Come Back My Love

Come Back My Love
115. Bertanya-tanya


__ADS_3

Alex berfikir beberapa saat, namun tiba-tiba dia berdiri dan langsung berlari keluar untuk mengejar Kenny. Dia mencari-cari dimana keberadaan Kenny. Untungnya gadis itu masih terduduk sambil memijat-mijat kaki nya yang terasa sakit. Kenny juga terlihat masih menangis. Alex pun menghampirinya. 


"Biar aku lihat." Ujar Alex, sambil berjongkok dan langsung menarik kaki Kenny. 


"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Sahut Kenny. 


"Jangan keras kepala." Alex menatap Kenny dengan tajam dan membuat gadis itu tidak berkutik lagi. 


Alex melihat ada sedikit lebam di mata kaki Kenny, sedikit membiru dan bengkak. Alex memijat pelan dan mengoleskan krim pereda nyeri dan bengkak di kaki Kenny. 


"Aaahh,,, " Kenny meringis kesakitan. 


"Tahan sedikit, hanya sakit sebentar." Seru Alex lembut namun masih terdengar dingin. Dia menghembus luka tersebut. Kenny menatap intens wajah Alex yang semakin tampan menurutnya. Ditambah lagi perhatian Alex juga membuatnya semakin tidak bisa menjauhi pria itu. 


"Aku akan mengantar mu pulang." Celetuk Alex membuat Kenny membesarkan mata nya. 


"Ti,,, tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Kenny berdalih. 


"Bagaimana kau bisa membawa mobil jika kaki mu bengkak seperti ini." Ucap nya datar. 


"Aku bisa, tidak perlu repot, kau juga sedang banyak pengunjung yang harus kau layani disini." Sindir Kenny dia mulai berdiri dan berjalan meninggalkan Alex yang masih berjongkok di tempat semula, walau Kenny berjalan sedikit kesusahan namun dia enggan jika Alex mengantarnya. 


Alex mulai kesal, dia berdiri dan berjalan menghampiri Kenny yang sedang kesulitan berjalan. Dia langsung mengangkat tubuh Kenny yang terasa ringan. Sontak membuat Kenny terkejut, tubuhnya tiba-tiba menegang setelah tau Alex menggendongnya ala Bridal style, jantung Kenny berdegup kencang. Melihat wajah pria yang di sukainya begitu dekat dengannya. Harum maskulin pria ini begitu tercium dan cukup membuatnya nyaman. 


Alex meletakkan Kenny di kursi sebelah kemudi, memakaikannya Seatbelt. Kenny menahan nafasnya ketika wajah Alex berada sangat dekat dengan wajah nya.


'Pria ini benar-benar sengaja membuatku kehilangan nyawa karena serangan jantung.' Gumam Kenny dalam hati. 


Setelah itu Alex mengitari mobil dan masuk kedalam mobil Kenny. Alex pun langsung menginjak pedal gas. 


Di perjalanan tidak ada pembicaraan sedikitpun, Kenny menatap jalanan sementara Alex fokus dengan kemudinya. 


"Aku tidak tau kemana arah rumah mu. Apa kau akan diam saja tanpa memberitahu ku?" Tanya Alex. 


Kenny langsung menyetel lokasi pada Carplay tanpa menjawab Alex sedikitpun. 


Alex tidak perduli dengan sikap Kenny namun dia memiliki tujuan mendekati Kenny. Jadi kali ini dia mengesampingkan harga dirinya terlebih dahulu. 


"Kau tinggal bersama kakak mu?" Tanya Alex. 


"Tidak,,, aku tinggal bersama Bibi Rose."


"Kebetulan sekali,,,!!! " Ceplos Alex. 


"Kebetulan bagaimana?" Tanya Kenny heran. 


"Ohh tidak, maksudku kebetulan sekali kau tinggal bersama nya. Jadi aku bisa bertemu dengannya." Dalih Alex. 


Kenny kesal dan memajukan bibir nya. Walau sekarang Alex tampak mulai berbicara dengan santai namun Kenny masih kesal dengannya. 


"Kau lebih menyukai berinteraksi dengan Bibi dibanding dengan ku." Rajuk Kenny. 


"Kau cemburu pada Bibi mu sendiri?"


"Tidak, bukan itu maksud ku, kau lebih nyaman berbicara dengan nya di banding dengan ku."


