
Mata Geya melotot saat melihat seorang pria yang turun dari mobil rolls royce hitam. Pria itu merentangkan kedua tangannya, kemudian langsung disambut oleh Geya yang berlari.
" Hei, don't run... " tegur pria itu.
" I miss you so much... I really miss you... " Geya terisak dipelukan pria itu.
" Me too... Semua keluarga merindukan mu Ge... " ujar pria yang memeluk Geya.
" Len... Aku sakit, Len... Hati ku sakit sekali Len... " Geya langsung mengadu pada saudaranya itu. Pria yang tiba-tiba muncul itu adalah Galen de Niels, saudara sulung Geya.
" Iya... Aku tahu Ge... Menangislah tapi di dalam mobil ya... " ujar Galen..
" Ck.. kau ini... "
Mobil Rolls Royce berwarna hitam keluaran terbaru itu langsung menuju rumah yang disiapkan Galen untuk Geya. Rumah sederhana dia lantai, tidak besar tidak juga kecil tapi sangat nyaman karena terletak di pedesaan. Meski disebut desa, tempat Geya tinggal ini merupakan desa yang maju. Penduduknya bekerja di peternakan sapi dan ayam yang ada di desa itu. Dengan begini perekonomian desa itu berkembang.
" Kau suka tempat yang aku siapkan? " tanya Galen.
" Hm... Kau selalu yang terbaik Galen.. Andai kau bukan saudara kembar ku... " suara Geya dibuat sesedih mungkin.
" Ck... Jangan mulai Ge... Kita berdua hanya akan berandai-andai saja nantinya.. " tegur Galen.
Geya tersenyum sambil memeluk lengan Galen yang duduk di sampingnya di kursi penumpang belakang. Di depan ada Thalita dan Miles, asisten pribadi Galen. Kemana pun Galen pergi, pria bernama Miles ini pasti akan ikut. Selain sebagai asisten, Miles sendiri juga merupakan bodyguard pribadi Galen.
" Kenapa kau kemari Len? Bukankah besok adalah pernikahan Rouge? " tanya Geya..
" Kau tidak senang aku kemari? Oh God... Aku terluka karena mu Ge.. " Galen mendramatisir.
" Kau itu sudah mirip apa aja bicara seperti itu... " sembur Geya yang tidak suka jika Galen bersikap lebay seperti itu.
" Kau itu aneh, aku kemari karena merindukan mu dan sambutan mu seperti terkesan mengusir ku.. " protes Galen..
__ADS_1
" Bukan begitu, tapi besok kan pernikahan Rouge, memangnya kau tidak datang? Daddy dan Mommy gimana? Mereka tahu kamu kemari? " tanya Geya beruntun.
" Ge, tanya itu satu-satu... "
" Kita sudah sampai tuan, nona besar.. " Miles menginterupsi karena mobil yang mereka tumpangi sudah sampai ke tempat tujuan.
" Thanks Miles... " Geya berterima kasih saat Miles membukakan pintu untuknya.
" Dengan senang hati nona besar... " Miles menunduk hormat.
Geya langsung masuk kamarnya membersihkan diri, sedangkan Galen menuju dapur untuk membuat kopi hitam. Dia sudah kecanduan kopi dan rokok jadi jika terlambat dari jadwal dia mengopi dan merokok pasti mulut Galen terasa sangat masam, dan dia benci itu.
Galen duduk di mini bar, menatap sekelilingnya, dia kagum karena Geya mendekor bagian dalam rumah mereka dengan tema vintage, salah satu favorit mereka berdua. Mata Galen menatap banyaknya vas bunga di ruangan itu, setahunya Geya tidak hobby menghias tempatnya dengan banyak bunga, dia lebih senang bunga itu di tanam. Lalu ini semua bunga Geya dapat dari mana, itulah pertanyaan Galen.
" Thalita... " Galen memanggil Thalita.
" Iya tuan muda. Apa ada yang bisa saya bantu? " Thalita bersikap hormat.
" Itu bunga-bunga Geya yang beli? " tanya Galen menunjuk bunga-bunga di vas dengan dagunya.
" Jangan itu.. itu terus... Geya yang beli atau bukan? " Galen bertanya sekali lagi.
" Bu... bukan... Itu dari pengemar rahasia nona besar... " ujar Thalita jujur.
