
Keenan melompat dari taksi dan langsung berlari ke pemekaman sementara ongkos taksi belum dibayar.
Supir taksi sempat meneriaki pria yang berpakaian pasien rumah sakit itu.
Josh dan Lucy yang baru tiba langsung menghampiri sang supir.
"Maaf pak, kemana pria yang menaiki mobil mu?" Tanya Josh.
"Pria itu lari kedalam tanpa membayar ongkos taksi." Sang supir merasa kesal.
"Maaf pak mungkin dia sedang buru-buru. Aku yang akan membayarnya." Josh mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada supir taksi.
"Ini banyak sekali Tuan."
"Tidak masalah. Ambil saja kembaliannya. Ayo kita susul Keenan." Josh menarik tangan Lucy.
"Dia datang ke makan siapa Josh?" Tanya Lucy penasaran.
"Aku juga tidak tau. Kemana pergi nya Keenan ya?" Josh dan Lucy menoleh ke kanan dan ke kiri makam mencari keberadaan Keenan.
"Sepertinya itu Keenan." Lucy menunjuk Keenan yang sedang berlari kesana kemari mencari makam.
Akhirnya Keenan menemukan makam itu. Dia langsung menghempaskan tubuhnya di sebelah makam. Keenan menangis sejadi-jadinya sambil memeluk dan mengelus lembut makam tersebut.
"Maafkan aku, maaf aku baru menyadari semuanya. Maafkan kebodohan ku ini nak. Aku memang ayah yang payah, aku ayah yang jahat. Jangan menghukum ku seperti ini nak. Aku tidak sanggup. Kenapa semua diam dan tidak memberitahu ku. Aku tidak menyadari kalau aku memiliki putri yang cantik. Aku tidak tau kalau aku adalah seorang ayah. Kenapa semua menghukumku, ini terlalu sakit,,,??? Teriak Keenan, tangisnya begitu memilukan.
Josh dan Lucy menyaksikan kepiluan Keenan. Keenan tidak pernah serapuh ini. Josh dan Lucy menghampiri Keenan.
"Keen,,,! " Josh ikut berjongkok di sebelah Keenan sambil memegang bahu Keenan.
"Josh,,, Josh lihat ini, ini makam putri ku. Dia anak ku Josh. Aku tidak mengetahuinya selama ini Josh." Keenan langsung memeluk Josh. Keenan semakin terisak. Hatinya begitu pilu.
Betapa terkejutnya Josh dan Lucy mendengar hal ini. Mereka juga tidak tau rahasia terbesar ini. Josh menatap Lucy yang menangis tidak menyangka.
"Astaga, kenapa Ruby menyembunyikan hal sebesar ini sendirian." Lucy terisak sambil menutup mulutnya.
"Aku sudah kehilangan putriku dan sekarang aku harus kehilangan Clarissa untuk yang kedua kalinya. Kenapa semua ini terjadi padaku Josh. Aku selalu menjaga hatiku untuknya, mencintainya dalam waktu yang lama namun aku juga yang melukainya. Aku terlalu jahat padanya. Dengan bodohnya aku ingin menikahi wanita lain dan merendahkan Ruby serendah-rendahnya sementara aku tidak mengetahui dia seperti ini karena aku. Akulah penyebab kesakitannya selama ini. Aku harus bagaimana Josh, kemana aku harus mencari Clarissa?" Keenan sesugukan.
__ADS_1
"Tenanglah, jangan seperti ini. Kenapa kau berubah cengeng. Kau bukan seperti Keenan yang aku kenal. Tidak ada kata penyesalan. Kau masih bisa memperbaikinya. Jangan tanya padaku kemana kau harus mencari Clarissa. Kau punya kaki, tangan dan otak untuk berfikir. Kau harus usaha keras untuk bisa menemukan Clarissa. Kau sungguh membuatku kesal. Selain cengeng kau juga semakin bodoh." Celetuk Josh sengaja memprovokasi Keenan agar tetap bersemangat.
Josh benar-benar tidak menyangka Keenan seterpuruk ini. Baru kali ini Josh melihat lemah nya seorang Kiel. Keenan benar-benar berada di titik terendah hidupnya.
Keenan melepas pelukannya dan kembali menatap makam putrinya.
"Aku mohon padamu izinkan aku menemui ibumu kembali. Beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakannya. Selama ini dia sangat menderita. Aku berjanji akan membuatnya bahagia. Dan aku bersedia mempertaruhkan segalanya untuk Clarissa bahkan nyawa ku." Lirih Keenan.
Lucy iba melihat Keenan, padahal biasanya Keenan sangat menyebalkan, namun kali ini Lucy melihat sisi lain seorang Keenan. Memang terkadang cinta bisa membuat seseorang menjadi gila. Bisa merubah hati sedingin es menjadi hangat. Pantas Clarissa tidak bisa berpaling dari orang aneh seperti Keenan.
Lucy menghapus airmatanya dan memegang bahu Keenan.
"Aku yakin Putri mu sudah memaafkan mu dan pasti sudah mengizinkanmu untuk bersama Ibunya. Karena dia adalah putri dari seorang Clarissa yang pemaaf dan lemah lembut." Hibur Lucy.
"Tapi putriku sangat ketus dan dingin seperti ku. Dia sangat membenci diriku yang bodoh." Celetuk Keenan.