"Perasaan mu saja yang terlalu sensitif. Aku memang senang berbincang dengannya, karena dia sangat ramah dan sangat baik mirip dengan seseorang... " Alex tidak melanjutkan omongannya.


"Pacar mu?" Tanya Kenny penasaran. 


"Tidak,,, " Jawabnya singkat. 


"Lalu,,, siapa dia? Seorang wanita kah? " Kenny mengubah duduk nya ke arah Alex. 


"Sepertinya kau terlalu ingin tau tentang kehidupanku."


"Kepercayaan diri mu besar juga Tuan, aku tidak menyangka." Ejek Kenny. Alex tersenyum dan Kenny senang melihatnya. Dia pun ikut tersenyum. 


"Sudah punya kekasih?" Tanya Kenny lagi. 

__ADS_1


Alex hanya menggelengkan kepala nya, dia hanya fokus ke arah jalan. 


"Aku tidak percaya, pria setampan dirimu tidak memiliki kekasih." Ceplosnya tanpa sadar. Kenny dengan sigap menutup mulutnya dengan tangannya yang terlalu jujur, membuat dirinya malu sendiri. Alex hanya tersenyum simpul, dia merasa Kenny tidak seburuk yang dia kira dan Alex mulai menikmati perbincangan mereka. 


"Aku tidak yakin kau tidak memiliki pacar. Atau seseorang yang kau sukai? "


"Ada,,,!!!" Jawab Alex yakin. 


"Dimana dia sekarang?" Kenny bertanya dengan santai walau di dalam hatinya sebenarnya kecewa. 


"Dulu kami tinggal bersama, namun sekarang dia memilih tinggal sendiri di apartemennya."


"Tinggal bersama? Ternyata sudah sejauh itu. Kenapa tidak memintanya untuk menjadi kekasihmu? "


"Belum saatnya. Dan akan aku lakukan." Celetuknya. 


Kenny terdiam dan kembali meluruskan duduknya dan sekarang menatap lurus ke arah depan. Lagi-lagi dia harus mendengar kenyataan bahwa Alex sudah memiliki orang yang dia sukai dan akan segera menyatakan cintanya. 


Mereka tidak melanjutkan pembicaraan mereka dan tidak berapa lama mereka pun tiba di perumahan mewah milik Rose. Rumahnya terlihat megah dan elit, Alex tidak menyangka ternyata Rose bukanlah dari kalangan orang biasa. 


"Ayo masuk,,,!!! " Ajak Kenny. 


"Kau bisa berjalan?" Tanya Alex. 


"Bisa,,,!!! " Jawab Kenny ketus. Kenny pun pelan-pelan turun dari mobil. Alex juga sudah turun dan langsung berlari ke arah Kenny. Pria itu membantu Kenny berjalan. 


"Pelan-pelan...!!! " Ujar Alex. 


"Hhm,,,!!! " Jawab Kenny singkat. 


Keduanya pun masuk kedalam rumah, penjagaan pun tampak ketat di sekitar rumah. Namun Alex merasa biasa saja karena dia sudah terbiasa menghadapi wajah-wajah seketat mereka dan dengan tubuh yang tegap. 


Kenny mempersilahkan Alex masuk. Rose yang sedang duduk ruang santai terkejut melihat Kenny datang bersama Alex. 


"Sayang,,,, ada apa dengan mu nak? Kenapa dengan kaki nya?" Tanya Rose pada Alex. 


" Eheem,,, " Kenny berdehem dan membuat Alex terdiam. 


"Kanny terjatuh Bi, kurang hati-hati jadi begini." Kenny tersenyum kikuk. 


"Hati-hati dong sayang, nanti jika kau kenapa-napa bagaimana cara Bibi menjelaskan pada orang tua mu. Bibi gagal menjaga mu." Wajah Rose tampak khawatir dan bersedih. 


"Aku baik-baik saja Bi, jangan khawatir." Ucap Kenny lembut. 


"Ya sudah sini duduk dulu. Bibi buat teh dulu untuk kalian."


"Jangan repot-repot tante, aku juga sudah menerima makanan masakan mu dan Kenny hari ini. Aku jadi merasa sungkan."


"Makanan?" Tanya Rose heran sambil melirik Kenny. Gadis itu tampak memainkan sebelah matanya. Dan Rose langsung mengerti maksud Kenny. 


"Ohh itu, tidak perlu sungkan nak Alex, tante membantu Kenny membuat nya dengan senang hati." Jawab Rose sambil membalas bermain mata dengan Kenny yang sudah tersenyum lega. 


