
Sesampainya di Apartemen Keenan menggendong belakang Ruby yang masih terlelap. Beberapa orang menatap heran. Tapi Keenan tidak perduli. Dia masuk ke apartemen dan membawa Ruby ke kamar nya.
Saat tubuhnya diturunkan Ruby tersadar namun karena masih dalam kondisi mabuk dia mengoceh ini dan itu yang membuat kepala Keenan pusing.
Ruby duduk di sisi ranjang dan Keenan berjongkok di hadapannya untuk melepaskan sepatu Ruby.
Ruby menatap Wajah Keenan yang tampan dan gadis itu memandangnya dengan wajah berbinar.
"Kenapa kau tampan sekali tuan? Aku terpesona melihatnya." Ruby memegang kedua pipi Keenan dan menariknya hingga wajah mereka menjadi sangat dekat. Dia memutar dan mencubit gemas pipi Keenan. Pria itu membesarkan matanya melihat tingkah aneh Ruby. Jantung Keenan juga berdetak tidak karuan.
"Ruby apa yang lakukan?" Ujar Keenan ketakutan.
"Pasti kau perawatan dengan harga yang mahal bukan. Aku sampai tidak melihat sedikitpun pori-pori di wajah mu." Ruby tersenyum centil dan hendak mencium Keenan. Namun pria itu menghindar.
"Kenapa kau menolak? Bukankah kau senang mencium ku. Kau ini menyebalkan." Bentak Ruby marah sambil memukul dada Keenan.
Keenan geleng-geleng kepala, dia masih mencium bau Alkohol dan dia tidak akan membiarkan Ruby tidur dalam keadaan kacau seperti ini.
"Ayo ke kamar mandi, kau harus menyikat gigi mu sebelum tidur. Aku akan membantu mu." Keenan menarik tangan Ruby dan membopongnya ke kamar mandi.
Ruby pun menurut. Ruby di dudukkan di kursi yang ada di westafel kamar mandi. Keenan memberikan sikat gigi padanya namun bukan gigi yang di sikat malah pipi nya.
Lagi-lagi Keenan menghelakan nafasnya. Ruby benar-benar menguji kesabarannya. Keenan menarik sikat gigi itu dari tangan Ruby.
"Buka mulut mu." Perintah Keenan.
"Eemmm,,,, " Ruby malah tersenyum manis padanya. Keenan memutar bola matanya dan sedikit memukul pelan kepala Ruby menggunakan sikat gigi tadi.
Keenan langsung membuka paksa mulut Ruby dan langsung menyikat gigi Ruby. Gadis itu menurut sambil senyum-senyum.
Setelah membersihkan mulut Ruby Keenan membersihkan wajah Ruby dengan pembersih wajah. Pria itu begitu telaten mengurus Ruby.
Terkadang dia kesal karena tingkah Ruby terlalu aneh-aneh. Namun dalam hati nya dia sangat senang.
Sekarang Keenan membawa Ruby ke tempat tidur, dengan santai membuka pakaian Ruby dan menggantinya dengan piyama milik Keenan, walau sedikit kebesaran. Keenan merasa sedikit canggung namun Ruby tidak mungkin tidur menggunakan pakaian nya sebelumnya. Ruby hanya diam dan terus menatap wajah tampan Keenan.
__ADS_1
Setelah itu Keenan membaringkan Ruby di tempat tidur nya. Namun Ruby duduk kembali dan berbicara yang aneh-aneh lagi.
"Kenapa kamar ku berubah? Kasurnya terasa lebih empuk." Ucap Ruby sambil melompat-lompat.
"Ruby hentikan, berbaringlah." Keenan menarik paksa tubuh Ruby hingga membuat gadis itu terduduk dan berbaring dengan patuh.
"Tidur lah. Aku akan mandi dulu. Jangan membuat onar. Oke.. " Perintahnya dan di angguki dengan patuh oleh Ruby.
Keenan pun beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak berapa lama Keenan keluar dari kamar mandi dan sudah melihat Ruby terlelap.