Mulut Galen langsung terbuka saking shocknya. Baru dua minggu Geya di Los Angeles tapi si bungsu itu sudah memiliki pengemar rahasia. Galen sungguh tidak percaya, bukan mengatakan adiknya itu jelek hanya saja cepat sekali prosesnya... Itulah pikirnya.
" Len... Lalat nanti masuk ke dalam mulut kamu.. " tangan Geya tergerak menutup mulut Galen..
" Kau punya penggemar rahasia? " tanya Galen to the point.
Geya melotot menatap Thalita yang sudah membongkar rahasianya. Dengan ini pastinya Galen akan memperketat penjagaan untuknya. Thalita seperti tidak tahu saja kalau Galen itu adalah pria yang overprotective jika berurusan dengan saudara perempuannya.
__ADS_1
" Ge jawab? " ujar Galen menuntut jawaban dari Geya.
" Len, aku itu merindukan mu... Kenapa kau malah membahas hal yang tidak penting begini? Seharusnya kita itu melakukan kegiatan sama-sama demi melepas rindu... " Geya berusaha untuk mengganti topik pembicaraan.
" Jangan mengganti topik Ge!! " tegur Galen.
" Iya. Aku punya penggemar rahasia, tapi aku rasa dia adalah orang yang bekerja di yayasan tempat ku bekerja. Jadi orang itu pastilah bukan orang jahat. Dia bahkan mengirimi ku makanan yang biasanya diidamkan ibu hamil... "
" Ya... setiap orang yang niatnya jahat pasti diawal itu pada baik Ge... Masak gitu aja kamu nggak ngerti sih.. "
" Nggak setiap orang gitu ya, Len. Banyak kok orang yang baik, sekarang ini aku merasakan tinggal dan hidup di lingkungan yang baik. "
" Ck.... Bodolah... " Galen ngambek...
Geya tersenyum melihat cinta keduanya itu ngambek. Rasanya sudah lama sekali Geya tidak melihat sisi Galen yang seperti ini. Geya bersyukur Galen selalu menjadi orang yang paling depan membelanya. Bagi Geya, Galen adalah harta berharga yang tidak akan Geya tukar dengan apapun.
" Udah deh nggak udah ngambek... Malu sama umur Len... " ledek Geya... Galen masih tetap diam, melanjutkan ngambeknya.
Geya berjalan ke dapur, membuat menu olahan yang akan dia dan semuanya makan malam ini. Geya memang princess yang mandiri. Meski dimanja oleh semua keluarganya, Geya tetap lah mandiri jika dia dihadapkan dengan situasi yang menuntutnya mandiri.
Pernah hidup di dunia luar tanpa embel-embel nama keluarga selama lima tahun. Membentuk pribadi mandiri Geya. Hingga sekarang pun, memasak dan mencuci adalah hal biasa baginya.
" Ge, kamu kerja ya? " tanya Galen yang baru saja ingat tadi Geya bilang bekerja di yayasan.
" Hm... Kenapa? " Geya balik bertanya.
" Kenapa musti kerja sih? Kenapa nggak di rumah aja. Kamu hamil muda Ge, pasti ada kalanya kamu tumbang. Ini malah kerja cari penyakit kamu... " sembur Galen.. Dia menyediakan semua sarana dan prasarana Geya selama di Los Angeles. Bahkan uang pun Galen kirimkan tiap satu minggu sekali dalam jumlah yang besar. Uang itu bahkan cukup untuk Geya hidup sebulan.
" Justru kalau aku di rumah cepet bosen Len. Nggak gerak malah sakit semua badan aku. Lagian kerja di yayasan itu enak kok, cuma jadi pianis aja. Aku kerja bukan karena kekurangan uang, tapi karena aku itu nggak mau cuma duduk aja nggak ada kegiatan. " terang Geya tidak ingin Galen salah paham.
" Kamu kan bisa shopping atau jalan-jalan keliling Los Angeles biar nggak bosen Ge. Kenapa juga kerja.. " Galen masih tidak Terima.
__ADS_1
" Pokoknya aku kerja, nggak pakai protes titik Len... " Galen hendak mengeluarkan bantahan terdengar suara berisik dari luar...
" Permisi.... Paket.... "