Come Back My Love

Come Back My Love
120. Sangat Nyaman


__ADS_3

"Kau punya agenda untuk minggu depan? " Tanya Keenan pada Ruby. 


"Ehm,,, sepertinya tidak ada." Jawab Ruby sambil meminum air di gelasnya. 


"Kalau begitu kau bisa ikut dengan ku untuk menghadiri pesta ulang tahun Kakek."


"Uhuukk,,,,Apa?" Ruby terkejut sampai tersedak. Keenan langsung memberika tissue pada Ruby. 


"Kenapa kau terkejut? Kau tidak bisa?" Tanya Keenan. 


"Bukan begitu, tapi kenapa harus aku?"


"Aku tidak ada calon lain yang bisa aku ajak ke acara itu."


Ruby merasa berbinar, namun dia sedikit ragu karena belum siap untuk bertemu keluarga Kiel.


"Anggap saja kita dinas luar selama beberapa hari ke New York." Ceplos Keenan sedikit malu. 


Raut wajah Ruby seketika berubah. Tadinya dia senang karena Keenan mengajaknya tanpa embel-embel dia adalah sekretarisnya. Namun Ruby salah sangka. 


"Ohh akan aku fikirkan." Jawabnya datar. 


Keenan mengerutkan keningnya melihat raut wajah Ruby yang berubah seketika. 


'Apa aku salah bicara?' Batin Keenan. 


"Kabari aku segera jika kau bersedia." Ruby hanya mengangguk. 


Tiba-tiba ponsel Keenan berdering. Dia melihat layar ponselnya dan langsung menjawab panggilan itu. 


"Ya Nez,,? " Jawab Keenan. Ruby langsung menoleh ke arah Keenan. 


"Apa kau sedang sibuk? Bisa ke apartemen ku sekarang? "


"Ada apa? Noah baik-baik saja?" Keenan beranjak dan menjauh dari Ruby. Ruby berdecak pelan. 


'Ck,,,Kenapa harus menjauh jika Inez hanya di anggap seperti keluarga sendiri. Sungguh omongan yang tidak bisa di percaya.' Runy bergumam dalam hati. Dia kesal dengan sikap Keenan. 


"Suasana hatiku sedang tidak baik." Ucap Inez terdengar seperti sedang mabuk. 


"Kau mabuk? Apa Noah bersama mu?" Tanya Keenan khawatir. 


"Noah sudah tidur, tenang lah dia tidak akan melihat aku seperti ini."


"Baiklah,,, aku akna segera kesana. Tetap di apartemen, jangan pergi kemana pun sampai aku tiba disana." Perintah Keenan. 


"Hhm,,, baiklah, aku menunggu mu." Inez langsung mengakhiri panggilannya. 


Keenan balik badan dan tidak melihat Ruby. Dia langsung mencari keberadaan Ruby. 


Ruby baru saja pergi setelah mendengar Keenan hendak pergi menghampiri Inez yang sedang mabuk. Malam semakin larut Keenan tetap ingin pergi menghampiri wanita itu. Ruby langsung masuk ke kamarnya. 


Keenan pun masuk ke kamar Ruby, melihat gadis itu sedang duduk di depan cermin untuk membersihkan wajahnya. 


"By aku,,,,!!! "


"Pergilah,,,!!! " Jawab Ruby dingin dan memotong ucapan Keenan. 


"Aku hanya sebentar, aku akan kembali lagi." Keenan merasa tidak enak hati karena melihat wajah Ruby yang sepertinya tidak senang. 


Ruby tidak menjawab Keenan, dia diam dengan segala fikiran buruknya di dalam hati.


"By,,,!!! " Panggil Keenan. 


"Pergilah, kenapa harus permisi padaku, aku hanya sekretarismu bukan kekasihmu." Jawab Ruby ketus. 


Keenan kecewa mendengar ucapan Ruby. Dia berharap Ruby menganggap dirinya lebih dari sekedar bos dan dia juga berharap Ruby merengek meminta agar dirinya tidak pergi.

__ADS_1


Keenan langsung beranjak pergi meninggalkan Ruby. 


"Apa dia tidak peka? Dia bahkan tidak membujukku sama sekali. Apa hanya aku saja yang berharap lebih padanya." Ujar Ruby kesal. Dia melatakkan toner wajahnya dengan kasar. Ruby langsung bangkit menuju kasurnya dan menghempaskan tubuhnya keatas kasur. 