Keenan memutuskan untuk naik ke ranjang tepat di sebelah Ruby yang tidur meringkuk seperti bayi. Keenan mendekati Ruby dan mata gadis itu tampak basah. Ruby lagi-lagi menangis walau dalam keadaan tidur.
Keenan perlahan membersihkan airmatanya namun tangan Keenan di tahan oleh Ruby, dia menarik tangan Keenan dan ia letakkan di bawah wajahnya hingga Keenan tidak bisa kemana-mana.
"Nyaman sekali,,,andai seperti ini seterusnya. Kau tau bagaimana menghilangkan rasa sakitnya? Beritahu aku. Aku tidak sanggup bila seperti ini terus." Ruby mengigau. Matanya masih terpejam. Airmatanya pun terus mengalir.
Lagi dan lagi hati Keenan terenyuh melihat Ruby seperti ini. Dia semakin menyesali perbuatannya yang tidak pernah baik pada Ruby. Sebelah tangannya lagi membelai rambut Ruby. Tiba-tiba mata Ruby terbuka dan menatap sayu wajah Keenan.
"Apa aku sedang bermimpi? Kau terlihat tampan sekali jika seperti ini. Tetaplah di dalam mimpiku. Karena jika di dunia nyata kau begitu kejam. Aku tidak menyukainya." Ruby tersenyum mempererat pegangannya. Dia terus menatap Keenan.
"Berapa banyak Pinalty yang harus aku bayar jika berhenti dari perusahaan mu? Aku tidak sanggup lagi jika seperti ini. Aku tidak sanggup melihat keharmonisan keluarga mu. Itu membuat hatiku tersayat, sementara di sini aku sendirian. Dia telah pergi meninggalkan ku. Andai dia masih hidup, aku tidak akan merasa kesepian. Kenapa aku merasakan perasaan seperti ini?" Ungkap Ruby dengan suara serak dan dalam pengaruh alkohol. Ruby kembali memejamkan matanya.
"Kenapa aku seperti ini. Aku merasakan sakit yang Ruby rasakan. Ruby kau salah paham. Aku bukan pria kejam seperti yang kau kira. Dan siapa yang kau maksud orang yang sudah meninggalkan mu? Apa dia Rachel Kiel? Siapa dia By siapa?" Airmata Keenan terus mengalir. Hatinya terasa sakit tapi otaknya masih menolak kenapa dia bersikap seperti ini pada Ruby. Dia juga kesal kenapa airmatanya terus mengalir.
Perlahan Keenan menarik tangannya karena Ruby sudah mulai nyenyak. Dia juga tidak mengingau dan menangis lagi. Keenan merubah posisinya menjadi telentang menghadap langi-langit kamarnya. Namun tangannya menggenggam tangan Ruby. Karena jika tidak menyentuhnya Keenan tidak akan bisa tidur lagi.
Tidak berapa lama Keenan pun terlelap. Hanyut dalam mimpi yang begitu jauh.
Keenan berasa berada di tengah hutan yang terdapat jurang yang begitu curam.
"Keenan,,,, " Terdengar suara seorang wanita memanggilnya.
"Keenan tolong aku." Wanita itu teriak lagi. Keenan mencari-cari sumber suara itu. Keenan terus berlari mencari suara wanita iti hingga dia berada di ujung jurang.
"Keenan tolong aku." Rintih wanita tadi dan suara nya semakin dekat.
"Ini aku Clarissa Keenan, tolong aku." Suaranya berasal dari jurang dan mata Keenan terbelalak ketika melihat seorang wanita sedang tergantung di ujung jurang.
__ADS_1
"Clarissa,,, kenapa,,, kenapa kau bisa disini. Tarik tangan ku Clarissa, tarik dan pegang kuat tangan ku." Ucap Keenan panik.
Clarissa meraih tangan Keenan namun dia tidak mampu naik kembali.
"Keenan selamatkan aku, jangan biarkan aku terjatuh." Ucap Clarissa menangis.
"Aku akan menolongmu, tenanglah." Keenan menarik kuat tangan Clarissa hingga naik keatas. Bersusah payah Keenan menarik tangan Clarissa dan akhirnya Clarissa berhasil diselamatkan oleh Keenan. Keenan memeluk erat tubuh Clarissa.
