
"Aku punya tugas untuk mu." Ucap Keenan dengan senyuman menyeringainya.
"Tugas apa bos?" Tanya Jonas penasaran.
Keenan mendekatkan wajahnya ke telinga Jonas dan membisikkan rencana awal yang harus dikerjakan Jonas. Jonas sempat mengerutkan kening nya. Namun tidak berapa lama berubah menjadi senyuman.
"Baik bos saya akan lakukan dan persiapkan semua nya." Jawabnya sigap.
"Baiklah, kau boleh keluar."
"Saya keluar dulu bos." Jonas bangkit dan sedikit membungkuk.
Tinggal Keenan sendiri di ruangan itu. Wajahnya masih terus tersenyum mengingat kejadian tadi. Dia juga mengambil Coffee pemberian Ruby dan langsung di seruput hingga kandas. Padahal sudah jelas-jelas dia tidak menyukai Coffee.
"Manis,,, " Ucap Keenan sambil melihat cup Coffee yang sudah di habiskannya dan langsung tersenyum dan kembali berfikir.
"Kenapa hanya gadis itu." Pikirnya sambil bermonolog sendiri.
***
Di departement Pemasaran.
Ruby sudah tiba di ruangannya. Sedikit membantingkan tubuhnya di kursi sampai mencuri perhatian Sean dan Rain yang sedang fokus menyelesaikan tugasnya.
"Kenapa wajah mu seperti itu? Apa Pak Keenan memberi pekerjaan yang berat?" Tanya Sean berbisik.
"Tidak hanya pekerjaan yang berat, tapi juga fikiran yang berat. Mungkin sebentar lagi aku akan di depak dari perusahaan ini." Ruby menjawab dengan lemas.
"Why? Kau melakukan kesalahan lagi? " Sean masih berbisik-bisik seolah mereka sedang bergosip.
"Aku bahkan menampar dan menendangnya Sean." Ucap Ruby dengan wajah ingin menangis.
"Apaaaa???" Jawab Sean dengan nada suara tinggi hingga membuat Rain terkejut. Dia langsung menoleh ke arah Ruby dan Sean sembari memperbaiki kacamatanya.
"Ada apa? Kenapa berteriak? " Tanya Rain sedikit kesal.
"Maaf wakil, aku hanya refleks terkejut. Tidak ada masalah apa-apa." Jawab Sean menyengir.
__ADS_1
Rain kembali duduk di kursinya sambil melirik Ruby yang sedang tertunduk. Dia tampak berantakan pagi ini. Tapi Rain tidak bertanya apa-apa.
***
Di Club Gym.
Alex sedang membersihkan alat-alat olahraga yang ada di ruangan itu. Karena sebentar lagi pengunjung mulai berdatangan.
Saat bekerja Alex sempat berhenti dan kembali memikirkan Ruby. Kejadian semalam membuatnya tidak bisa bertemu dengan Ruby. Alex merasa pasti Ruby marah besar padanya.
Alex membanting kain pembersih yang di pegangnya. Dia merasa kesal dan juga menyesal. Andai dia tidak melakukan itu. Pasti saat ini hubungan mereka akan baik-baik saja. Bahkan Alex bingung bagaimana cara berbicara dengan Ruby ketika mereka bertemu. Tiba-tiba lamunan Alex di buyarkan oleh seseorang wanita yang lewat dari depannya.
'Seperti mirip Ruby.' batinnya, tapi dia kembali membersihkan peralatan olahraganya. Mungkin karena dia sedang memikirkan Ruby jadi setiap wanita yang lewat dia merasa mirip Ruby.
***
Sore harinya setelah pulang kerja Ruby langsung kembali kerumah Max untuk mengambil pakaian dan barang-barang yang diperlukan. Sesampainya di pintu depan rumah. Ruby mendengar dua pria yang sedang berbincang serius tak lain adalah Max dan Alex, tapi entah kenapa gadis itu tidak langsung menghampiri kedua nya, langkahnya terhenti ketika Max berbicara dengan miris dan terdengar sangat bersedih. Ruby diam terpaku mendengar pembicaraan Max dengan Alex. Entah sejak kapan gadis itu menjadi seorang penguping.
"Aku tidak tau harus bagaimana. Para pekerja sudah menuntut gaji mereka tapi aku tidak memiliki aset lagi untuk dijual. Semuanya sudah habis karena kebekaran itu." Ucap Max bingung.
"Kenapa mereka tidak paham kondisi mu ayah. Bukankah mereka sudah bekerja dengan mu sejak lama. Kenapa di saat ayah terpuruk seperti ini mereka tidak bisa mengerti." Alex mulai tersulut emosi.