"Dia mengatakan hanya menganggapnya saudara perempuan, namun sangat sigap jika wanita itu memintanya datang. Malam-malam begini dan wanita itu dalam kondisi mabuk. Bagaimana jika mereka melakukan,,,,, Aaargggghh,,,,!!!! " Ruby berfikiran terlalu jauh dan hatinya menjadi semakin kesal. 


Ruby pun mencoba untuk tidur walau dalam keadaan kesal. Hingga pagi hari menyingsing, dia bangun dan melihat sekitarnya, dia berharap Keenan kembali malam itu, namun pria itu tidak ada. Ruby beranjak menuju ruang tamu dan dapur, tapi tetap nihil. Pria itu tidak menepati janjinya. Dia mengatakan akan kembali lagi namun itu hanya omongan penghibur untuk dirinya saja. Ruby tertawa kesal. 


Ruby langsung bersiap untuk pergi ke kantor. Suasana hatinya benar-benar buruk pagi ini. Hingga membuatnya tidak bersemangat untuk berangkat ke kantor. 


Setibanya di kantor, Ruby melirik ruangan Keenan yang masih terlihat kosong. Pria itu belum datang. Padahal biasanya Keenan selalu lebih awal datang. Dia adalah bos yang mempunyai disiplin kerja yang sangat baik. Namun berbeda dengan hari ini. Ruby menghempaskan tubuhnya duduk si kursi kerjanya. Dia sungguh tidak bersemangat. 


Satu jam kemudian Keenan akhirnya tiba di kantor. Ruby berdiri dan membungkukkan tubuhnya untuk memberi salam. Namun betapa terkejutnya dia melihat penampilan Keenan yang lusuh, dia masih menggunakan pakaiannya kemarin. Ruby memandang Keenan dengan tatapan bertanya-tanya namun pria itu hanya berdiri tanpa berkata apapun. 


'Dia tidak kembali ke apartemen karena menginap di apartemen wanita itu. Dan penampilan Keenan juga benar-benar berantakan seperti ini. Apa yang mereka lakukan semalaman.' Batin Ruby dengan mata berkaca-kaca. Jantung nya berdegup kencang. Dia langsung pergi meninggalkan Keenan dengan wajah sembraut. Keenan mengerti apa yang Ruby fikirkan. Pasti gadis itu sudah berfikiran buruk terhadapnya. Keenan menarik nafas dalam-dalam. Dan dia langsung masuk ke ruangannya. 


Keenan menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya sambil memijat-mijat dahinya. Fikirannya sangat kalut saat ini. Dia bingung harus melakukan apa. Pembicaraannya dengan Inez benar-benar membuatnya pusing. 


***


Malam sebelumnya di Apartemen Inez. 


"Roy datang menemuiku siang tadi. Dia mengajakku kembali dan aku menolaknya."


"Darimana dia tau keberadaan mu?" Tanya Keenan syok. 


"Aku tidak tau Keen. Bagaimana ini? Aku tidak ingin kembali lagi padanya. Aku takut dia menyakitiku lagi dan Noah, aku tidak mau Noah merasakan hal yang sama." Inez menangis. Wanita itu tampak stres dan masih dalam kondisi mabuk. 


"Tenang lah, semua akan baik-baik saja." Ujar Keenan menenangkan Inez. 


"Bagaimana aku bisa tenang, dia mengancamku jika aku tidak mau kembali dia akan merebut hak asuh Noah. Apa menurutmu aku bisa tenang Keen?" Inez semakin meronta. 


"Apa? Dia tidak bisa melakukan hal itu. Aku tidak akan membiarkannya merebut Noah." Ucap Keenan murka. 


"Bagaimana denganku Keen, aku harus bagaimana? Aku sudah menghubungi pengacara untuk membahas hal ini, Roy bisa saja mengambil hak asuh Noah dan aku bertanya bagaimana caranya agar dia tidak punya hak lagi. Pengacara mengatakan aku harus menikah Keen dan Noah harus memiliki ayah sambung. Maka dengan itu Roy tidak bisa mengganggu kami lagi. Bagaimana ini Keen? Aku harus bagaimana?" Tangis Inez semakin menjadi. 


"Aku akan mencari cara agar dia tidak mengambil Noah. Aku tidak akan membiarkannya." Ucap Keenan dingin. 


Inez menatap Keenan dengan deraian airmata dia memohon pada Keenan. 


"Jadilah ayah Noah Keen. Manikahlah dengan ku." Ucap Inez yakin. Dia benar-benar frustasi tidak tau harus bagaimana. 


