
"Kau di Rotasi ke management ku. Lebih tepatnya menjadi sekretaris pribadi ku." Ujar Keenan tegas.
Ruby melotot dan mulutnya terbuka mendengar hal itu.
"Jangan bergurau pak. Jurusan ku tidak mengarah kesana. Tidak ada hubungannya." Ruby terkekeh tidak percaya. Dia masih mengaggap Keenan hanya bergurau saja.
"Apa wajah ku tampak seperti sedang bergurau Nona Snow?" Tegas Keenan.
"Jadi kau serius pak? Tidak,, tidak,,, tidak pak. Kau bisa merekrut karyawan lain. Aku tidak bisa." Ucap Ruby sambil. Melambai-lambaikan tangannya.
"Kau tidak bisa menolak perintah ku. Aku atasan tertinggi. Kau tau konsekuensinya bila menolak perinta atasan bukan?" Ancam Keenan.
Ruby sempat terdiam, dia hanya mendumal dalam hati.
'Beberapa hari bersama mu saja sudah cukup menyiksaku dan membuat ku sakit kepala. Apalagi jika harus menjadi sekretaris mu. Aku bisa mati muda.' batin Ruby.
"Kenapa kau diam saja. Bersiaplah untuk besok, asisten ku sudah mengatur segalanya."
"Aku tidak bisa pak, aku masih memiliki deadline yang harus aku selesaikan. Jika tidak aku bisa kena sanksi." Rengen Ruby mencari alasan.
"Siapa yang berani memberi mu sanksi selain aku?" Ucap Keenan tegas dan terdengar sangat dingin."
"Tidak ada penolakan besok kau harus ikut ke management ku untuk menandatangani semua dokumen kontrak kerja. Sekali lagi aku tekankan, kau akan menjadi sekretaris pribadi ku. Kau yang akan mengatur seluruh agenda rapat atau pertemuan-pertemuan lainnya. Untuk lebih jelasnya lagi besok kau akan mengetahui nya."
"Kau tidak bisa memaksa ku seperti ini Keenan. Aku tidak bisa. Kau bisa pilih orang lain yang lebih tepat, lebih kompeten yang pasti lebih bisa membantu menangani semua pekerjaan mu." Ruby semakin frustasi. Tatapannya begitu memelas. Dia tidak bisa terus-terusan dekat dengan Keenan, itu akan sangat merugikannya. Karena selama ini dia berjuang untuk bisa berhasil melupakannya. Tetapi malah bertemu di tengah-tengah perjuangannya.
"Aku tidak menginginkan siapa pun. Aku hanya ingin dirimu?" Ceplos Keenan.
__ADS_1
"Apa...??? Ruby merasa tak percaya.
" Maksud ku, aku sudah melihat kinerjamu dari awal bekerja hingga saat ini dan menurutku kau cocok untuk dijadikan sekretaris ku." Ucapnya asal.
"Tidak masuk di akal, sudah jelas-jelas diluar dari bidang ku." Celetuk Ruby.
"Jangan membantah, banyak orang yang bermimpi bekerja di posisimu. Seharusnya kau bersyukur." Ucapnya angkuh.
"Kenapa tidak mereka saja yang kau jadikan sekretaris mu. Aku bahkan tidak pernah bermimpi untuk bekerja dekat dengan mu pak Keenan yang terhormat?" Jawab Ruby tak kalah angkuh.
"Tapi kenyataannya kau sudah bekerja dengan ku. Jangan merumitkan semua nya. Kau hanya perlu menurut dan tidak membantah perintah atasan mu. Gaji mu juga tidak main-main Ruby." Keenan bangkit dari duduknya dan pergi ke ruang kerjanya.
Ruby terdiam dan memikirkan ucapan Keenan. Ruby mengingat masalah ayahnya yang sedang memerlukan uang, apa lebih baik dia menerima tawaran Keenan saja?
Ruby menghelakan nafas dengan kasar. Tubuhnya yang tadinya masih terasa lemas sekarang mulai membaik. Mungkin karena obat yang di berikan Keenan. Ruby kembali ke dapur untuk membersihkan peralatan masak tapi sebelumnya dia memasak puding coklat untuk rasa terima kasih untuk Keenan yang sudah merawatnya, apalagi dia tau Keenan sangat menyukai puding coklat. Setelah selesai Ruby meletakkannya di meja dan menulis sesuatu di selembar kertas dan setelah itu dia bergegas pergi. Dia mengirim pesan untuk Sean agar menemuinya di cafe dekat apartement.
