
Di kediaman keluarga Kiel.
"Apa? Keenan di culik? To bagaimana bisa?" Anderson terkejut bukan main menerima panggilan dari Toto.
"Keenan,,,!!! Tangis Sandra pecah setelah mendengar Keenan di culik, Sandra langsung terduduk terkulai lemas.
" Sayang,,,!!! Anderson menghampiri istri nya dan memapahnya duduk di sofa ruang tamu.
Anderson lalu memeluk istrinya yang menangis histeris.
"Jelaskan kenapa bisa terjadi?" Nada suara Anderson meninggi.
"Iya tuan, tadi saya di suruh pulang dulu sama tuan muda, dan menjemputnya kembali setelah pulang di acara perpisahan sekolah. Maafkan kelalaian saya Tuan. Saya siap menerima konsekuensinya." Ucap Toto pasrah.
"Lalu bagaimana perkembangannya sekarang? Apa sudah ada petunjuk siapa yang melakukannya? Tanya Anderson.
" Belum Tuan, saya sudah coba menghubungi ponsel Tuan muda dan mencoba melacaknya tetapi gagal Tuan. Terakhir Tuan berada di sekitar sekolah, mungkin saat para penculik membawa Tuan."
"Cari terus petunjuknya dan saya akan kesana dan sementara ini akan mengirim beberapa bodyguard untuk ikut membantu mencari Keenan."
"Baik Tuan. " Jawab Toto gemetar.
Anderson langsung mengakhiri panggilannya karena terlalu panik melihat dang istri yang sudah histeris.
"Sayang tenanglah. Semua akan baik-baik saja." Anderson terus memeluk sang istri.
"Bagaimana aku bisa tenang. Aku sudah mengingatkannya pada mu. Cepat suruh Keenan kembali dan mana para bodyguard yang mengawasi Keenan selama ini. Kenapa mereka bisa lengah?" Sandra marah terus menerus.
"Mereka membantu mencari info tentang kematian Ramon sayang."
"Aku kecewa padamu. Gerak mu sangat lambat. Tidak seperti Ayah. Jika Ayah sehat pasti segala yang berhubungan dengan keselamatan Keenan pasti akan terjamin. Lalu bagaimana ini? Bagaimana kalau mereka menyakiti Putra ku?" Sandra semakin terisak.
__ADS_1
"Mereka tidak akan berani menyakiti Keenan. Karena aku yakin yang menculik Keenan bukan dari para pesaing melainkan dari keluarga Almarhum Ibu."
"Kenapa kau begitu yakin? Jika ternyata bukan mereka bagaimana? Jika terjadi apa-apa pada putra ku. Aku bersumpah tidak akan pernah memaafkan mu." Ucap Sandra dan langsung pergi meninggalkan suaminya.
"Sayang,,,!!! Panggil Anderson yang sama sekali tidak di gubris sang istri.
Anderson langsung menekan ponsel nya untuk menghubungi orang yang bisa mencari Keenan.
**
Di gedung tua
" Mana minuman nya? Kenapa lama sekali? " Teriak ketua penjahat.
Keenan dan Leon panik. Keenan berusaha melepaskan ikatan di tangannya.
'Minuman apa yang dia maksud.' batin Keenan.
"Jangan sentuh anak laki-laki bernama Keenan itu. Jangan lukai dia. Untuk wanita itu terserah kau mau apakan. Intinya lenyapakan dia untuk menghilangkan jejak. "
Si penjahat tersenyum senang. Melihat Clarissa menangis ketakutan.
"Baiklah sayang, sekarang minum ini. Kau akan merasa lebih tenang. " Si penjahat hendak memberikan minuman itunpada Clarissa.
"Tidak,,, aku tidak mau minum." Clarissa terus menolak.
Penjahat itu langsung menjambak kuat rambut Clarissa hingga Clarissa berteriak kesakitan. Hal itu membuat darah Keenan semakin naik.
"Jangan sentuh diaa,,, " Teriak Keenan pada si penjahat. Suaranya menggelegar hingga semua mata terfokus pada nya. Begitupun Clarissa, dia menatap sendu wajah pria itu. Wajahnya basah karena air mata dan keringat. Dia begitu takut. Takut jika orang lain menjadi korban. Didalam hatinya dia tidak ingin Keenan pergi tetapi dia juga tidak bisa menahan Keenan dalam keadaan tidak aman seperti ini.
Salah satu penjahat datang menghampiri Keenan dan langsung menampar Keenan dengan kuat hingga bibir nya berdarah dan memukul perut Keenan dengan kuat.
