Come Back My Love

Come Back My Love
145. Kembalilah Padaku


__ADS_3

Di suatu padang rumput yang luas dengan tanah bergelombang. Keenan berdiri menatap kiri dan kanan. Pandanganya tampak kebingungan, dia bingung mengapa tidak ada orang disekitarnya.


"Ini dimana?" Keenan bertanya-tanya.


Lalu tampak seberkas cahaya yang muncul di atas bukit. Cahayanya sangat terang hingga Keenan tidak bisa melihat cahaya apa itu. Keenan berusaha memperjelas penglihatannya. Dari kejauhan Keenan seperti melihat orang yang datang dari arah cahaya itu. Dua orang yang saling bergandengan tangan. Seorang anak kecil dan juga seorang wanita dewasa yang belum jelas wajahnya.


Dua orang itu semakin dekat dan Keenan menyipitkan matanya seketika wajahnya tersenyum melihat siapa yang datang.


Betapa bahagianya Keenan bisa melihat wanita yang begitu di cintainya lagi.


"Clarissa,,,!!! " Ucap Keenan dengan wajah berbinar.


"Keenan" Sahut Clarissa tersenyum simpul.


"Kau darimana saja? Aku terus menunggu mu pulang. Kembalilah padaku dan jangan pernah pergi lagi." Mohon Keenan dengan wajahnya yang begitu putus asa.


"Aku tidak ingin kembali Keenan, aku sangat bahagia bersama gadis kecil ini disana. Tapi,,,," Pandangan Clarissa beralih pada gadis kecil yang ada di sebelahnya.


"Kau harus kembali, pria bodoh ini membutuhkanmu. Jika kau tidak kembali dia bisa melakukan hal gila lagi." Ejek anak itu dengan wajah ketusnya.


Mendengar hal itu Keenan langsung mengerutkan keningnya. Ucapan anak ini begitu menyinggungnya.


"Tapi aku sangat bahagia bila bersama mu sayang. Aku tidak ingin kembali. Dunia ini begitu kejam" Clarissa berjongkok berhadapan dengan gadis kecil itu. Raut wajahnya seketika bersedih.


"Kau memang bahagia bersama ku. Namun hati mu terus padanya. Aku sedikit kecewa." Celetuk gadis kecil itu sambil melipat kedua tangannya.


Clarissa langsung menatap Keenan yang juga sedang menatapnya. Tatapan pria itu membagongkan.


"Pergilah kembali padanya. Jika dia berani menyakitimu, aku akan memberinya pelajaran." Ancam gadis kecil itu.


"Clarissa kembalilah. Aku ingin selalu bersama mu. Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi. Aku mohon kembalilah sayang. Jangan tinggalkan aku lagi." Keenan semakin memelas. Matanya tampak berkaca-kaca.


"Apakah aku bisa memegang ucapan mu pria angkuh, dia milikku, jika kau tidak mampu menjaganya aku akan membawanya dan kau tidak akan bisa melihatnya lagi?" Tanya Gadis kecil itu dengan wajah kejamnya.


"Aku berjanji akan selalu menjaganya dan membahagiakannya. Kau boleh pegang janjiku dan kau bisa menghukumku jika aku berbohong."


"Aku sedikit percaya padamu tapi bukan berarti aku akan menyerahkan Clarissa ku padamu dengan mudah. Kau harus datang menemui ku dengan hati yang tulus memohon. Maka aku akan mengizinkannya pergi bersama mu."


"Baiklah, aku akan melakukan apapun untuk dapat bersama Clarissa ku. Jangan berbicara angkuh seperti itu. Kau sangat mirip dengan ku jika seperti itu." Celetuk Keenan.


"Kita memang mirip Tuan, tapi aku tidak bodoh seperti mu." Ejeknya lagi.


Keenan menyeringai lain hal dengan Clarissa, Clarissa terus tersenyum sambil memandang keduanya secara bergantian.


"Kalian memang sangat mirip." Airmata bahagia Clarissa menetes begitu saja.


"Pergilah Ma, aku harus kembali, aku mohon jangan datang padaku dengan deraian airmata. Aku sangat benci itu. Jika Papa ku menyakitimu kau boleh tinggalkan dia dan pergi bersama pria lain. Aku akan lebih mengizinkannya." Ucap gadis kecil itu sambil mengelus lembut pipi Clarissa.


"Papa? Kenapa kau menyebutku Papa?" Ucap Keenan bingung.


"Lihatlah Ma, dia begitu bodoh. Aku tidak ingin berbicara dengannya." Anak kecil itu terlihat kesal.


"Berhenti mengatakan aku bodoh anak kecil. Kau harus tau, aku tidak akan membiarkan Clarissa bersama pria lain."


"Maka dari itu bahagiakan dia. Jangan sakiti Mama ku. Kau akan menjadi Papa yang buruk bagiku. Jadi jaga Mama baik-baik."


Keenan semakin pusing, anak kecil itu terus memanggilnya Papa dan Clarissa Mama.