Keenan langsung menatap tajam wajah Inez. 


"Apa maksud mu Nez, aku tidak bisa melakukan hal itu. Aku memang menganggap Noah seperti putraku sendiri tapi aku tidak bisa menikah dengan mu." Ucap Keenan kesal. 


"Lalu aku harus bagaimana Keenan? Apa yang harus aku perbuat. Ini jalan satu-satunya. Noah juga sangat menyayangimu, dia membutuhkanmu dan aku, aku juga sangat mencintaimu Keen. Selama bertahun-tahun aku menahan perasaan ini dan aku tidak bisa menghindarinya."


Keenan membesarkan matanya, dia kembali menatap Inez. Dia tidak percaya Inez memiliki perasaan itu. Yang dia tau selama ini hubungan mereka tidak lebih seperti saudara sendiri. 


"Tapi aku tidak Nez. Aku tidak memiliki perasaan apapun padamu selain perasaan sayang kepada saudara perempuanku."


"Kenapa Keen? Apa karena kau menyukai sekretarismu? Sebelum dia datang kau selalu menujukkan seolah aku wanita yang berarti untuk mu, namun semua berubah, kau semakin mengabaikan kami terlebih saat kau semakim dekat dengan sekretarismu." Teriak Inez blak-blakan. 


Keenan semakin kaget melihat sikap Inez. Inez tidak pernah sesarkas ini. 


"Darimana kau tau kedekatanku dengan sekretaris ku? Jangan bilang kau menyekidiki apa kegiatanku semala ini Nez." Tanya Keenan marah. 


"Iya benar, kau benar, aku menyelidiki mu, aku mengikuti setiap aktivitas mu, dan kau tau, aku menjadi sebodoh ini karena perasaan cintaku." Inez tersedu. Mendengar hal itu Keenan semakin kesal. Dia tidak menyangka Inez sepicik ini. 


"Aku peringatkan dirimu, jangan masuk terlalu jauh di kehidupanku Nez. Kau tau aku membenci hal itu. Aku menyayangi mu karena selama ini aku menganggapmu baik, lembut dan aku sudah menganggap mu seperti saudari ku sendiri. Jangan melangkah terlalu jauh jika kau tidak ingin aku semakin menjauh darimu. Untuk perasaan ku pada Noah tidak perlu kau ragukan, aku menyayanginya melebihi nyawaku. Namun kau tidak bisa memanfaatkan itu." Keenan bangkit dari duduknya hendak melangkah pergi namun Inez menahan kaki nya. 


"Keenan jangan pergi, maafkan aku, maaf karena aku terlalu tidak tau diri, namun inilah perasaanku. Aku tidak bisa menahan diri. Jangan tinggalkan aku dan Noah." Inez bersimpuh di kaki Keenan sambil memegang kaki Keenan. Keenan semakin frustasi menghadapinya. 


"Inez apa yang kau lakukan, bangunlah,,,!!! " Dengan terpaksa Keenan menarik tangan Inez agar wanita itu bangkit. Inez bangkit dan langsung memeluk tubuh Keenan. Keenan tidak bisa menghindar lagi. Dia menahan sesuatu yang mulai terasa keluar dari sekujur tubuhnya. Namun dia tetap bertahan. 


"Jangan tinggalkan aku Keenan. Aku sangat mencintaimu. Jika perasaan ku salah, aku akan melupakannya asal kau tidak pergi dari ku dan Noah." Inez mempererat pelukannya pada Keenan. 

__ADS_1


Tubuh pria itu tampak bergetar. 


"Nez lepaskan aku Nez, aku mohon." Keenan merasakan sesak di dadanya. Wajah dan tubuhnya mulai memerah, namun dia masih tetap menahan sakitnya. 


Inez langsung melepas pelukannya setelah merasakan getaran dari tubuh Keenan. 


"Keenan kau baik-baik saja?" Tanya Inez panik. 


Keenan meraba saku nya dan mengambil obat yang dia bawa kemanapun. Kemarin Josh kembali memberinya obat. 


Keenan langsung meminum obat itu. Dan dia sudah terduduk sambil bersandar di sofa. Inez masih tampak syok melihat kondisi Keenan. 


Keenan tampak mulai tenang. 


"Kau sudah melihat kan bagaimana kondisi ku? Aku tidak bisa di sentuh wanita mana pun. Kau sudah menyaksikan semua nya di depan mata mu. Apa kau masih berniat menikah dengan pria cacat sepertiku?" Tanya Keenan sambil menutup matanya.


