Come Back My Love

Come Back My Love
52. Identitas Diri


__ADS_3

Di Klub Gym Alex. Pengunjung hari ini cukup ramai hingga membuat Alex sedikit kesulitan karena dia juga harus mengontrol beberapa orang yang ikut latihan bersama nya.



Tiba-tiba ponsel Alex berdering. Ternyata Max memanggilnya. Alex langsung menjawab panggilan itu.



"Ya Ayah?" Alex tiba-tiba terdiam mendengar suara Max. Perasaan khawatir nya tiba-tiba datang.



"Baik Ayah, aku akan segera pulang. Ayah tenang, tunggu aku di rumah ya. " Alex mengakhiri pembicaraan dan langsung bergegas pulang kerumah dan menitipkan Klub Gym kepada teman nya yang berjaga disitu.



Sesampainya di rumah. Alex melihat Max terduduk di ruang tamu, tampak wajah paruh baya itu begitu kelelahan dan juga panik.


"Ayah,,, " Alex menghampiri Max.


"Ayah baik-baik saja kan?" Memeriksa keadaan sang Ayah.



"Aku baik-baik saja nak. Tapii,,,, " Max menghentikan pembicaraannya.



"Markas kita habis terbakar. Aku tidak bisa menyelamatkan peralatan dan juga senjata kita. Hanya beberapa saja.


" Kenapa bisa terbakar ayah? "


"Polisi masih menyelidiki apa penyebabnya." Max memegang kepala nya.



"Apa ada kemungkinan yang melakukan ini musuh mu ayah? " Alex menebak.



"Entah lah, aku tidak bisa mengatakan itu perbuatan orang lain. Tapi jika memang benar mereka melakukannya. Bersiap saja mereka untuk mati." Max merasa geram.



"Tenangkan diri mu ayah, yang terpenting kau baik-baik saja."



"Aku hanya bingung bagaimana cara nya semua bisa kembali seperti semula. Aku juga tidak tau bagaimana cara membayar gaji orang-orang ku."



Alex pun ikut berfikir keras bagaimana cara meringankan beban sang ayah. Bagaimanapun juga Max sudah menjaga nya sejak Alex berusia 10 tahun.



"Aku akan mencoba mencari cara Ayah, jangan terlalu berat memikirkannya. Aku akan berusaha semampu ku. Markas itu harus berdiri kembali." Walau dalam hati Alex juga masih bingung bagaimana cara nya. Tetapi Alex berusaha untuk menenangkan Max terlebih dahulu.



"Terima kasih nak. Aku harap kau bisa merahasiakan hal ini dari Ruby. Aku tidak ingin dia menjadi khawatir dan akan ikut befikir keras terhadap masalah ini. Karena aku melihat dia sudah mulai mencoba memulai kehidupan dengan baik pasca kejadian beberapa tahun yang lalu. Aku bahagia Ruby sudah kembali ceria." Celoteh Max.



"Baik Ayah, aku akan menutup mulut untuk hal ini." Alex mengelus punggung sang Ayah.



"Aku pulang... " Teriak Ruby yang baru saja pulang bekerja. Max dan Alex langsung merubah ekspresi mereka.



Max dan Alex mencoba tersenyum agar Ruby tidak curiga.



"Kau sudah pulang? Bagaimana pekerjaan mu hari ini? " Tanya Max.



"Lancar ayah, tapi aku sedikit lelah karena baru pulang dari lapangan."


"Bersihkan dirimu lalu makan dan beristirahat."

__ADS_1


"Baik Ayah... " Ruby melirik Alex.


"Kak Alex baik-baik saja? Kenapa dengan wajah mu? Di tekuk seperti itu Jelek sekali. " Ruby tertawa setelah mengejek Alex.



'Sialan, wanita ini selalu bisa membaca ekspresi ku. 'Batin Alex.



"Aku baik-baik saja. Hanya kecapekan karena baru pulang dari Klub Gym." Bohong Alex.



"Apa ada masalah? Sepertinya kalian sedang membicarakan sesuatu yang penting." Tebak Ruby.



"Tidak nak, kami hanya membahas perkembangan Klub Gym Alex. Jawab Max



" Betul sekali Ayah, aku sangat senang karena Klub Gym kita semakin ramai. Timpal Alex mengalihkan.



"Syukurlah. Selamat kak Alex, semoga Klub Gym kita di minati banyak orang ya. Aku akan kembali mengatur jadwal ku untuk kembali berolah raga di Klub Gym mu. Kau pasti merindukan ku kan?" Tanya Ruby menggoda.


'Benar sekali aku selalu merindukanmu.' Batin Alex.


"Kau terlalu percaya diri nona. Klub akan terasa aman jika kau tidak datang kesana." Canda Alex membuat Ruby mengkerucutkan bibir nya.



"Kau tidak bisa berbohong kak, wajahmu sudah menjelaskan segalanya." Celetuk Ruby kembali menggoda Alex.


'Sialan' Gumam Alex dalam hati.


Max tersenyum melihat tingakah kedua anak angkat nya. Bebannya terasa sedikit ringan setelah melihat senyuman kedua anak itu.



"Berhenti menggoda kakak mu, pergi bersihkan dirimu setelah itu kita akan makan malam bersama.




Max terdiam sejenak. Dia bingung apakah dia harus memberi izin pada Ruby atau sebaliknya. Tapi Ruby membutuhkan hiburan agar dia bisa membuka diri terhadap lingkungan luar.


