
Setibanya di rumah sakit, Josh memberi perintah untuk menyiapkan ruang operasi secepat mungkin. Keenan mengalami pendarahan di kepala hingga hidungnya mengeluarkan banyak darah.
"Sayang, tetaplah disini, aku tidak akan lama. Aku akan melakukan operasi pada Keenan." Ujar Josh pada Lucy kekasihnya yang sedari tadi mengikuti Josh kemana pun Josh pergi.
"Dia akan baik-baik saja kan?" Tanya Lucy khawatir. Sebenci-bencinya Lucy pada Keenan, dia tidak akan tega jika Keenan terluka.
"Keenan akan baik-baik saja. Percaya padaku." Josh mengelus lembut pipi Lucy yang baru beberapa minggu ini menjadi kekasihnya.
"Iya aku percaya padamu." Sahut Lucy sambil tesenyum hangat.
"Terus cari perkembangan Clarissa ya, aku yakin dia masih berada di kota ini."
"Pasti,,, aku sedang mencarinya melalu teman kenalan ku yang ada di kota ini."
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu. Istirahatlah di ruangan ini jika kau lelah."
"Iya,, kau tenang saja. Pergilah dan kembali dengan membawa berita baik."
"Hhm,,,!!! " Josh mengecup kening Lucy dan segera bergegas menuju ruang operasi. Josh sudah menghubungi keluarga Keenan dan mereka sedang menuju ke kota ini.
Operasi pun berlangsung, namun sudah 1 jam Josh tidak kunjung keluar dari ruangan operasinya.
Sementara Lucy sedang mondar mandir di ruangan Josh sambil menunggu kabar Keenan dan juga Ruby.
Akhirnya operasi selesai dilakukan dan berjalan dengan lancar. Josh berharap setelah ini kondisi Keenan bisa lebih baik lagi.
Sebenarnya Josh tidak tega melihat kondisi Keenan namun Keenan tidak pernah tetap pada pendiriannya, dia selalu bersikap semena-mena pada orang tanpa berfikir bagaimana perasaan orang itu padanya. Itu yang Ruby rasakan saat bersama Keenan. Namun begitu, Josh tau Keenan sangat mencintai Ruby.
Josh kembali keruangannya dan melihat Lucy sudah tertidur di sofa.
Josh menghelakan nafas, dia tau Lucy sangat lelah. Baru saja tiba di California dia langsung sibuk mencari keberadaan Ruby.
Josh duduk di sebelah Lucy dan mengelus lembut rambut Lucy hingga membuat gadis itu terbangun.
"Josh,,, kau sudah lama disini?" Tanya Lucy sambil mengucek matanya.
"Tidak aku baru saja selesai." Jawab Josh sambil tersenyum.
"Bagaimana kondisi Keenan? Apa operasinya berjalan lancar?" Tanya Lucy penasaran.
"Tentu saja. Keenan sudah melewati masa kritisnya dan sekarang Keenan sudah di pindahkan ke ruang perawatan.
" Syukurlah kalau begitu, aku cukup lega mendengarnya.".
Wajah Josh tetap lesu entah apa yang pria itu fikirkan. Lucy menyadari hal itu dan langsung mendekati wajah Josh.
"Kenapa wajahmu di tekuk seperti itu? Apa ada masalah? Atau Kau lelah biar aku buatkan minuman?" Ucap Lucy menawarkan.
"Tidak perlu aku baik-baik saja. Aku hanya memikirkan kondisi Keenan." Ucapnya sambil menatap dalam wajah Lucy.
"Kenapa dengan Keenan? Bukankah kau mengatakan kalau operasinya berjalan lancar?"
"Iya tapi aku belum tau bagaimana hasilnya karena saat ini Keenan belum juga sadarkan diri."
__ADS_1
"Kita berdoa saja semoga keadaan Keenan baik-baik saja ya." Lucy meraih tangan Josh dan menggenggamnya erat.
Josh ikut tersenyum. Dia sangat bahagia memiliki Lucy yang selalu mengerti dirinya.
"Kita makan siang bersama." Ajak Josh dan di angguki oleh Lucy.
Di sebuah kota kecil di California. Ruby sudah menyewa sebuah rumah sederhana yang bisa dia tempati sendiri. Kondisinya masih lemah namun Ruby memaksa diri untuk tetap kuat.
