Come Back My Love

Come Back My Love
122. Terlalu Menyakitkan


__ADS_3

Esok hari di kediaman Rose Hill. 


Alex datang membawa parsel buah yang sengaja dia beli untuk menjenguk Rose. Kemarin Kenny mengatakan bahwa Rose sedang sakit. 


Di depan pintu Kenny sudah menyambut Alex dengan senyuman termanisnya. Alex sempat terpukau melihat wajah polos gadis itu saat di rumah. Berbeda jika dia sedang di luar, gadis itu selalu menggunakan make up. Walau tidak terlihat menor namun Alex memang lebih menyukai gadis berwajah polos tanpa polesan seperti Ruby. 


Mata Alex sempat tidak berkedip, gadis yang hanya dengan kaos oblong nya yang oversize, celana hotpants jeans dan rambut di gulung tinggi tampak terlihat begitu cantik di mata Alex. 


"Lex,,,!!! " Kenny melambaikan tangannya menyadarkan Alex. Pria itu langsung tersadar. 


"Ehh,,, sorry. Tante Rose ada? " Tanya nya gagap. 


"Ayo masuk." Ujar Kenny mempersilahkan Alex untuk masuk. 


"Bibi ada di kamarnya. Mari aku antar."


"Tidak apa-apa masuk ke kamar nya? " Seru Alex merasa canggung. 


"Kau tidak punya niat yang aneh kan?" Celetuk Kenny dengan wajah curiga. 


"Tentu saja tidak. Apa aku terlihat seperti orang jahat?" Jawab Alex tak terima. 


"Sekarang banyak penjahat berkedok dan berwajah lugu." Ujar Kenny menggoda Alex.


Pria itu diam tidak menjawab lagi dia hanya berjalan mengikuti Kenny naik ke lantai 2 menuju kamar Rose. 


Rumah nya tamoak sangat megah dan luas, hingga muncul di benak Alex, ternyata Ruby memiliki Ibu dan tepatnya keluarga yabg sangat kaya raya. Hanya saja nasibnya begitu memilukan. Gadis sebaik dirinya tidak diterima oleh keluarganya sendiri. 


Akhirnya sampai di depan kamar Rose. Kenny mengetuk pintu sambil memanggil Rose. 


"Bibi boleh Kenny masuk? Ada Alex juga ingin menjenguk mu." 


"Masuklah sayang." Jawab Rose dari dalam. 


Kenny pun masuk dan di ikuti oleg Alex. Didalam dia melihat wanita paruh baya terbaring di ranjang luas, bak seorang ratu. Wajah cantiknya tampak begitu pucat. Namun senyumnya tidak pernah pudar. Alex terenyuh melihat keadaan wanita itu. 


'Kau sangat murip dengan Ruby tante. Sangat mirip.' Batin Alex sambil memandang Rose dengan senyuman. 


"Kemarilah nak." Ujar Rose sambil berusaha untuk duduk. Kenny dengan sigap membantunya dan sontak mendapat perhatian dari Alex. 


"Alex datang untuk menjenguk Bibi. Aku keluar dulu menyiapkan makanan untuk Alex sebentar ya. Bibi bicara lah dengan Alex."


"Terima kasih sayang." Sahut Rose tersenyum hangat. 


" Jangan merepotkan dirimu." Ujar Alex merasa sungkan dan Kenny hanya tersenyum menanggapinya dan segera beranjak pergi. 

__ADS_1


"Bagaimana keadaan tante?" Tanya Alex lembut. 


"Aku sudah lebih baik sekarang. Tinggal recovery saja." Jawab Rose sambil tersenyum. 


"Apa Tante sakit karena memikirkan Ruby?"


Senyuman manis Rose berubah menjadi murung. Wajahnya mulai merah dan mata yang berkaca-kaca. 


"Tapi kenapa Bibi menghilang tanpa bertanya bagaimana cara mendekati Ruby." Sebenarnya Alex sedikit kecewa pada Rose yang tampaknya tidak ingin berusaha. 


"Maafkan tante Lex, tante tidak tau lagi harus melakukan apa. Ayahmu mengatakan bahwa Ruby tidak ingin bertemu dengan ku dan dia juga membenciku. Tante bingung harus bebuat apa Lex. Tante tau pasti kau kecewa karena tante menghilang dan tampak tidak perduli. Namun tante memikirkannya. Tidak ada yang tau bagaimana usaha tante mencarinya." Rose menangis. 


"Tante tenanglah."


"Tante sangat ingin bertemu dengannya. Paling tidak bisa menatapnya." Lirih Rose. 


Alex merogoh saku nya dan mengambil ponselnya. Dia membuka galeri dan melihat foto Ruby.


"Tante mau lihat Ruby? Ini dia." Alex menyerahkan ponselnya pada Rose. Rosetampak antusias melihatnya. Dia menatap lama foto itu sambil meneteskan airmata. 


"Rubyku sangat cantik." Rose mengelus foto Ruby dan tangis nya semakin menjadi.


"Dia sangat mirip dengan mu." Ucap Alex. 


"Kehidupan Ruby tidak baik selama ini, dia mengalami banyak penderitaan dan itu yang membuat Ayah Max sangat melindunginya. Max adalah sahabat Ayah angkat Ruby yang telah tiada. Ayah Ruby menitipkan Ruby pada Max.


"Ya Tante, seseorang telah membunuhnya dan Ruby,,, "


"Ada apa dengan Ruby? Apa yang terjadi padanya?" Rose menangis sambil ngregetan. 


