
Sesampainya di rumah Leon langsung berlari masuk kedalam rumah tanpa memarkirkan mobilnya.
"Yuna,,,!!! " Teriak Leon. Suaranya begitu menggema di seisi rumah. Semua pelayan keluar dan menghampiri Leon.
Semua pelayan merasa takut karena Tuan mereka sangat mengerihkan jika sedang marah.
"Dimana Yuna?" Tanya Leon pada salah satu pelayan.
"Nyo,, nyonya ada di kamar Tuan." Jawab Pelayan tergagap karena takut.
Leon langsung naik ke kamar. Tiba di depan kamar Leon langsung menendang pintu kamar hingga pintu kamar terbuka. Suaranya sangat kuat hingga membuat Yuna yang tadinya sedang tertidur langsung bangun. Wajah wanita itu tampak begitu pucat. Tubuhnya juga terasa lemah.
"Leon,,,!!! " Ucapnya pelan.
"Yuna,,, apa yang kau lakukan pada Ruby?" Bentak Leon.
"Apa maksud mu Leon aku tidak mengerti." Jawabnya lemah.
"Jangan berpura-pura bodoh Yun. Aku tau semua adalah perbuatanmu. Kau yang membuat Ruby pergi dari kontrakannya kan?" Nada suara Leon semakin kuat.
Yuna terdiam, dia tidak menyangka Ruby benar-benar pergi dari rumah.
"Kenapa kau diam. Jawab aku Yuna." Pekik Leon.
"Pelankan suaramu Leon, kau bisa berbicara santai, tidak perlu marah-marah."
"Kau bilang bicara santai? Dimana akal dan fikiranmu. Setelah kau melakukan hal bodoh kau meminta ku untuk berbicara santai? Untuk apa kau datang menemui Ruby? Apa yang kau katakan padanya?" Leon semakin marah.
"Aku memang datang kesana Leon dan memintanya untuk pergi. Tapi Ruby menolaknya, dia tidak ingin pergi dari rumah itu Leon" Wajah Yuna berubah menjadi suram. Matanya tampak memerah.
Mendengar hal itu Leon merasa semakin geram. Dia memegang kepalanya dan menjambak rambutnya sendiri.
"Kenapa kau lakukan itu? Kenapa Yuna?" Teriak Leon.
Airmata Yuna mengalir, dia juga merasa bersalah dan menyesal sudah melakukan hal ini.
"Maafkan aku Leon. Aku hanya tidak ingin Ruby semakin membuat kita semakin jauh."
Leon tertawa menyela mendengar alasan Yuna.
"Apa kau tidak salah? Sebelumnya kita juga tidak pernah dekat Yun."
Hati Yuna mencelos, Leon sama sekali tidak mengerti dirinya.
"Aku tau aku salah Leon, aku juga menyesal melakukannya. Tp aku hanya ingin hubungan kita membaik tanpa ada Ruby."
"Bagaimana pun usahamu, aku tidak akan pernah berubah Yun. Malah ini membuat semuanya semakin runyam. Kau merusak semuanya. Dan sekarang karena mu Ruby pergi tanpa jejak, dia tidak punya siapa-siapa lagi untuk ditinggali. Kenapa kau begitu gegabah Yun."
"Maafkan aku Leon. Maafkan aku." Yuna semakin menangis.
"Kau benar-benar membuat ku muak Yun. Kau bukan memperbaiki, kau malah semakin memperburuk keadaan. Aku tidak tau harus bagaimana lagi padamu."
"Kau selalu mengkhawatirkan Ruby sementara padaku, sedikitpun kau tidak pernah memikirkanku. Pergilah bersamanya Leon dan tinggalkan aku disini sendiri." Yuna sudah pasrah atas apa yang akan Leon lakukan. Karena dia mengakui kesalahannya.
"Akan aku lakukan Yun. Tanpa kau minta, aku akan pergi meninggalkanmu. Aku sangat muak pada semua nya. Aku muak padamu." Bentak Leon.
Nafas Yuna terasa tercekat. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Leon benar-benar akan meninggalkanya.
Yuna terperangah mendengar ucapan Leon. Sungguh kata-kata itu seperti belati yang menancap jantungnya. Airmatanya terus mengalir tanpa henti.
Leon beranjak pergi meninggalkan Yuna yang sedang terpaku.
Tiba-tiba tubuhnya melemah dan Yuna terduduk dengan deraian airmata. Perutnya terasa nyeri, kepalanya juga sempoyongan.
__ADS_1
Yuna melihat ke arah kaki nya, tampak darah segar yang sudah mengalir. Hal itu membuat Yuna shock dan bertertiak.
"Leon,,, Leon,,,!!! " Teriak Yuna namun Leon tidak mendengarnya.
Yuna pun pingsang. Salah satu pelayannya masuk dan melihat Yuna sudah terkapar di lantai dengan darah yang mengalir di kakinya. Pelayan wanita itu tampak terkejut dan langsung berteriak memanggil Leon.
