
Sejak kemarin pagi, terakhir Rouge mengunjungi sang istri hingga saat ini sudah berganti hari, dan sore telah tiba. Rouge belum mengunjungi istrinya lagi. Banyak hal yang harus dia kerjakan karena ini adalah tanggung jawabnya. Meski lelah badan, pikiran dan hati, tapi sebagai orang yang bertanggung jawab Rouge tidak bisa lepas tangan. Dia menganggap ini hukuman dari keluarganya karena sempat mengacau disana dan disini.
Sore ini pun, masih ada dua tumpukan berkas yang belum dia periksa. Entah kapan akan selesai, tapi Rouge tidak ingin menundanya lagi karena takut lebih banyak waktu terbuang untuk pekerjaan dan waktu bersama istri dan kedua buah hatinya jadi berkurang. Malam ini pun, Rouge memutuskan untuk lembur dan memeriksa semua pekerjaannya.
" Vivian, tolong buatkan saya secangkir kopi lagi.. " Rouge meminta tolong pada sekretarisnya untuk membuatkan dia kopi. Terhitung sejak pagi sudah ada lima gelas, ditambah ini menjadi enam gelas kopi yang dikonsumsi Rouge sejak pagi.
" Baik Pak.. Mohon tunggu sebentar.. " sahut Vivian dari intercom penghubung ruangannya dan ruangan Rouge.
Vivian segera bangkit menuju pantry yang ada di lantai itu juga. Di pantai paling atas tepat dibawah rooftop, hanya diisi dengan tiga ruangan saja, empat dengan pantry. Ruangan CEO, ruangan asisten pribadi, dan ruangan sekretaris. Jadi sudah bisa dipastikan sebesar apa ketiga ruangan itu karena memenuhi satu lantai penuh.
Di pantry Vivian tidak sengaja berjumpa dengan Eros, asisten pribadi Rouge. Sepertinya, bukan hanya bos mereka yang butuh asupan kopi, asisten pribadinya pun membutuhkan itu. Sepertinya hari ini akan menjadi hari paling panjang untuk mereka bertiga.
" Sudah gelas yang ke berapa, Eros? " Vivian menggoda Eros.
" Hm... Oh,, coffee? Lalu kau? " bukan menjawab, Eros malah balik bertanya.
" Wanita tidak boleh terlalu banyak mengkonsumsi cafein, kau tahu aku sedang di dalam tahapan program hamil.. Ini untuk bos.. " jawab Vivian dengan tangan yang begitu terampil meracik kopi.
__ADS_1
" Pak Rouge? Lagi? Ya Tuhan, ... dia jarang makan tapi rajin minum kopi.. Sepertinya beliau benar-benar dalam kondisi yang, yah.... pasti sulit. " Eros berkomentar iba pada atasannya. Sudah sepuluh tahun, bahkan lebih, Eros mengenal Rouge karena mereka teman satu kampus. Dan baru kali ini dia melihat Rouge berasa di posisi paling tidak menyenangkan dan sangat sulit.
" Mungkin beliau kurang tidur kemarin karena harus menjaga sang istri.. Haish... Kenapa jadi begini amat hidup beliau? " Vivian geleng kepala.
Di kantor mereka, sejak dulu semua pegawai terutama pria, selalu iri pada Rouge. Dia sebagai pemimpin yang tegas, bertanggung jawab, dan memiliki dedikasi yang tinggi pada perusahaan dan karyawan. Selain itu, Rouge juga sangat loyalitas. Namun semenjak hari dimana yang semua orang pikir, bos mereka akan menikahi anak dari bos besar, namun nyatanya justru menikah dengan sekretaris nya sendiri, sejak itulah semua menjadi kacau.
Pria ini terlihat sering murung dan tidak lagi menjadi idola para wanita karena dianggap mengkhianati anak bos besar. Kepergian Geya saat itu membuat semua orang berasumsi bahwa Rouge dan Marisha berselingkuh, membuat nona besar pergi dari rumah dan tidak kembali untuk waktu yang lama.
Setelah semuanya tenang, Rouge mulai bisa menerima kehadiran anak dan istrinya meski tidak terlalu benar-benar bisa menerima, tapi itu lebih baik ketimbang awal tahun pernikahan. Tapi apa yang terjadi berikutnya, nona besar kembali pulang membawa anak dan suaminya, membuat Rouge kebakaran jenggot dan mulai bertingkah.
Andai saja semua pegawai tidak mengingat selama ini bagaimana kebaikan seorang Rouge pada mereka, mungkin sudah lama pria itu diturunkan jabatannya menjadi CEO di JN SD corp. Beruntung nya Rouge, karena semua pegawainya masih menaruh perhatian padanya dan loyal padanya karena dia pun loyal pada semua pegawainya.
" Hem... " sahut Eros yang masih asyik menikmati kopi buatannya sebelum kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Tok... Tok...
" Masuk!!! " seru Rouge dari dalam ruangannya.
__ADS_1
" Ini pak kopinya... " Vivian menyajikan kopi untk Gaffi di sisi meja yang tidak ada tumpukan berkas sama sekali.
" Kenapa lama sekali Vivian? " protes Rouge menatap tajam sekretarisnya ini. Dulu, ketika Marisha mengisi posisi ini, Vivian adalah asisten kedua Rouge setelah Eros.
" Biasa pak.. Saya jumpa Eros di pantry, jadi gosip sebentar... Hehehehe.. " Vivian nyengir kuda.
" Heleh... Kebiasaan kalian itu.. " ujar Rouge cuek. Dia sudah hapal betul dengan tingkah dua orang kepercayaannya itu. Sangat senang bergosip ketika bertemu. Kadang Rouge pun tahu jika dia yang tengah kedua orang itu gosipkan. Bukannya marah, Rouge memilih untuk mendiamkan saja. Toh itu hanya untuk mereka berdua, tidak sampai bocor ke pegawai lainnya. Itung-itung memberi hiburan pada kedua pegawainya itu agar tidak bosan.
Setelah Vivian kembali ke ruangannya, Rouge pun kembali mengerjakan tugasnya. Sesekali dia menyesap kopi buatan Vivian yang kursus selama setengah bulan pada Marisha, karena Rouge sangat ketagihan dengan kopi buatan istrinya itu. Mengingat ini membuat Rouge benar-benar merasa bersalah, karena ternyata sudah lama sekali, bahkan sejak awal, dia sangat membutuhkan keberadaan Marisha di dalam hidupnya.
" Aku jadi rindu kopi buatan mu, Sha.. Cepat bangun ya.. " Rouge tersenyum tipis.
Rouge pun segera kembali bekerja, tidak boleh larut dalam kesedihan atau pekerjaannya akan terbengkalai lagi. Dan disaat itulah, Vivian kembali masuk dengan terburu-buru, bahkan tidak mengetik pintu ruangan CEO terlebih dahulu..
" Pak... Ada telepon dari rumah sakit.. Istri anda, kondisinya memburuk... " lapor Vivian cepat, tepat dan sedikit ragu di awalnya.
Rouge sama sekali tidak mengindahkan sekretarisnya karena mendengar istrinya memburuk, lekas saja Rouge berlari keluar ruangannya dan segera menuju ke rumah sakit tempat istrinya dirawat.
__ADS_1
" Aku mohon... Aku mohon jangan tinggalkan aku, Sha.. Aku mohon... " batin Rouge panik.