
Aroma alkohol menyeruak dari dalam tubuh Rouge yang sejak kemarin sudah bermandikan alkohol di Heaven Ares, sampai membuat pemiliknya mengamuk. Mungkin sekitar empat setelah Romero mengantarkan Rouge ke kamarnya di mansion Matheo, barulah Rouge tersadar dalam kondisi mengenaskan dengan bau alkohol, acak-acakan, kepala pusing dan mual.
Romero menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya bagaimana efek alkohol membuat pria sok perfeksionis di depannya ini menjadi orang yang tidak berguna. Romero sengaja diminta menunggu Rouge sampai sadar karena membawa berita yang bisa jadi juga tidak ingin di dengar oleh Rouge.
" Lekas bersihkan tubuh mu setelah itu ikut aku ke suatu tempat.. Cepat waktumu hanya lima belas menit!!! " Romero keluar setelah mengatakan hal itu.
" Ck... Sok sekali dia... " gerutu Rouge. Kedua saudara ini memang kurang akur sejak dulu, ditambah Rouge mempermainkan Geya, semakin saja Romero kesal dan enggan dekat dengan kakaknya itu. Romero lebih senang menempel pada Galen dan mengakui Galen sebagai kakak laki-laki nya dibandingkan Rouge.
Tepat lima belas menit Rouge keluar dari kamar mandi. Sebelum menemui Romero di luar, terlebih dahulu Rouge mengecek ponsel nya yang sejak kemarin tidak dia lihat sama sekali. Begitu beberapa pesan muncul, dair Eros, Claude, papa Theo dan mama Vinda, semuanya mengirim pesan padanya. Merasa aneh, Rouge membuka pesan itu dan terkejut kala mendapat kabar bahwa istri dan kedua anaknya masuk rumah sakit.
Buru-buru Rouge bersiap dan langsung menemui Romero yang duduk manis di ruang keluarga, " Kenapa tidak mengatakan bahwa Marisha dan anak-anak masuk rumah sakit? " sentak Rouge merasa kesal dengan Romero. Andai dia tahu, dia tidak akan berlama-lama mandi dan lekas menuju ke rumah sakit.
" Memangnya kakak peduli? Sudah berapa lama kakak tidak melihat dua keponakan ku dan ipar ku itu? Bahkan mereka tinggal di mana saja kakak tidak peduli, jadi aku pikir kakak tidak butuh tahu tentang mereka.. " jawab Romero santai langsung berlalu menuju mobil yang sudah di siapkan oleh penjaga di depan pintu.
__ADS_1
" Lalu kenapa kau membawa ku ke rumah sakit jika kau berpikir bahwa aku tidak peduli? " tanya Rouge yang mengekor di belakang adik bungsunya itu.
" Yang menyuruh ku adalah mama dan papa.. Kau pikir aku mau mengurusi urusan rumah tangga mu jika bukan karena permintaan orang tua kita.. " Rouge langsung terdiam. Jika bukan karena dia sedang terburu-buru, sudah dia hajar itu adiknya.
Perdebatan mereka berakhir selama perjalanan menuju ke rumah sakit. Rouge sebenarnya ingin bertanya kondisi saat ini istri dan anaknya, tapi bertanya pada Romero hanya akan membuat dirinya emosi. Kepalanya masih sakit karena pengaruh alkohol masih ada, jadi dia menghindari hal-hal yang bisa membuat kepalanya semakin sakit.
Hampir satu jam perjalanan mereka tempuh karena jalanan yang macet. Ketika Rouge sudah hampir berada di dekat ruang operasi dimana di bagian depan ruangan itu keluarganya tengah berkumpul, dia melihat pemandangan yang membuat harga dirinya berasa direndahkan.
Seorang pria yang entah siapa Rouge tidak kenal, tengah berlutut di depan Claude dan Geya meminta bantuan agar bisa mencari pelaku penabrakan Marisha, bahkan berjanji akan membawa Marisha pergi dari kehidupan keluarga de Niels. Hei... Siapa orang itu berani berucap seperti itu seolah dia adalah suami dari Marisha. Suaminya ada disini, kenapa jadi pria itu yang repot... batin Rouge.
