Come Back My Love

Come Back My Love
96. Begitu Menawan


__ADS_3

Pagi hari masih di Apartement Ruby. Ruby membuka matanya dan kembali terbelalak ketika melihat sosok di hadapannya. Dia jelas-jelas tidur di lengan pria ini sepanjang malam dan dia tidak menyadarinya sama sekali.


Tubuh Ruby refleks mundur dan mendorong pelan tubuh Keenan yang masih terlelap. Tapi karena Ruby bergerak Keenan langsung membuka matanya. Dia juga kaget melihat respon wajah Ruby yang sepertinya tidak senang.


"By,,,Maaf aku terlalu lelah hingga mengira ini ranjang ku"


Ruby tidak menjawab. Wajah nya terlihat datar. Dia langsung bangkit tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia keluar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.


Keenan melihat hal itu langsung tidak enak hati. Dia menghusap kasar wajahnya dan kembali berbaring.


Tidur nya memang sangat nyenyak malam ini. Tapi dia tidak sampai berfikir bagaimana Ruby. Jika Ruby marah dan ngomel sepanjang hari Keenan akan senang melihatnya. Tapi kali ini Ruby hanya diam tanpa kata. Keenan bingung harus berbuat apa.


Keenan langsung bangun dan masuk ke kamar mandi untuk mandi.


Diluar Ruby sudah selesai menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Kali ini Ruby memasak bubur ayam. Harum masakannya mulai tercium, Keenan yang sudah selesai bersiap langsung keluar kamar. Dia menggunakan kamar Ruby seperti kamarnya sendiri.


Ruby melirik Keenan yang baru keluar dari kamar. Sudah tampak rapi dan wangi, jangan di tanya ketampanannya yang tiada tanding. Tapi Ruby tetap diam. Hingga Keenan duduk di kursi makan. Dia melirik gadis di hadapannya. Ruby menyediakan sarapan Keenan sudah seperti istri yang menyediakan sarapan untuk suami nya. Dan meletakkan susu juga. Keenan merasa berbunga. Rasanya begitu menyenangkan. Tapi dia masih gelisah karena Ruby masih mendiaminya.


Selesai melayani Keenan Ruby tak langsung sarapan dia beranjak ke kamar untuk mandi tapi saat melewati Keenan tangan Ruby ditahan oleh Keenan.


"By,,, kau masih marah?" Tanya Keenan dengan wajah sendu nya.


Ruby menjawab dengan gelengan kepala. Dia sebenarnya juga malu. Dia bingung hendak berkata apa. Pagi ini Ruby merasa Keenan seperti suami yang dia layani dari bangun sampai menyiapkan sarapannya. Tapi di balik itu semua ada rasa sedih yang tidak terbendung di hati Ruby.


"Lalu kenapa diam saja? Aku bersumpah tidak melakukan apapun. Aku hanya pindah tidur karena begitu lelah. Maaf,,,!!!" Wajah memohon Keenan mulai meluluhkan Ruby. Ruby hendak menjawab tapi tertahan karena ponsel Keenan berdering. Ruby sempat melirik ponsel Keenan yang dia letak di meja makan. Ternyata yang memanggil adalah Inez. Keenan juga melihat siapa yang menghubunginya. Peganganya pun langsung terlepas begitu saja. Ruby menatap tangannya dan kembali melihat Keenan yang dengan cepat mengangkat panggilan tersebut.


"Ya Nez...?" Suara Keenan terdengar begitu lembut menjawab panggilan Inez dan Keenan langsung menjauh dan mengabaikan Ruby. Ruby tersenyum tipis. Sebelum ini fikirannya sudah jauh. Berharap ada hal yang baik akan terjadi antara dirinya dan Keenan, tapi nyatanya itu hanya harapan sepihaknya saja. Lagi-lagi Ruby lupa diri dan tidak tau batasan. Dia sering lupa batasan itu saat Keenan bersamanya. Kenyataan yang sesungguhnya yaitu Keenan bukanlah Keenan yang dulu. Itu lumayan menyakitkan bagi Ruby.


Ruby pun beranjak meninggalkan Keenan dan masuk ke kamar untuk mandi. Keenan sempat melihat punggung gadis itu. Dia masih memikirkan Ruby.

__ADS_1


Beberapa waktu berlalu, Ruby sudah selesai bersiap dan hendak kembali keluar untuk sarapan. Saat keluar dari pintu dari kejauhan Keenan tampaknya belum selesai berbicara dari telepon ganggamnya. Dia tampak sumringah dan tersenyum lepas saat berbicara dengan wanitanya. Itu di mata Ruby.


"Kau tau, Noah begitu bersemangat masuk sekolah, pagi ini dia bangun cepat dan sudah bisa bersiap sendiri. Noah mengatakan kalau dia ingin menjadi seperti Daddy nya yang hebat." Ucap Inez di dalam panggilan. Keenan tersenyum senang. Dia sangat merindukan anak itu.


"Baiklah, katakan padanya jika senggang aku akan datang kesana. Aku rindu." Ucap Keenan dan sangat jelas terdengar di telinga Ruby. Hatinya mulai bergejolak, terasa perih pastinya tapi Ruby mencoba mengabaikannya dan berjalan menuju meja makan.