"Ayah,,,, " Panggil Ruby lembut.


"Jika tidak boleh tidak masalah ayah."


"Tentu saja boleh nak, kau sudah dewasa, tidak mungkin aku terus melarang mu kesana kemari. Kau juga butuh hiburan diluar. Tapi janji kau harus bisa jaga diri." Max tersenyum lembut.


Ruby pun berbinar setelah mendapat izin dari sang ayah.


"Terima kasih Ayah, aku cinta padamu." Ruby langsung memeluk sang Ayah dan Max tersenyum bahagia.



"Aku akan membelikan mu gaun yang indah untuk pergi ke pesta nanti." Ucap Alex datar.



"Benarkah kak? Kau serius kan? Tanya Ruby memastikan dan di jawab dengan anggukan oleh Alex.



" Terima kasih kakak, aku juga mencintai mu. " Ruby pun memeluk Alex sangkin bahagia nya.



Alex tampak Syok dan wajah nya berubah merah. Dan jantung nya berdetak dengan cepat.



Ruby melerai pelukannya dan langsung kembali ke kamar nya. Max tersenyum melihat kebahagian Ruby dan Alex yang wajah nya sudah seperti udang di rebus



"Kau bersemu seperti itu nak. Wajahmu tampak merah." Ejek Max.

__ADS_1



"Apa terlalu kelihatan ayah? " Alex memegang pipi nya. Dan Max mengangguk.



Alex menepuk-nepuk lembut wajah nya. Bagaimana bisa dia kembali bersemu seperti ini.


***


Malam hari nya setelah selesai makan malam. Di kamar Ruby sedang bermain Game di komputernya. Tidak berapa lama terdengar suara ketukan dari pintu kamar nya.


"Boleh Ayah masuk nak?" Teriak Max dari luar.


"Masuk lah Ayah." Jawab Ruby sedikit berteriak. Max pun masuk dan duduk di kursi dekat balkon kamar Ruby.



"Ada apa ayah?" Ruby mengakhiri permainan nya dan menarik kursi untuk duduk di dekat ayahnya.



"Ayah ingin memberikan sesuatu untuk mu." Sambil mengeluarkan sebuah kotak perhiasan. Dan langsung memberikannya pada Ruby.


"Apa ini ayah?"


"Buka saja." Max tersenyum lembut pada Ruby.



Ruby membuka kotak perhiasan tersebut. Bola mata Ruby membesar dan bibir nya sedikit terbuka setelah melihat isi dari kotak perhiasan itu. Sebuah 'kalung' indah bermata Ruby.



"Indah sekali Ayah. Pasti ini sangat mahal." Ruby berbinar melihat kalung tersebut.


"Tidak nak, itu milik mu." Celetuk Max.


"Milik ku?" Ruby menatap lamat wajah sang Ayah.


"Maafkan ayah, seharusnya jauh-jauh hari ayah sudah memberikannya pada mu. Ini kalung yang di titipkan oleh mendiang Teddy Ayah mu." Max meraih tangan Ruby dan membelainya dengan lembut.



"Sebelum dia meninggal, dia sempat menitipkan mu dan kalung ini pada ku. Ini merupakan kalung peninggalan orang tua kandung mu. Saat bayi orang tua mu meninggalkan mu dengan kalung Indah ini. Lihat tulisan di belakang nya. Tertulis nama 'Ruby Hill'. Mungkin orang tua kandung mu menamaimu dengan nama itu. Makanya Teddy menambahkan nama mu dengan nama Clarissa. Di ambil dari nama Clara ibu tiri mu. Mungkin dengan kau tau kalung ini kau bisa menemukan orang tua mu" Max menatap ekspresi Ruby yang seketika berubah.



Hati Ruby terasa mencelos setelah mendengar hal itu. Dia langsung meletakkan kembali kalung itu kedalam kotak nya dan memberikannya pada Max.



"Maaf Max aku tidak bisa menerimanya. Aku juga tidak berniat untuk mencari keberadaan orang tua kandung ku. Aku sudah menganggap mereka tidak ada." Ucap nya kecewa.



"Tidak nak, mungkin orang tua mu memiliki alasan meninggalkan mu pada Teddy. Dan mereka mengatakan bahwa saat kau berumur 20 tahun ibu mu akan menjemput mu kembali."



Airmata Ruby mengalir begitu saja. Seolah nasib sedang mempermainkannya.



"Aku sudah berumur 26 tahun ayah dan lihat lah apa ada yang mencari ku?"



"Mungkin mereka mencari mu ke Desa X nak. Saat kita sudah tidak tinggal disana.



" Lupakan saja Max, aku lebih tenang hidup seperti ini."



"Terima lah nak, aku tidak bisa menyimpannya terlalu lama, aku tidak ingin menyesal tidak memberikannya pada mu seperti Teddy, dia berjanji akan memberikan kalung ini saat kau kembali dari penculikan itu tapi takdir berkata lain, dia pergi sebelum mengatakan segala nya pada mu."



Ruby semakin menangis tersedu, dia sangat merindukan sosok Ayah nya.


__ADS_1


"Aku harus menjalankan semua wasiat Ayahmu jadi terima lah nak. Simpan dan pakai kalung ini. Ini milik mu. Pasti kau sangat cantik saat memakainya." Max mengeluarkan kalung itu kembali dan memakaikan nya pada Ruby. Ruby hanya bisa pasrah. Anggap dia mau memakainya karena wasiat dari Teddy ayahnya.


__ADS_2