Come Back My Love

Come Back My Love
108. Rachel Kiel?


__ADS_3

     


     "Kenapa Inez dan Noah ada disini? Kau sengaja membawa mereka kemari" Tanya Josh kesal. 


     "Kau fikir aku bodoh. Aku tidak tau, mereka tiba-tiba datang tanpa sepengetahuan ku." Sahutnya ketus. 


     "Kau membiarkan Ruby melihat kalian. Kau tega sekali."


     "Itu di luar kuasa ku. Aku juga tidak menyangka Ruby masuk membawakan minum mereka. Apa menurut mu dia akan berfikiran buruk tentang ku Josh?"


     "Lalu apa menurut dia pergi tanpa sebab setelah melihat kalian dengan berlinang airmata? Kenapa kau ceroboh sekali?" Josh tidak pernah sekesal ini pada Keenan. 


     "Kenapa jadi kau yang kesal Josh? Apa karena dia teman mu? Atau kalian memang punya hubungan lebih dari itu" Ujar Keenan yang masih begutu kesal pada Josh. 


     "Jelas aku kesal, aku kesal karena aku tidak tau wanita yang kau tiduri sesuka mu dan kau sakiti saat ini adalah teman ku. Andai aku tau dari awal aku akan mencegahnya masuk di kehidupan mu." Celetuk Josh dengan nada suara yang lumayan tinggi."


     "Kau berbicara seolah hanya aku yang memaksanya, dia juga menikmatinya. Dia tidak menolakku Josh."


     "Kau memang sialan. Jadi kenapa bertanya bagaimana Ruby berfikir tentang mu. Tanpa ku jawab juga seharusnya kau sudah tau." Balas Josh. 


      "Lagian apa haknya berfikiran buruk tentang ku. Dia juga tidak berhak marah. Kami tidak memiliki hubungan apapun." Keenan berusaha terlihat tidak perduli tapi hatinya tetap gelisah. 


      "Baiklah kalau begitu. Berarti tidak ada yang bisa menghalangiku mendekatinya." Ujar Josh tegas. 


      Keenan langsung menatap tajam sahabatnya yang begitu menyebalkan itu. 


      "Sejak kapan kau tertarik dengan bekas ku?" Tanya Keenan menyela. 


     "Dia bukan barang Keenan. Dia manusia yang juga punya hati."


     "Dia tidak sesuci yang kau fikirkan. Karena mungkin tidak hanya aku saja yang melakukan itu padanya."


     "Aku tidak perduli dia bekas siapapun. Karena aku mengenalnya lebih baik darimu. Jangan menyesal dikemudian hari Dude." Josh memberi peringatan keras pada Keenan. 


     "Apa menyesal? Haha,,," Keenan tertawa menyela. 


     "Untuk apa aku menyesal, kau tau aku tidak menyukainya. Dia hanya seorang gadis yang beruntung bisa aku sentuh, kau juga tau aku menjadikan dia sebagai sekretaris ku hanya penasaran dan untuk bermain-main saja. Dan aku bisa menendangnya kapan pun aku mau." Ucap Keenan semakin angkuh.


      Josh hanya tersenyum tak kalah menyela, dia sedang memegang ponselnya yang baru saja berdering. Dia sudah lama mengangkatnya tapi tidak langsung berbicara karena Keenan masih terus mengoceh. Tapi Josh juga tidak menyangka Keenan akan bicara sekasar itu tentang Ruby. 

__ADS_1


     "Ruby,,, maaf aku tidak langsung berbicara padamu. Apa kau mendengar semua nya? Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membuat mu mendengar semua nya. Kau baik-baik saja kan?" Tanya Josh yang tiba-tiba khawatir. Keenan menegang setelah tau Ruby menelepon Josh dan sudah mendengar apa yang Keenan katakan. Ruby lama terdiam dan terdengar menarik nafas seperti orang yang sedang menangis.


