Come Back My Love

Come Back My Love
49. Tidak Ingin Menikah


__ADS_3

"Mengaku lah pa jika papa yang melakukannya." Tuding Keenan dengan wajah penuh dengan air mata.



"Bagaimana papa bisa mengaku jika bukan papa pelaku nya?" Anderso bersikeras.



"Baik lah kalau papa tidak mau mengaku dan mengatakan yang sebenarnya. Biarkan aku menyusul Clarissa. Kelak tidak ada beban hidup yang harus aku tanggung. Tidak ada penyesalan lagi di hatiku dan rasa bersalahku juga akan terbayarkan." Keenan mengeluarkan pistol dari saku nya dan mengarahkan ke arah kepalanya sendiri. Melihat hal itu Sandra berteriak histeris. Begitupun dengan Tuan Newton dan Anderson.


"Keenan,,, " Teriak mereka bersamaan.


"Apa yang kau lakukan nak. Letakkan senjata itu." Ucap Newton panik.



"Keenan,,, sayang jangan lakukan itu nak. Jangan bermain-main dengan senjata itu nak. Lihat Mama nak." Sandra menangis sejadi-jadi nya.



"Maafkan Keenan ma, Keenan tidak bisa hidup dengan perasaan bersalah seperti ini. Perasaan Keenan begitu sakit ma, Keenan akan menyusul Clarissa. Gadis yang paling Keenan cintai. Keenan tidak bisa hidup dengan baik tanpa Clarissa. Sekalipun Keenan hidup tidak akan ada guna nya" Ucap Keenan sambil menangis.



"Anak sialan. Letakkan senjata itu. Jangan bodoh Keenan. Hanya karena gadis itu kau berani menyakiti diri mu sendiri. Jauhkan senjata itu." Teriak Anderson yang terlihat begitu marah dan juga panik. Dia tau putra nya tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.



"Kalau begitu katakan semua nya pada ku pak. Katakan kalau Papa yang melakukannya." Keenan semakin mendekatkan senjata itu ke bagian kepala nya.


"Keenan.... " Teriak Sandra ketakutan.


"Papa tidak pernah melakukan nya. Papa hanya ingin kau menjauhi nya. Gadis itu bukan gadis yang baik untuk mu. Jadi jangan sakiti dirimu karena perasaan yang tidak jelas. Kau masih terlalu muda untuk mengerti cinta"



Keenan mengeratkan gigi nya. Papa nya sama sekali tidak mengerti perasaannya.



"Papa sekalipun tidak pernah mengerti perasaan ku. Papa tidak pernah tau apa keinginan ku. Yang papa pikirkan hanya kemauan dan kepentingan papa sendiri. Tanpa bertanya bagaimana perasaan ku." Teriak Keenan.



"Keenan,,, " Bentak Anderson dengan amarah yang memuncak.


"Doorrr."


"Keenaannnnn,,,,, " Teriak para tetua di ruangan itu. Keenan menembak diri nya sendiri tepat di kepala nya. Dan saat ini dia sudah tergeletak dengan berlumuran darah di seluruh kapala nya.



"Keenan,,, " Tuan Newton memanggil nama Keenan sambil memegang dada nya.



"Apa yang kau lakukan nak." Tuan Newton pun terjatuh kelantai.


__ADS_1


"Ayah,,, " Anderson terkejut melihat ayah nya sudah terkapar di lantai dengan memegang dada nya sementara Keenan juga sudah tidak sadarkan diri. Dia bingung siapa yang hendak ia tolong terlebih dahulu. Anderson langsung menghampiri sang Ayah.



Sandra sudah terduduk meratapi sang Putra yang sudah tidak sadarkan diri dengan lumuran darah yang tidak henti-henti nya keluar.



"Panggil Ambulance." Teriak Anderson kepada kepala pelayan.



"Ayah bertahan lah." Anderson kalut melihat kondisi Ayah dan juga Putra nya. Dirinya juga begitu mengkhawatirkan keadaan Keeanan. Tampaknya anak itu sudah banyak kehabisan darah. Atau nyawa nya mungkin sudah tidak terselamatkan lagi.



'Tuhan selamatkan Ayah dan juga putra ku. ' batin Anderson yang wajahnya tampak begitu kacau balau.


Tidak berapa lama Ambulance pun datang membawa Tuan Newton dan juga Keenan.


Tetibanya di Rumah sakit. Masing-masing keduanya di bawa langsung ke Ruang Operasi. Tuan Newton mengalami gagal jantung dan harus segera di operasi. Begitu pun juga Keenan. Denyut nadi nya semakin melemah. Kali ini Team dokter sedang berusaha mengeluarkan peluru dari kepala Keenan di meja operasi.


***


8 Tahun Kemudian


Pagi hari Di sebuah rumah di pinggiran Kota California Negara Amerika Serikat. Seorang pria Tua sedang menikmati kopi sambil memandang ke arah kolam berenang yang tampak begitu tenang. Cuaca yang begitu menyejukkan hati dan juga pikiran.



