
Sudah dua hari ini, Geya terus mendapatkan hadiah yang dia tidak tahu siapa pengirimnya. Selain bunga, Geya juga terkadang mendapatkan kiriman makanan yang biasanya digemari ibu hamil muda. Dari pikirannya Geya yakin orang ini pastilah tahu tentang dirinya, tapi jika itu adalah Galen rasanya sangatlah tidak mungkin. Meski begitu, Geya tetap mengucap Terima kasih meski orang yang mengirimi berbagai macam hadiah ini tidak tahu.
Geya terduduk di taman penuh dengan bunga mawar dengan berbagai jenis dan warna. Kebetulan sekali Geya memang sangat menyukai bunga mawar, karena nama sepupu perempuannya juga sama dengan nama bunga ini.
Setiap dirinya merindukan keluarga dan pria yang telah menitipkan hadiah dalam rahimnya ini, Geya pasti akan memilih untuk duduk di taman bunga jni. Dengan melihat bunga tumbuh dan mekar dengan indahnya, suasana hati Geya sukses langsung membaik.
" Selamat siang nona... " sapa seorang pria yang berada tidak jauh dari tempat duduk Geya.
" Selamat siang tuan. Maaf apa ada yang bisa saya bantu? " tanya Geya sopan. Pria yang menyapanya itu tersenyum melihat keramahan pada wanita muda di depannya ini.
" Tidak nona.. Tapi maaf saya lancang, melihat anda melamun saya sedikit kurang nyaman. Di tengah indahnya taman bunga kenapa bunga yang tercantik justru murung? " ujar pria itu membuat Geya merona malu.
" Anda bisa saja tuan... " Geya tersenyum malu.
Pria itu mendekat, kemudian memberikan sebuah mawar berwarna putih tepat di depan wajah Geya. " Dengan bunga ini aku harap Anda akan lebih banyak tersenyum hari ini.. " ujar pria itu.
" Eh... Kenapa dipetik? Anda bisa kena tegur dari penjaga taman ini tuan... " Geya menatap sekelilingnya, mencari penjaga taman. Tidak enak saja jika pria yang berdiri di depannya menggunakan setelan berwarna hitam ini ditegur.
" Tidak perlu khawatir. Say bekerja di yayasan ini juga.. " pria itu mencoba menenangkan Geya.
" Benarkah? Tapi selama hampir dua minggu saya di sini, saya belum pernah melihat Anda.. "
" Saya bekerja di bagian staf di office yayasan ini. "
Geya manggut-manggut mendengar ucapan pria yang kini telah duduk di kursi taman yang sama dengannya. Untuk beberapa saat keduanya terdiam, menatap lurus ke depan. Menatap hamparan taman bunga mawar yang sungguh menyejukkan mata. Angin bertiup sepoi-sepoi, angin yang sejuk menyamarkan sengatan matahari yang cukup terik siang ini.
__ADS_1
" Saya Claude... Anda miss...? " pria itu memperkenalkan dirinya.
" Geya... Cukup panggil saya Geya saja.. Jangan ada kata Miss di depannya.. " Geya memperkenalkan dirinya ramah.
" Maaf lagi saya sedikit ikut campur urusan Anda, tapi saya dengar Anda sedang mengandung saat ini. Saya tahu dan pernah mendengar bahwa wanita yang sedang hamil muda banyak menginginkan. makanan atau minuman, dan jika anda merasa menginginkannya ada bisa mengatakannya pada saya. " Geya menatap heran pria yang ada di sampingnya ini. Kenapa baik sekali adalah pemikiran Geya terhadap pria ini.
" Tolong jangan salah paham. Niat saya hanya ingin membantu, itu saja.... ya itu saja.. " Claude buru-buru menjelaskan saat melihat tatapan penuh curiga dari Geya.
" Terima kasih, tapi saya tidak ingin merepotkan Anda karena hal itu.. " Geya tersenyum.
" Sama sekali tidak Geya. Bukankan motor yayasan ini adalah saling tolong menolong dan juga persaudaraan. Jadi anggap saja saya menetapkan moto yayasan ini.. " Claude berusaha untuk membuat Geya tidak curiga padanya.
Lama Geya terdiam, berusaha untuk menyelami tatapan pria yang ada di sampingnya. Geya merasa ini terlalu cepat, mereka baru pertama kali bertemu tapi pria ini begitu baik padanya. Seolah-olah mereka adalah kawan lama yang berjumpa kembali. Tapi melihat cara pria ini memandangnya, Geya merasa bahwa pria di sampingnya ini terlihat tulus.