Keenan menatap Ruby sedari tadi mulai dari keluar kamar hingga saat gadis itu duduk di meja makan. Ruby tampak berbeda hari ini. Penampilannya begitu memukau. Tidak biasanya dia ke kantor dengan Rok di atas lutut dan dengan blazer berwarna dusty pink senada dengan roknya. Kaki jenjang nya yang putih dan mulus terekspos. Dia begitu menawan pagi ini. Hal itu membuat konsentrasi Keenan terganggu.


"Aku sudahi dulu ya. Aku ada meeting pagi ini." Ucap Keenan.


"Baiklah, semoga hari mu baik hari ini. Jangan lupa istirahat dan makan yang banyak."


     "Iya terima kasih. Bye...!!!" Keenan mengakhiri panggilannya. Keenan pun menghampiri Ruby yang sedang menyantap sarapannya walau terlihat tidak bersemangat. Keenan duduk di hadapan Ruby. Keenan tampak Kikuk. Ruby menyudahi sarapannya. Dia tidak begitu berselera. Hatinya sedang tidak baik pagi ini.


"Kenapa tidak di habiskan? Kau makan terlalu sedikit." Ucap Keenan.


"Aku sudah kenyang." Jawab Ruby singkat.


"Ooh iya, seseorang memberikan kepadaku kemarin. Aku suka warnanya dan aku ingin memakainya."


Kening Keenan tampak berkerut. Didalam batinnya siapa yang memberikan pakaian itu pada Ruby.


"Pacar mu?" Tanya Keenan lagi. Ruby tidak menjawab dia hanya tersenyum. Gadis itu benar-benar tidak banyak bicara pagi ini.


Keenan merasa kesal, dia mulai tidak bisa mengontrol emosinya.


"Kau sengaja memakai itu karena kau tau kita akan Meeting dengan orang penting pagi ini kan?" Ucap Keenan mulai mengada-ngada.


Ruby menatap Keenan tak mengerti. Nada suara Keenan juga terdengar tidak menyenangkan.

__ADS_1


"Apa maksud mu?" Tanya Ruby  tidak mengerti.


"Kau sengaja berpakaian seperti ini untuk menggoda klien kita kan? Kau tau saja kalau dia seorang lajang." Sindir Keenan.


"Maaf pak, aku tidak ada berfikiran kotor seperti itu. Aku memakai pakaian ini memang karena aku ingin. Bukan karena orang lain. Kau boleh menilaiku buruk. Itu hak mu. Dan aku tidak perduli." Jawab Ruby ketus. Dia kembali ke kamar untuk mengambil tas nya.


Keenan masih berdiri terpaku. Dia juga heran kenapa dia memiliki mulut lancip yang bisanya menyinggung Ruby.


Ruby keluar dari kamar dengan wajah suram. Rasanya dia ingin menangis. Tapi dia sudah berjanji tidak akan menangis lagi untuk Keenan.


"Ayo kita berangkat. Aku tidak ingin kita terlambat." Ajak Ruby sambil berjalan menuju pintu. Keenan dengan berat hati mengikuti Ruby. Dia masih kesal dan penasaran siapa yang memberikan Ruby pakaian. Keenan memperhatikan jalan Ruby dari belakang. Gadis ini benar-benar sangat menggoda. Bentuk tubuh nya terlalu indah, siapa pun yang melihatnya akan jatuh di bawah kakinya.


Keenan semakin gelisah karena pagi ini dia akan meeting dengan Klien nya yang juga masih singel, pria iti masih muda dan juga tampan, dia terkenal dengan julukan Casanova, bisa menggoda para wanita mana saja. Keenan merasa ini adalah ancaman buat nya. Dia khawatir Ruby akan tergoda pada pria itu.


"By,,, " Panggil Keenan saat menuju parkiran.


Ruby menghentikan langkah nya sambil menoleh ke belakang.


"Kau yakin memakai pakaian ini ke tempat Meeting? " Tanya Keenan ragu.


"Iya pak, kenapa? Apa ada yang salah?" Tanya Ruby santai.


"Iya menurutku rok nya terlalu pendek. Kakimu terekspose dengan jelas." Ucap Keenan kikuk.


"Ini tidak terlalu pendek pak. Diluar sana bahkan ada yang lebih pendek dari ini. Kalau aku ganti lagi waktu kita tidak akan cukup. Kita bisa terlambat." Jawab Ruby.


Keenan cemberut dan langsung masuk ke dalam mobil. Didalam mobil Ruby juga sudah duduk di samping Keenan yang akan mengendarai mobil nya sendiri. Keenan kembali melirik Ruby dan pakaiannya yang lagi-lagi membuyarkan pandangannya. Keenan langsung memgambil jas dari jok belakang mobil dan memberikannya kepada Ruby.


"Tutupi" Ucap Keenan tegas sambil melempar pelan jas itu pada Ruby. Ruby menatapnya polos tetapi langsung menutupi pahanya dengan Jas Keenan.

__ADS_1


Mobil pun melaju ke tempat pertemuan. Kebetulan mereka Meeting di salah satu restauran mewah.


__ADS_2