
Terhitung hari sudah berganti, dan kini Rouge dan Marisha terlihat masih tertidur dengan keadaan polos. Semalam mereka merayakan hubungan mereka yang kembali membaik dengan bercinta hingga pagi hampir menjelang. Marisha begitu bahagia karena Rouge terus mendekatkan namanya selama sesi percintaan mereka. Membuat wanita berumur dua puluh lima tahun ini merasa bahwa dia merupakan wanita yang paling beruntung di dunia ini karena bersuamikan Rouge.
Beberapa maid bahkan mama Vinda mengetuk pintu kamar Rouge dan Marisha, namun tidak ada tanda-tanda bahwa pemilik kamar sudah bangun. Dengan terpaksa semua keluarga menikmati sarapan lebih dahulu meninggalkan pasangan yang masih bergelung dengan selimut.
" Ma.... Masalah Oge sama istrinya sudah selesai? Semalam aku mendengar suara-suara merdu mereka berdua.... Dan tolong katakan pada Oge untuk memasang peredam suara di kamarnya. Kasian nanti telinga adik ku yang polos ini... " Roseline langsung memeluk dan mencium pipi si bungsu.
" Ck... Kau bilang aku polos!! Aku bukan kak Ghadi yang sudah sebesar itu tapi masih tidak tahu bagaimana cinta itu... " Romero protes karena tidak Terima dibilang polos oleh kakak perempuannya ini.
" Hei... Kalian berdua itu berhenti berdebat, kita sedang sarapan... " papa Theo pusing sendiri melihat perdebatan tak an faedah dari anak-anak nya.
Roseline dan Romero langsung kicep jika sudah papa Theo yang bicara. Bisa-bisa mereka berdua nanti kena hukuman dari papa mereka karena masalah ribut di meja makan. Sarapan pun akhirnya selesai dengan tenang dan damai.
" Rose.. Apa kamu sudah dapat kabar tentang Geya? " tanya papa Theo. Roseline dan Geya memang sangat akrab sejak kecil, sehingga biasanya Roseline akan menjadi tempat curhat Geya.
" Belum dad... Aku udah berkali-kali datangi Galen juga itu orang diam aja nggak mau ngomong sama aku dad. " jawab Roseline.
" Sebenarnya kenapa ya Geya pergi? Kalau cuma karena Oge menikah bukankah hal itu terlalu sederhana.. Yah walaupun Geya sudah cinta sana Oge dari masih sekolah dulu... " mama Vinda mengatakan pendapatnya.
" Aku juga heran ma... Terakhir aku ketemu Geya itu dia terlihat sedang nggak baik. Waktu aku tanya kenapa, Geya cuma bilang dia terlalu lelah dengan semua keadaan.... Lagian... " Roseline tampak melihat ke sekitar sebelum melanjutkan ucapannya. " Oge juga keterlaluan, ma, pa, masa cuma mau minta Geya stop cinta sama dia aja sampai manfaatin Marisha... "
" Mama udah nggak bisa ngomong gimana-gimana Rose... Mama aja kaget waktu Oge bilang mau menikah sama Marisha.. Tapi pas mama tanya apa alasannya, dia cuma bilang pengen tanggung jawab... "
Obrolan ketiga orang ini pun semakin merambah kemana-mana, bahkan saat Rouge mencuri dengar di balik pilar pun tidak ada yang menyadarinya.
Saat tadi Rouge turun dari lantai dua, hendak ke dapur mengambilkan makanan untuknya dan sang istri, tanpa sengaja dia mendengar papa Theo menyebut nama Geya. Sontak dia berhenti sebentar ingin mendengar apakah ada petunjuk keberadaan Geya atau tidak. Karena sejujurnya, Rouge begitu merindukan sosok Geya yang selalu merecokinya.
__ADS_1
Rouge pun berlalu dari persembunyiannya saat melihat ada maid mendekat ke arahnya. Rouge pun melanjutkan tujuan awalnya yang ingi mengambil makanan dan membawanya ke kamar. Dalam perjalanan kembali ke kamar, pikiran Rouge masih terus berfokus pada Geya. Bahkan ketika disapa maid yang keluar dari kamarnya pun Rouge diam saja.
Rouge menyuapi Marisha karena istrinya terlalu lemas dan lemah karena ulahnya semalam. Meski merasa tidak enak, tapi Rouge berusaha tidak peduli karena baginya itu adalah tugas dari Marisha. Mengurusi semua kebutuhannya termasuk kebutuhan ranjang.
" Sha... Nanti siang aku mau keluar dulu. Ada klien pengen ketemu di luar. Mungkin sore aku baru pulang nanti... " ucap Rouge di sela acara makan mereka.
