
Perdebatan antara Geya dan Rouge rupanya terbawa sampai ke mansion utama. Rouge merasa bahwa kali ini adalah waktu yang tepat mengajak Geya bicara karena semua penghalang tidak sedang berada di mansion utama. Karena itu ketika Geya masuk ke mansion, Rouge mengikutinya dan sekarang mereka tengah berada di halaman belakang asyik berdebat.
Geya beberapa kali membentak Rouge, tapi si pria usil ini sama sekali tidak membalas. Bahkan terlihat beberapa kali Rouge memegang tangan Geya, memeluk Geya dan hampir mencium Geya meski berulang kali juga Geya menghindar.
" Sampai kapan kau akan mengungkit kisah lama yang sudah berakhir? Kita sekarang sudah sama-sama memiliki keluarga, dan ingatlah bahwa anak dan istri mu, terutama putra mu begitu memerlukan perhatian mu. Tapi lihat apa yang kau lakukan, kau justru menguntit ku... " sentak Geya mendorong tubuh Rouge yang hendak memeluknya.
" Ge, sebentar saja... Izinkan aku memeluk mu Ge.. Aku sangat merindukan mu... " ucap Rouge dengan wajah yang memelas.
" Ck... Peluk... peluk... nggak... Rindu apaan coba... Rindu kepala mu itu... Udah sana pulang... Aku malas meladeni tingkah gila mu itu.. " Geya langsung berbalik badan dengan niatan masuk ek mansion. Namun ucapan Rouge membuatnya berhenti melangkah.
" Ge,, apa benar tidak ada sedikit saja tempat bagi ku di dalam hati mu dan hidup mu? Benarkah semua yang terjadi selama bertahun-tahun yang lalu, hanya sebuah angin lalu bagi mu? " tanya Rouge. Sebenarnya sudah sejak tadi Geya menjawab pertanyaan ini, tapi entah mengapa selalu saja Rouge mengulangi nya.
" Oge... listen carefully... Bagi ku, antara kita sudah berakhir sejak kau memilih untuk bersama dengan Marisha. Kau tahu betapa hancurnya aku ketika melihat mu bersamanya, apalagi ketika kau dengan tegas menyatakan aku hanya sepupu mu dan tidak lebih... " Geya berbalik menatap Rouge. Menceritakan perasaannya saat itu sebenarnya begitu melukai Geya, tapi biarlah yang penting Rouge tidak akan mengganggunya lagi setelah ini.
" Sakit Oge.. Really hurts, sampai aku nggak bisa bernafas. Aku pergi karena tidak akan ada yang bisa aku dan kau lakukan apalagi kau sudah mengumumkan akan menikahinya. Apa kau ingin aku dicap menjadi seorang pelajar? Atau dicap sebagai wanita murahan yang menginginkan pira beristri? Sehina itukah aku dimata mu? " ujar Geya dengan wajah sendu.
Degh...
__ADS_1
Rouge termenung ditempat.. Kata ' sehina itukah ' membuat tubuhnya menegang. Sungguh Rouge saat itu memang berniat mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Marisha. Tapi dia sama sekali tidak ada niatan untuk melepaskan Geya dari sisinya. Rouge ingin memiliki keduanya, lalu sekarang Geya mengatakan bahwa dengan begitu tidak ada bedanya Geya dengan wanita murahan yang hina.
Belum sempat Rouge berucap untuk menanggapi ucapan Geya, sebuah botol air tiba-tiba melayang ke arahnya mengenai dadanya yang bidang itu.
" What did you do to my mom? " Quon berteriak langsung mengambil tempat di antara Geya dan Rouge.
" Go.... Stay away from my mom... Get out of here!!!" Quon berteriak kemudian maju dan memukul kaki Rouge.
Daddy Joaquin yang sudah terbebas dari rasa terkejutnya langsung berlari mengambil Quon dari depan Rouge. Khawatir jika keponakannya ini justru memukul Quon karena berlaku kurang sopan..
" Pergi... Jangan pernah ganggu my mom...!!! " usir Quon.
Jujur Geya sangat terkejut, saking terkejutnya dia tidak bisa mencegah putranya marah-marah pada Rouge. Geya tahu bagaimana sikap Quon, anak laki-lakinya ini sangat tenang, jarang komplen tentang apapun yang sudah Geya dan Claude atur untuknya. Tidak banyak bicara dan sangat baik dari sikap ataupun tutur katanya. Jadi jika melihat Quon seperti ini jujur saja ini baru pertama kalinya bagi Geya.
Sekarang ini Geya sedang berada di kamar kedua buah hatinya. Geya merasa Quon sedikit keterlaluan apalagi putranya ini bersikap tidak sopan pada Rouge. Apakah Quon akan tetap melakukan itu jika tahu siapa Rouge sebenarnya? Benak Geya terus bertanya-tanya.
" Quon... Sayang itu tadi tidak sopan... Berlaku dan bertutur kata pada yang lebih tua itu harus sopan prince.. Apa kau tahu kesalahan mu? " ujar Geya menyidang putranya.
__ADS_1
" I know mom, but i have no regrets. Aku nggak suka dengan pakan itu mom.. " jawab Quon terkesan tidak menyesal memang.
" Tapi sayang itu tidak baik.... Bukan masalah kamu menyesal atau tidak tapi mommy dan daddy tidak pernah mengajarkan kamu untuk bertindak tidak... "
" Daddy berpesan pada ku untuk menjaga mommy dan Quella selama daddy pergi. