
Acara ulang tahun nenek Cecil sudah selesai sejak satu jam yang lalu, namun penghuni panti tidak pergi begitu saja, mereka justru membersihkan area aula yang tadi dipakai untuk acara ulang tahun oma Cecil. Geya pun termasuk dalam penghuni panti yang ikuti membersihkan. Meski ibu Camela dan ibu Nana melarang tapi Geya tetap memaksa karena mereka tidak nyaman jika dia diam saja.
Dari kejauhan, sosok pria yang tadi tertarik dengan keberadaan Geya melihat wanita itu dengan intens. Beberapa kali mereka hampir beradu pandang, namun pria itu langsung membalik badannya lalu akan kembali melihat wanita yang menarik perhatiannya itu.
" Siapa kau sebenarnya? Kenapa rasanya aku tidak bisa tidak memandang mu.. " monolog pria itu.
" Tuan, kita harus kembali ke perusahaan karena akan ada rapat dengan klien kita. " ujar pria lain yang sepertinya adalah asisten dari sosok pria yang memperhatikan Geya itu.
" Hm... " keduanya segera meninggalkan area yayasan. Dalam pikiran sosok pria misterius ini, dia berjanji akan bertanya pada kepala yayasan tentang siapa wanita yang telah menarik perhatiannya itu.
Di dalam aula, mereka semua bahu membahu untuk membersihkan semua sisa dari pesta yang mereka adakan satu jam yang lalu. Geya beberapa kali beristirahat karena masa awal kehamilannya ini membuatnya jadi gampang lelah. Seperti saat ini dia terduduk di panggung yang tadi dia gunakan untuk pentas pianonya.
" Capek Miss? " tanya ibu Nana.
" Iya bu. Tapi tolong jangan panggil saya Miss ya. Panggil Geya saja atau Gege, bukankah saya sudah bagian dari yayasan ini?! " pinta Geya.
" Apa tidak apa-apa? Saya takut tidak sopan... " ujar bu Nana.
" Tentu saja... Panggil saya Geya atau Gege saja ya bu. Saya jadi lebih nyaman.. " lagi pinta Geya.
" Baik... Jika kau lelah, kau bisa pulang dahulu Ge.. Jam kerja mu sudah selesai sekarang.. "
" Saya tidak enak meninggalkan kalian semua. Saya juga ikut dalam pesta itu jadi seharusnya saya juga ikut membersihkan nya. " Geya menolak.
" Tidak apa-apa Ge... Kau sekarang sedang hamil, udara malam tidak akan cocok untuk mu.. " ujar bu Nana mengingatkan. Geya pun akhirnya mengangguk dan berkenan pulang.
Kondisi kehamilan Geya memang sudah diketahui oleh ibu Camela dan ibu Nana sejak pertama kali Geya datang melamar pekerjaan. Geya merasa wajib mengatakan kondisinya agar tidak ada orang yang salah paham di ujungnya. Dia harus jujur tentang kehamilannya, dengan begitu dia bisa diterima di tempat ini dengan tangan terbuka. Tidak akan ada yang menghina atau mengoloknya suatu hari nanti jika dia tiba-tiba ketahuan hamil tanpa suami.
Meski Geya harus sendiri membesarkan anak kembarnya nanti, hal itu lebih baik daripada dia menyangkal kehadiran mereka sama seperti ayah dari bayi kembar yang dikandungnya. Cukup hanya keberadaan Geya yang tidak diinginkan oleh pria yang menghamili nya, jangan anak-anak nya.
__ADS_1
___________________________________________________
Milan, Italia
Mansion utama keluarga de Niels menjadi sangat sepi setelah kepergian princess mereka. Tidak ada lagi suara teriak menggema di dalam mansion itu. Tidak ada lagi sorak sorai dan kekacauan di mansion itu tanpa putri satu-satunya pemilik Mansion. Hal ini tidak hanya dirasakan oleh para pekerja rumah tangga di mansion ini, namun juga oleh keluarga inti. Salah satunya adalah tuan dan nyonya besar mansion.
Tak jarang, daddy Joaquin dan mommy Noura terlihat melamun setelah kepergian dari putri mereka. Sampai detik ini Galen yang tahu situasi dan keberadaan dari putri mereka, masih diam seribu bahasa. Pria itu memang selalu memegang teguh janjinya, dan sialnya janji yang dia buat kali ini adalah untuk menyembunyikan putri mereka.
