Come Back My Love

Come Back My Love
51. Hidup Adalah Pilihan


__ADS_3

Beberapa hari pun berlalu, Ruby mulai menikmati pekerjaan nya saat ini. Sesuai dengan keinginan nya bahwa dia sangat senang bekerja turun langsung ke lapangan untuk riset langsung keadaan serta perkembangan pasar. Setelah menemukan cara bagaimana meningkatkan pemasaran yang di inginkan Klien. Bukan hal yang mudah, Ruby kembali berkutat pada design yang selama ini ia perdalam dan menyelesaikan semua pekerjaan sesuai keiinginan pelanggan. Sebelum mengirim pekerjaan nya kepada Troy sebagai kepala bagian, Ruby harus memberikan pekerjaan nya kepada Rain terlebih dahulu sebagai wakil dari kepala bagian dia harus memeriksa kembali pekerjaan anggota nya.



Sebenarnya hal itu sangat berat di lakukan oleh Ruby karena harus berhadapan dengan Rain si pria batu yang sama sekali tidak memiliki ekspresi apapun. Aneh nya ketiga temannya sangat nyaman berdiskusi dengan nya.



"Bos, mohon di periksa kembali, apakah sudah sesuai atau bagian mana lagi yang harus di perbaiki." Ruby menyerahkan berkas itu dengan canggung. Sementara Rain sedang fokus pada program koding yang sedang ia buat untuk mempermudah pemasaran mereka.



"Letakkan disitu, setelah ini aku akan memeriksanya." Respon nya tanpa melirik sedikit pun.



Ruby mengangkat sebelah bahu nya seperti pasrah terhadap ketidakkeramahan bos nya itu. Pasti lama-kelamaan dia akan terbiasa seperti teman-teman nya yang lain.



Melihat hal itu Steve tersenyum jahil dan dia pun menghampiri bos nya si Kaku itu.



"Bos,,, bagaimana bisa kau mengabaikan wanita secantik Ruby? Dia bahkan berbicara sangat lembut padamu. Tapi kau bahkan tidak menoleh padanya. Sungguh luar biasa." Steve memang type teman yang usil kesana kemari.



"Selesaikan pekerjaan mu. Sebelum makan siang sudah harus ada di meja ku." Rain menatap tajam wajah Steve hingga membuat steve takut.



"Baik bos,,, " Steve langsung kembali ke meja nya untuk melanjutkan pekerjaan nya.



Rain diam-diam tersenyum sambil melirik ke arah Ruby yang kembali sibuk dengan pekerjaan nya.



Ketika jam makan siang, Sean mengajak Ruby pergi ke Kantin. Tadi nya Ruby menolak karena setiap hari nya dia membawa bekal dari rumah. Tapi kali ini Sean memaksa nya untuk ikut karena bagaimana pun Ruby harus tau seluk beluk perusahaan. Bagaimana dia tau jika dia hanya duduk di meja kerja nya saja tanpa menyusuri bagian-bagian lain dari Perusahaan nya tersebut.



"Apa kau betah bekerja disini?" Tanya Sean sambil menyantap makanan nya.



"Sejauh ini aku sangat menikmati nya. Walau kadang aku bingung harus berhadapan dengan Wakil kepala kita." Ucap nya polos.



"Maksud mu Rain? " Suara Sean sedikit kuat hingga membuat Rain yang duduk tidak jauh dari mereka menoleh ke arah kedua nya.



"Pelankan suara mu. Ketara sekali kalau kita sedang membicara kan orang lain." Ruby merasa tidak enak.


Sean tertawa sambil menutup mulut nya.

__ADS_1


"Maaf aku terlalu bersemangat. Sebenarnya Rain itu sangat baik, lemah lembut dan sangat perhatian pada Team nya. Hanya saja memang tidak banyak bicara seperti Steve dan Dino. Bukankah terlihat keren seperti itu manis?" Sean menggoda Ruby.



Ruby tidak menjawab godaan Sean. Menurutnya itu bukan hal yang perlu di pikirkan.



"Oh iya seminggu lagi perusahaan akan mengadakan pesta penyambutan CEO kita." Ucap Sean.



"Penyambutan CEO?" Tanya Ruby mengulang perkataan Sean.



"Iya, aku sudah lama bekerja disini tapi belum pernah melihat pemilik perusahaan ini secara langsung. Karena memang dia sangat jarang turun langsung ke Perusahaan ini. Dengar-dengar Perusahaan kita ini perusahaan kedua nya. Dia terlalu fokus pada perusahaan yang satu nya lagi."



"Kalau tidak salah Perusahaan milik keluarga nya itu di bidang property. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana harta kekayaan yang dia miliki. Steve sudah pernah bertemu dengan nya, Dia masih sangat muda, mungkin seumuran dengan kita, tapi dia begitu pintar dan genius, wajah nya juga sangat tampan bagai dewa yunani, tidak ada kekurangan sedikit pun, pewaris satu-satu nya di keluarga itu. Bagaimana tidak banyak wanita yang mendekati nya. Rela membuka kedua kaki mereka untuk mendapatkan pria itu. Lihat saja gadis-gadis di perusahaan kita ini rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk merias diri mereka untuk menarik perhatian sang Bos besar. Kita jangan mau kalah ya, kita harus dandan habis-habisan saat pesta nanti." Sean berbicara dengan serius sambil mengangkat-angkat sendok nya.