"Bukankah dia masih sakit, kenapa malah pergi." Ujar nya sedikit kecewa. Dan mata Keenan beralih pada Puding coklat yang ada di meja makan, yang sengaja dibuat Ruby khusus untuk Keenan. Dia mendekat dan mengambil kertas yang di selipkan dibawah cup puding tersebut.
"Terima kasih sudah merawatku selama aku sakit. Puding coklat ini untuk mu. Semoga suka." Tulis Ruby.
Keenan melebarkan senyumnya. Jujur dia bahagia Ruby bersikap baik pada nya. Dan dia berfikir dari mana Ruby tau dia menyukai Puding coklat. Keenan memegang dada nya, jantungnya berdegup kencang hanya dengan memikirkannya saja, Keenan berharap Ruby mau jadi sekretaris pribadinya. Karena entah kenapa Keenan begitu menginginkannya.
***
Kediaman keluarga Kiel tepatnya di kamar Anderson dan Sandra.
Sandra tidur membelakangi Anderson. Hal itu membuat Anderson frustasi karena selama mereka menikah tidak pernah sekalipun Sandra absen memeluk tubuh suami nya. Dan kali ini Sandra benar-benar membelakanginya.
__ADS_1
"Sayang aku tau kau belum belum tidur. Dengarkan aku, aku tidak bermaksud berkata kasar pada mu. Aku minta maaf. Aku hanya tersulut emosi karena mengetahui bahwa Keenan memiliki Perusahaan baru dan lebih parahnya lagi aku mendapati fotonya bersama dengan seorang wanita dan seorang anak kecil lakik-laki. Mereka pergi ke taman hiburan."
Sandra sontak membuka matanya yang tadinya berpura-pura tertidur.
"Apa menurutmu Keenan berani menikah tanpa sepengetahuan kita?" Tanya Anderson miris.
"Itu tidak mungkin. Dia tidak akan melakukan itu tanpa sepengetahuan kita. Mungkin saja itu anak temannya.
"Kenapa kau terus membelanya dan terus menganggapnya tidak pernah melakukan kesalahan? "
"Karena aku mengenal baik putra ku. Dia tidak akan berbuat hal yang menyakiti keluarganya terutaman kita." Jelas Sandra.
"Sayang bisakah jangan mengabaikan ku seperti ini? "
"Aku sedang tidak enak hati. Tolong di hargai, aku sedang tidak ingin berbicara dengan mu." Ucap Sandra ketus. Dan kembali menutup matanya.
"Jangan membelakangiku seperti ini sayang. Maafkan aku sudah bicara kasar padamu." Anderson membelai rambut lembut istrinya.
"Kenapa harus meminta maaf, bukankah selama ini kau sering melakukan hal yang sama?" Sindir Sandra.
"Sayang,,,!!!"
"Jangan memanggil ku seperti itu. Panggil Sandra selamanya." Ucap nya ketus.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi sayang. Maafkan aku ya. Aku hanya kesal pada Keenan. Sampai sekarang dia juga tidak menjawab pesan maupun panggilanku."
"Biarkah saja, dia akan pulang sendiri jika dia mau. Putra mu sudah dewasa, dia sudah bisa mengatur kehidupannya sendiri. Dan kau tidak perlu melarangnya bahkan mengekangnya. Biarkan dia menemukan jati dirinya. Coba lah buka hati mu untuk menerima semuanya. Keenan tidak akan mengecewakan kita. Kau hanya perlu mengakuinya saja. Jangan terus menerus menganggapnya sebagai anak kecil. Andai dia bisa protes pada mu. Apa kau tidak cukup melihat penderitaannya dari beberapa tahun lalu hingga saat ini? Kau bahkan tidak memikirkannya. Kau hanya memikirkan diri mu sendiri."
__ADS_1
"Apa yang kau katakan, itu tidak benar, cara Keenan saja yang membuat aku tidak suka. Aku merasa dia seperti tidak menganggap ku.