
Didepan Toilet, Keenan hendak menggiring Clarissa masuk ke Toilet cewek tetapi Clarissa menahan langkahnya.
"Apa kau ingin masuk ke Toilet cewek juga." Sindir nya.
"Hmm,,,jikakau ingin aku menemani mu kedalam, aku tidak akan keberatan? " Ucap Keenan datar.
Clarissa melepas kan dirinya dari Jacket Keenan yang menutupi tubuhnya yang basah, seketika Keenan melihat baju Clarissa yang begitu basah, sudah terekspos bentuk dua bukit kembar yang ditutupi Bra berwarna putih. Melihat itu alis Keenan langsung berkerut. Dia menarik tangan Clarissa. Menatapnya intens, memperhatikan setiap inci di wajah gadis itu, mata sendu yang indah, hidung yang mancung dan bibir tipis berwaran merah muda yang lembut serta kulit putih susu yang menambah kesempurnaan di wajah Clarissa. Yah gadis itu begitu cantik di mata Keenan.
Begitupun Clarissa yang juga terpana oleh tatapan Keenan yang sulit di artikannya. Segera dia melepas pegangan tangan Keenan. Keenan pun tersadar setelah sekian detik menikmati wajah Clarissa.
"Apa kau akan ke kelas dan pulang dengan baju seperti ini? Mau pamer? Pakai ini dan kau harus mengganti baju mu. Jacket ini sangat berguna, paling tidak dada kecil mu itu tidak terlihat oleh orang lain." Sindir Keenan dan membuat Clarissa langsung menutupi dada nya dengan menyilangkan kedua tangan nya. Keenan melempar Jacket nya ke arah Clarissa. Keenan pun langsung bergegas meninggalkan Clarissa dengan tatapan datar nya. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berjalan dengan gagah tanpa memperdulikan mata-mata murid di sekitar toilet.
"Cla, cepat ganti baju mu, dia benar, Jacket ini berguna menutupi tubuh mu, baju mu sangat basah." Ucap Lucy dan langsung di jawab Clarissa dengan anggukan. Clarissa pun segera masuk ke Toilet.
**
Dikelas Leon duduk diam seribu bahasa, dia tampak begitu kesal mengingat kedekatan Clarissa dan Keenan tadi. Seharusnya dia yang melakukan itu pada Clarissa. Jesika pun menghampirinya.
"Beb, kamu kenapa diam saja." Tanya nya santai.
"Bertanya seolah tidak terjadi apa-apa ya Jes, karena kelakuanmu mereka mengira aku yang melakukan itu." Ucap Leon dengan nada mulai meninggi.
"Apa perduli nya, bukankah selama ini kau juga begitu sering menyiksanya. Please baby jangan seperti ini. Seolah kau berubah menjadi seorang pria yang menyukainya. Apa kau menyukainya? " Tuduh Jesika yang membuat Leon salah tingkah. Jesika tidak tau bagaimana dulu hubungan Clarissa dengannya jauh sebelum mengenal Jesika.
"Jaga omonganmu, itu tidak benar. " Semakin salah tingkah.
__ADS_1
"Kau terlihat salah tingkah. Jangan-jangan memang benar kau menyukai wanita udik itu." Ucap Jesika semakin memprovokasi.
"Tidak akan mungkin, dia tidak masuk dalam kriteria wanitaku." Jawab Leon pelan.
"Oke jadi jangan pikirkan lagi. Biarkan semua berjalan sesuai keinginanku. " Jesika sedikit mencubit rahang Leon. Dan berbalik kembali ke kursinya. Keenan dan Josh pun masuk ke ruang kelas dengan wajah membunuh, dia menatap Leon dan Jesika secara bergantian membuat kedua nya ketakutan bukan main.
Tidak lama kemudian Clarissa juga masuk dengan menggunakan Jacket milik Keenan. Keenan melihat itu langsung berpaling tidak ingin menatap wanita itu terlalu lama. Clarissa jalan menunduk dan melirik ke arah Keenan yang tidak melihatnya. Dia sibuk memainkan ponselnya. Clarissa pun segera duduk. Karena Miss sudah ke kelas mereka pun belajar dengan tertib. Sepulang sekolah. Clarissa seperti biasa menunggu semua murid pulang terlebih dahulu, dia pun langsung ke parkiran mengambil sepeda nya. Melihat sepeda Keenan sudah tidak ada membuatnya bernafas lega, itu tandanya pria itu sudah pulang lebih dulu. Clarissa segera pulang ke rumah tanpa berbincang dengan Dodi yang kebetulan tidak ada disitu. Clarissa mendayung sepedanya dengan santai dan entah kenapa pikirannya beralih pada Keenan, saat Keenan meminjamkan Jacket nya, lelaki itu begitu dekat dan wajahnya benar-benar membuat pipi Clarissa bersemu kemerahan. Tanpa dia sadar kalau Keenan sedari tadi mengikutinya dari belakang, tetapi kali ini Keenan tidak akan menghampiri gadis cantik itu. Dia lebih memilih menatapnya dari belakang. Ternyata sedari tadi Keenan sudah menunggu Clarissa pulang, dibalik susunan mobil di parkiran. Dia mengikuti Clarissa hingga sampai rumah Clarissa, Keenan penasaran Clarissa tinggal dimana. Sesampainya di rumah Clarissa. Keenan berhenti di ujung jalan sambil melihat sekitar rumah Clarissa. Dia merasa Iba karena menganggap masih ada manusia yang tinggal di rumah seperti rumah Clarissa yang menurut Keenan tidak layak ditempati lagi. Seketika dia terkejut mendengar bentakan seorang wanita yang sedikit tua..