"Tuan,,, Tuaann,,,!!! " Pelayan itu berlari menghampiri Leon yang sudah berada di depan rumah. Leon hendak pergi mencari Ruby.
"Tuan,,,, Tunggu Tuan." Pelayan itu tampak ketakutan.
"Ada apa?" Tanya Leon ketus.
"Nyonya Tuan, Nyonya,,,,!!! " Mata si pelayan tampak memerah.
"Ada apa lagi?"
"Nyonya pingsang Tuan. Dan di kaki nya banyak darah dan sepertinya keluar dari,,,,,!!!!
Belum sempat Pelayan itu selesai bicara Leon langsung berlari menghampiri Yuna.
Sesampainya di kamar Leon membesarkan matanya. Jantungnya berdegup kencang ketika melihat Yuna terbaring tidak sadarkan diri dengan darah yang mengalir di kaki istrinya itu.
"Yuna,,,!!! " Leon langsung menghampiri Yuna dan meletakkan Yuna di pahanya.
"Yuna,, bangun Yun, Yuna,,,,!!! " Leon panik bukan main. Leon langsung mengangkat tubuh Yuna dan segera melarikan Yuna ke rumah sakit.
***
Apartement Jonas.
Jonas membawa Inez tinggal di Apartement nya. Besok mereka akan menjemput Noah yang saat ini sedang bersama ayah kandungnya.
Saat ini Inez sedang duduk di ruang tamu Apartement Jonas, dia menerima panggilan dan langsung panik. Inez langsung mengangkat panggilan itu.
"Baiklah, itu berita baik. Cukup chat jika ada perkembangan. Jangan menelpon ku." Jawabnya pelan. Inez langsung mengakhiri panggilannya.
"Kau berbicara dengan siapa?" Tanya Jonas curiga.
"Karyawan ku, mereka menghubungi aku untuk membicarakan perkembangan butik." Jawab Inez mengarang.
"Tapi sepertinya kau berbicara cukup hati-hati. Kau sedang menyembunyikan sesuatu?." Tuding Jonas.
"Tidak, aku tidak menyembunyikan apapun." Jawab Inez ketus.
"Baiklah, pergilah beristirahat. Kau bisa menggunakan kamar mana saja. Kau tinggal pilih."
"Aku tidak ingin tinggal disini Jonas. Aku ingin pulang." Rengek Inez.
"Kau tidak bisa pulang, sekarang kau sudah menjadi istriku jadi ikutlah kemanapun aku pergi." Perintah Jonas.
"Kita hanya menikah karena kesalahan. Dan hanya di atas kertas. Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Aku tidak bisa bekerja, dan aku tidak bisa keluar rumah karena rasa malu." Eluh Inez.
"Kau sendiri yang merencanakan semua ini. Kau tanggung saja sendiri." Sindir Jonas dan langsung masuk ke kamarnya.
Inez terpaku mendengar ucapan Jonas. Dia mengerutkan keningnya. Jonas sangat menyebalkan menurutnya.
***
Di rumah sakit Leon sedang panik karena Yuna langsung di larikan ke IGD. Leon takut kandungan Yuna kenapa-napa.
Leon menunggu di luar sementara Yuna masih dalam pemeriksaan.
Tidak berapa lama perawat memanggilnya masuk kedalam ruangan karena dokter ingin berbicara.
__ADS_1
Leon melihat Yuna sudah sadarkan diri namun dia hanya diam dengan pandangan kosong sambil terbaring lemah. Dokter duduk tidak jauh dari bangkar Yuna dan langsung berbicara.
"Kita harus segera mengeluarkan bayi nya. Karena jika tidak, akan berbahaya untuk bayi kalian. Kondisi sang ibu juga tidak memungkinkan untuk berlama-lama mengandung sang bayi. Kondisi ibunya sangat lemah, dia terlalu stres dan banyak fikiran hingga membuat kandungannya bermasalah. Kita harus segera melakukan operasi untuk mengeluarkan bayi kalian walau prematur. "
"Tapi dok apa tidak berbahaya untuk keduanya."
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan bayi dan juga ibunya walau resikonya sangat berat." Jawab dokter itu.
Leon semakin frustasi mendengar berita ini.
"Tolong selamatkan bayi ku dokter. Jika saat operasi kalian harus memilih siapa yang lebih dulu kalian selamatkan, aku mohon tolong selamatkan bayi ku terlebihdahulu. Lakukan yang terbaik untuknya. Aku mohon dokter." Ujar Yuna sambil menangis terisak. Yuna mendengar semua pembicaraan Leon dan juga dokternya.
"Kenapa kau mengatakan hal itu. Semangatlah demi anak ini." Sahut sang dokter.
