DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU

DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU
kehidupan dua wanita


__ADS_3

Menatap wajah pria yang kita cintai versi mini, adalah kegiatan yang paling Geya gemari sejak dia melahirkan Alrescha satu bulan yang lalu. Bayi gemuk, lucu dan menggemaskan ini memiliki mata coklat muda sama persis seperti daddynya. Kulitnya putih, rambutnya lurus dan sangat lebat. Wajahnya jangan ditanya, sangat mirip dengan suaminya dan itu membuat Geya senang memandanginya karena seperti melihat ke dalam ketika suaminya masih bayi.


Sepulangnya dia bertemu dengan Marisha dua hari yang lalu, Geya tidak berhenti memikirkan maksud dari ucapan yang Marisha lontarkan sebelum wanita yang dulu pernah menjadi sahabatnya itu pergi. Kata tentang orang yang disekitarnya kembali berkhianat membuatnya memikirkan berbagai macam asumsi yang jujur saja membuatnya sedikit pusing.


Geya memang masih belum mengatakan apapun pada Claude karena sepertinya suaminya itu sedang sangat sibuk sekali. Geya juga belum mengambil keputusan, tentang apa yang akan dia lakukan untuk menegur Marisha dan Rouge. Pikiran Geya saat ini hanya berusaha untuk menemukan pelaku yang sudah menyetir dari jauh sepupu dan istrinya itu.


" Res... Menurut kamu siapa ya yang mungkin bisa berkhianat sama mommy? " gumam Geya bertanya pada sang putra yang masih bayi dan bahkan sekarang sedang tertidur pulas setelah minum susu tiga botol. Kuat sekali memang ketika baby Alrescha ini minum susu.


" Hehehe... Mommy aneh ya, nanya kok sama Alres ya... Mana Alres tahu iya kan sayang... " Geya terkikik geli melihat tingkahnya yang aneh ini.


" Daddy kamu itu kemana lagi,, kakak kamu sudah pulang kok daddy kamu kelayapan terus? " monolog Geya yang sejak tadi pulang dari rumah sakit belum. juga terlihat.


Langit sudah berganti warna menjadi warna hitam pekat. Udara juga sudah mulai dingin karena itu Geya mencemaskan suaminya yang sering mengeluh sakit di tulangnya karena cuaca dingin. Geya berjalan ke arah jendela besar di kamarnya, membuka tirai dan mengawasi halaman depan mansion daddy Joaquin. Kemudian matanya sekelebat melihat mobil hitam milik suaminya baru saja terparkir di depan teras depan dan sosok suaminya yang gagah dan tampan itu terlihat.


" my hot daddy... akhirnya pulang juga.. " monolog Geya yang langsung turun untuk menyambut kedatangan suaminya.


Dari arah tangga bisa Geya lihat kalau waka Hb suaminya terlihat sangat lelah dan entah kenapa jadi terlihat semakin tua melebihi umurnya yang sekarang. Geya merasa kasian karena beban pikiran suaminya akhir-akhir ini meningkat terutama ketika twins menghilang. Geya merasa begitu bersalah karena tidak bisa berjuang bersama suaminya saat itu.

__ADS_1


" Daddy dari mana saja? Kenapa baru jam segini pulang? " tanya Geya langsung memberondong suaminya.


" Hehehe... Sorry baby, i'm late... Tadi aku ke apartemen Rouge untuk melakukan sesuatu.. " ujar Claude jujur.


" Ngapain daddy ke sana? Berantem lagi? Daddy nggak ingat umur... " suara Geya menggelegar di ruangan mansion yang sepi itu.


" Hei... Hei... Jangan marah dulu, aku ke sana untuk menanyakan sesuatu, bukan untuk bertengkar.. Sumpah aku nggak bohong... " Claude mengangkat kedua jarinya membentuk V.


" Awas kalau daddy bohong... " Geya memicing tajam mengintimidasi suaminya hingga Claude harus menelan ludahnya kasar.


