
"Leon,,, kenapa kau diam?" Tanya Ruby.
"Ehh,,, iya aku sudah menikah." Jawab Leon gagap.
"Selamat ya, aku turut bahagia. Semoga kalian selalu bahagia." Ucap Ruby dengan senyuman manisnya.
Leon menatap lamat wajah Ruby.
"Andai aku tau kau masih hidup pernikahan ini tidak akan terjadi Ca." Celetuk Leon lirih.
"Apa maksud ucapan mu Leon?"
"Aku menikahinya karena paksaan orang tua ku. Semenjak kau pergi aku tidak pernah dekat dengan wanita manapun, aku hanya bekerja dan menutup dari semua orang. Suatu hari orang tua ku menjebakku agar aku bisa menikahi wanita pilihan mereka. Dia adalah istriku sekarang. Saat ini dia sedang hamil anak ku." Ucap Leon jujur.
Ruby menatap Leon dengan perasaan bercampur aduk. Ada rasa terharu dan juga merasa bersalah. Kenapa harus karena dirinya.
"Aku senang mendengarnya Leon tapi aku juga sedih karena semua penyebabnya adalah aku. Kau mencintainya kan?" Tanya Ruby lembut.
"Aku tidak tau Ca. Saat ini yang aku lakukan bagaimana caranya bertanggung jawab padanya dan juga calon anak kami. Aku tidak tau bagaimana perasaanku yang sebenarnya padanya."
"Jangan pernah mengabaikannya. Bagaimana pun dia adalah ibu dari anak mu. Cintai dia sepenuh hati mu."
"Aku masih mencintaimu sejak dulu sampai sekarang. Hidupku selama ini hampa dan begitu menjenuhkan. Sejak kau muncul semangat ku kembali lagi. Apakah itu salah?" Ujar Leon dengan mata sendunya.
"Yah,,, itu sangat salah. Kau tidak pantas memiliki perasaan pada wanita lain sementara kau sudah memiliki istri. Jangan membuatku semakin menderita karena perasaan ini Leon."
Suasana ruang meeting tiba-tiba hening.
"Ayo kita pergi dari sini. Meninggalkan semua rasa sakit ini. Aku akan membahagiakan mu Ca. Ikutlah dengan ku. Kemana pun aku pergi.
Ruby tertawa miris. Leon terlalu egois yang hanya memikirkan perasaannya sendiri.
" Kau tidak bisa melakukan itu. Kau harus menjalani kehidupanmu saat ini. Suka atau pun tidak suka. Aku juga tidak akan merusak hubungan siapapun karena keegoisanku Leon."
"Aku tau kau begitu menderita selama ini terlebih Keenan tidak mengingatmu sama sekali."
"Aku sudah tidak perduli hal itu lagi Leon. Berhentilah membahas Keenan. Perutku terasa mual jika membahas dirinya." Jawab Ruby ketus.
"Bagaimana kau bisa bekerja dengan perasaan seperti itu. Sementara kau dan Keenan selalu bertemu di kantor." Leon tertawa.
Tidak berapa lama Keenan dan Jonaa beserta karyawan lainnya masuk.
Dahi Keenan berkerut ketika melihat Ruby dan Leon berada di ruangan Meeting hanya berduaan.
Ruby tidak melihat Keenan sama sekali.
Leon melirik keduannya. Hubungan mereka tampak merenggang. Hal itu membuat hati Leon senang dan juga sedih dalam waktu bersamaan.
Keenan melirik Ruby yang tampak fokus namun tidak meliriknya sama sekali. Hal itu membuat Keenan gelisah. Dia merasa Ruby sudah tidak perduli lagi pada dirinya
Keenan larut dalam lamunannya dimana dia berkhayal sedang berduaan bersama Ruby berjalan sambil bergandengan tangan di sekitar taman bunga yang indah. Keduanya tampak bahagia.
"Jangan pernah meninggalkan ku walau sedetik By. Aku mencintaimu lebih dari diriku sendiri." Ucap Keenan. Sambil melingkarkan tangannya di pinggang Ruby.
Ruby juga melingkarkan tangannya di leher Keenan.
"Bagaimana aku bisa meninggalkan mu. Sementara hidupku dipenuhi oleh dirimu Keenan."
"Aku sangat mencintaimu sayang." Ucap Keenan sambil menyelipkan anak rambut ke telinga Ruby.
"Aku juga sangat mencintaimu." Balas Ruby sambil mengecup pipi Keenan.
"Cium aku lagi sayang. Dayaku benar-benar habis ketika bekerja. Saat kau menciumku dayaku langsung bertembah." Goda Keenan.
