Come Back My Love

Come Back My Love
132.Teror


__ADS_3

Ruby kembali ke Apartemen, Max dan Alex mengantarnya. Kejadian ini benar-benar menguras hati dan fikirannya. Ruby tampak begitu lelah. Belum lagi Keenan marah padanya. 


Ruby masuk kedalam, Apartemennya tampak sunyi. Ruby berharap Kenny ada dikamar nya. Saat membuka pintu kamar ruangan itu juga tampak kosong. Kenny benar-benar tidak kembali. 


Saat Kenny tinggal bersamanya, Ruby merasa sangat senang karena dia tak kesepian lagi. Walaupun kondisi Kenny yang sedang sakit namun Ruby merasa bahagia Kenny berada di apartemennya. Namun kini gadis itu sudah dibawa pergi kakaknya. 


Ruby berjalan menuju lemari dan lemari tempat pakaian Kenny juga tampak kosong. Hati Ruby terasa sesak. Sesedih ini kah rasanya.


Dia pun terduduk di sisi kasur meratapi kesedihannya. Airmatanya kembali mengalir.


Mata Ruby beralih ke arah nakas, terdapat selembar kertas yang di selipkan dibawah gelas. 


Ruby pun mengambil kertas itu dan langsung membacanya. 


"Kakak,,, aku pulang bersama kak Keenan. Jangan khawatir dan bersedih ya. Maaf aku pergi tanpa pamit kak. Kak Keenan memaksaku malam ini untuk ikut dengannya. 


Kak Ruby,,, terima kasih banyak sudah merawatku dengan sabar, menemani aku setiap waktu. Maaf jika aku membuatmu kesal dan lelah kak. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu. Jika ada waktu aku janji akan ke Apartemen kakak lagi. Dan By the way, aku akan merindukan masakan kakak yang super enak. Aku tidak pernah merasakan makanan seenak masakan kakak. Aku tidak berbohong kak. Begitupun kak Keenan. Masakanmu benar-benar enak dan pasti akan menjadi favorit ku seterusnya. Jadilah kakak ipar ku. Aku pasti akan sangat senang. 


Tolong jangan ambil hati ucapan kak Keenan. Dia tidak serius dengan ucapannya. Dia hanya sedang kecewa. Lambat laun akan kembali membaik. 


Sekali lagi terima kasih kak. Aku menyayangimu. Kenny."


Ruby semakin menangis setelah membaca surat dari Kenny. Gadis itu benar-benar hangat, dia juga sangat baik. Ruby berharap Alex bisa bersatu dengannya. Itu harapannya. 


Perihal masalahnya dengan Keenan Ruby sudah pasrah. Dia akan membiarkan Keenan tenang dulu lalu dia akan memeperbaiki hubungan mereka lagi. Karena dia yakin Keenan tidak akan mau mendengarkannya ketika pria itu sedang marah. 


Keesokan harinya di Kantor. 


Ruby sudah kembali masuk kerja. Dia melirik ruangan Keenan, pria itu sudah duduk dan berjibaku dengan file-file yang menumpuk di meja nya untuk di tandatangani. 


Ruby ingin menghampirinya namun di merasa ragu.


"Sebentar lagi saja, jika ada file lagi yang mau di tanda tangani baru aku masuk kedalam."


Ruby langsung pergi ke Pantry untuk membuat coffee dan juga teh untuk Keenan. 


Dari dalam ternyata Keenan juga melirik Ruby yang berjalan ke arah Pantry. Hatinya kembali gusar, amarahnya kembali terbesit ketika mengingat sikap Ruby semalam. 


Keenan langsung menutup kasar file yang sedang dibaca nya. 


Keenan langsung bersandar di kursinya sambil memijat pelan pelipisnya. Dia benar-benar tidak konsentrasi bekerja. 


Keenan langsung bangkit dan beranjak menuju ruangan pribadinya. 


Keenan membaringkan tubuhnya yang terasa lelah. Kepalanya juga terasa sangat sakit. 

__ADS_1


Keenan memutuskan untuk tidur kembali. Semalaman dia tidak tertidur sama sekali. Keenan sengaja mematikan lampu ruangannya agar merasa tentram.


Ruby masuk kedalam ruangan Keenan. Kursinya tampak kosong, Ruby sedih karena modus ingin bertemu dengan Keenan akhirnya gagal. Namun Ruby tidak langsung keluar, dia mencoba masuk kedalam ruang pribadi Keenan. Ruangan itu tampak gelap namun Ruby yakin Keenan ada didalam, Ruby berjalan perlahan masuk dan mendekati ranjang Keenan. Terdengar dengkuran halus dari arah ranjang. Ruby menghelakan nafas lega karenan Keenan sedang tidur. 


Dia meletakkan teh yang sengaja dia buat tadi di nakas sebelah ranjang Keenan. 


Ruby menatap wajah Keenan yang sedang tertidur lelap. Tampak ada memar di bagian pinggir bibir dan ujung matanya. Hatinya terasa berdesir. Dia tau Keenan pasti merasakan sakit yang teramat. Namun betapa egoisnya dirinya karena tidak memikirkan keadaan pria ini sama sekali. 


Ruby mendekatkan wajahnya ke wajah Keenan dan mengecup lembut dahi Keenan.


"Maafkan aku." Bisik Ruby pelan. 


Keenan tampak mengerutkan dahinya. Sepertinya Keenan akan terbangun. Ruby dengan cepat beranjak dari tempat itu dan keluar dari ruangan Keenan dengan wajah yang murung. 


