Come Back My Love

Come Back My Love
139. Tato Ular


__ADS_3

"Clarissa? "


"Ibu? "


Ucap keduanya bersamaan. 


Ruby berdiri dan membersihkan dirinya. 


"Apa yang kau lakukan? Kau berjalan tidak melihat-lihat. Bagaimana jika mobil itu benar-benar menabrak mu?" Ujar Clara. 


"Kenapa ibu harus khawatir. Bukankah ibu sangat ingin aku mati dengan tragis?" Sindir Ruby. 


Clara menundukkan kepalanya. Dia kembali mengingat betapa kejamnya dulu dia pada gadis malang ini. 


"Ibu senang bisa bertemu dengan mu. Sejak lama rasanya ibu hidup dengan banyak penyesalan. Apalagi setelah mendengar kau sudah tiada" Mata Clara tampak berkaca-kaca. 


"Kenapa menyesal? Bukannya Ibu senang jika aku mati? Ibu tidak cocok mengatakan hal itu." Suara Ruby terdengar menyindir dengan senyuman menyela. 


"Maafkan ibu karena selama ini selalu berbuat  jahat padamu. Ibu menyesal karena sudah menganggap mu musibah nak. Maafkan ibu." Clara menangis. 


"Tidak perlu meminta maaf bu. Aku memang terlahir menjadi beban hidup semua orang, bukankah seperti itu yang ibu katakan dulu?" Jawab Ruby. 


"Kau belum bisa memaafkan ibu?" Tanya Clara lirih. 


"Tenang saja bu. Aku sudah melupakannya." Jawab Ruby datar. 


"Bagaimana kabar mu nak?" 


"Seperti yang ibu lihat."


"Kau tampak tidak baik-baik saja nak. Apa kau ada masalah?" Tanya Clara lembut. Wanita itu benar-benar berubah banyak membuat Ruby sedikit risih. Karena ibu angkat yang dia kenal sangatlah kejam. 


"Tidak, aku baik-baik saja. Oh iya selamat atas pernikahan mu Bu, aku tidak menyangka kau bisa menikah dengan Pamas Samuel. Berarti sudah menjadi ibunya Jessika." Ujar Ruby sedikit menyindir. 


"Paman Samuel banyak membantu ku saat Ayahmu meninggal dunia."


"Oh ya? Tapi yang aku dengar ibu adalah cinta pertamanya Paman Samuel. Tapi apa pun itu aku turut senang. Paling tidak kau tidak kesepian."


"Tapi Jessika sampai saat ini tidak menerima ku." Ceplos Clara. 


Ruby tidak menyahuti, dahinya tampak berkerut. 


"Aku menjadi tau bagaimana sakitnya menjadi dirimu yang tidak di terima." Seru Clara lirih. 


Ruby tetap diam, jika dia membayangkan masa lalu itu terasa sangat menyakitkan. Apalagi saat jasad ayahnya terbaring tak bernyawa. Hatinya semakin sakit. Airmata Ruby mengalir begitu saja. 


Tidak berapa lama terdengar klakson mobil yang berhenti di dekat Ruby dan Clara. Pemilik mobil itu menurunkan kaca mobilnya. 

__ADS_1


"Sudah selesai ngobrolnya sayang? Waktu nya kita pulang, aku menunggu mu sedari tadi di parkiran. Ternyata kau disini bersama anak angkatmu dulu." Ucap Samuel angkuh dan seringai senyumannya membuat Ruby tidak nyaman. Mata Ruby beralih pada Tato bergambar ular di tangan samuel yang sebelah kanan. Fikiran Ruby langsung terbayang di 9 tahun yang lalu.


'Pria bertopeng itu. Apa mungkin?' Batin Ruby dan tubuh Ruby mulai bergetar. 


"Ayo naik." Perintah Samuel pada Clara. 


Wanita itu hanya menganggukan kepalanya. 


"Ibu pergi dulu ya. Jaga diri mu nak. Sampai jumpa." Ucap Clara namun tidak mendapat jawan dari Ruby. Jantung Ruby berdegup kencang dan kepalanya semakin sakit. 


Sebelum pergi Samuel menatap tajam wajah Ruby. Wajah tidak bersahabat dan terlihat seperti ingin membunuh. 


Ruby mencoba mengalihkan pandangannya namun tetap saja Samuel terus menatapnya dengan penuh kebencian. 


Mobil itu pun mulai melaju. Ruby dapat bernafas lega. Di dalam hatinya bertanya-tanya tentang Samuel. 


Ruby jelas mencurigai Samuel. Pria itu tidak pernah menyukainya sama sekali terlebih gambar Tato itu sangat tidak asing. 


Ruby pun melanjutkan perjalanan nya menuju halte. Dia pulang dengan perasaan kacau balau. 