Ruby langsung mencubit pelan pinggang Keenan.
"Kau paling bisa bermodus Keenan." Sahut Ruby semakin mempererat pelukannya.
"Mari menikah. Aku ingin kau selalu berada di samping ku selama 24 jam." Keenan menyatukan dahinya ke dahi Ruby.
__ADS_1
"Benarkah?" Ruby berbinar.
"Apa aku pernah bermain-main dengan ucapanku sayang? Aku ingin selalu seperti ini dengan mu." Keenan mengecup kening Ruby, lalu turun mengecup kedua mata Ruby, lalu turun ke hidung sambil mengecupnya dan jatuh ke bibir Ruby. Keenan mengecupnya dengan lembut penuh dengan cinta.
"I love you sayang" Ucap Keenan.
"I love you more. Kau membuatku melayang saja." Keduanya pun saling berpelukan. Keenan tersenyum sumringah.
"Pak,,, pak Keenan." Panggil Jonas menyadarkan Keenan dari khayalannya.
Ruby sempat melirik Keenan yang sedang tersenyum. Di dalam batinnya entah apa yang sedang pria itu fikirkan.
"Maaf,, aku sedang tidak enak badan. Kalian lanjutkan Meetingnya. Pak Leon silahkan ke ruanganku 10 menit lagi. Ada yang ingin aku bicarakan. Jonas antar Pak Leon ke ruanganku." Perintah Keenan.
" Baik pak Bos." Jawab Jonas.
Ruby dan Leon pun saling menatap. Entah apa yang ingin Keenan bicarakan.
Meeting pun selesai. Sesuai perintah Keenan Jonas langsung mengantar Leon ke ruangannya.
Sesampainya di ruangan Keenan.
Leon langsung dipersilahkan duduk di sofa Keenan. Lalu Keenan mendekati Leon dan menyerahkan sebuah berkas padanya.
"Apa ini?" Tanya Leon.
"Baca saja." Ujar Keenan datar.
"Pembatalan kontrak kerja sama? Apa maksud mu? Kau tidak bisa seenaknya memutuskan kontrak seperti ini sesuai kemauan mu. Kau akan di kenakan pinalty." Ujar Leon marah.
"Aku akan membayarnya. Kau tenang saja. Yang penting akhiri kerja sama ini." Ucap Keenan angkuh.
"Apa semua karena kau cemburu padaku?"
"Untuk apa aku cemburu padamu?"
Keenan diam tidak menjawab. Keenan memang mengakhiri kerja sama agar dia tidak melihat kedekatan Ruby dengan Leon terlebih Leon sudah menikah. Dia tidak ingin Ruby terkena masalah. Keenan juga berniat memperbaiki hubungannya dengan Ruby. Dia tidak ingin berlama-lama berjarak seperti ini dengan wanitanya itu.
"Kau terlalu kekanak-kanakan. Kau tidak pernah berubah." Suara Leon menggelegar di dalam ruangan Keenan.
Jonas dan Ruby yang sedang berada di depan ruangan Keenan pun langsung menoleh.
"Apa yang terjadi pak Jonas?" Tanya Ruby khawatir.
"Aku akan masuk kedalam Nona."
" Aku ikut pak." Ujar Ruby.
Kedua nya masuk hingga membuat Leon dan Keenan menoleh ke arah mereka.
"Siapa yang menyuruh kalian masuk?" Bentak Keenan marah.
"Saya dan Nona Ruby hanya khawatir Bos. Mendengar teriakan dari dalam. Kami memutuskan masuk untuk melihat kalian?"
"Lancang sekali." Jawab Keenan semakin kesal.
"Aku akan menandatanganinya dengan syarat aku akan membawa Ruby keluar dari perusahaanmu sebagai bayaran pinalty nya." ujar Leon tak kalah membentak.
"Kau tidak bisa seenaknya." Ucap Keenan geram.
"Kau juga tidak bisa seenaknya padaku Keenan. Aku tau kau melakukan ini karena cemburu Ruby dekat denganku."
"Jangan terlalu percaya diri Leon. Aku jelas tidak nyaman bekerja dengan mu."
Ruby terdiam tidak berkata apapun. Didalam hatinya dia merasa takut mendengar perdebatan Keenan dan Leon.
Tiba-tiba ponsel Keenan berdering. Keenan langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa Nez? Semua baik-baik saja?" Tanya Keenan.
__ADS_1
"Keen." Terdengar suara isakan tangis di dalam telepon.
"Ada apa dengan mu, kenapa kau menangis? Noah baik-baik saja kan?
Jonas dan Ruby mengerutkan dahinya.