Alex menceritakan semua kisah Ruby dari awal sampai akhir, dia menceritakan yang hanya dia ketahui dari Max dan Ruby sendiri. Rose semakin terpukul mendengar perjalanan hidup putrinya yang begitu menyakitkan. Dia semakin terisak dan dadanya terasa begitu sakit. Rose semakin merasa bersalah karena gagal memberikan hidup yang layak untuk putrinya. 


"Bagaimana mungkin Ruby mau menerimaku dan mengakui sebagai ibu nya yang selama ini mengabaikannya dan membuangnya. Aku gagal menjadi seorang ibu. Karena ku Putriku menjalanin kehidupan ynag begitu pahit. Apa dia mau memaafkan ku nak Alex? Apa dia akan menerima ku?" Rose histeris. 


"Tante tenang lah, kita akan berjuang bersama-sama. Entah bagaimana pun caranya kita harus berusaha. Aku akan membantu tante. Tante tenangkan dirimu. Semua akan baik-baik saja. Walau jalannya akan sulit tapi Tante harus berusaha keras." Alex mencoba menenangkan Rose. 


Kenny mendengar segalanya di depan pintu. Tadinya dia hendak masuk untuk menyajikan makanan dan minuman untuk Alex namun dia mengurungkan niatnya dan kembali kedapur. Kenny juga terkejut mendengar semua cerita tentang putri Rose dan semua ada kaitannya dengan keluarga Kiel. Tapi dia tidak yakin keluarga nya setega itu. 


"Apa yang harus aku lakukan? Semua begitu mengejutkan bagiku. Siapa dalang dari semua kejadian ini. Dan seperti apa gadis yang bernama Ruby itu." Kenny bermonolog di dapur dan jantungnya berdegup dengan kencang.


Lama Alex berbicara dengan Rose dikamar, dan akhirnya Alex turun. Melihat Kenny yang sedang duduk melamun Alex khawatir Kenny mendengar semua nya. 


"Ken,,,!!! " Tegus Alex dan Kenny pun tersadar dari lamunannya. 


"Lex,,, sudah selesai? Maaf aku tidak jadi mengantar makanan dan minuman ke atas, tiba-tiba kepala ku pusing dan tidak sanggup untuk naik." Kenny tidak berbohong karena setelah mendengar berita itu kepala Kenny menjadi sempoyongan. Tubuhnya terasa lemah. 

__ADS_1


"Apa kau sakit?" Alex meletakkan telapak tangannya di dahi Kenny sontak membuat gadis itu terperangah.


"Ti,, tidak Lex, aku baik-baik saja. Hanya tiba-tiba tidak enak badan." Wajah Kenny memerah. 


"Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak repot-repot. Tapi kau sangat keras kepala."


Kenny tersipu malu, dia senang melihat sikap Alex yang lembut padanya, tidak seperti biasanya. 


"Aku harus kembali ke tempat Gym." Ujar Alex sambil melirik arlojinya. 


"Lex, apa besok kau senggang?" Tanya Kenny ragu. 


"Emm,,, kebetulan aku tidak ada acara apa-apa besok. Ada apa?"


"Mau ikut ke New York bersama ku? Kebetulan Kakek ku berulang tahun dan aku tidak punya pasangan untuk di pesta besok. Apa kau bersedia ikut?" 


"Besok? Kenapa mengajak mendadak begini? Aku tidak ada persiapan apapun."


"Tidak perlu menyiapkan apapun. Kau hanya jawab bisa ikut atau tidak."


Alex terdiam sejenak. 


' Ruby pasti juga ikut karena dia sekretaris Keenan. Apa sebaiknya aku ikut juga, aku bisa memantau Ruby dari jauh jika terjadi sesuatu.' Batin Alex. 


"Bibi Rose juga akan ikut jika kondisinya membaik." Tukas Kenny meyakinkan Alex. 


"Hmm,, baiklah kalau begitu. Kabari aku jam berapa kita berangkat." Jawab Alex setuju. Kenny senang karena akhirnya dia punya pasangan untuk pesta besok malam terlebih lagi dia pergi bersama pria yang begitu di sukainya. 


"Baik,,,!!!" Sahut Kenny bersemangat. 


"Kalau begitu aku permisi dulu. Istirahatlah agar tubuh mu fit kembali." Ujar Alex semakin membuat Kenny bersemu malu. Kenny mengangguk kesenangan. 


"Bye,,,!!! " Kenny melambaikan tangannya dan Alex hanya tersenyum. 


Kenny melompat kegirangan, entah mimpi apa dia semalam sampai membuat Alex melembut padanya. 


Keesokan harinya. Keenan dan Ruby sudah siap dan akan berangkat menggunakan Jet pribadinya. Keenan sudah mengajak Kenny namun gadis itu menolak dan meminta Keenan untuk berangkat lebih dulu karena dia tidak ingin Keenan tau Kenny berangkat dengan siapa. 


Di dalam Jet pribadi. Keenan duduk bersebelahan dengan Ruby sementara Jonas duduk agak jauh dari keduanya. 


"Kenapa tidak mengajak Inez ke pesta ulang tahun kakek mu?" Tanya Ruby penasaran. 


"Dia sibuk." Ucap Keenan sambil membaca koran. 


"Berarti kau berniat mengajak Inez. Karena Inez sibuk makanya kau mengajak ku? "Ceplose Ruby kesal. 

__ADS_1


" Tidak,, aku memang ingin mengajak mu. Bukan Inez." Keenan menyeringai, dia suka membuat gadis itu merasa kesal. 


Entah kenapa Ruby merasa lega. Senyumnya tercipta. Keenan mengelus kepala Ruby. Hal itu sontak membuat Jonas senyum-senyum dari belakang. Jonas lebih senang melihat kedekatan antara Bos nya dengan Ruby daripada dengan Inez. Mereka terlihat lebih serasi. 


__ADS_2