DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU

DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU
Rouge gelisah


__ADS_3

Sedari pagi tadi Rouge bangun tidur, perasaannya langsung tidak enak. Entah apa yang terjadi tapi dia merasa ada yang buruk yang terjadi tanpa sepengetahuan nya. Saking merasa tidak enak, Rouge bahkan menelfon ke mansion keluarganya, dan asistennya yang mengurus perusahaan selama dia baby moon dengan Marisha. Namun tidak ada hal yang terjadi, semuanya baik-baik saja menurut keluarga dan asistennya.


" Geya... " batik Rouge menyebut satu nama wanita yang sangat dia cintai.


Rouge pun berusaha menghubungi keluarga utama, dan pilihannya jatuh pada daddy Joaquin. Karena jika dia menghubungi saudara Geya, jelas dia akan mendapatkan amukan dari sepupunya itu.


" Halo, daddy... " sapa Rouge.


" Ada apa Oge? Kenapa menelfon? Bukankah kau sedang baby moon? " tanya daddy Joaquin dari seberang.


" Apa semuanya berjalan dengan baik di sana dad? " tanta Rouge.


" Tentu saja.. Ada apa bertanya seperti itu? "


" Perasaan ku sedikit tidak enak, dan yang terlintas dipikiran ku adalah Geya. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padanya... " ujar Rouge.


" Geya baik-baik saja kamu jangan khawatir. Bukankah Galen sudah menjamin itu semua, jadi jangan khawatir... "


Setelah mengatakan hal tersebut daddy Joaquin meminta izin mematikan sambungan mereka karena ada sedikit pekerjaan yang harus dia selesaikan. Padahal kenyataannya daddy Joaquin harus segera menjadi pengiring Geya dalam pernikahan putrinya itu.


Seperti keinginan Geya, yang harus merahasiakan pernikahannya, maka daddy Joaquin pun tidak mengatakan hal tersebut pada siapapun. Saudara angkatnya saja tidak ada yang dia kabari. Biarlah daddy Joaquin hanya ingin memikirkan tentang anak-anak nya saja, tidak dengan lainnya.

__ADS_1


Rouge masih belum merasa tenang meskipun semuanya mengatakan baik-baik saja. Hatinya masih gelisah dan nama Geya yang terpatri dihatinya membuatnya tidak bisa melakukan apapun selain memandang ponselnya saja. Dia memandang foto Geya saat sedang tersenyum ketika dia yang memotret nya, kenangan yang indah namun tidak akan bisa terwujud karena pilihannya.


" Kamu kenapa sedari tadi aku lihat murung dan terus menghela nafas? Apa ada masalah di rumah, jika iya mari kita pulang saja... " tanya Marisha yang sejak tadi memperhatikan tingkah sang suami.


" Tidak ada masalah, tapi perasaan ku tidak enak. Entah karena apa aku tidak tahu... " ucap Rouge kemudian menghela nafas lagi.


" Sarapan saja dulu, mungkin setelah kau mengisi perutmu perasaan mu akan berangsur membaik.. " saran Marisha. Dan Rouge pun mengangguk mengingat Marisha sedang hamil anaknya dan dia tidak bisa membiarkan Marisha telat makan.


Keduanya makan sandwich tuna buatan Marisha. Rasanya sangat cocok dilidah Rouge dan ini salah satu nilai plus dari Marisha yang membuat Rouge memutuskan untuk bersama dengan Marisha. Menjadikan wanita yang adalah sahabat Geya ini istrinya agar Geya meninggalkan nya.


Ketika siang harinya, Rouge yang menemani Marisha tidur, tidak lagi bisa menahan perasaannya yang terus menerus gelisah. Dia pun memberanikan diri menelfon Galen namun tidak diangkat oleh pria itu. Karena saat ini Galen sedang mengobrol dengan Claude di mansion mewah milik suami Geya. Rouge pun menghubungi Gaffi, karena jika Gafar yang dia hubungi hasilnya akan mengecewakan karena pora itu emosian.


Sambungan pertama tidak diangkat, sambungan kedua juga begitu, ketika Rouge sudah putus asa di panggilan ketiga, tapi justru diangkat oleh Gaffi. Pria itu ngedumel kesal karena tidurnya terganggu. Pasalnya semalam dia dan semua saudaranya melakukan pesta lajang untuk Geya dan Claude jadilah dia tidur larut semalam, dan pagi tadi dia harus bangun pagi sekali.