"Nicko membawa Noah kabur. Dan dia ingin merebut Noah dariku Keen. Dia terus mengancamku dan memintaku untuk rujuk lagi padanya dan saat ini Noah bersamanya. Aku tidak bisa melaporkannya ke polisi karena surat hak asuh belum di setujui karena aku belum menikah." Inez semakin terisak.
Jantung Keenan berdegup kencang. Dia sangat mengkhawatirkan Noah.
"Tolong aku Keenan. Bawa Noah kembali pada ku. Aku tidak bisa hidup tanpa Noah. Aku khawatir Nicko membawanya keluar Negri."
Keenan terperangah dan tidak dapat berkata-kata.
Ruby, Jonas dan Leon jelas penasaran dengan apa yang terjadi.
"Aku akan segera kesana dan aku juga akan mempersiapkan pernikahan kita secepatnya. Besok kita ke catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan." Ucap Keenan sambil menatap dalam wajah Ruby.
Ucapan Keenan bak petir di siang bolong. Fikiran Ruby dan tubuhnya terasa melayang. Dia tidak dapat merespon apapun. Dia hanya berdiri seperti orang bodoh. Sama hal dengan Leon dan Jonas. Kedua pria itu sontak tidak menyangka dengan ucapan Keenan yang tiba-tiba ingin menikah.
"Kau serius Keenan?"
"Ya aku serius. Aku akan segera kesana." Ucap Keenan sambil mengahiri panggilannya.
"Sialan kau,,,!!! " Leon menarik kerah kemeja Keenan dan langsung memukul wajha Keenan.
Keenan diam tidak membalas, dia juga tidak tau harus berbuat apalagi. Keenan melihat Ruby yang diam terpaku. Tidak ada respon apapun namun pandangan gadis itu jelas terlihat kosong, pucat seperti tidak bernyawa.
"Bisa-bisanya kau melakukan ini pada Ruby. Kemarin kau baru saja mengajak seorang wanita dan memperlihatkannya di depan publik bahwa dia adalah tunangan mu dan sekarang tanpa hati kau ingin menikah dengan wanita lain. Sementara kau tidak pernah bertanya bagaimana perasan Ruby.
Airmata Ruby mengalir begitu saja namun dia tetap mencoba kuat di tengah terpaan masalah yang sedang di hadapinya.
"Kau akan menyesali semua ini Keenan. Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Ruby sedikitpun" Teriak Leon pergi dan menarik tangan Ruby untuk keluar dari ruangan itu.
Gadis itu menurut, pandangan masih terlihat kosong. Dia sempat melirik Keenan dengan wajah sendunya yang juga terlihat miris seakan tatapannya mengatakan 'Teganya dirimu Keenan'
Keenan ikut terenyuh, hatinya terasa begitu sakit melihat wajah gadis yang sangat di cintainya sesedih itu. Dia tau ini sangat menyakitkan bagi dirinya dan juga Ruby. Jonas juga shock dan bingung hendak berbuat apa. Didalam hatinya juga khawatir.
Keenan memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sangat sakit. Perutnya juga terasa sangat mual.
Keenan terduduk di lantai. Dan Jonas langsung menghampirinya.
"Pak bos kau baik-baik saja?"
"Tolong aku, aku ingin ke kamar mandi, rasanya aku ingin muntah. Cepat Jonas." Suara Keenan terdengar menggelegar.
Jonas memapahnya dan Keenan langsung memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Ueek,,, ueekk,,,!!!"
"Aku akan mengambil air hangat di pantry pak." Jonas langsung berlari ke pantry untuk mengambil air hangat.
Di depan gadung Leon terus menarik Ruby agar ikut dengannya. Ruby masih terpaku, seperti orang yang kehilangan arah. Namun seketika dirinya tersadar. Dia menghentikan langkahnya dan menghempaskan pegangan Leon.
Leon sempat terheran. Ruby tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Ca kenapa kau berhenti. Ikutlah denganku. Dan jangan kembali lagi ke tempat ini." Ajak Leon.
"Pergilah Leon, aku tidak akan ikut dengan mu. Aku akan kembali ke tempatku. Tolong jangan paksa aku lagi." Teriak Ruby sambil menangis.
"Tapi Ca, kau,,,!!! "
"Aku bisa sendiri dan aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku." Teriak Ruby dan segera berlari meninggalkan Leon.
"Clarissa,,,, jangan pergi." Teriak Leon.
Ruby terus berlari dan akhirnya dia menaiki taksi dan pergi ke arah pemakaman.
Tanpa Ruby sadari ternyata Leon mengikutinya.
__ADS_1