DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU

DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU
Anak Rouge


__ADS_3

Jet pribadi keluarga de Niels sudah mengudara di langit selama kurang lebih delapan belas jam lamanya. Tidak lama lagi jet pribadi ini akan mendarat di bandara udara Sydney ( Kingsford Smith). Para penumpang di jet pribadi berjumlah empat orang ini lekas mempersiapkan barang-barang mereka agar nanti ketika landing tidak akan ada yang tertinggal.


Ghadi, Claude, Rouge dan Marisha, bersiap turun dari pesawat yang sebentar lagi akan mendarat. Marisha hanya berangkat bersama suaminya, karena kedua anaknya dititipkan ke mama Vinda yang dengar-dengar menginap di mansion utama karena membantu Geya merawat baby Alrescha. Daddy Joaquin dan yang lainnya akan sampai di Milan besok lusa, jadi Geya sendirian di mansion bersama Gafar yang pengetahuannya merawat bayi adalah nol besar.


" Tidak ada yang ketinggalan kan? Soalnya pesawat ini akan lepas landas lagi setelah isi bahan bakar ganti menjemput daddy dan mommy.. " tanya Ghadi yang ditunjuk sebagai ketua misi ini.


" Tidak ada.. Kenapa memakai pesawat ini lagi, milik ku pribadi kan ada? " tanya Claude heran. Kenapa tidak ada yang mau menggunakan jet pribadi miliknya yang terparkir rapi di bandara Milan. Semuanya ingin jet ini yang bertuliskan JN FAM.


" Fasilitas nya beda bro.. Kami nyaman memakai pesawat milik kami sendiri. " jawab Ghadi santai..


" Apanya yang beda? Jika seperti ini beli saja yang baru.. Kalau perlu satu orang satu jet pribadi.. " Claude ngedumel.


" Sudah Ghadi,, jangan dilawan. Pria akan bertambah cerewet seiring bertambahnya usia.. " ledek Rouge sengaja.


" Ya... Ya... Meski aku tua begini, kalian tidak lihat goyangan ku.. Anak ku sudah empat.. " tidak hanya Rouge, Ghadi dan Marisha dibuat tidak percaya ucapan Claude barusan. Hilang sudah image cool karena ternyata otaknya sama gesreknya dengan Gafar.

__ADS_1


" Mimpi apa Geya dapat suami modelan kek gini... " Marisha berucap lirih agar Claude tidak mendengarnya.


" Aduh... Pantas Geya jadi punya sifat nyeleneh, ternyata kau yang menularinya, bro.. " ujar Ghadi menunjuk Claude dengan lirikan matanya.


" Memangnya kenapa dengan my baby? Dia sekarang sudah lebih banyak tersenyum.. Itukan baik.. " sahut Claude dengan wajah tidak ada rasa bersalah sama sekali.


" Geya jadi aneh,, omongannya itu lho jadi makin rusuh.. Sebelas dua belas dengan Gafar mulutnya nggak ada filternya.. Ternyata kau yang membuatnya jadi begitu.." Ghadi masih saja menyalahkan.


Perdebatan tidak bermutu mereka selesai ketika pilot mengumumkan bahwa pesawat akan mendarat. Diharapkan penumpang memasang kembali sabuk pengaman dan bersiap mendarat. Semuanya yang tadinya ribut jadi langsung diam. dan duduk dengan baik. Sepertinya mereka juga takut mati..


" Disini ada enam kamar, kalian bisa pilih yang di lantai atas atau lantai bawah karena aku di lantai atas, jadi masih dua kamar lagi di atas dan tiga kamar di bawah.. " Ghadi langsung naik ke lantai tiga membiarkan tamunya diurus oleh pengurus tempat tinggalnya ini selama dia tidak berada di tempat.


" Dih,, bos restoran sombong amat... " cibir Rouge tapi tidak didengar oleh Ghadi.


" Ya sudah... Kita istirahat dulu, besok baru membahas masalah yang akan kita hadapi.. Toh ini sudah malam, dan aku mengantuk.. " pamit Claude berjalan ke lantai atas. Dia tidak suka tidur di lantai bawah, kebiasaan di mansion mewahnya.

__ADS_1


" Kita di kamar bawah saja ya.. Takut kalau di atas tidak ada peredam suara kan bisa gawat itu para bujang denger musik kita nanti.. " Rouge menaik turunkan alisnya menggoda Marisha.. Membuat wanita berstatus istrinya itu malu sendiri. Ternyata Rouge memiliki sifat seperti ini, Marisha baru sadar sekarang setelah empat tahun menikah.


Jam dinding menunjukkan pukul empat dini hari, seorang pria terlihat masih saja duduk di kursi kerjanya setelah tadi lembur. Tepatnya dia memang tidak bisa tidur jadi mencari-cari kegiatan yang bisa mengusir pikiran yang berkecamuk.


Dominator Penchev, seorang pria berusia tiga puluh tahun, masih lajang, dan dia adalah CEO PEN Group, perusahaan yang bergerak di bidang tekstil dan juga memiliki beberapa pusat perbelanjaan yang tersebar di Australia. Nator, adalah nama panggilannya, dan hanya keluarga saja yang bisa memanggilnya dengan nama panggilan itu karena diluar, Nator adalah orang yang sangat tegas dan tidak tersentuh. Sesuatu di masa lalu membuatnya menjadi sosok yang dingin seperti ini, tidak seperti apa yang dikenal oleh Rouge cs.


Nator memutar mutar pena yang ada di tangannya. Sejenak dia berpikir, kembali mengingat sesuatu yang membuatnya begitu hancur kala melihat wanita yang dia cintai hancur. Rasanya begitu menyakitkan di hati Nator.


Flashback.


Pomela duduk di lantai kamar mandi setelah memuntahkan semua isi di dalam perutnya. Ketika Pippin memasuki kamar Pomela, dia begitu terkejut melihat pemandangan di depannya saat itu. Pippin tidak banyak bicara langsung saja membawa Pomela ke rumah sakit karena melihat wajah Pomela begitu pucat dan juga pingsan.


Pippin tidak menyangka, saat itu, dia mendengar sebuah kabar yang sangat menyakiti hatinya. Dokter yang merawat Pomela mengatakan bahwa dia mengandung dan usia kandungannya sudah lima minggu. Jika dihitung lima minggu berarti saat acara pesta ulang tahun teman sekelas mereka dan saat itu yang terakhir bersama dengan Pomela adalah Rouge.


Pippin marah, karena dengan tidak bertanggung jawabnya Rouge. Bagaimana dia harus mengatakan ini pada kedua orang tua yang mengadopsinya. Sungguh Pippin saat itu sangat dilema. Di satu sisi dia tidak Terima karena gadis yang dia cintai dilukai oleh sahabatnya sendiri, di sisi yang lain, Pippin harus membuat Rouge bertanggung jawab pada Pomela.

__ADS_1


Karena peristiwa itu Pomela dianggap jadi gila, karena stress yang berkepanjangan. Hingga dia melahirkan anak perempuan yang kini menjadi keponakan Nator. Sejak saat itulah, Nator mulai membenci Rouge. Karena dengan tidak tahu malunya, pria itu bahagia tapi wanita yang Nator cintai jadi gila.


__ADS_2