" Hm... Bisa nggak nanti pas pulang beliin pizza di deket mall XX. Tapi aku minta yang toppingnya coklat dan strawberry... " pinta Marisha.
Uhukk... uhuk... uhuk...
Rouge tersedak makanannya ketika mendengar ngidamnya sang istri. Pizza dengan topping coklat dan strawberry... Rasanya bagaimana itu pikir Rouge tidak bisa membayangkannya.
" Emang enak, Sha? " beo Rouge tidak bisa lagi menahan mulutnya untuk bertanya.
" Enak lah.. ini anak kita yang request kok... " Marisha nyengir kuda. Dan Rouge pun terpaksa menuruti keinginan sang istri karena tidak ingin nanti anaknya lahir ileran..
Sesampainya di lantai yang dikhususkan untuk CEO dan kedua orang kepercayaannya,, terlihat asisten dan juga sekretaris Galen tengah sibuk di meja mereka masing-masing. Pria tadi pun mendekat dan bertanya keberadaan Galen saat ini pasa sekretaris Galen.
" CEO kalian ada? " tanya pria itu.
" Eh tuan.... Ehm... Tuan muda ada di dalam tuan,, tapi tadi beliau berpesan tidak ingin diganggu. " ucap sekretaris Galen. Karena tepatnya satu jam yang lalu Galen berpesan bahwa dia tidak ingin diganggu sampai nanti waku pulang kerja.
" Aku masuk... Biar nanti aku yang urus masalah dia marah atau nggak.. " pria itu memaksa masuk. Meski sekretaris Galen melarang pun, pria itu nekat masuk.
" Tuan muda maafkan atas kelancangan saya. Tapi tuan muda Rouge memaksa masuk tuan.... " sesal Sekretaris Galen.
__ADS_1
" Nggak apa, kamu kembali saja urus pekerjaan kamu.. " Galen meminta sekretarisnya kembali bekerja.
Galen menatap Rouge sengit, karena saudara sepupunya yang satu ini terus saja mengganggunya sejak Geya meninggalkan Milan beberapa bulan yang lalu. Rasanya Galen ini menghilangkan Rouge saja agar tidak mengganggunya lagi.
" Kamu itu ngapain sih ke sini? Aku sibuk Oge... " ucap Galen sinis.
" Give me ten minutes, Len. Setelah itu aku akan pergi.. " ujar Rouge.
" Oke... Silahkan kamu mau ngomong apa.. Sepuluh menit aja,, nggak lebih.. "
" Dimana Gege, Len? " tanya Rouge entah sudah keberapa kalinya dia bertanya hal ini pada Galen. Wajah Galen sampai masam karena pertanyaan Rouge selalu sama dari waktu ke waktu.
" Ngapain kamu cari Gege? Kalau pun Gege ada disini kamu mau apa? Bilang kamu cinta dia tapi nyatanya kamu menikahi wanita lain, sahabat baik Gege sendiri lagi... Oge, Gege pergi itu karena semua luka yang kamu berikan padanya. Jangan memaksanya kembali apalagi menemui sumber dari setiap luka dalam hatinya. Kasih Geya kesempatan untuk memperbaiki hidup dan hatinya setelah kamu mencampakkannya. Aku yakin dia akan pulang sendiri tanpa dipaksa jika hatinya sudah baik-baik saja... " ujar Galen panjang lebar.
" Aku pengen menjelaskan semuanya sama Gege, Len... Please.. " Rouge memelas, berharap Gapek akan kasian padanya. Tapi nyatanya saudara kembar Geya ini hanya menampilkan wajah datar melihat Rouge memelas.
" Hari dimana Geya datang ke kantor mu sebelum dia menghilang, kenapa kamu nggak menjelaskan semuanya saat itu juga? Apa karena ada Marisha disana dalam keadaan tanpa busana karena ulah mu? Atau karena saat itu kau terlalu berhasrat sampai lupa perasaan Geya pada mu? " sarkas Galen menatap sinis Rouge.
Rouge langsung mengusap wajahnya kasar mendengar sarkasan dari Galen ini. Galen 5ahu semuanya, bahkan mungkin apa yang Galen ketahui sudah sampai ke rahasia dan alasan yang dia tutupi hingga menikahi Marissa. Rouge pun pergi keluar dari ruangan Galen sebelum waktu sepuluh menitnya habis..
...Oi... Oi.... Seneng nggak kalau aku up dua kali sehari๐๐๐... ...
...Aku lagi rajin banget ya belakangan ini,,, hehehe.. ...
...Terus dukung semua karya ku ya,,, agar kedepannya bisa lebih baik lagi... ...
__ADS_1
...selamat membaca...