"Kenapa lama sekali pulang? Kemana saja? Tanya Clara pada Clarissa dengan suara bernada tinggi. Tapi Clarissa tidak menjawab, dia hanya menunduk sambil mendorong sepedanya.
"Apa kau tidak punya mulut? Ibu bertanya padamu, darimana saja kau? Kenapa pakaian mu sudah berganti, apa yang kau lakukan di luar sana? Sambil melihat Jacket yang digunakan Clarissa.
"Ini bukan milik mu kan? Lalu dimana pakaian sekolahmu?" Nada suaranya semakin meninggi, sambil menarik-narik Jacket yang dipakai Clarissa, ini pertama kalinya Clara kembali bersuara dan marah pada Clarissa setelah kejadian Clarissa mengetahui kebenarannya.
"Bajuku basah bu, dan ini Jacket temanku, dia meminjamkan aku Jacketnya." Jawab Clarissa datar dan pelan.
"Apa yang kau lakukan di sekolah, kenapa begitu sering pulang dalam keadaan yang tidak baik. Pasti selalu ada saja keanehan yang kau bawa dari luar sana."
"Bu tolong aku tidak ingin ribut, aku harus masuk bu." Clarissa hendak masuk tetapi Clara menghentikannya.
"Sekarang kau sudah berani ya melawan ku. Apa karena kau tau aku bukan ibu kandung mu, jadi kau bisa bersikap sesukamu? Kau harus sadar, aku yang merawatmu sedari bayi. Jadi kau harus tau diri bagaimana cara bersikap baik padaku." Ucapnya ketus. Clarissa berbali menatap ibunya.
"Aku sadar bu, sangat sadar, selama ini juga aku tidak pernah sedikitpun membantah mu. Aku menghormatimu, tapi aku tidak pernah benar dimatamu, apapun yang aku jelaskan padamu semua percuma. Tidak ada kepercayaan mu untuk ku sedikitpun. " Jawab Clarissa sedikit marah. Dia mulai lelah menghadapi ibunya yang tidak pernah melihat kebaikannya.
Clara mengakat tangannya dan melayangkan satu pukulan keras di pipi mulus Clarissa.
__ADS_1
"Plak,,, beraninya kau membentak ku dan mengomentari sikap ku padamu. Kau harus sadar siapa kau dirumah ini. " Ucap Clara semakin sinis pada Clarissa.
Clarissa terkejut dan bulir bening dimatanya mengalir begitu saja. Ini bukan pertama kalinya buat Clarissa, tapi ini sungguh menyakitkan hatinya. Clarissa langsung berlari masuk ke kamarnya sambil menganggap pipinya.
Keenan yang melihat adegan itu semakin mengeraskan rahangnya. Dia menyaksikan sendiri bagaimana Clarissa diperlakukan oleh ibunya. Pantas saja kemarin dia melihat Clarissa menangis sejadi-jadinya saat berbicara pada Ayahnya.
'Bagaimana bisa dia hidup dengan kondisi rumah seperti ini dan dengan ibu tiri yang galak seperti nenek sihir itu.' batin Keenan merasa miris. Hatinya semakin iba melihat Clarissa, entah kenapa terasa perih. Karena seumur-umur dia tidak pernah mendengar Mama nya membentak apalagi sampai memukulnya. Sungguh malang gadis itu.
Keenan pun memutar sepedanya untuk kembali ke Mansion. Diperjalanan dia terus memikirkan Clarissa. Dia merasa mengapa semua orang membencinya, tidak di sekolah, dirumah juga seperti itu. Keenan memegang dadanya yang sedikit nyeri.
**
Keesokan harinya dirumah Clarissa berusaha menyembunyikan bekas pukulan yang dilakukan ibunya, dia tidak ingin sang ayah melihat bekas pukulan yang masih terlihat merah kebiru-biruan karena begitu kerasnya pukulan yang diberi sang ibu padanya. Dia tidak ingin ayahnya marah dan akhirnya bertengkar dengan sang Ibu. Clarissa buru-buru berangkat sekolah tanpa sarapan dan membawa bekal.
"Ayah ibu, aku berangkat dulu. " Clarissa langsung pergi tanpa melirik ibu dan ayahnya yang sedang sarapan di meja makan.
"Tidak sarapan dulu sayang. " Tanya Teddy.
"Tidak ayah, aku tidak lapar, aku buru-baru kesekolah kerena hari ini ada piket kebersihan. " Bohongnya.
"Baiklah, tapi bawa bekal mu ya nak. "
"Tidak ayah, aku pergi dulu. " Clarissa langsung bergegas pergi.
"Kenapa dengan Clarissa, apa terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui? " Tanyanya pada Clara. Sang istri hanya menjawab dengan menaikkan bahunya merasa tidak perduli.
__ADS_1