Keenan terlelap cukup lama dan dia terbangun di waktu makna siang tiba. Dia bangkit dan duduk bersandar. Saat menoleh kesamping Keenan melihat sebuah gelas berisi teh. Keenan yakin pasti Ruby yang membuat teh itu.


"Dia masuk tanpa mengatakan apapun. Bahkan mencoba meminta maaf pun tidak ada." Keenan menghelakan nafas dengan kasar. 


Keenan bangkit dan membawa teh itu ke meja kerja nya. Teh itu tidak di minum Keenan karena sudah dingin. 


Keenan membasuh wajahnya agar terasa segar. Setelah itu Keenan memutuskan untuk makan siang di apartemen, karena Kenny di Apartemen sendirian. 


Keenan melirik merja kerja Runy yang tampak kosong. Pasti Ruby sudah pergi makan siang.


"Dia bahkan tidak mengajakku." Keenan semakin kesal. Wajahnya tampak datar. Berjalan dengan wajah seperti itu membuat seluruh karyawannya bergidik ngerih. Tidak biasanya bos mereka se dingin itu. Setelah sekian lama pria itu kembali lagi seperti dulu. Tatapannya sangat tajam, datar dan dingin. 


"Kalian tau tidak, hari ini wajah Pak Keenan ketat sekali, sepertinya beliau sedang marah besar. Wajahnya kembali seperti pertama kali kita bertemu. Padahal aku sempat senang karena belakangan ini Pak Keenan tampak sumringah. Ehh sekarang balik dingin seperti semula." Ujar salah satu karyawan yang sedang makan siang. Mereka duduk tepat di belakang Ruby. 


Ruby mendengar semuanya, dia sangat paham kalau Keenan memang sedang marah.


"Mungkin beliau sedang ada masalah, karena kalau untuk masalah pekerjaan aku rasa semua berjalan normal-normal saja. Bahkan semua target tercapai dan meningkat dengan pesat." Sahut karyawati lainnya. 


"Sstt,,, kalian ini kalau sedang bergosip tidak tau tempat dan situasi. Taukah kalian, gadis di belakang kita ini sekretarisnya pak Keenan." Ujar temannya yang lain. 


Kedua karyawati itu pun langsung menutup mulutnya karena merasa tidak enak.


Ruby pun mengakhiri makan siangnya, walaupun dia tidak makan sama sekali. Saat ingin beranjak Ponsel Ruby berbunyi tertanda ada pesan yang masuk. Ruby segera membaca pesan tersebut. Dia sangat berharap kalau itu adalah Keenan. 


"Beraninya kau muncul setelah sekian lama menghilang, ternyata kau masih hidup. Kau ingin mati untuk kedua kalinya? Menyerahlah dan menjauhlah dari Keenan Kiel jika kau masih ingin hidup dan jika kau ingin pria itu baik-baik saja. Pergilah dari hidupnya." Pesan dari nomor tidak di kenal. 


Tubuh Ruby bergetar, ancaman yang dia tidak tau dari siapa. Ruby mencoba memberanikan diri untuk memanggil nomor tidak di kenal itu namun nomornya sudah tidak aktif. 


Perasaan Ruby menjadi tidak enak. Perasaan takut seperti 8 tahun lalu kembali menghantuinya. Trauma ini belum sembuh sama sekali.


Ruby tampak pucat dan berjalan dengan gontai. Dia meninggalkan kantor san segera pergi kerumah Max. 

__ADS_1


Sesampainya di rumah Max. Ruby segera menghampiri Max dan Alex yang sedang duduk di taman rumah.


"By kau datang,,,!!! Seru Alex senang. 


Melihat wajah Ruby tampak pucat Alex langsung bangkit mendekati adiknya itu. 


Ruby pun jatuh terduduk. Max ikut berdiri melihat Ruby tiba-tiba terjatuh. 


" Ruby,,,!!! " Teriak keduanya. 


"By,,, kau baik-baik saja? Ada apa dengan mu?" Tanya Alex khawatir. 


"Kakak,,, aku takut." Ruby menangis denga Tubuh bergetar hebat. 


Max pun datang menghampiri Ruby. 


"Ada apa dengan mu nak? Apa kau sakit?" Tanya Max khawatir. 


"Mari aku bantu By, kita masuk kedalam dulu." Ujar Alex sambil memapah Ruby. 


Di Apartemen Keenan. 


"Kakak datang sendiri? Dimana kak Ruby?" Tanya Kenny merasa kecewa. 


Keenan diam membisu sambil meletakkan makanan kedalam piring. 


"Kalian masih bertengkar?" Tanya Kenny kepo. 


"Makanlah, jangan terlalu banyak bertanya." Jawab Keenan datar. 


"Kakak jangan terlalu keras pada Kak Ruby. Dia pasti tidak bermaksud bersikap seperti itu pada kakak."


"Kau mengerti apa tentang hubungan? Kau tidak akan mengerti Ken, dia bahkan tidak membujukku sama sekali."


"Kekanak-kanakan." Ejek Kenny. 


"Apa maksudmu, siapa yang kekanak-kanakan?" Keenan mulai kesal. 


"Kakak,,,!!! " Jawab Kenny singkat. 


Keenan cemberut kesal karena Kenny tidak memihaknya sama sekali. 


"Makananny tidak enak kak. Tidak seenak masakan kak Ruby. Aku sangat suka masakannya. Kakak juga kan? Bagaimana kalau kakak suruh Kak Ruby masak di Apartemen ini."


Keenan nenatap tajam Kenny yang terlalu banyak bicara. Kenny langsung takut

__ADS_1


"Maaf kak, aku tidak akan membahasnya lagi." Seru Kenny murung. 


Keduanya pun menyantap makan siang dengan hening..


__ADS_2