Kenny sengaja berbohong karena dia yakin jika mengatakan kalau masakan itu dia yang memasak pasti Alex akan menolaknya. 


Tidak berapa lama Rose datang dengan membawa teh dan juga cake untuk Alex dan Kenny. 


"Silahkan di makan nak Alex, maaf kalau cake nya terlihat kurang baik, tante sedang belajar masak Cake di gurui oleh Kenny. Jadi tadi tante mencoba nya sendiri."


"Oh begitu tante, ternyata dia bisa masak?" Tanya Alex remeh. 


"Kau meremehkan ku? " Kenny cemberut. 


"Hhm,,, aku tidak yakin saja anak manja seperti mu bisa memasak."


"Anak manja? Enak saja, aku selama ini hidup mandiri jauh dari orang tua, bukan seperti anak manja yang ada di fikiranmu. Jika tidak percaya tanyakan saja pada Bibi." Ujar Kenny membela diri. 


"Benar nak Alex, Kenny ini gadis yang hebat, dia sangat mandiri, tidak bergantung dengan bantuan orang lain walaupun menjadi artis dia bisa menghandle dirinya sendiri dan kau tau sendiri kehidupan seorang artis sangat menyita waktunya. Hingga kadang tidak bisa mengurus semua kebutuhannya sendiri. Tapi Kenny berbeda." Rose kembali mengerlingkan sebelah matanya pada Kenny. 


'Bibi luar biasa, Bibi paling bisa membuat aku melayang. Terimakasih Bibi ku sayang." Batin Kenny, dia tampak berbinar. 

__ADS_1


"Bibi selalu memuji ku berlebihan. Jangan dipercaya." Ucap Kenny dan membuat Alex tersenyum


"Sebelumnya tante tinggal disini sendirian?" Tanya Alex. 


"Iya, tante disini tinggal sendirian nak Alex."


"Keluarga atau anak tante?" Tanya nya lagi 


Seketika raut wajah Rose berubah suram. Alex melihat hal itu langsung merasa tidak enak hati. 


"Maaf tante jika pertanyaan ku membuat tante tidak nyaman." Ucap Alex. 


"Tidak,,, aku senang mendengar mu bertanya nak Alex. Hanya saja tente bingung menjelaskannya dari mana. Tante punya seorang anak perempuan, cuma sekarang tidak tinggal bersama tante lagi." Jawab Rose dengan wajah yang mulai memerah. Kenny melihat hal itu menjadi tidak tega dan ikut bersedih. 


Alex tampak serius mendengarkannya. Dia memang sengaja bertanya dan ingin tau tentang kehidupan Rose. 


"Aduuh,,,!!! " Kenny pura-pura merintih untuk mengalihkan pembicaraan. 


"Kenny,,, ada apa? Apa kaki mu semakin sakit? Kita ke rumah sakit ya sayang." Ucap Rose khawatir. 


"Tidak Bibi, tidak sakit lagi, tidak perlu ke Rumah sakit, Alex sudah mengobatinya."


***


Di Apartemen Keenan. 


"Clarissa,,, Clarissa,,, jangan pergi, jangan tinggalkan aku." Keenan mengigau sambil menangis. Pelukannya pada Ruby semakin erat, Ruby terbangun merasakan pelukan Keenan dan suara Keenan yang mengusik telinganya. 


"Keenan,,,!!! " Ruby memukul pelan pipi Keenan, wajah Keenan basah karena keringat dan airmata. Dia benar-benar mimpi buruk. 


"Clarissa jangan tinggalkan aku." Rintih Keenan. 


Ruby kembali melihat tangisan tulus Keenan nya yang dulu. Airmatanya ikut mengalir. Hatinya ikut sakit melihat Keenan semenderita ini. 


"Aku disini Keenan, aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan tetap disini." Ucap Ruby lembut ke telinga Keenan.


Pria itu perlahan membuka matanya, pandangannya tampak tidak begitu jelas namun dia melihat sosok Clarissa di hadapannya. Keenan tersenyum bahagia. 


"Clarissa,,,!!!" Keenan ternyum sambil membelai wajah Ruby, menyatukan keningnya ke kening Ruby. Dia begitu bahagia, Ruby terbawa dalam suasana, dia ikut larut dalam kerinduan yang juga di rasakannya oleh Keenan. 