Namun seketika ingatan Keenan kembali saat Clarissa ingin pergi meninggalkannya. Clarissa mengatakan kalau anak kecil ini ada buah cintanya.

__ADS_1


"Berarti kau,,,,!!! " Belum sempat Keenan melanjutkan omongannya gadis kecil itu mulai berjalan menjauh.


"Berbahagialah Ma, Rachel sangat menyayangi Mama." Gadis kecil itu melambaikan tangannya. Saat melihat Ruby dia tersenyum dan ketika melihat Keenan wajahnya berubah ketus.


"Mama juga menyayangimu sayang." Clarissa mulai menangis.


"Kau putriku?" Teriak Keenan seketika tersadar.


Rachel tidak menjawab tatapannya masih sama. Masih terlihat begitu kesal saat melihat Keenan.


"Tunggu nak, jangan pergi, aku belum selesai berbicara. Aku mohon jangan membenciku. Jangan pergi Naakk,,, " Teriak Keenan dan seketika Keenan terbangun dari tidurnya yang begitu lelap.


Josh dan Lucy yang sedang duduk di sofa langsung berdiri ketika Keenan berteriak.


"Ada apa Dud? Kenapa berteriak?" Josh menghampirinya.


"Dimana anak itu, dimana dia?" Teriak Keenan.


"Anak siapa? Tidak ada anak-anak disini. Kau mungkin bermimpi Keenan."


"Anak itu,,, anak itu putriku. Kemana dia pergi. Kemana dia?" Keenan mulai panik dan kebingungan. Pandangannya tampak kosong.


"Keenan tenanglah." Teriak Josh dan membuat Keenan terdiam. Dia menatap Josh.


"Kau dari tadi tidur dan terus mengigau. Tapi aku tidak tau apa yang ucapkan. Tenangkan dirimu. Kau hanya bermimpi. Minum dulu agar kau tenang." Josh memberikan segelas air putih pada Keenan, dan Keenan pun langsung meneguknya.


"Sudah tenang?" Tanya Josh.


Keenan hanya diam, dia sedang berfikir, dan mulai menebak-nebak arti mimpinya barusan.


Seketika Keenan mengingat makam yang Keenan lihat saat bersama Ruby. Keenan mulai menangis kejer. Josh dan Lucy heran melihat Keenan.


Josh masih belum mengerti apa yang Keenan katakan.


" Apa yang kau katakan Keenan. Aku tidak mengerti. Makam siapa?" Tanya Josh mulai frustasi menghadapi Keenan. Dia merasa apa ini efek operasi yang dilakukannya.


"Aku harus pergi Josh, aku ingin melihatnya, aku ingin menemuinya." Keenan mulai kacau dan berusaha membuka paksa infus di tangannya.


"Keenan apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila? Kau masih sakit Keenan." Josh mencoba mencegah Keenan.


"Tidak Josh aku harus pergi. Aku harus menemuinya. Aku harus meminta maaf padanya dan segera mencari Clarissa. Aku ingin Clarissa ku kembali." Keenan terus berusaha keras untuk bisa segera lepas dari infus itu.


"Keenan tenang lah. Kita akan cari Ruby bersama-sama. Tenanglah, jangan seperti ini, kau bisa membahayakan dirimu." Josh terus menahan Keenan. Lucy juga ikut panik melihat Keenan mendesak untuk pergi.


"Lepaskan aku Josh." Teriak Keenan sambil menolak kuat tubuh Josh hingga membuat pria itu terpental jauh.


"Josh,,,!!! " Teriak Lucy dan segera membantu Josh.


Keenan berhasil melepaskan infus di tangannya dan Keenan segera bergegas pergi.


"Keenan,,,!!! " Teriak Josh.


"Kita harus ikuti Keenan sayang. Aku tidak ingin Keenan kenapa-napa." Ujar Josh.


"Ayo Josh, sebelum Keenan jauh."


Josh dan Lucy mengejar Keenan. Saat di depan rumah sakit Josh melihat Keenan menaiki taksi. Josh langsung menarik Lucy menuju parkiran mobil. Mereka pun mengikuti taksi Keenan dari belakang.


"Sebenarnya Keenan mau kemana. Dia seperti orang yang kehilangan akal." Omel Josh.

__ADS_1


"Tenanglah, kita ikuti saja kemana Keenan pergi. Aku juga sangat penasaran dengan apa yang Keenan ucapkan tadi." Lucy mencoba menenangkan Josh yang terlihat kalut.


***


Sebuah mobil mewah berhenti di depan kontrakan Ruby. Ruby mengintip dari balik tirai jendela, dia khawatir itu Keenan atau yang lainnya yang sedang mencarinya.


Namun setelah di lihat-lihat Ruby tidak mengenal satupun dari mereka.


Seorang wanita muda tampak turun dari mobil. Perut nya terlihat besar dan wanita itu di kawal beberapa bodyguard. Ruby yakin wanita itu bukan orang biasa.