Claude menghembuskan nafas lega saat Geya mau menerima kebaikannya. Sejak tadi Claude ketakutan Geya meragukan kebaikannya dan malah membuat suasana diantara mereka akan canggung. Niat hati Claude mendekati Geya, karena Claude begitu tertarik pada sosok Geya. Sosok Geya adalah definisi dari wanita yang tegar dan berani serta bertanggung jawab. Disaat dirinya harus mengandung tanpa adanya ikatan pernikahan, tapi Geya tetap mempertahankan bayi dalam kandungnya. Claude jadi merasa begitu kagum dan terpesona pada sosok Geya.
" Ini nomor telefon ku. Jika kau butuh sesuatu dan aku bisa, jangan sungkan untuk meminta tolong.. " ujar Claude berbicara dengan bahasa informal.
" Tentu... Aku pasti akan menghubungi mu.. " Geya juga menggunakan bahasa informal karena Geya mengikuti apa yang Claude lakukan.
" Kalau begitu aku pergi dulu ya.. Aku harus kembali bekerja.. " Claude mengusap pelan puncak kepala Geya. Sontak Geya terkejut dan hendak menjauhkan kepalanya dari jangkauan tangan Claude. Tapi ketika mata Geya menatap tatapan mata Claude yang teduh itu, Geya merasa familiar dengan perasaan dan tatapan seperti saat ini.
Dengan senyum merekah, Claude pergi meninggalkan Geya yang masih menatap punggung Claude yang menjauh. Ada rasa yang begitu dekat saat Geya melihat tatap teduh dari mata hitam tajam. milik Claude. Perasaan yang menenangkan dan nyaman dalam hatinya.
" Lingkungan baru, teman baru... Senang aku akhirnya memiliki teman disini, tapi berapa ya usianya, dia terlihat jauh diatas ku? " gumam Geya bertanya. Bibirnya terus mengulas senyum karena mendapatkan teman baru yang begitu baik.
__ADS_1
Pria yang mengenakan setelan pakaian berwarna hitam itu terus berjalan dengan senyum dibibirnya. Namun senyum itu menghilang ketika di depannya ada seorang pria yang merupakan asisten pribadinya.
" Tuan.. " sapa pria bernama Dimitri yang merupakan asisten dari pria yang mengenakan setelan hitam.
" Kau sudah mendapatkan apa yang aku inginkan... " ujar pria itu dengan tatapan dingin dan tegas.
" Maaf tuan. Saya belum bisa mendapatkan informasi apapun dari orang tersebut. Informasinya sangat bersih seperti ada seseorang yang menutupi identitas orang tersebut tuan.. " lapor Dimitri.
" Begitu kah? Apa latar belakangnya sangat spesial sehingga ada seseorang yang sengaja membuat identitas palsu untuknya? " tanya pria itu.
" Terus cari tahu sampai kau menemukan bahkan satu saja petunjuk tentang orang itu berasal. " titah pria yang mengenakan pakaian serba hitam itu, pun langsung berjalan meninggalkan asisten pribadinya.
" Kebiasaan selalu ditinggal... " gerutu Dimitri yang memang tidak bisa mengimbangi kecepatan berjalan tuannya. Padahal kaki Dimitri juga termasuk kaki yang panjang, namun jika dibandingkan dengan tuannya, sudah pasti dia akan tertinggal di belakang.
...********...
Sore ini langit terlihat mendung, Geya dan Thalita berjalan cepat bergegas pulang karena takut hujan akan turun deras. Dan benar saja, baru mereka berjalan lima menit, tepat di tengah perjalanan, hujan turun dengan derasnya. Geya dan Thalita terpaksa berteduh di depan sebuah kios yang tutup tak jauh dari yayasan.
" Ck, bodohnya aku tidak membawa payung... " Thatila merutuki kebodohannya. Sudah tahu musim penghujan, namun dia malah lupa membawa payung.
" Tidak apa kita berteduh sebentar disini. Aku rasa hujannya juga akan segera berhenti.. " ujar Geya dengan tatapan menatap hujan.
Kening Geya berkerut melihat ada sebuah mobil yang berhenti di depan kios tempatnya berteduh. Geya hendak menyingkir karena dia pikir mobil itu adalah mobil pemilik kios, namun ketika kaca mobil itu dibuka, mata Geya sukses melotot..
" KAU..... "
__ADS_1