
Selesai membersihkan diri, Orang Tua Keenan dan Keenan duduk santai di ruang tamu untuk berbincang dan melepas rindu.
"Bagaimana tinggal disini? Apakah kau senang? " Tanya Anderson pada putranya.
"Jika aku bilang tidak senang apa papa mau membawa ku kembali ikut dengan kalian? " Sindirnya sambil tersenyum miris. Seketika Anderson terdiam, Sandra hanya diam sambil melihat suami dan anaknya bergantian. Mereka memang selalu seperti ini jika berbicara. Sama-sama memiliki temprament yang sulit dipahami. Hanya Sandra yang bisa menghangatkan suasana.
"Sudah lupakan saja, anggap saja aku senang tinggal di Mansion ini. "
"Bagaimana tidak senang, kau sedang dekat dengan seseorang kan? " Tanya Anderson yang membuat mata Keenan menyipit.
"Sayang, kita baru tiba disini, bicara yang santai dan jangan menghakimi Keenan. Bukankan kemarin kau bilang sangat merindukan Putra mu? " Ucap Sandra sambil tersenyum karena melihat suami nya salah tingkah.
"Papa merindukanku? " Tanya Keenan mengejek.
"Ayo jelaskan siapa yang sedang dekat dengan mu? Anderson mengalihkan pembicaraan.
" Jangan terlalu mempercayai bulat-bulat apa yang dikatakan pak Toto. Belum tentu semua benar. " Jawab Keenan santai.
"Tapi ada kemungkinan itu benar kan? "
Keenan tidak menjawab lagi.
"Hati-hati jika berteman dengan orang yang baru kau kenal. Ingat tujuan mu kesini itu belajar, jangan mudah percaya atau terpedaya manusia. Karena saat ini semua orang wajib kita waspadai. Semua demi keselamatanmu. "
Anderson lagi-lagi mengingatkan Keenan agar berhati-hati, membuatnya bosan.
"Pa, kau selalu mengatakan hal ini hingga membuat telinga ku tebal. Aku ingat apa yang papa katakan. Papa tenang saja. Lagian ini desa kecil, aku yakin untuk tindak kejahatan sangat minim terjadi."
"Iya tapi,,,, " Sebelum selesai bicara Sandra langsung memotong pembicaraannya.
"Suamiku,,, " Sandra mencoba meredam suami nya agar tidak melanjutkan pembicaraan tentang keselamatan Keenan. Anderson pun mengendus kesal.
"Sayang, sebentar lagi ujian semester, apa kau mengalami kesulitan belajar disini nak? Tanya Sandra lembut.
" Tidak ma, aku bisa mengikuti semua pelajaran disini, buktinya aku bisa merebut juara dari seseorang yang selama ini peringkatnya tak tergeser kan. " Keenan tersenyum bangga.
"Mama bangga dengan mu, dimana pun berada salalu menjadi juara. Dan pasti nya Juara di hati Mama. " Sandra memeluk Keenan yang langsung dibalas oleh anak itu.
"Sekarang jelaskan kenapa kalian tiba-tiba datang dengan penampilan asal-asal dan tidak menggunakan supir. " Tanya Keenan merasa penasaran.
"Kami hanya ingin menikmati perjalanan yang berbeda kali ini Keen. Sudah lama mama dan papa tidak traveling yang berbau advanture." jawab Sandra yang tidak sepenuhnya benar.
__ADS_1
"Hhm,,, baiklah. Oh iya bagaimana kabar kakek? "
"Kakek sehat, dia menyuruh mu untuk menghubunginya. Dia sangat merindukanmu. "
"Iya ma nanti Keenan akan menghubungi kakek. "
"Sekarang jelaskan siapa gadis itu. " Anderson masih penasaran.
"Gadis yang mana. " Keenan mulai kesal.
"Gadis yang biasa bersama mu. Toto bilang dia anak dari pekerja Mansion? Apa tidak bisa mencari yang lebih lagi dan apa kau tau dia itu baik atau tidak. Atau punya niat yang tidak baik padamu? "
"Pa hentikan, jangan terlalu banyak berfikir, dia hanya teman sekelas ku, hanya saja aku yang sering mendekatinya. " Ucap Keenan keceplosan.
Sandra tersenyum melihat tingkah putranya. Putra nya ternyata sudah dewasa.
"Tidak perlu dengarkan ayahmu. Berteman lah dengan siapa saja asal tetap waspada, jangan terlalu cepat mempercayai orang lain yang belum lama kita kenal. " Sandra mengelus punggung putranya.
"Iya ma, Mama memang selalu mengerti aku. Tidak seperti papa" Keenan langsung memeluk Mama nya lagi dengan manja. Mamanya adalah tempat ternyaman bagi Keenan.
"Sekarang kita istirahat, besok kau harus ke sekolah. Dan mama juga sangat lelah. "
"Baiklah, aku naik deluan ma. Good night. " Keenan mengecup kedua pipi sang Ibu. Dan memberikan pelukan hangatnya.