__ADS_1
"Sialan kau ini, jangan berteriak sesuka hati mu. Kau bisa mati tertembak." Ucap si penjahat sambil terus memukul perut dan wajah Keenan.
Melihat itu Clarissa menjerit histeris. Leon tidak bisa berbuat apa-apa, dia ketakutan setengah mati. Hingga tidak berani melawan.
"Hentikan,,, jangan sakiti dia. Aku mohon." Clarissa menangis memohon agar mereka berhenti menyakiti Keenan.
"Aku akan minum tapi aku mohon jangan sakiti dia. " Clarissa terus memohon.
"Hentikan,,, Jangan sakiti dia lagi" Ucap penjahat yang ada dihadapan Clarissa.
"Gadis ini sudah mau minum. Jangan memperlambat rencanaku. Dan kau jangan berisik jika tidak ingin di hajar." Penjahat itu menunjuk ke arah Keenan yang sudah terkulai lemas. Tapi tangan di belakang nya terus berusaha melepaskan ikatan di tangannya.
"Jangan minum Cla, aku yakin mereka ingin menyakitimu dengan menambahkan sesuatu ke dalam minuman itu. Jangan minum Clarissa." Teriak Keenan, mata nya mulai berair. Dia menangis karena tidak sanggup melihat Clarissa di siksa seperti itu. Hatinya begitu hancur. Entah sejak kapan gadis itu begitu berarti baginya.
"Aaarghhh,,,, kau berisik sekali." Penjahat yang ada dihadapan Keenan pun kembali memukuli dan menendang Keenan.
"Jangaaann,,,, " Teriak Clarissa.
Leon menatap itu merasa terenyuh. Masing-masing diantara mereka saling melindungi secara tidak langsung. Sementara dirinya sendiri hanya bisa diam sebagai penonton bodoh yang tidak punya keberanian. Disini Leon melihat ada cinta di antara keduannya.
"Aku mohon lepaskan Keenan. Jangan bawa-bawa dia. Aku akan minum sekarang. Clarissa merampas gelas yang di pegang penjahat itu dan langsung meneguk semua isi dalam gelas.
" Clarissaaaa,,,!!!! Teriak Keenan sambil meneteskan air mata. Clarissa menatap Keenan dengan tubuh yang tidak berdaya. Dia terdiam. Beberapa waktu tiba-tiba suhu tubuhnya naik terasa panas sampai membuat pipi nya merona. Dia membuka satu kancing baju nya. Melihat hal itu si penjahat tersenyum menang. Beda hal dengan Keenan. Dia sudah menduga ada hal yang mereka lakukan untuk mencelakai Clarissa. Dia panik setelah melihat Clarissa membuka satu kancing baju nya.
"Clarissa kau baik-baik saja? Apa yang kalian lakukan pada Clarissa, kenapa dia jadi seperti itu? Clarissa lihat aku. Jawab aku. Apa kau baik-baik saja? keenan terus berteriak sambil menangis. Clarissa menggeleng lemah, dia terduduk tak berdaya, entah kenapa dia merasa ada gejolak yang aneh menajalar kedalam seluruh tubuh nya. Clarissa menggigit bibir bawahnya dengan kuat agar dapat menahan suara yang tak seharusnya di keluarkannya. Keenan menatap itu semakin depresi.
"Akhirnya obatnya bereaksi dengan cepat. Setelah ini apa kau masih mau dengan gadis ini? Aku akan bermain dengan wanita mu. Atau apa kau mau menyaksikannya di depan mata mu? Tanya Penjahat pada Keenan remeh.
"Jangan ada satu pun yang berani menyentuhnya. Aku mengingat wajah kalian semua. Jika berani menyentuhnya. Aku tidak segan-segan untuk membunuh kalian semua." Ancam Keenan dengan suara bergetar. Emosinya sudah meluap. Sementara Clarissa dia merasa tubuhnya semakin panas. Miliknya tiba-tiba berkedut dan dia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya.
"Keenan,,,!!! " Panggil Clarissa dengan suara lembutnya. Ada yang aneh dari nada suara Clarissa. Para penjahat melihat Clarissa seperti ingin menerkam. Mereka juga sudah tergoda melihat tubuh Clarissa. Tidak begitu gemuk tapi tetap berisi. Apalagi kedua bukit kembar yang sudah mulai terlihat. Melihat pandangan penuh nafsu para penjahat membuat Keenan semakin berusaha melepaskan diri dari ikatannya.
__ADS_1