Hari pun berlalu. Ruby dan Keenan sama sekali tidak ada berinteraksi layaknya Bos dan sekretaris. Ruby juga sering menghindari Keenan  dengan cara bolos dan lari dari pekerjaannya. Dia berharap Keenan segera memecatnya. Namun Keenan sama sekali tidak perduli dan mempermasalahkan itu. Saat mereka harus bekerja bersama-sama, Ruby berusaha tidak ada kontak mata dengan prianya itu karena bayangan Keenan bermesraan dengan Jessika akan terbayang dan semakin membuatnya muak. 


Hari pelantikan perusahaan baru yang akan di hadiri oleh Keenan dan Jessika pun tiba. Jessika dengan stelan seksinya berwarna biru pun terilihat begitu menggoda. Setiap lekukan tubuhnya pasti membuat pria yang melihatnya langsung menggila. 


Gadis itu tampak memakai sarung tangan putih. Lengan putih yang tertutup sarung tangan itu menggandeng pria yang sangat tampan tak lain adalah Keenan. Mereka tampak serasi dan semua mata tertuju pada mereka dan banyak wartawan atau pun media yang meliput mereka.


Hari ini gadis itu benar-benar bahagia dan tidak menyangka Keenan mau ke pesta bersamanya. 


Acara malam itu sengaja di siarkan secara langsung. 


Ruby yang sedang berada di apartement sedang duduk santai sambil menonton televisi. Tidak sengaja melihat siaran yang sedang berlangsung.


Saat melihat Keenan dan Jessika bergandengan mesra membuat hati Ruby mencelos. Keduanya benar-benar go publik. 


Tidak ada lagi airmata melainkan rasa sesak hingga mual. Rasanya Ruby ingin muntah lagi melihat keduanya. 


Ruby langsung mematikan televisi nya dan berlari menuju westafel untuk mengeluarkan semua isi perut yang baru saja dia masukkan. 


Semuanya keluar tanpa sisa. Tubuh Ruby tampak pucat dan melemah. 


Ruby langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Namun tetap saja bayangan memuakkan itu justru terbayang kembali. 


Tidak berapa lama Ponsel Ruby pun berdering, ada pesan singkat yang masuk dari Alex. 


"Aku dan anak-anak sedang mencari tahu siapa pria yang kau kirim fotonya kemarin. Aku akan mengabarimu jika ada berita selengkapnya. 


Ruby tersenyum kecut. Dia benar-benar mencurigai Samuel. Karena semenjak dia bertemu kembali dengan pria itu dan juga putrinya segala bentuk ancaman dan teror terus mengganggu Ruby. Namun dia tidak pernah mengadu pada Keenan. 

__ADS_1


Saat di jalan pulang setelah pelantikan. Keenan mengantar Jessika ke hotel tempat dia menginap. Sesampainya di Hotel. 


"Kau ingin mampir? Tanya Jesika. 


" Tidak, aku harus pulang sekarang." Jawab Keenan singgah. 


"Bagaimana dengan perjodohan kita, kau menyetujuinya bukan?" Tanya Jessika bertanya dengan percaya diri. 


Keenan langsung menyeringai. Gadis di sebelahnya ini benar-benar percaya diri. 


"Aku mengajak mu ke pesta itu bukan karena ingin menyetujui pernikahan kita."


"Kau tau aku di paksa oleh Papa ku."


Wajah Jessika tampak Suram. Padahal gadis ini sudah berharap lebih. 


"Aku tidak bisa menikah karena aku tidak bisa menyentuh wanita mana pun selain Ruby."


"Lalu kau akan menikahinya?" Tanya Jessika. 


Keenan tidak menjawabnya.


"Apa yang kau lihat dari gadis itu. Dari dulu hingga sekarang dia selalu mengalihkan perasaanmu." Jessika mulai bersedih. Perasaannya pada Keenan sungguh-sungguh. 


"Dari dulu? Apa maksud mu?"


"Kau hanya fokus pada gadis kampungan itu. Jelas aku lebih menarik darinya." Ucap Jessika Angkuh namun perasaannya sangat hancur. 


"Bahkan jika aku bisa menyentuh mu aku tidak akan memilihmu dan menikah dengan mu Jess. Maaf,,,!!! Jawab Keenan tegas. 


Jessika langsung turun dari mobil dan membanting pintu mobil.


Keenan langsung melajukan mobilnya dengan kencang. 


Pagi harinya Jadwal rapat bersama Lion Group akan berlangsung. Semuanya sudha berkumpul di ruang rapat. Namun Keenan belum juga tiba. Ruby sudah menghindari Leon namun pria itu terus menghampirinya. 


"Hai By." Sapa Leon. 


"Hai,,,!!! " Jawab Ruby risih. 


"Bagaimana keadaan mu dan hubungan mu dengan Keenan?" 


"Lupakan saja, aku sedang tidak ingin membahasnya."


"Baiklah kalau begitu."


"Oh iya dengar-dengar kau sudah menikah. Dimana istri mu? " Tanya Ruby.

__ADS_1


Leon langsung terpaku tidak bisa menjawab pertanyaan Ruby. 


__ADS_2