" Apa? Memang benar apa yang aku katakan.. Memangnya kau peduli? Tidak kan? Jadi jangan berucap disini seolah kau punya hak atas itu semua... Oh ya benar aku sampai lupa... Sebelum kecelakaan Marisha sudah mendaftarkan gugatan cerainya, jadi bersiaplah.. Aku harap kau bisa membuat keputusan yang tepat kali ini... " sarkas Geya semakin berani.
Rouge tidak menyangka bahwa Geya bisa berbicara sekasar ini padanya. Bahkan Geya terkesan tidak takut menyinggung dirinya atau keluarganya sama sekali. Terlihat dimata Rouge, suami Geya menenangkan istrinya dengan mengusap punggung Geya, membuat dirinya merasa sangat muak karena cemburu.
__ADS_1
" Sudah.. Kau itu seperti anak kecil saja berdebat hal seperti itu.. Marisha sedang berjuang di dalam sana untuk tetap bisa bertahan hidup, kau jangan membuat keributan, lebih baik berdoa ya... " Claude menegur Geya yang masih menatap sengit Rouge.
Pintu ruang operasi tiba-tiba saja terbuka dan seorang suster nampak keluar dengan tergesa-gesa, membuat semua orang bertanya tapi suster itu mengabaikan keluarga pasien. Sepertinya suster itu diminta mengambil sesuatu dan itu sangat darurat. Tak lama, suster tadi kembali dengan membawa banyak sekali kantong darah. Melihat itu Dettus langsung lemah daan terduduk dilantai meremas rambutnya.
Andai saja dia tahu, maka dia tidak akan masuk mobil terlebih dahulu tadi. Andai dia tahu, dia lebih rela dirinya yang tertabrak daripada Marisha dan Jade. Beruntung sekali Jade tidak apa-apa karena Marisha benar-benar menghalangi benturan baik dari mobil maupun tanah demi melindungi Jade agar bayi mungil itu selamat.
Sebesar itu pengorbanannya demi buah hati, sebesar itu niat hatinya ingin membahagiakan buah hatinya. Marisha jahat, tapi dia tidak pernah melalaikan tugasnya sebagai seorang ibu. Karena bagi Marisha, singa betina saja tidak akan memakan anaknya sendiri, maka dia pun begitu. Tidak mungkin dia jahat pada anak yang dia perjuangan kan kelahirannya. Biarlah dia dicap jahat, tapi dia ingin dicap sebagai ibu yang baik untuk kedua buah hatinya.
" Kak... Kuat ya.. " Geya ikut berjongkok di depan Dettus untuk menguatkan pria itu.
" Kau tahu Ge, Marisha tertabrak saat menggendong Jade. Dan apa kau tahu, bahkan Jade sekarang dalam keadaan yang baik-baik saja, hanya ada beberapa lecet karena Marisha melindungi Jade baik ketika di tabrak mobil maupun saat menghantam ke tanah. Marisha mengorbankan tubuhnya demi agar Jade baik-baik saja.. Hati ku sakit saat melihat darah begitu banyak mengelilingi mereka tapi Jade bahkan tidak terluka sedikit pun.. " Dettus menangis. Hal yang diucapkan Dettus itupun didengar oleh semua orang di sana termasuk Rouge.
Pria itu menatap kosong ke arah pintu ruang operasi dimana Marisha berjuang untuk tetap hidup. Sebegitu besarnya kah pengorbanan Marisha demi kedua buah hati mereka. Dan ya, Rouge mengakuinya. Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat bagaimana Marisha merawat Marellyn dan Jade dengan sangat tulus. Lalu apa yang dia lakukan, hanya membuat semua menjadi rumit karena hatinya yang tidak bisa tegas pada pilihannya.
__ADS_1
" Berjuanglah.. Jika kau hidup, aku berjanji akan membuat mu menjadi wanita paling bahagia di dunia ini.. Bahkan jika aku harus melepasmu agar kau bahagia...." monolog Rouge dalam hati.