Ruby juga tampak serius mendengar cerita Sean. Menatap gadis itu dengan seksama.



"Jangan menatapku seperti itu. Aku memang tidak secantik dirimu tapi aku juga tidak ingin terlihat jelek saat berhadapan dengan nya." Sean begitu unik di mata Ruby. Ruby pun tersenyum tulus pada teman baru nya itu.



"Kau itu sangat cantik sweety, percaya lah CEO kita akan melirik mu di acara pesta nanti." Ruby menghibur Sean.




"Tidak menutup kemungkinan kalau kau yang akan dia lirik. Karena kecantikan mu belum ada yang menandingi di perusahaan ini." Sean berbinar menatap Ruby.



"Kau terlihat seperti mengejek ku Nona." Ruby tersenyum sambil mencubit lengan Sean.



"Aku mengatakan hal yang serius. Kau bagaikan dewi yang turun dari langit, wajahmu sangat cantik, kulit mu begitu halus dan lembut, tubuhmu juga sangat indah. Tanpa merias diri pun kau terlihat sempurna sayang. Aku sangat yakin CEO kita akan menoleh ke arah mu."


"Ya ya yaa,,,tadi kau memuji sang CEO itu habis-habisan dan sekarang kau juga mengatakan hal yang sama padaku, kau memang bermulut manis sobat. Rasanya aku ingin melayang mendengar ucapan mu" Mereka pun kembali tertawa.


"Aku memang paling bisa berbicara, tapi aku berbicara apa adanya. Kau tidak perlu meragukan itu." Sean membela diri nya.



"Aku rasa pacar mu harus lebih hati-hati terhadap mu. Bagaimana tidak, bisa-bisa para lelaki akan mengejar mu setelah mendengar mulut manis mu." Candaan Ruby membuat Sean tertawa terpingkal-pingkal.



"Aku memiliki banyak teman lelaki tapi tidak bisa dikatakan sebagai pacar, jadi tidak perlu ada yang di khawatirkan Nona."

__ADS_1



"Benarkah, aku tidak yakin kau tidak punya kekasih." Ruby tidak percaya.



"Sudah aku katakan teman lelaki ku banyak, tetapi tidak untuk dikatakan pacar sayang."



"Bagaimana dengan mu? Apa kau sudah memiliki kekasih?" Tanya Sean berbisik. Ruby langsung diam tidak menjawab pertanyaan Sean, dia kembali hanyut pada pikirannya sendiri.



Sean memegang tangan Ruby, seketika menyadarkan Ruby dari lamunan nya.



"Apa pertanyaan ku menyinggung mu? Kau tidak perlu menjawab nya jika itu membuat mu terusik Ruby." Senyuman Sean begitu menenangkan. Ruby pun membalas memegang tangan Sean dan tersenyum.



"Tidak Sean, kau sama sekali tidak menyinggung ku. I'm a single." Jawabnya lembut.



"Benarkah? Wanita secantik dirimu saja tidak memiliki pacar. Bagaimana dengan ku yang paspasan ini." Sean memecah suasana menjadi kembali riang. Kedua nya kembali tertawa.



"Umur sudah setua ini kenapa hati mu tidak ada yang memiliki sayang." Tanya Sean kembali.



"Aku tidak berminat mencari kekasih, mungkin seumur hidup ku, aku akan tetap sendiri." Ucapnya santai dengan pandangan yang sulit di artikan. Sean membesarkan matanya dan mulutnya sedikit terbuka mendengar ucapan Ruby.



"Wahh,,, yang benar saja. Aku tidak ingin seperti mu. Itu sangat mengerihkan Ruby. Katakan saja kalau kau belum menemukan orang yang tepat."


Ruby tersenyum dan langsung menundukkan kepala nya.


'Bagaimana bisa, bahkan bayangan nya saja masih terus memenuhi kepala ini' Batin Ruby sambil menghelakan nafas dengan kasar.



Sean melihat wajah Ruby yang mulai meresahkan dan dia pun tidak memperpanjang pembicaraan.



"Lupakan saja, punya kekasih atau pun tidak kau harus tetap hidup dengan baik. Karena hidup itu pilihan." Sean mengelus lembut tangan Ruby. Dan Ruby mengangguk dan membalas nya dengan senyuman manis.



Ruby menatap lamat wajah Sean, seketika dia mengingat sahabat yang begitu dirindukan nya. Sahabat yang selalu sabar dan selalu ada untuk nya. Sifat nya tidak jauh berbeda dengan Sean. Semoga kelak mereka bisa bertemu kembali. Pintanya dalam hati. Ruby pun tersenyum.



"Terima kasih Sean, aku sangat beruntung bisa bertemu dengan mu."

__ADS_1



"Tentu, kau akan bahagia bila dekat dengan ku yang manis ini." Ucap nya bangga dan mereka kembali tertawa.


__ADS_2