"Selamat pagi Ayah." Ucap seorang pria dengan Nada suara yang gagah sesuai dengan poster tubuhnya yang begitu indah. Tinggi badan hingga 183cm. Otot lengan yang telihat pas di kaos santainya yang berwarna putih. Sangat sesuai dengan warna kulit nya yang tidak begitu gelap tetapi tidak begitu putih juga. Bisa di katakan pria ini memiliki keberuntungan dengan fisik yang sempurna.




"Ini roti buat Ayah. Ayah belum menyentuh sarapan ayah sedikit pun. Jadi aku buatkan roti ini untuk Ayah." Sambil memberikan sebuah piring berisikan 2 potong roti.



"Terima kasih nak. Kau memang begitu perhatian pada ku. Tetapi aku belum lapar." Ucap sang Ayah pada Putra nya.



"Jangan menyakiti dirimu Ayah. Kami anak-anak mu masih sangat membutuhkan mu. Hingga kami memiliki keluarga. Apa Ayah tidak ingin menggendong cucu Ayah di masa Tua nanti? Jadi tetap lah sehat. Makan makanan yang sehat dan juga jangan sampai tidak makan." Ucapnya sambil mengambil sepotong roti untuk ayah nya dan Ayah nya menerima nya dengan senyuman.



"Kau membicarakan tentang Cucu untuk ku sementara kau saja belum menikah. Bagaiman kau bisa bicara terlalu bijak nak." Mereka pun sama-sama tertawa. Alex pun duduk tepat di sebelah sang Ayah.


"Umur mu sudah masuk kepala 3, jadi kapan lagi kau akan merencanakan pernikahanmu." Tanya sang ayah sambil tersenyum.


"Aku belum ada kepikiran untuk menikah Ayah. Masih menikmati hidup sendiri." Ujar nya dengan tatapan datar.



"Benarkah. Tapi jangan terlalu fokus pada karir. Kau juga harus memikirkan masa depan mu. Jangan tiru aku. Sekarang yang tersisa hanya penyesalan." Sang Ayah tersenyum kecut.


__ADS_1


"Ayah juga masih bisa menikah jika ayah mau. Ayah masih terlihat muda dan kuat. Tubuh ayah juga sangat indah ayah juga tampan. Pasti banyak wanita yang menginginkan dan mendambakan ayah." Alex menatap ayah nya dengan binaran meyakinkan.



"Kau mencoba merayu ku nak." Ayah nya tersenyum.



"Ucapan kakak itu benar sekali ayah. Ayah menikah saja. Aku juga yakin banyak wanita yang ingin menikah dengan ayah. " Terdengar suara yang begitu lembut.



Seorang wanita cantik, bertubuh sintal, tinggi semampai, berkulit putih bening bak dewi yang turun dari langit. Mata nya begitu indah dan terlihat sangat sendu. Siapa pun pria yang menatapnya akan rela berlutut di kaki nya. Alex tampak berbinar setelah menatap wajah wanita cantik itu. Wangi tubuhnya begitu terasa, lembut dan menenangkan.


Gadis itu memeluk sang ayah dari belakang.


"Selamat pagi ayah. Pagi kak" Ucapnya dengan senyuman jahil nya.



"Selamat pagi cantik. Cara bicara mu terlalu manis nak. Ayah tidak berniat untuk menikah lagi." Jawab nya sambil tersenyum.



Gadis itu lalu duduk di antara Ayah dan Kakak nya. Kakaknya masih fokus menatap sang adik. Dia terus tersenyum melihat kehadiran adik nya.



"Kau cantik sekali pagi ini. Mau pergi kemana? Bukannya kau sudah berhenti dari pekerjaan mu? Tanya Alex.



" Aku akan bekerja di tempat kerja ku yang baru kak. Kemarin pihak rekrutment nya menghubungi ku untuk datang dan bergabung di perusahaan mereka." Jawabnya lembut.



"Dibagian apa? Apakah masih di bagian desain?" Tanya Alex.



"Tidak kak. Kali ini aku beralih ke perusahaan di bidang pangan khusus nya di bagian pemasaran tapi masih mencakup tentang desain sih untuk memenuhi target pasar secara spesifik. Perusahaannya belum lama berdiri tapi cukup menjanjikan. Gaji nya juga lebih oke di banding diperusahaan sebelumnya."



"Bagus kalau begitu. Lakukan pekerjaan yang menurut mu bagus dan menyenangkan nak. Ayah selalu mendukung mu." Ucap sang ayah sambil menepuk bahu nya.



"Asal tidak setengah jalan berhenti lagi. Karena tidak sesuai kau langsung berhenti dan mencari pekerjaan lain." Ejek Alex sambil tersenyum.



"Tidak kak, kali ini tidak akan seperti itu lagi karena aku masih terikat kontrak dan jika aku menyerah sebelum waktu nya, aku harus membayar biaya pinalty hingga 100℅, jadi kakak tenang saja." Jelas nya santai.



"Hmm,,, kita lihat saja." Ujar Alex sambil membelai kepala dan rambut sang adik.


__ADS_1


"Kau boleh bekerja keras tetapi harus tetap memikirkan masa depan mu. Kau membutuhkan pasangan hidup untuk saling berbagi perasaan." Ucap Sang ayah hingga membuat Putra dan putri nya terpelongok.


__ADS_2