Claude langsung berjalan cepat ke arah Geya dan langsung memeluk istri yang paling dia cintai di dunia ini. Rasanya beban dipundaknya yang dia bawa sejak bertemu Rouge tadi langsung menguar entah kemana. Claude menghirup aroma tubuh sang istri yang selalu menjadi candu untuknya, membuatnya bersemangat baik yang atas maupun bawah.


" Boleh.. Tapi nggak pakai lama ya dad,, takut anak-anak nanti bangun dan menangis... " Geya tersenyum centil menggoda suaminya.


" Hore... Ayo kita segera ke atas!!!! " seru Claude langsung menggendong sang istri ala bridal menuju ke kamar mereka di lantai dua.


Malam ini, malam yang dingin tapi tidak berlaku untuk Geya dan Claude yang memilih menghangatkan diri dengan main kuda-kudaan. Entah mereka selesai jam berapa karena semalaman penuh dari kamar keduanya terdengar suara alunan cinta mereka berdua.

__ADS_1


...*********...


Terhitung sejak kesepakatan yang Marisha dan Rouge buat, selama itu pula dia dan Rouge tidak bertemu, bahkan dengan keluarga Rouge pun Marisha dan kedua buah hatinya tidak bertemu


Meski Marellyn terus saja menanyakan keberadaan oma dan opanya serta uncle dan aunty nya. Namun Marisha selalu beralasan jika keluarga Rouge sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.


Jade pun sekarang sudah berusia empat bulan, terlihat begitu menggemaskan meski kenyataan kembali menampar Marisha. Menurut pemeriksaan dokter, belum ada yang bisa disimpulkan apakah Jade bisa mendapatkan donor mata. Hal ini karena Jade yang masih bayi dan juga pengobatan nya yang belum ada. Marisha hanya bisa berpasrah diri semoga suatu hari nanti Jade bisa melihat indahnya dunia.


Meski hanya berteman kan kegelapan, Jade justru anak yang tenang dan jarang sekali menangis. Hanya sesekali saja dia menangis jika sedang haus atau ketika merasa badannya kurang sehat. Selain itu Jade sangat tenang, senyumnya selalu membuat Marisha kuat dan bertahan dengan kenyataan bahwa suaminya bahkan tidak lagi peduli padanya dan anak mereka.


" Sabar ya sayang,, daddy sedang tersesat dan belum menemukan jalan pulang.. Suatu hari nanti daddy akan kembali bersama dengan kita... " ucap Marisha ketika sedang memangku Jade menatap malam yang indah dari jendela kamarnya di apartemen miliknya yang dia beli empat tahun yang lalu.


Marisha menatap ke ranjang sesekali karena ada Marellyn yang tidur disana. Kasian sekali anaknya itu karena sejak kedatangan Geya dan keluarganya kembali ke Milan, Rouge mulai tidak peduli pada Marellyn padahal dulu ketika putri mereka terlahir rouge begitu bersemangat dan sangat menyayangi Marellyn meratukan putri kecilnya itu. Menuruti semua keinginan Marellyn dan sekarang bisa dilihat, putri kecil Marisha ini sering menangis dalam diam karena rindu dengan daddy mereka.


" Aku tidak menyangka kau bisa berbuat sekejam ini bahkan kepada buah hati mu sendiri. Rouge,, apa aku yang harus aku perbuat agar kau jera dan sadar... " Marisha mengigit kuar bibirnya, tangannya mengepal karena emosinya jika mengingat tentang suaminya yang gila itu.


" Semoga suatu hari nanti kau tidak akan menyesal telah berbuat seperti ini pada ku dan anak-anak ku.." Marisha kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam saku cardigan nya, menekan nomor seseorang yang selama ini membantunya mengatasi masalahnya.

__ADS_1


" Besok jemput aku di apartemen.. Sudah waktunya aku bergerak... " setelah mengatakan itu Marisha menutup teleponnya. Matanya menatap nanar langit malam yang terlihat juga sedang mendung itu. Jika ini yang bisa membuat suaminya tersadar, maka dia akan melakukan hal itu meski nantinya dia dibenci semua orang sekaligus.


__ADS_2