Tidak sadar kedua bibir mereka menyatu, Keenan mengecup lembut bibir Ruby, perlahan ********** dengan penuh kelembutan, Ruby juga membalasnya dengan segenap hatinya. Dia merasakan jika Keenan nya telah kembali. Mereka larut dalam suasana kerinduan yang selama ini terpendam, ciuman mereka semakin lama dan semakin dalam. Gairah yang mereka rasakan tak terbendung lagi, namun Ruby dengan cepat sadar bahwa Keenan dalam kondisi yang tidak stabil, Ruby tidak ingin melakukan hal yang lebih jauh dengan Keenan, dia pun mulai melepas pungutan Keenan. Pria itu tampak kecewa, dan kembali menarik Ruby kedalam pelukannya. 


"Jangan pergi lagi sayang, aku tidak ingin kehilangan mu." Perlahan mata Keenan kembali terpejam, dia kembali tertidur.


Ruby menghembuskan nafas lega, hampir saja dia lepas kendali. Dia tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali. Dia tidak akan membiarkannya dirinya kalah dengan perasaannya sendiri, karena dia tau hubungannya dengan Keenan tidak lah pasti. Dia tidak ingin kecewa lebih dalam jika nantinya Keenan berubah. 


Keenan tidur dengan nyenyak, dia tampak begitu kelelahan. Ruby semakin yakin kalau Keenan memang tidak tidur dengan baik beberapa hari ini, Ruby membiarkan dirinya menjadi guling terempuk untuk Keenan. 


Malam pun tiba, Keenan masih terlelap dalam tidurnya hingga pukul 01.00 dini hari perut Keenan terasa keroncongan, pria itu perlahan membuka matanya, tangannya terasa berat. Dia melirik ke sisi kanan dan kirinya, dia tidak melihat siapapun. Dia merasa aneh, padahal dia sangat sadar ada Clarissa di sebelahnya. Lalu kemana wanita itu sekarang. 


Keenan langsung bangkit menuju kamar mandi, walk in closet, namun wanita itu tidak ada. 


Keenan mencoba mencari di luar, namun tidak menemukan siapapun. Dia hanya mencium bau makanan di meja makan, Keenan pun berjalan menuju meja makan dan dia melihat banyak makanan yang tersaji di meja makan, dia juga menemukan selembar kertas. 


"Aku yakin setelah bangun kau pasti lapar, aku sengaja masak untuk mu, makanlah yang banyak, agar kau pulih kembali. Cepat sembuh...by Ruby!"


Keenan mengerutkan keningnya, dia melihat makanan yang di masak Ruby masih terasa panas, berarti Ruby baru saja pulang. Keenan langsung melihat jam yang ternyata sudah Pukul 01.00.


"Apa gadis ini tidak waras, berani sekali pulang selarut ini." Keenan merasa geram. Dia langsung mengambil jacketnya dan langsung keluar. Dia berlari sambil menghubungi Ruby, namun tidak ada jawaban. Keenan terus berlari hingga tiba di lantai dasar. Dia mendekati satpam yang berjaga di depan apartemen. 


"Kau melihat gadis ini keluar dari apartement ku?" Tanya Keenan sambil menunjukkan foto Ruby. 


"Oh gadis ini pak, belum lama dia naik taksi pak ke arah sana."


Keenan menghelakan nafas dengan kasar. Dia kesal kenapa Ruby tidak menunggunya sampai bangun. Keenan pun kembali ke Apartemennya. Masuk kedalam dengan wajah bertanya-tanya. 


"Aku sangat yakin kalau wanita yang aku peluk dan aku cium tadi itu Clarissa. Tapi,,, kenapa Ruby? Atau jangan-jangan itu memang Ruby, bukan Clarissa. Dia akan mencek CCTV, namun dia menyantap makanan nya terlebih dahulu karena dia sangat lapar, sedari siang tadi dia tidak makan karena mengikuti Ruby dan Josh sampai akhirnya dia batal makan karena seseorang dengan sengaja membelai wajahnya karena tidak tahan melihat ketampanan Keenan. 


Dia melahap habis makanan yang di masak Ruby, semua nya ludes tanpa sisa. Dia akan melupakan program diet nya ketika dihadapkan dengan masakan Ruby. Nikmat sekali, tidur dan makan yang tidak teratur beberapa hari ini akhirnya terbayarkan.

__ADS_1


__ADS_2