Mereka berjalan menuju pintu rumah Ruby semakin panik.


Salah satu pengawal mengetuk pintu beberapa kali namun Ruby tidak langsung membukakan pintu. Ruby masih ragu.


"Permisi,,,,!!! " Teriak pria itu terus menerus. Mau tidak mau Ruby membuka pintu untuk mereka.


"Permisi Nona, benar kau Nona Ruby?"


"Iya benar aku Ruby. Kalian siapa?" Tanya Ruby.


Wanita bertubuh mungil yang bersembunyi di balik tubuh pengawalnya yang cukup besar muncul di hadapan Ruby. Dia membuka kaca matanya. Dan berdiri di hadapan Ruby. Wanita itu tidak langsung berbicara. Dia menatap lamat wajah Ruby. Dia menatapnya dengan serius dari ujung kaki hingga ujung kepala. Membuat Ruby tidak nyaman.


'Wanita ini memang sangat cantik. Walau dengan pakaian sederhana pun wanita ini tampak begitu mempesona. Pantas saja Leon tidak bisa melupakannya. Bahkan aku yang berpakaian mewah tidak ada apa-apanya.' Batin Yuna.


"Ada yang bisa dibantu Nona?" Tanya Ruby.


"Kau benar Ruby? Teman Leon?" Tanya Yuna lembut namun terdengar ketus.


"Iya aku Ruby. Leon? Kau,,,??? " Ruby berhenti bicara karena wanita dihadapannya memotong pembicaraannya.


"Aku istrinya Leon Yuna Wolf." Jawab Yuna tegas.


"Ohh,,, iya ada yang bisa aku bantu?" Tanya Ruby.


Yuna tampak menarik nafas dalam-dalam.


"Bisa kah aku memohon padamu untuk menjauhi Leon?" Ucap Yuna, hatinya terasa mencelos. Padahal dia juga sebenarnya tidak ingin melakukan hal bodoh ini. Dia buka type wanita picik. Namun jika tidak melakukannya Leon akan terus mendekati Ruby.


"Maaf kau tidak perlu melakukan hal ini. Aku sama sekali tidak dekat dengan Leon dan kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Jangan berfikiran terlalu jauh." Ujar Ruby merasa bersalah.


"Memang beberapa hari ini dia selalu menolong ku. Namun tidak ada hal yang lebih dari itu." Timpal Ruby.


"Aku tau kau bukan wanita seperti itu. Namun aku harus mengatakan ini padamu karena Leon tidak pernah mendengarkan ku jika aku melarangnya menemui mu. Aku mohon jauhi Leon demi anak ini. Dia benar-benar mengabaikanku. Terlebih saat dia kembali bertemu dengan mu." Yuna mulai menangis.


"Kau tidak perlu memohon padaku. Kau berhak atas Leon. Aku juga sudah melarangnya menemuiku namun dia tetap kekeh."


"Pergilah ketempat yang jauh agar Leon tidak bisa menemuimu. Aku tidak bisa seperti ini terus. Leon sama sekali tidak mau menatapku. Aku merasa frustasi dan tidak sanggup bertahan jika dia meninggalkanku." Yuna semakin tersedu.


Ruby terdiam dan tidak tau harus berkata apa. Dia juga bingung hendak kemana lagi. Karena dia sudah mulai betah tinggal di rumah ini.


"Ini ada uang untuk mu. Bahkan aku bisa memberikan lebih asal kau mau segera pergi dari tempat ini." Yuna menyerahkan sebuah amplop tebal pada Ruby.


Ruby mengerutkan keningnya. Tadinya dia sempat iba pada wanita ini namun hal itu seketika berubah ketika dia menyuap Ruby dengan sejumlah uang. Dia merasa semua orang kaya sama saja. Menggunakan uang untuk bisa mendapatkan yang dia mau.


"Maaf aku tidak bisa terima itu. Kalian bisa pergi dari rumah ku sekarang juga. Dan maaf Nona, kau mungkin memiliki banyak uang namun kau tidak bisa membeli cinta dengan uang mu. Leon juga tidak akan melihat itu. Aku permisi. " Ucap Ruby tegas dan langsung masuk kedalam rumah dan menutup rapat pintu rumahnya.


Yuna tampak semakin terisak. Dia menyesal melakukan hal ini. Ruby tersinggung dengan ucapan dan sikapnya.


Di dalam rumah Ruby kembali menangis, kenapa disaat dia mulai tenang masih ada saja yang mengusik fikirannya. Dia merasa kemana pun dia pergi pasti akan menimbulkan banyak permasalah pada orang lain.

__ADS_1


"Apa aku benar-benar wanita pembawa sial? Karena diriku hubungan orang lain menjadi rusak. Aku harus pergi kemana lagi." Ruby terisak. Di terus menangisi dirinya hingga dirinya lelah. Ruby merasa dunia seakan tidak menerima keberadaannya.


__ADS_2