"Dia pintar sekali, dia tau kalau ayahnya begitu bodoh." Lucy sedikit tersenyum. Begitupun dengan Josh. Dia tersenyum simpul sambil mengelus punggung Keenan.
"Sekarang kau harus bangkit dan berusaha lebih keras lagi untuk dapat menemukan Clarissa lagi. Ambil kembali hatinya. Aku yakin kau pasti bisa. " Ucap Josh memberi semangat.
Pandangan Keenan lurus kedepan, sambil membayangkan wajah Clarissa membuatnya semakin yakin pasti segera menemukan Clarissa.
Ruby memutuskan untuk pergi dari kontrakannya dan kali ini Ruby bingung hendak kemana. Kepala Ruby mulai sempoyongan karena sedari siang tidak ada makan apapun. Perutnya menolak, sama sekali tidak berselera.
Fikiran Ruby kembali pada Yuna yang tampak frustasi karena di abaikan Leon. Ruby tidak mengerti kenapa Leon melakukannya. Apa Leon tidak memikirkan janin yang Yuna kandung dan seketika fikirannya beralih pada Keenan dan Inez, didalam bayangannya pasti Keenan sedang duduk santai bersama keluarga baru nya. Istri dan juga anaknya.
'Apa kau tidak memikirkan ku sedikit saja Keen, kau tidak pernah bertanya bagaimana perasaan ku padamu. Kau dengan gamblang ingin menikahi wanita lain sementara kau sudah mengambil semuanya dari ku. Apa aku semurah itu di matamu? Kau hanya menjadikanku alasan agar aku tidak bisa pergi kemana pun, kau memanfaatkan tubuhku untuk menyembuhkan mu. Apakah itu hanya alibi mu saja. Dan lebih bodohnya lagi aku kembali mengandung anak mu. Sampai saat ini aku masih tidak percaya." Batin Ruby, airmatanya kembali mengalir. Dia berjalan sambil mengelus perutnya. Andai saja Keenan ada di sampingnya. Pasti kondisi seberat ini akan terasa ringan. Namun kenyataannya pria itu juga yang menghancurkan segalanya.
Tiba-tiba sebuah mobil hardtop berhenti di hadapan Ruby, beberapa pria bertubuh besar keluar dari dalam mobil, sekitar 3 orang. Mereka langsung mengepung Ruby membuat wanita itu panik.
"Siapa kalian" Teriak Ruby.
Penjahat itu saling tatap sambil tersenyum menyeringai dan dengan pandangan yang sadis.
"Bawa dia." Ucap salah satu penjahat.
Ruby mundur dan mencoba untuk menghindari mereka namun sayangnya salah satu penjahat itu menarik tangan Ruby.
__ADS_1
Ruby menghempaskan tangan pria itu dan langsung melawannya. Ketiga pria itu terkaget ketika melihat Ruby bisa bela diri.
Namun begitu Ruby tetap tidak akan mampu melawan ketiga penjahat itu. Terlebih dia memikirkan bayi di dalam kandungannya. Walau Ruby belum yakin seratus persen dia hamil namun dia tetap menjaga diri agar tidak terluka.
"Lebih baik kau menurut saja, jangan melawan seperti ini. Lebih baik kau ikut dengan kami." Perintah penjahat itu.
" Siapa kalian, apa tujuan kalian ingin menangkapku? Aku tidak memiliki apapun. Lepaskan aku. Lepaskan." Teriak Ruby.
"Jangan berteriak di kota orang, siapapun tidak akan memperdulikan mu."
"Ayo cepat bawa dia ke markas." Ujar salah satu penjahat.
"Jangan,,, lepaskan aku." Teriak Ruby terus membrontak namun para penjahat menariknya masuk kedalam mobil dan segera membawa Ruby pergi.
Leon datang ke kontrakan Ruby. Rumah itu tampak kosong karena Leon terus memanggil Ruby namun tidak ada jawaban. Tidak lama pemilik kontrakan datang menghampiri Leon.
"Maaf Tuan, anda mencari Nona Ruby?" Tanyanya.
"Iya, kemana Ruby pergi?"
"Sebelum gelap Nona Ruby menemui saya untuk mengembalikan kunci Tuan, dia berencana kembali ke kampung halamannya." Jelas pemilik kontrakan.
"Apa? Kapan dia pergi? Kenapa mendadak sekali?" Leon mulai frustasi.
"Sebelumnya saya melihat ada yang datang menemui Nona menggunakan mobil mewah berwarna hitam. Seorang wanita dan 2 orang pengawal Tuan."
"Siapa mereka. Apa keluarganya" Leon bertanya-tanya.
"Saya tidak mengenalnya Tuan. Oh iya wanita itu sedang hamil besar Tuan." Timpal pemilik kontrakan.
"Apa wanita hamil?" Leon terkejut dan fikirannya langsung beralih pada seseorang.
"Pasti dia." Leon mengeratkan giginya dan segera pergi dari kontrakan itu.
"Aku permisi dulu, terima kasih atas informasinya."
"Terima kasih kembali Tuan." Pemilik kontrakan sedikit membungkuk memberi salam.
__ADS_1
Hati Leon begemuruh, wajah kesalnya tidak dapat di sembunyikan lagi. Wajahnya penuh dengan kebencian.