     "Aku baik-baik saja Josh. Jangan khawatir, aku sudah terbiasa mendengar hal itu, yang dia katakan benar, aku bukan wanita baik-baik seperti yang kau lihat. Terima kasih Josh, ini nomorku. Jika kau ingin kau boleh memyimpannya." Ucap Ruby dengan suara serak dan bergetar. Sangat jelas terdengar bahwa dia sedang menangis. 


      Keenan mendengar apa yang Ruby katakan karen Josh sengaja menyalakan Loadspeaker panggilannya. Keenan semakin panik dan gelisah. 


      "Ruby,,, mari bertemu." Ucap Josh merasa Iba. 


      "Baiklah Josh tapi maaf tidak bisa hari ini. Karena aku harus pergi ke suatu tempat. Besok aku akan memberi kabar dimana kita ketemu."


      "Kau benar baik-baik saja? Aku mendengar suara mu seperti sedang menangis."


      "Aku,,, aku sedang flu. Aku tutup ya Josh. Byee. !!! Ruby langsung mengakhiri panggilannya. 


       Josh menghembuskan nafasnya dengan kasar. 


      "Aku tidak bermaksud membuat Ruby mendengar semuanya. Sorry Keenan aku harus pergi." Ucap Josh kecewa dan segera meninggalkn Keenan. 


     Keenan tampak frustasi, dia benar-benar bingung dan kalut, Ruby mendengar semua apa yang dia katakan. 


     "Josh tunggu, apa kau akan bertemu dengannya?" Tanya Keenan mulai melemah. 


     "Kau dengar sendiri tadi. Kami akan bertemu besok. Jangan melarang maupun menekannya Keen, dia juga temanku."


     "Aku tidak ingin bahas masa lalu. Aku pamit." Ucap Josh keluar dari ruangan Keenan. 


     Keenan benar-benar naik darah. Dia membanting telepon kantor yang ada di hadapannya hingga telepon itu hancur. Kenapa dia sangat sial hari ini. 


     Batin Keenan terus merasa gelisah. Kalau otaknya mengatakan tidak perduli dengan Ruby tapi tidak dengan hatinya. Dia semakin gelisah dan takut Ruby kenapa-nama setelah mendengar ucapannya. 


     "Seharusnya aku tidak perlu perduli. Tapi kenapa hati ku malah sebaliknya. Kenapa sakit rasanya. Otak dan hatiku seolah tidak sejalan. Kenapa seperti ini. Ayolah Keenan jangan fikirkan dia." Keenan bermonolog. 


     Keenan langsung mengirim pesan pada Jonas. 


     "Cari keberadaan Ruby sekarang juga dan langsung beritahu aku dimana dia." Send Message. 


      Keenan meletakkan ponselnya dengan kasar dan dia bersandar di kursinya sambil memegang kening nya. 


      Lama Keenan menunggu, hari pun mulai gelap, Keenan masih berada di kantor. Hingga saat ini Jonas belum juga membalas pesannya. Dia tau Jonas sedang mencari keberadaan Ruby. Keenan bisa saja mencari Ruby dengan caranya sendiri. Namun lagi-lagi Keenan ragu dan mengurungkan niatnya. 

__ADS_1


      Saat Keenan mengambil ponselnya tiba-tiba Jonas membalas pesannya dan Jonas mengirim alamat dimana Ruby berada saat ini. Keenan pun membaca pesan Jonas dan membuka lokasi yang dikirim Jonas padanya. 


     "Ini bukannya tempat pemakaman yang waktu itu aku melihatnya bersama Alex. Sedang apa Ruby disana." Ucap Keenan berbicara sendiri. 


     Keenan bangkit dari duduk nya dan mengambil jas nya, dia bergegas menuju lokasi dimana Ruby berada. Dia tidak akan tenang jika tidak menemui dan mencari tahu bagaimana keadaan Ruby. Itu adalah perasaannya lain hal di dalam otaknya. Ingin rasanya dia tidak memikirkan ini dan mengabaikan Ruby.


     Di tempat Pemakaman, lagi-lagi Ruby duduk bersimpuh di depan makam Putrinya, dia terus menatap makam itu dengan deraian airmata. Ruby sudah merasa lelah, namun airmatanya tidak juga berhenti keluar. 


