Come Back My Love

Come Back My Love
57. Wanita Jahat dan Egois


__ADS_3

***


5 Bulan kemudian


Di dalam sebuah kamar. Alex duduk berhadapan dengan Clarissa yang sama sekali tidak berbicara. Mengaduk-aduk makanan Clarissa. Sudah 5 bulan gadis yang sedang mengandung ini tampak kurus dan perut nya mulai terlihat membesar tetapi tidak normal seperti wanita hamil 5 bulan pada umum nya. Terlihat jika mereka sedang tidak sehat.


"Buka mulut mu, kau harus banyak makan, kau dan anak mu butuh nutrisi yang banyak." Ucap Alex lembut.


Clarissa menoleh ke arah Alex, menatap Alex tapi dengan pandangan yang kosong. Sangat menyedihkan.


"Ayo makan." Alex menyuapinya dengan sabar. Clarissa juga menurut tapi tidak berbicara sedikitpun. Matanya berkaca-kaca dan bulir bening itu mengalir begitu saja.


"Kau menangis?" Tanya Alex sambil menghapus lembut airmata Clarissa dengan ibu jari nya.


"Berbicara lah, jangan diam saja. Aku akan dengan senang hati mendengarkannya. Jangan menangis lagi ya." Alex tersenyum lembut sambil membelai pipi gadis berwajah pucat itu.


"Uwweeekkk,,, " Clarissa merasa mual, tanpa sadar dia bangkit dari duduk nya dan berlari ke kamar mandi. Untuk membuang semua isi dalam perut nya.


"Clarissa kau baik-baik saja?" Alex mengejar Clarissa ke kamar mandi.


"Uwweekkk,,, Ahh,,, Uweekhh,,, " Makanan yang baru saja di makan Clarissa kembali keluar karena rasa mual di perut nya.


Alex membantu memijat punggung Clarissa. Mengoles minyak angin ke punggung gadis itu.


"Kita harus ke rumah sakit Clarissa. Aku khawatir terjadi apa-apa pada kalian.


Clarissa tidak menjawab, bahkan tidak menggubris ucapan Alex, dia bangkit dan berjalan sempoyongan. Tubuh dan kaki nya terasa lemah dan tidak berdaya, pandangan Clarissa mulai buram. Dan Clarissa pun jatuh pingsan.


"Clarissa,,, " Dengan sigap tangan Alex menangkap tubuh Clarissa, mengangkat tubuh Clarissa yang begitu ringan. Dan membawa nya ke Rumah Sakit.


****


Sesampainya di rumah sakit. Dokter sudah masuk memberi pertolongan pada Clarissa. Setengah jam Clarissa berada di ruang UGD, Alex tampak panik, berjalan kesana kemari dengan pikiran yang kalut. Tidak berapa lama Max pun datang.


"Bagaimana Clarissa? Tanya Max yang tak kalah panik.

__ADS_1


" Masih di dalam. " Jawab Alex tak berdaya.


"Tenang lah mereka akan baik-baik saja." Max mengelus punggung Alex.


Dokter pun keluar dari ruang Gawat Darurat. Alex dan Max langsung menghampiri dokter itu.


"Bagaimana keadaan putri ku?" Tanya Max.


"Janin di dalam tubuh nya tidak berkembang dengan baik. Jika kita terus mempertahankan nya akan beresiko buruk pada ibu nya. Maka saran saya lebih baik kita segera melakukan operasi untuk mengeluarkan bayi nya. Umur bayi sudah 6 bulan tapi pertumbuhannya tidak normal.


Max dan Alex saling pandang. Wajah mereka jelas terlihat bingung dan akan berbuat apa. Max menarik nafas panjang.


"Lakukan yang terbaik dokter, segera lakukan operasi, tolong selamatkan putri ku."


Ujar Max dan menatap Alex yang menganggukkan kepala nya. Ini pilihan yang terbaik.