Inez kembali menangis sejadi-jadinya. Dia tidak menyangka kondisi Keenan begitu memprihatinkan.


"Aku bisa menerima kondisi mu Keen. Apapun kondisimu aku bersedia." Inez sesugukan. 


"Berhentilah, dan urungkan semua niat-niat mu padaku. Aku akan memikirkan bagaimana caranya agar Noah tetap bersama kita. Tanpa harus memikirkan hal-hal bodoh seperti ini." Keenan terus menutup matanya dan mencoba untuk tidur. 


Inez semakin kalut, dia benar-benar patah hati kali ini.


***


Di kantor Keeenan. 


Ruby masuk keruangan Keenan dengan membawa teh hangat untuk Keenan. Pria itu tampak sudah mandi dan mengganti pakaiannya. Dia tampak fresh kembali namun wajahnya masih tampak memiliki banyak beban fikiran. Gadis itu sudah mulai tenang, dan mengalihkan fikiran buruknya, Ruby berusaha menerima apapun yang di hadapkan pada dirinya saat ini. Karena dia sudah berjanji akan tetap bertahan dengan segala kondisi apapun demi tujuannya. 


"Ini teh agar kau lebih tenang, minumlah,,," Ucap Ruby lembut sambil memberikan teh pada Keenan. Saat ini Ruby berada di sebelah Keenan. 


Keenan menatap sayu wajah sendu itu. Keenan menarik tangan Ruby hingga Ruby terduduk di pangkuan Keenan. 


"Pak apa yang kau lakukan, nanti ada yang melihat." Seru Ruby merasa tidak nyaman. 


"Aku tidak perduli." Keenan melingkarkan tangannya di pinggang Ruby dan bergelayut manja di dada Ruby. Keenan merasakan kenyamanan yang begitu dia rindukan.


"Sangat nyaman,,,!!! " Seru Keenan sambil memejamkan matanya. Ruby pun refleks mengelus punggung dan Rambut Keenan walau merasa sedikit canggung. 


"Bisakah seperti ini seterusnya?" Cetus Keenan semakin mempererat pelukannya. Jantung Ruby berdegup kencang, namun perasaannya masih kecewa pada Keenan. 


"Bagaimana bisa kau seperti ini padaku sementara kau baru bermalam dengan wanita lain." Ujar Ruby datar. 


Keenan membuka matanya, perasaannya kembali runyam setelah memikirkan kembali kejadian malam tadi. Entah mengapa Keenan merasa bersalah pada Ruby. Namun Keenan tidak bisa menghindari keadaan ini. 


"Aku akan tegaskan bagaimana perasaanku padamu. Kau bisa melihat dari sikapku. Dan setelah ini kau tidak akan salah paham lagi." 


Ruby menghelakan nafasnya yang terasa tercekat. Dia tidak yakin dengan apa yang Keenan ucapkan. Dia akan tetap bertahan seperti apapun sikap Keenan padanya. Karena tujuan utamanya bukanlah Keenan. 


"Jangan menghelakan nafas seperti itu. Kau seperti acuh tak acuh padahal jantung mu sedari tadi berdegup dengan kencang." Ucap Keenan sambil tersenyum. 


Ruby langsung malu dan melepaskan pelukannya. Keenan mendongak menatap wajah Ruby yang sudah memerah. 


"Dan sekarang wajah mu juga sudah memerah." Goda Keenan dan senyumannya begitu hangat. 


"Katakan saja apa yang kau rasakan saat ini padaku. Jangan menahannya sendiri." Mata Keenan menyipit namun senyumnya masih terpampang jelas. 


"Perasaan apa? Aku tidak merasakan apapun." Jawab Ruby salah tingkah dan berusaha mengalihkan pandangannya. 


"Kau berbohong." Keenan mencubit pelan hidung Ruby. 


Ruby langsung bangkit dan menjauh dari Keenan. 


"Aku masih memiliki pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku permisi dulu." Ucap Ruby beranjak dari tempatnya dan kembali ke mejanya. Keenan masih terus tersenyum melihat tingkah Ruby yang begitu menggemaskan. 


"Kau selalu membuatku merasakan kenyamanan sekaligus kegelisahan Nona Snow." Ucap Keenan bermonolog sambil tersenyum. Ruby berhasil menenangkan jiwa Keenan yang saat ini sedang gusar.

__ADS_1


__ADS_2