Anderson sekilas tersenyum melihat anaknya yang sama persis sepertinya disaat muda.
"Dia persis sepertimu. " Ucap Sandra merayu suaminya dan mereka sama-sama tertawa.
**
Keesokan harinya, Keenan berangkat sekolah seperti biasa dengan menggunakan sepeda. Saat dijalan Keenan bertemu tatap dengan Clarissa. Keenan hanya melirik nya sekilas dan langsung mendayung sepedanya lebih kencang agar tidak beriringan dengan Clarissa. Melihat hal itu Clarissa merasa sedih dan gelisah, dia yakin Keenan tersinggung dengan ucapannya kemarin.
Sesampainya di kelas, Clarissa belum melihat Keenan dan segera dia mengeluarkan bekal dan memasukkan ke dalam laci meja Keenan. Dia sengaja membuat bekal untuk Keenan sebagai ucapan maaf pada Keenan yang sudah menyinggung perasaannya. Tidak begitu lama Keenan dan murid-murid lainya masuk karena pelajaran akan segera dimulai. Saat jam istirahat Keenan meraba laci meja nya dan menemukan sebuah kotak bekal, dia penasaran dan mencoba membuka bekal tersebut, disitu tertera kertas bertuliskan kata "MAAF" dari "CR". Seketika senyum manis Keenan terpampang jelas, dia mulai memakan bekal buatan Clarissa. Dan semakin sumringah karena makanan itu begitu lezat. Sandwich sayur yang merupakan makanan kesukaan Keenan.
" Waah,,, sepertinya sangat lezat. Apa aku boleh mencicipi nya? Tanya Josh.
Keenan langsung menutup kotak bekalnya.
"Tidak,,, " Ucap Keenan ketus.
"Tumben-tumbenan membawa bekal. Baiklah sobat, aku akan ke kantin, apa kau ikut? " Ajak Josh.
__ADS_1
"Tidak, pergilah, aku akan ke toilet ujung. " Keenan bangkit dan meninggalkan Josh dikelas. Josh hanya bisa menghela nafasnya melihat randomnya tingkah teman nya itu.
**
Di belakang Toilet ujung kelas tempat dimana Clarissa sering menyendiri. Keenan datang dan mencari keberadaan gadis itu, ternyata benar gadis itu sedang duduk disitu sambil memberi makan seekor kucing. Melihat itu Keenan sedikit menjauh.
"Ehemm,,, " Keenan menyadarkan Clarissa.
Clarissa bangkit dan melihat Keenan yang sudah berdiri dibelakangnya.
"Kau yang,,,, "
"Iya aku yang berikan bekal itu. " Jawab Clarissa memotong pembicaraan.
"Kenapa repot-repot?" Keenan merasa canggung.
" Tidak repot, hanya membuat bekal saja."
"Terima kasih. " Ucap Keenan berusaha santai di tengah detakan jantung yang begitu kencang.
"Sama-sama, maaf kemarin aku sudah menyinggung mu. Aku tidak bermaksud seperti itu. " Clarissa menundukan wajahnya.
"Tidak masalah, lupakan saja. Aku tidak marah sama sekali"
"Tapi kau,,,, menghindariku. " Ucap Clarissa gugup dan langsung di sambut senyuman oleh Keenan.
"Kau senang aku mendekati mu? Keenan menyindir sambil tersenyum bangga. Wajah Clarissa langsung bersemu.
" Ti,, tidak, kau terlalu berpikiran jauh. " Clarissa mati gaya dan salah tingkah, Keenan semakin gemas melihatnya. Ingin sekali rasanya dia menarik gadis yang ada di hadapannya itu dan langsung mendekapnya.
Keenan mengulurkan tangannya.
"Mari kita berteman. "
Clarissa menatap uluran tangan Keenan, dia terpaku sesaat dan perlahan tangan lembut Clarissa menyambut uluran tangan Keenan. Clarissa hanya menjawabnya dengan senyuman.
"Haasyyimm,,, " Tiba-tiba Keenan bersin, mungkin setelah berjabat tangan dengan Clarissa yang baru memegang kucing. Clarissa mulai panik melihat Keenan terus bersin dan hidung Keenan tampak mulai memerah.
"Kau baik-baik saja? " Clarissa mendekat dan langsung di cegah oleh Keenan.
"Jangan dekat, alergi ku kambuh. Aku harus kembali ke kelas, obat ku ada disana." Ucap Keenan mulai kualahan.
__ADS_1
"Segera cuci tangan mu, banyak bulu kucing yang lengket di tubuh mu. " Keenan langsung beranjak meninggalkan Clarissa yang masih kebingungan.
"Apa karena bulu kucing dia jadi seperti itu. Astaga... " Clarissa pun bergegas membersihkan diri dan langsung kembali ke Kelas.