     "Maaf, lagi-lagi Mama mengingkari janji Mama, Mama sudah menahannya sekuat tenaga namun Mama gagal. Mama masih saja menangis. Tidak bisa Mama pungkiri ucapannya begitu menyakitkan. Apa Mama serendah itu di matanya? Kenapa dia tega melakukan itu? Apa salah Mama nak? Mama tidak menyinggungnya juga tidak menyakitinya namun kenapa dia begitu kejam." Ruby memeluk makam putrinya itu sambil menangis. 


      Keenan sudah tiba di pemakaman, dia masih berjalan sambil melihat-lihat dimana Ruby. Dan langkahnya tiba terhenti karena sudah menemukan orang yang dia cari. Jarak mereka tidak begitu jauh, namun karena melihat kondisi Ruby yang tampaknya sedang terpuruk Keenan mengurungkan niatnya untuk menghampiri Ruby. 


     'Ruby menangisi makam siapa? Kenapa sampai seperti itu.' Batin Keenan. 


     "Kau tau? Ternyata kau punya saudara. Seorang adik laki-laki. Dia juga Putra Ayahmu. Mama bodoh sekali karena mengira Ayahmu masih sendiri nak. Ternyata dia sudah punya keluarga yang lengkap. Kau tau bagaimana perasaan Mama? Aku senang sekaligus sakit nak. Aku benci perasaan ini." Ruby semakin menangis. 


      "Aaaaaaaaaaaa,,,,, " Ruby berteriak sekuat mungkin, hingga beban di hatinya tidak terasa berat."


      "By,,,,!!!" Ucap nya pelan. 


      "Apa ucapan ku begitu menyakitkan By?" Keenan berkata sambil memegang dadanya yang terasa sesak. 


      "Dada ini terasa sesak jika melihatnya menangis." Keenan masih berdiri tak jauh dari Ruby. 


      Cukup lama mereka ditempat mereka masing-masing. Ruby merasa mulai tenang, dia pun mulai bangkit dan bergegas meninggalkan makam. Keenan perlahan mendekati makam tanpa sepengetahuan Ruby. Dia melihat makam dan membaca tulisan pada makam tersebut. 


     "Rachel Kiel,,, 8 tahun lalu. Siapa anak ini, kenapa ada nama Kiel pada namanya." Keenan semakin meremas kuat Dadanya yang terasa semakin sakit. Dia melihat kearah pintu keluar namu Ruby tidak terlihat lagi. Keenan perlahan bangun untuk mengejar Ruby. 


     Lama Keenan berputar-putar mencari keberadaan Ruby pada akhirnya dia menemukan Ruby sedang minum Soju di salah satu warung pinggir jalan. Keenan pun turun dari mobil dan menghampiri Ruby. 


     Ruby sudah terlalu banyak minum, matanya tampak merah dan bengkak. Keenan pun semakin dekat dan langsung merampas minuman itu dari tangan Ruby karena Ruby sudah sangat mabuk. 


   Gadis itu mendongak dan menatap Keenan dengan setengah mata terbuka. 


     "Kenapa kau mirip sekali dengan Keenan. Bos sialan yang tidak punya hati itu. Sial,,,rasanya aku tidak ingin melihat nya. Mulutnya setajam pisau dan hatinya sekeras batu." Ucap Ruby dalam keadaan mabuk. 


     "Sudah By, sudah cukup, kau sudah terlalu banyak minum. Ayo aku antar pulang." Keenan menarik tangan Ruby. 


     Ruby memandang tangan Keenan dan Ruby langsung menghempaskan tangan Keenan dengan kasar. 

__ADS_1


     "Jangan menyentuhku sembarangan. Aku bukan wanita murahan. Kau tau?" Ruby berteriak dan semua mata tertuju padanya. 


"Tidak tidak tidak, kau tidak pernah tau. Kau memang sangat kejam. Ruby menolak pipi Keenan eengan jari telunjuknya.


__ADS_2