"Jangan tinggalkan aku lagi Clarissa. Aku tidak sanggup hidup tanpamu. Jangan pergi lagi. Aku mohon." Tangis Keenan pun ikut pecah.
Clarissa melepas pelukan Keenan dengan dorongan yang kuat, Keenan tidak dapat melihat jelas wajah Clarissa. Terlihat berbayang, namun dia sangat mengenali fisik wanita itu.
"Clarissa,,,,!!! "
"Aku membenci mu Keenan karena kau sangat kejam. Aku tidak akan mau hidup bersama mu. Menjauhlah, pergilah bersama wanitamu. Aku akan mati dan kembali bersamanya, bersama dengan orang yang juga berarti untuk mu, kau pantas mendapatkannya karena kau begitu kejam. " Clarissa mundur sambil merentangkan tangannya. Dia tersenyum sangat manis. Senyumannya sangat indah, namun dia tidak dapat melihat jelas wajah Clarissa. Hanya dapat melihat fisiknya saja.
"Clarissa apa yang kau lakukan. Mendekat padaku Clarissa, aku tidak akan jahat padamu lagi. Aku mencintaimu Clarissa, sangat mencintai mu. Jangan lakukan itu. Aku tidak ingin kau pergi. Kemarilah sayang, kita akan hidup bersama selamanya. Mendekatlah padaku. " Keenan menangis dan tampak panik, dia mengulurkan tangannya sembari maju beberapa langkah.
"Selamat tinggal Keenan ku sayang. Aku juga mencintaimu." Ucap Clarissa sambil tersenyum dan menjatuhkan dirinya kedalam jurang.
"Clarissaaaaaaa,,,,,,,, " Teriakan Keenan begitu histeris. Hingga membuatnya bangun dan terduduk di ranjangnya.
Matanya tampak basah karena menangis, dan keringatnya membasahi seluruh tubuhnya yang tampak gemetaran. Dia melihat ke samping kiri dan kanan nya karena dia menyadari dia berada di dalam kamarnya. Dia melirik ke samping nya lagi dan melihat Ruby masih terlelap dalam tidurnya.
"Dia mirip sekali dengan Clarissa, aku merasakannya seperti itu. Tapi wajah Clarissa aku tidak bisa melihatnya. Namun aku yakin dia sangat mirip dengan Ruby." Ucap Keenan sambil memegang erat dadanya. Dia meraba nakas di sebelah ranjangnya dan mengambil air minum. Dia minum hingga menghabiskan satu gelas air minum.
Keenan mencoba mengatur kembali nafasnya agar dadanya tidak terasa sesak lagi. Dia memukul-mukul pelan dadanya sambil melihat Ruby yang tertidur sambil tersenyum.
"Senyum itu sangat mirip. Siapa kau sebenarnya By? Kenapa kau sangar mirip dengan Clarissa ku." Keenan meramas kuat rambutnya yang tampak basah karena keringat.
Beberapa saat Keenan kembali tenang dan dia kembali membaringkan tubuhnya di sebelah Ruby dan dengan lancang menarik tubuh Ruby kedalam pelukannya. Pelukan yang tidak asing dia rasakan.
"Aku tidak akan membiarkan mu pergi By. Aku tidak ingin." Ucap Keenan sambil mencium tengkuk leher Ruby. Wangi tubuh Ruby begitu menenangkan bagi Keenan. Dan Keenan pun kembali terlelap walau dia masih takut kembali ke mimpi itu lagi.
Pagi harinya, matahari tampak naik dan menerangi kamar Keenan. Ruby pun terbangun dan melihat seisi kamar yang dia tempat saat ini dan betapa terkejutnya dia karena Keenan berada di sebelahnya dengan memeluk tubuhnya dan dia melirik Piyama yang dia gunakan.
"Aaaaaaa,,,,,!!!" Ruby berteriak histeris hingga membuat Keenan melompat dari ranjangnya dan ikut berteriak saat melihat Ruby.
__ADS_1
"Aaaaaaa!!! " Teriakan kedua nya yang membuat telinga pecah. 😂