"Mari ikut dengan ku, kita harus tanda tangani beberapa surat." Ucap sang dokter yang beranjak ke ruangannya di ikuti oleh Max. Alex tinggal di tempat itu dan berjalan ke arah pintu Ruang UGD. Melihat dari depan pintu, mata nya berkaca-kaca melihat gadis yang sedang terbaring tidak sadarkan diri.


'Kau harus kuat, demi dirimu sendiri, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk kesembuhan mu.' Batih Alex yang tanpa sadar airmatanya mengalir begitu saja.


Operasi pun berjalan dengan lancar, bayi Clarissa berhasil dikeluarkan dan beberapa jam bayi perempuan mungil itu tidak tertolong lagi melihat kondisi nya yang lahir prematur serta berat badan yang tidak normal. Alex dan Max mengurus pemakaman nya. Bagaiman pun janin itu sudah berbentuk manusia. Kelak Clarissa harus menerima kenyataan bahwa putrinya telah tiada.


Kondisi nya membaik tetapi belum mau membuka mulut nya untuk berbicara.


Masih sama seperti pertama kali. Tapi Clarissa mulai mau mendengar ucapan orang lain walau tidak menjawabnya. Dia akan tetap diam. Kegiatannya hanya ke kamar, ruang makan dan halaman belakang untuk berdiam diri setelah itu kembali ke kamar nya lagi.


Hal itu membuat Alex semakin geram, dia sangat kesal dan marah pada Clarissa yang tidak mau berjuang untuk kembali melanjutkan hidup. Dia tampak menyia-nyiakan hidup nya. Hal ini membuat Alex marah dan suatu hari di Kamar Clarissa.


Alex membanting piring makanan Clarissa yang enggan memakan makanan nya. Piring itu pecah dan semua makan berserakan. Clarissa tetap diam tanpa ada raut wajah terkejut.


"Apa kau belum puas dengan sikap mu seperti ini? Apa masih ingin menyiksa diri mu dan orang lain? Jika iya lebih baik kau mati saja daripada kau hidup tapi seperti mati. Ayolah, jangan berpura-pura tidak merasakan apapun. Aku tau kau sudah lebih baik dari sebelum nya. Kau bisa berbicara dan berinteraksi dengan sekitar mu. Tapi kau masih ingin diam mengabaikan aku dan Alex, tau kah kau bagaimana Alex berkorban banyak untuk mu, mengorbankan segala nya. Harta, uang dan waktu hanya untuk mengurus orang yang tidak berguna seperti mu. Maaf jika aku mengatakan kau tidak berguna. Kau juga tidak memiliki hati. Kau egois. Kau tidak pernah melihat ketulusan orang lain yang berusaha keras untuk kesembuhan mu dan kau malah seperti ini.


Alex mengambil pecahan piring dan memberikan nya kepada Clarissa.


"Ini kau bisa melukai diri mu, bahkan membunuh diri mu sendiri. Atau kau ingin membunuh ku? Boleh, silahkan, ambil ini dan lakukan apapun yang kau ingin kan.

__ADS_1


Alex dengan tangan bergetar memberikan pecahan itu. Karena dia takut Clarissa nekat, tapi dia sengaja agar Clarissa bereaksi. Karena dia yakin Clarissa bisa bangkit kembali. Pipi Clarissa mulai basah wajah nya tertunduk.


"Ayo apalagi, lakukanlah, kau wanita yang jahat, egois. Semua orang menginginkan kesembuhan mu tapi kau tidak ada pengorbanan sedikit pun untuk berusaha bangkit kembali. Kau malah menyia-nyiakan hidup mu dan waktu orang lain. Apa kau puas?


"Apa dengan sikap mu seperti ini akan mengambalikan segala nya seperti awal? Bermimpilah, jika kau terus begini sama saja kau perlahan-lahan membunuh orang lain." Alex mengatai Clarissa terus menerus, mengolok-olok gadis itu hingga membuat badan gadis itu bergetar hebat. Dia pasrah jika gadis ini mengamuk.