Suasana di ruang makan di mansion ini nampak sangat sepi. Hanya denting sendok dan piring yang beradu, sedangkan orang yang berada di dalam ruangan itu nampak diam tidak ada niat untuk berbicara. Hal yang menjadi kebiasaan penghuni mansion sejak tuan putri mereka menghilang.
" Selamat pagi... " sapa seorang pria yang masuk daftar hitam keluarga utama.
" Pagi Oge... Apa yang membawa mu kemari? " tanya daddy Joaquin. Meski didalam hatinya dia ingin sekali menghajar Rouge, namun mengingat ucapan Galen, dia berusaha menahan emosinya.
" Aku ingin mengantarkan undangan pernikahan ku paman.. " ujar Rouge meletakan sebuah kartu undangan tepat di depan daddy Joaquin.
" Baik. Duduklah ikut sarapan dengan kami.. " ujar daddy Joaquin basa basi.
" Ck.. memangnya kau belum sarapan di mansion mu..? " sarkas Gafar.
" Aku tadi buru-buru... Takut kalian sudah pergi ke perusahaan.. " jawab Rouge biasa. Dia sudah tahu sifat seorang Gafar..
Gafar hanya diam karena malas menanggapi lagi ucapan pria yang telah melukai saudarinya itu.
Mata Rouge menelisik setiap kursi yang ada di meja makan itu, merasa ada yang kurang namun belum juga tahu apa itu yang dia rasa kurang. Meski begitu Rouge mencoba cuek saja dengan perasaannya saat itu.
" Aku pamit... " Gaffi segera berdiri dan mencium kedua pipi orang tuanya, bergegas pergi dari ruang makan yang membuatnya ingin memaki Rouge. Bahkan makanannya masih tersisa banyak, tapi Gaffi seolah sudah kenyang.
" Me too.. " ganti Gafar melakukan hal yang sama dengan Gaffi.
__ADS_1
" Aku sudah selesai... Aku pamit dulu ya mom, dad, Galen, Oge.. " beberapa menit kemudian Ghadi juga menyelesaikan makannya, dan berpamitan pada keluarganya.
" Apa kegiatan mu hari ini Len? " tanya Rouge basa basi. Dia merasa beberapa perasaan yang tidak enak namun dia tidak tahu itu apa.
" Kerja... Apalagi jika bukan kerja.. " jawab Galen sewot.
" Iya... iya yang sibuk. Tapi nggak usah sewot juga kali... " ujar Rouge.
" Aku pergi mom, dad... " Galen langsung meninggalkan orang-orang yang ada di meja makan.
Setelah kepergian Galen, barulah Rouge menyadari apa yang menurutnya kurang tadi. Geya tidak ada? Tapi tidak biasanya wanita itu berangkat kerja pagi. Karena penasaran pun akhirnya Rouge bertanya.
" Dimana Geya, bibi? " tanya Rouge.
Mommy Noura dan daddy Joaquin menghentikan makan mereka setelah mendengar pertanyaan Rouge. Keduanya langsung kenyang saat itu juga, dan memilih tidak melanjutkan makan. Rouge mulai heran melihat tingkah penghuni mansion utama.
" Geya pergi... " setelah menjawab itu mommy Noura langsung meninggal kan ruang makan. Disusul oleh daddy Joaquin yang ikut berlalu dari sana menyisakan Rouge dengan segala rasa herannya.
" Mereka itu kenapa sebenarnya? " gumam Rouge heran.
Rouge memutuskan untuk segera berangkat ke kantornya. Tanpa berpamitan dia langsung pergi dari mansion utama. Namun langkahnya terhenti di balik pintu utama saat mendengar beberapa maid sedang membicarakannya dan Geya.
" Tuan Rouge itu bagaimana sih kok malah bertanya dimana keberadaan nona besar. Seharusnya beliau tahu bahwa nona besar pergi karena pernikahannya. " ujar seorang maid.
" Kau benar, kasian sekali nona besar cintanya bertepuk sebelah tangan... " yang lain menimpali.
" Apa ada yang tahu keberadaan nona besar? " tanya maid yang pertama bicara.
" Sepertinya nona besar benar-benar pergi jauh dan tidak akan pulang dalam waktu dekat.. " jawab lainnya.
__ADS_1
Jantung Rouge berderak sangat kencang saat mendengar para maid bicara. Dalam benaknya dia bertanya, ' Dimana Geya? '