"Tidak ada alasan ku bertahan jika tidak demi anak ini dokter. Dia seorang anak perempuan. Dia membutuhkan cinta ayahnya kelak. Jadi selamatkan dia bagaimana pun caranya. Ayahnya sangat mengingikannya. Tidak perlu memikirkan keselamatanku. Aku hidup juga tidak ada artinya buat siapapun." Celetuk Yuna dengan deraian airmata.
Dokter mengerti mengapa Yuna mengatakan hal itu. Dia yakin hubungan antara suami dan istri ini sedang tidak baik-baik saja.
Leon langsung menatap Yuna, perasaan pria itu campur aduk. Dia bahkan tidak tau anaknya berjenis kelamin apa. Karena selama ini Leon selalu menolak untuk menemani Yuna kontrol ke dokter kandunga. Di dalam hati Leon merasa sangat bersalah.
"Semua keluarga menginginkan anak ini terutama ayahnya. Jadi aku mohon selamatkan bayi cantik ini. Jangan perdulikan kesalamatan ku. Aku akan sangat bahagia jika putriku hidup dengan baik. Aku mohon lakukan yang terbaik untuk Putriku" Yuna tersenyum sambil menangis.
"Yuna,,,!!! " Ucap Leon kesal karena mendengar omongan Yuna yang tidak masuk di akal.
Yuna menatap Leon dalam, matanya terlihat suram karena kesedihan yang selama ini ia pendam.
"Sebaiknya kalian berbicara terlebih dahulu. Saya akan menunggu kabar dari kalian segera. Saya permisi dulu." Dokter itu pun pergi dan memberikan kesempatan untuk sepasang suami istri ini berbicara.
Leon mendekati Yuna, entah kenapa hatinya terasa sakit melihat kondisi Yuna.
"Kau berbicara apa? Kau harus semangat dan kuat. Kalian akan baik-baik saja." Ucap Leon lembut namun nadanya terdengar miris.
"Jika aku harus memilih, aku akan memilih mati untuk anak ini Leon daripada aku harus hidup tapi di anggap tidak berguna oleh mu. Aku tidak akan sanggup Leon. Anak ini membutuhkan mu dan begitupun dengan mu. Sementara aku. Aku tidak berarti apa-apa. Anak ini bisa selamat adalah hal yang paling membahagiakan untukku. Paling tidak di akhir hidup ku aku bisa memberikan mu hadiah terindah tanda cintaku padamu dan hadiah ini bisa menemani mu di seumur hidupmu." Ucap Yuna miris, namun wanita cantik itu masih terus tersenyum.
"Yun bisa kah kau,,,,!!! "
Leon belum selesai berbicara Yuna sudah menarik lembut tengkuk leher Leon dan mencium lembut bibir suami yang begitu dia cintai. Leon membesarkan matanya. Jantungnya berdegup dengan kencang.
Yuna semakin terisak dan beralih memeluk Leon. Leon terlihat pasrah karena dirinya juga terhanyut dalam kesesihan yang Yuna rasakan.
"Maafkan aku karena aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk mu. Maaf aku selalu merusak dan meresahkan hidupmu. Maaf aku sudah ikut bersekongkol menjebak mu dengan mama dan Papa. Tolong maafkan aku." Ucap Yuna sambil membelai rambut belakang Leon.
Yuna masih terus memeluk suaminya sambil terisak.
"Berjanjilah kau akan menjaga anak ini dengan baik. Dia akan sangat membutuhkan mu. Kau adalah cinta pertamanya. Cintai dia sepenuh hatimu. Berjanjilah." Ucap Yuna selembut mungkin.
Tanpa sadar airmata Leon mengalir begitu saja. Entah kenapa perkataan Yuna begitu menyakitkan baginya.
"Aku mencintaimu Leon." Yuna mempererat pelukannya. Pelukan yang dia anggap sebagai pelukan terakhirnya. Leon perlahan membalas pelukan Yuna dan hal itu membuat Yuna sangat bahagia. Wajahnya tampak tersenyum senang.
Cukup lama mereka berpelukan dan akhirnya Yuna melepaskan pelukannya. Yuna masih terus tersenyum menatap Leon yang matanya terlihat basah. Walau hati kecilnya sangat takut. Namun dia mencoba tegar dan kuat.
"Katakan pada dokter aku sudah siap." Ujar Yuna sambil tersenyum begitu manis.
Sekarang gantian Leon yang merasa khawatir. Perasaan takutnya menggerogoti hatinya.
"Eon,,,!!! " Panggil Yuna lembut dan menyadarkan lamunan Leon.
"Ahh iya, baiklah aku akan menemui dokter." Ucap Leon sambil menghapus airmatanya.
"Terima kasih Leon." Ucap Yuna tulus.
Leon tersenyum kikuk. Dan langsung pergi meninggalkan Yuna. Diluar ruangan Leon kembali menangis. Entah kenapa hatinya terasa sakit dan rasa takut itu timbul dengan tiba-tiba.
__ADS_1