"Aaaarghhh,,,,, " Clarissa berteriak sambil menangis. Sontak membuat Alex membuka mata nya lebar-lebar. Akhirnya Clarissa mengeluarkan suara nya.


"Kau tidak akan mengerti menjadi diriku. Kau tidak paham rasa nya di posisi ku. Kau,,,, " Clarissa semakin histeris. Dia mengarahkan pecahan piring tadi ke arah nadi nya. Dengan sigap Alex menahan tangan Clarissa hingga membuat tangan Alex yang terluka. Alex meringis kesakitan. Wajah Clarissa seketika panik. Tangan Alex mengeluarkan banyak darah. Clarissa meraih tangan Alex dan membersihkan tangan Alex dengan tissue. Bagaimana pun pria ini lah yang selalu menemaninya dan mengurus nya dengan sabar.


"Apa yang kau lakukan. Kenapa menahan ku. Bukankah kau menginginkan kematian ku? Lalu kenapa menahan ku?" Clarissa semakin menangis. Wajah Alex menggelap, matanya ikut berair. Alex langsung menarik Clarissa kedalam pelukannya.


"Maafkan aku, maafkan aku." Tangis Clarissa pecah. Alex memeluknya dengan erat. Alex berhasil membuat Clarissa mengeluarkan suara nya. Kembali berekspresi walau dengan cara yang ekstrim. Alex merasa lega, dia mengelus lembut rambut Clarissa.


"Maafkan aku." Ucap Clarissa sambil menangis tersedu. Alex memang orang asing yang sama sekali tidak di kenalnya tapi selama ini dia menyadari Alex selalu ada di samping nya. Selalu sabar menghadapi nya yang egois ini.


Kondisi Clarissa pun semakin membaik, Alex dan Max tampak bahagia. Perlahan Clarissa membuka diri walau belum berani keluar rumah. Alex pun mengajari nya bela diri yang kelak akan berguna untuk nya. Setiap hari Alex selalu sabar menemani Clarissa. Pria ini selalu ceria menghibur walau Clarissa sering tidak membalasnya.


"Ini sudah lebih baik. Aku berharap lambat laun kau akan kembali ceria seperti sebelum nya.


" Hidup ku tak seceria yang kau bayang kan kak. Boleh aku memanggil mu kakak?"


Alex terpaku mendengar ucapan Clarissa, padahal dalam hati nya berharap lebih, tapi paling tidak Clarissa semakin membaik dan selalu berada di sampingnya. Itu sudah cukup membuat nya bahagia


"Tentu saja boleh. Kau bebas memanggil ku apa saja." Jawab Alex dengan senyum termanis nya.


Andai Clarissa sehat dan tidak dalam kondisi Trauma pasti dia akan jatuh hati pada pria gagah dan tampan yang ada di hadapannya ini.


"Terima kasih kak, terimakasih sudah menerima ku dan dengan sabar menghadapi ku." Senyum Clarissa begitu lembut. Tatapan sendu nya kembali membuat Alex berdebar.


"Kalian mengabaikan aku, sampai tidak sadar aku berdiri disini daritadi." Sindir Max sambil tersenyum.


"Ayah,,, " Panggil Clarissa sambil berlari memeluk Max. Dia sudah bertekad menjadikan Max Ayah nya dan Alex kakak nya. Itu akn membuat nya lebih nyaman. Mereka bertiga pun saling berpelukan.


"Mulai sekarang panggil aku Ruby, jangan panggil Clarissa lagi. Berjanjilah,,!!" Ucap Clarissa tegas.

__ADS_1


Alex dan Max saling tatap dan seketika tersenyum.


"Baik Tuan Putri." Ucap mereka serempak. Dan ketiga nya tertawa lepas.


__ADS_2