" Geya sudah bahagia dengan hidupnya entah dimana pun dia berada. Jadi jangan ganggu dia atau menanyakan apapun tentangnya. Urus saja keluarga mu sendiri, hormati istri mu dan anak dalam kandungannya dengan tidak lagi perduli pada Gege... " Gaffi langsung menutup sambungan telfon mereka dan mematikan ponselnya.


Rouge putus asa, dia begitu emosi karena tidak lagi harus bertanya pada siapa untuk mengusir perasannya yang tidak enak itu. Hingga malam harinya Rouge memecahkan gelas yang dia genggam saat akan mengambil air minum.


" Geya, what happen with you.... I miss you Ge... " batin Rouge.


Melihat kekacauan yang dia buat itu, membuatnya berdecak kesal dan dengan terpaksa membersihkan pecahan gelas tadi. Marisha yang mendengar suara ribut di dapur segera melangkahkan kakinya disana dan terkejut melihat apa yang dilakukan Rouge.

__ADS_1


" Apa yang terjadi? " tanya Marisha..


" Aku tidak sengaja memecahkan gelas, bukan hal besar... " jawab Rouge datar.


" Sebenarnya apa yang kamu pikirkan sejak pagi tadi. Kamu terlihat seperti orang yang sedang memiliki beban berat. Katakan pada ku apa yang menganggu pikiran mu!! " ucap Marisha.


" Perasaan ku tidak enak sejak tadi, dan aku selalu cemas karena Gege. Sejak tadi aku mencari tahu apa yang mungkin bisa terjadi padanya tapi tidak ada jawaban sama sekali.. Semuanya merahasiakan keberadaannya dan keadaannya pada ku... " cerita Rouge.


" Kenapa kamu masih memikirkannya? Kamu yang memutuskan untuk bersama dengan ku namun kamu selalu memikirkan Geya.. Kami anggap aku ini apa dan siapa bagi mu karena kamu tidak pernah mengerti perasaan ku... " sentak Marisha emosi. Bertemu dengan orang yang mirip Geya beberapa hari yang lalu membuatnya ketakutan akan ditinggalkan oleh suaminya.


Brakk..


" Jaga batasan mu!!!! Kau sendiri yang menyerahkan tubuh mu pada ku dan aku sudah berusaha bertanggung jawab pada mu. Beraninya kau meninggikan suara mu pada ku.... " bentak Rouge tidak kalah keras.


" Bagi mu aku ini siapa? Hanya wanita yang mengandung anak mu? " tanya Marisha dengan tangis yang sudah membanjiri wajahnya.


" Ya.... Bagi ku urusan ku dengan mu hanya karena anak itu. Kau tahu betul perasaan ku... " Rouge meninggalkan Marisha yang masih menangis histeris di pantry. Rouge segera keluar dari apartemen sewaannya untuk mencari udara segar.


" Bodoh.... Bodoh... Kau bodoh Marisha,,,, seharusnya kau tidak melibatkan perasaan dalam pernikahan ini... Kau bodoh.... " tangis Marisha semakin menjadi saat dia menyadari kebodohannya yang sudah jatuh dalam pesona Rouge hingga rela dimanfaatkan pria itu.


Seorang pria berdiri di tepi jendela ruangan miliknya, menatap langit yang mendung malam ini. Asap dari nikotin yang dia hisap menyeruak keluar dari hidungnya. Pikirannya sedang memikirkan rencana yang harus dia lakukan kedepannya. Dia ingin menggenggam dengan erat apa yang sudah dia miliki saat ini. Tidak ingin berbagi dengan pria manapun apalagi hati dari apa yang dia miliki saat ini.

__ADS_1


Egois memang, tapi dia merasa bahwa apa yang dia lakukan ini adalah benar adanya. Dia telah menyelamatkan angsa yang terperangkap dalam jebakan pemburu, membuat angsa itu tidak bisa terbang bebas dan bermain bersama dengan kawanannya. Pria ini telah memberi dunia Baru pada angsa itu, dan berharap bahwa angsa itu tidak akan mengkhianatinya.


" Aku ambil segala resiko yang mungkin aku akan Terima di akhir cerita ini, namun aku pastika bahwa aku akan menjadi yang akhir dalam hidupnya... " pria itu tersenyum bahagia...


__ADS_2