
Kesedihan menyelimuti semua keluarga Geya yang sudah sampai ke LA sejak semalam. Dan pagi ini adalah hari dimana Claude akan memakamkan janin Geya yang tidak bisa selamat. Karena sudah masuk usia tujuh bulan, bentuk fisik janin ini sudah sempurna layaknya bayi pada umumnya. Karena itu Claude memilih agar bayi ini dikremasi baru setelahnya dimakamkan.
Kini mereka semua sudah berkumpul di rumah duka dimana janin Geya akan dimakamkan. Suara isakan tangis menyelimuti ruangan itu, bukan hanya wanita yang menangis, para pria pun juga. Semuanya menangis nasib tragis yang harus dialami oleh Keluarga Geya.
" Claude... Yang sabar.. " ujar Galen menepuk pelan pundak saudara iparnya itu. Anak meninggal dan istri dinyatakan koma untuk waktu yang tidak bisa diperkirakan kapan akan sadarnya. Apalagi anak-anak mereka masih terlalu kecil.
" Hm... Terima kasih.. " meski Claude tidak lagi menangis seperti hari-hari kemarin, tapi wajahnya begitu menyiratkan kepedihan yang mendalam. Karena jujur saja, kelahiran bayi yang akan dimakamkan ini paling dinantikan oleh Geya dan Claude. Menurut Claude, entah dijelaskan pun juga tidak akan paham, tapi kandungan Geya kali ini sangat berbeda. Claude dan Geya merasa lebih bisa merasakan perasaan dari anak itu dan sejak masih sebesar kacang hijau pun, Claude dan Geya bisa merasakan perasaan anak bungsu mereka ini.
Proses pemakaman selesai lebih cepat dari yang dijadwalkan. Proses yang hanya dihadiri oleh keluarga besar saja dan juga beberapa teman Claude. Anak-anak dari panti asuhan pun juga datang untuk menghadiri pemakaman janin Geya. Ditambah semua pekerjaan di mansion mewah Claude. Tidak ada yang tidak sedih kali ini, semuanya menangisi kemalangan dari Geya dan Claude karena kehilangan calon anak mereka.
Claude duduk termenung di jendela kamar balkonnya. Hari ini suasana hatinya membuatnya tidak bisa menjaga Geya di rumah sakit. Beruntung mommy Noura dan daddy Joaquin memahaminya dan menggantikan Claude menjaga Geya. Mereka tahu, ini pukulan terberat untuk Claude dari serangkaian masalah yang menimpa mereka.
" Tuan... " Dimitri memanggil.
__ADS_1
" Kau urus perusahaan, Dim... Mungkin untuk waktu yang sedikit lebih lama, aku akan memilih untuk tinggal di mansion ini saja.. " Dimitri menghela nafas. Memaklumi kesedihan dari tuannya ini.
" Baik tuan... " Dimitri keluar dari kamar Claude, meninggalkan tuannya yang masih asyik merenungi setiap peristiwa yang terjadi.
" Maafkan aku baby... Maafkan daddy nak, daddy tidak bisa menjaga kalian... maaf.. " Claude kembali menangis setelah menahan air mata ini selama prosesi pemakaman. Claude tidak ingin terlihat lemah di depan semua orang, padahal jelas semua orang bisa memahami apa yang Claude rasakan saat ini.
********
" Hai cantik... " pria itu mengusap pelan pipi Geya yang masih memiliki bekas luka dari kecelakaan.
" Melihat mu tidak bisa tersenyum dan marah-marah membuta hati ku sungguh sangat sakit.. Apa kau tidak berencana untuk bangun dan kembali menata hidup mu? " tanya pria itu tetap mengusap pelan pipi Geya.
" Maafkan aku, sungguh aku minta maaf karena telah membuat mu menanggung akibat dari ku yang melanggar sumpah ku sendiri.. Tapi jika kau jadi aku, apa kau akan tetap mempertahankan sumpah mu? "
__ADS_1
" Hehe... Sepertinya aku sudah nampak seperti orang gila ya, bicara sendiri.. " pria itu menggenggam tangan Geya yang dingin, berusaha menyakitkan kehangatan.
Drrttt..
" Tuan.. Keluarga de Niels sudah tiba di rumah sakit. Segera keluar dari sana.. " lapor anak buah pria ini melalui handset mini yang ada di telinganya.
" Huft... Sepertinya aku harus pamit.. Dengarkan aku Geya cantik, jika kau berhasil melawan ini semua dan kembali sadar maka aku akan memberikan hadiah spesial untuk mu.. Aku akan izinkan kau bertemu dengannya... " pria itu maju dan mencium kening Geya sangat lama.
" I Love you,, cantik ku... " setelah mengucapkan itu pria dengan pakaian dokter ini pergi meninggalkan ruangan Geya.
Pria ini berjalan dengan santai bahkan ketika dia berjalan berpapasan dengan keluarga de Niels. Tidak ada ketakutan dan hal bisa membuat orang curiga padanya, karena itu dia tenang saja berpapasan dengan keluarga Geya. Dia menengok ke belakang, setelah melewati keluarga de Niels. Menatap pintu kamar rawat Geya..
" Bangunlah cantik ku... Dia pasti senang ketika suatu hari nanti bertemu dengan mu... "
__ADS_1