Ruby terkejut mendengar pembicaraan Max dan Alex, gadis itu menutup mulutnya dengan tangannya seakan tidak percaya bahwa saat ini ayah nya mempunyai masalah yang besar. Tapi kenapa mereka tidak berbagi dengannya. Ruby sedikit kecewa.
Alex menarik nafas dalam dan mengeluarkan sesuatu dari saku nya dan langsung memberikannya pada Max.
"Ini aku punya sedikit tabungan, ayah bisa gunakan ini dulu, semoga saja cukup. Maaf ayah aku tidak bisa menjadi anak berbakti yang bisa membantu mu tanpa memyulitkan dirimu." Alex bersedih.
"Seharusnya aku yang meminta maaf aku selalu merepotkan mu. Membuatmu susah. Dan sekarang kau juga merelakan tabungan mu untuk membantu ayah mu ini. Padahal aku tau ini tabungan mu untuk menikah."
"Tidak ayah, aku belum kepikiran untuk menikah. Ayah bisa pakai uang nya dulu." Sela Alex sedikit kesal jika membahas pernikahan.
"Tapi aku tidak bisa menerima nya." Max mengembalikan kartu tersebut pada Alex.
"Ayah, aku akan sangat kecewa padamu jika ayah tidak menerima bantuanku."
Max berfikir panjang dan langsung menerima kartu itu.
__ADS_1
"Anggap kau meminjamkannya padaku. Nanti jika semua sudah normal seperti biasa ayah janji akan mengembalikan uang ini padamu. " Max menepuk bahu Alex pelan.
"Jangan fikirkan itu ayah. Wajar seorang anak membantu ayahnya. Karena selama ini juga kau selalu bersusah payah menghidupiku." Jelas Alex dengan senyuman mirisnya.
"Aku tidak butuh imbalan untuk hal itu. Aku berusaha layaknya seorang ayah untuk anaknya." Mata Max tampak berkaca-kaca.
Sejak kapan seorang Mafia menjadi serapuh ini fikir Alex.
"Ayah orang yang kuat dan hebat, ayah seorang mafia besar tetapi selalu bertindak layaknya seorang ayah ketika berhadapan dengan anak-anak nya. Terima kasih ayah." Alex begitu bangga pada Max.
Max tersenyum bangga pada Alex. Dia tidak menyangka, anak laki-laki yang pungut sedari kecil sudah menjadi pria dewasa yang sangat baik hati.
"Orang tua mu pasti sangat menyesal menelantarkan mu nak." Ujar Max.
"Ayah adalah satu-satu nya orang tua ku. Dan selama nya akan begitu." Alex langsung merangkul dan memeluk Max. Disambut hangat oleh Max.
"Berjanjilah kau akan tetap menyembunyikan hal ini pada Ruby. Dia tidak boleh tau semua ini."
Dibalik dinding Ruby sudah menangis terisak sambil menutup mulut nya agar tidak ada yang mendengar nya
'Kenapa ayah merahasiakan nya dariku. Apakah karena ayah tau aku tidak bisa membantunya? Maafkan aku ayah, aku hanya menjadi beban di hidup mu dari pertama kali kau merawatku hingga saat ini. Aku yang selalu bergantung hidup padamu. Dan sekarang ayah terpuruk dan aku hanya bisa menyaksikan tanpa berbuat sesuatu.' batin Ruby sambil menghapus air matanya dan kembali keluar rumah. Ruby tidak jadi mengambil pakaian dan barang-barang nya. Dia akan kembali lain hari.
***
Keesokan harinya di kantor. Wajah Ruby masih tampak murung. Dia masih memikirkan pembicaraan Ayahnya dengan Alex. Dia bingung bagaimana cara nya bisa membantu Ayahnya.
"Heii.... " Tegur Sean mengagetkan Ruby.
"Kenapa pagi-pagi begini wajah mu tampak murung dan tidak bersahabat? Ada masalah ceritakan padaku sayang." Ujar Sean perhatian.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya kurang tidur saja." Jawabnya pelan.
"Besok Weekend kita jalan ke Mall dan shopping bagaimana? Setidaknya kau tidak murung seperti ini."
"Baiklah, kita lihat besok ya. Aku akan mengabari mu lagi jika aku tidak ada halangan." Ruby tersenyum kecut.
"Senyummu terlalu di paksa Nona. Baiklah, aku tunggu kabar mu."
__ADS_1
Tidak berapa lama pandangan Sean dan Ruby pun teralih pada seorang pria yang baru keluar dari ruangan Troy kepala bagian Pemasaran. Dia adalah asistennya Keenan.
'Untuk apa dia kemari? Perasaanku jadi tidak enak.' Batin Ruby terpaku melihat Jonas yang sudah memandangnya.