kembali menyelesaikan pekerjaannya.
"Kuatlah Ruby,,, kau tidak akan tau kapan mereka menganggapmu berarti. Atau bahkan menganggapmu seperti sampah. " Ruby bermonolog.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam. Namun pekerjaan Ruby belum juga selesai.
Di Apartemen Inez.
"Daddy lihat ini, aku mendapatkan nilai yang bagus di sekolah." Ujar Noah.
Keenan tidak menjawab, dia hanya diam, fikirannya terus melayang memikirkan Ruby yang sudah dia tinggalkan sendirian di kantor dengan banyak pekerjaan.
"Daddy tidak mendengar ku?" Tanya Noah membuat Inez menoleh.
"Keenan,,,Noah berbicara padamu. Ujar Inez mengejutkan Keenan.
"Ehh iya, maaf nak Daddy tidak mendengar apa yang kau katakan."
" Ada apa dengammu? Kau tampak murung hari ini." Tanya Inez lembut.
"Tidak apa-apa, hanya sedang memikirkan pekerjaan saja." Jawab Keenan asal.
"Kau bohong, aku bisa melihat kegundahan di mata mu Keen. Kau sedang ada masalah?"
"Tidak Nez, aku baik-baik saja. Lupakan saja." Sahut Keenan datar.
Namun lagi-lagi fikiran Keenan masih pada Ruby. Didalam batinnya betapa teganya dia meninggalkan kekasihnya lembur sendirian sementara dirinya sedang bersama wanita lain disini. Hati Keenan semakin gusar. Dia pun memutuskan untuk segera pulang.
"Aku pulang dulu Nez. Sudah mulai larut."
"Aku masih menginginkan mu tetap disini Keen." Ucap Inez blak blakan. Belakangan ini Inez menjadi seseorang yang sedikit mendominasi. Keenan merasa tidak nyaman.
"Maaf Nez aku harus pulang karena Kenny tinggal bersama ku sekarang. Dia pasti menungguku saat ini." Bohong Keenan.
"Baiklah,,,!!! " Jawab Inez kecewa.
"Sayang Daddy pulang dulu ya. Lain kali Daddy datang lagi, Daddy akan membawamu jalan-jalan dan makan makanan yang lezat."
"Benarkah Daddy. Kalau begitu Daddy boleh pergi. Hati-hati Daddy, sering hubungi aku ya. Itu tanda Kalau Daddy selalu mengingat ku." Ujar Noah.
"Siap Bos. Daddy akan selalu menghubungi mu. Karena Noah adalah kesayangan Daddy." Jawab Keenan sambil memeluk Noah.
"Tidur lah, besok kau harus sekolah." Keenan merapikan rambut Noah.
"Iya Daddy. GoodNight Dad."
"GoodNight sayang. Aku pamit dulu Nez." Ucap Keenan sambil menepuk bahu Inez.
Wanita itu hanya diam. Dia kecewa lagi-lagi Keenan mengabaikannya.
__ADS_1