Ruby tidakk jadi pulang kerumah Max karena Ruby takut akan menyusahkan Max dan Alex. Jadi Ruby memutuskan untuk tinggal sendiri jauh dari semua orang.
Ruby masih belum percaya kalau dia sedang hamil anak Keenan. Karena dokter mengatakan Ruby akan sulit mengandung lagi.
Ruby duduk di ruang tamu sambil mengelus-elus perutnya yang masih rata.
"Apa kau benar-benar ada nak? Ujar Ruby pelan sambil mengelus perutnya.
" Jika benar, bertahanlah sekuat mungkin, Mama juga akan terus berusaha bagaimana caranya kita bisa sama-sama kuat menghadapi ini."airmata Ruby tidak berhenti mengalir. Penderitaan berbondong-bondong mengujinya. Tidak ada henti-hentinya. Terkadang Ruby merasa ingin menyerah namun ada saja yang membuatnya terpaksa untuk bisa bertahan terlebih sekarang dia sedang mengandung.
Malam harinya di rumah kontrakan Ruby. Seseorang mengetuk pintu rumahnya.
Ruby merasa heran siapa malam-malam yang mendatangi rumahnya sementara dia belum mengenal siapapun didesa ini.
Ruby perlahan membuka pintu rumahnya dan ternyata Kurir yang datang membawa banyak kiriman makanan. Dari makanan ringan maupun berat.
"Permisi nona. Ada paket untuk anda.". Kurir itu membawa banyak kantong belanja.
"Dari siapa pak? Kenapa pesanannya banyak sekali?" Tanya Ruby.
"Dia tidak memberitahukan data pribadinya Nona. Yang pasti dia adalah pria yang romantis. Ini juga ada bunga untuk anda." Ucap Kurir sambil memberikan bunga untuk Ruby.
"Lekas pulih, makan lah yang banyak dan jangan lupa susunya di minum. Aku sudah menyediakan beberapa untukmu. Segera habiskan dan setelah ini aku akan membawakan makanan yang lebih banyak lagi.
" Darimana dia tau aku tinggal disini. Apa dia masih mengikutiku kemana pun?" Ruby menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia langsung masuk dan membawa semua masuk ke dalam rumah.
Ruby kembali duduk di sofa dan memeriksa apa saja yang Leon bawa untuknya.
Senyumnya pun terpancar dan seketika suram ketika mengingat Keenan.
'Mereka pasti sedang bersama-sama malam ini.' Batin Ruby kembali bersedih. Dia pun kembali menangis. Hatinya terasa berdesir dan juga sakit.
Sudah 2 hari namun Keenan tak kunjung sadar. Dia masih terlalu nyenyak dalam tidurnya. Seperti pembalasan dendam dimana selama ini Keenan tidak pernah tidur dengan teratur.
Anderson, Sandra dan juga Keeny sudah berada di rumah sakit menemani Keenan yang sampai sekarang tak kunjung sadar.
"Dimana wanita itu. Bukankah wanita di pesta kemarin adalah pacarnya, kenapa di saat Keenan kritis wanita itu tidak berada di sampingnya.
"Mungkin Kak Ruby sedang sibuk pa." Sahut Kenny yang tidak tau sama sekali.
"Sesibuk apapun seharusnya menyempatkan diri menemani kekasihnya. Dari awal memang papa sudah tidak srek dengan gadis tidak jelas itu." Celetuknya.
"Tidak perlu berkomentar, kita tidak tau bagaiman kondisi gadis itu." Sahut Sandra membela Ruby.
__ADS_1
Anderson tidak menjawab lagi, dia memasang wajah masamnya.
Disebuah Rumah besar di kawasan elit.
Leon duduk di meja kerjanya di rumah sambil menyesap kopi. Tiba-tiba seseorang datang dengan melemparkan banyak foto ke hadapan Leon.
"Yuna apa-apaan kau ini." Bentak Leon marah pada wanita yang dia sebut istrinya itu, wanita yang sedang hamil sekitar 7 bulanan.
Leon melihat foto-foto itu dan mengeratkan giginya.
"Kau membayar seseorang untuk mengikutiku kemana pun aku pergi? " Geram Leon.
"Itu tidak penting, sekarang jelaskan siapa wanita itu." Tanya Yuna sang istri dengan suara bergetar yang hendak menangis.
"Itu tidak penting. Dia hanya temanku saja. Namun begitu, kau tidak perlu repot-repot membayar orang untuk mwngawasi aktivitasku. Aku sangat membenci orang yang mengganggu privasi ku" Jawab Keenan acuh tak acuh.
"Teman? Sampai tidak pulang semalaman? Membelikannya banyak makanam, minuman dan juga bunga untuknya?" Yuna mulai menangis. Leon semakin kesal.
"Kau sudah terlalu jauh dalam bertindak Leon. Aku istrimu yang seharusnya aku lah yang di beri perhatian sedemikian rupa. Tapi apa pernah kau lakukan untukku sekali saja? Apa aku tidak layak mendapat perhatian mu? Kau bahkan tidak pernah menatapku saat berada di rumah. Apa salah ku Leon. Apa?" Tangis Yuna semakin pecah dan membuat Leon mengurut pelan pelipisnya.
"Jangan berbicara yang tidak penting Yuna. Aku sedang tidak ingin ribut. Clarissa hanya teman sekolah ku dulu, dia sedang terkena masalah dan kondiri nya sedang tidak baik, dia juga sedang hamil. Wajar jika aku membantunya" Ceplos Leon.
"Kau sungguh luar biasa Leon. Kau bisa bersikap baik pada wanita lain yang katakan dia sedang hamil dan sebagainya. Tapi kau tidak melihat bagaimana aku. Bahkan aku sedang mengandung anak mu sendiri, tapi kau tidak pernah berlaku seperti itu padaku" Yuna tertawa sinis dan menyela sambil bertepuk tangan.
Leon merasa tertampar dan malu. Apa yang Yuna katakan memang benar.
"Apa karena kau meragukan anak ini? Kau ragu ini bukan anak mu? Baiklah,,,setelah anak ini lahir kita tes DNA dan bila terbukti anak ini bukanlah anak mu, kau boleh melakukan apapun padaku. Kau boleh menuntutku bahkan kau boleh bebas memilih ingin hidup dengan siapa. Tapi jika memang anak ini benar anak mu, aku mohon tataplah aku sebagai istrimu. Aku harap kau bersedia eon. " Yuna semakin terisak.
"Hentikan Yuna, jangan berbicara yang aneh-aneh. Dan berhentilah menangis. Itu tidak baik untuk bayi didalam kandungan mu " Leon merasa tidak enak hati. Ada sedikit rasa iba saat melihat Yuna menangis seperti ini.
"Apa dia wanita yang pernah kau ceritakan dulu padaku? Wanita yang begitu kau cintai?"
"Ya kau benar, dia,,,dia wanita itu."
Heti Yuna mencelos ternyata benar wanita itu adalah wanita yang dulu pernah Leon ceritakan bahwa ada seorang wanita yang dia simpan jauh di dalam lubuk hatinya. Hingga saat ini perasaan itu masih ada.
"Apa kau masih mencintainya?" Tanya Yuna dengan pandangan yang suram. Leon hanya diam tanpa menjawab.
"Kau diam berarti itu benar." Yuna semakin frustasi.
"Terserah kau mau berkata apa Yuna." Jawab Leon datar.
Yuna mengelus perutnya yang besar, dia sangat berharap Leon mau lebih berusaha untuk mencintainya. Namun sepertinya itu hanya harapan Yuna saja. Karena wanita yang selama ini Leon inginkan sudah kembali.
Yuna meringis kesakitan sambil memegang perutnya. Yuna hampir terjatuh namun Leon menangkapnya.
"Yuna,,, kau baik-baik saja? Kenapa dengan perut mu?"
Yuna menatap lamat wajah Leon yang berada sangat dekat dengannya. Betapa dia mencintai pria ini. Walau Yuna tau Leon tidak merasakan hal yang sama.
"Aku baik-baik saja. Aku ingin kembali ke kamarku." Ujar Yuna dengan suara lemah.
"Aku akan membantu mu."
__ADS_1
"Tidak perlu Leon, aku bisa sendiri." Yuna mulai melapaskan pegangan Leon dan pelan-pelan berjalan menuju kamarnya.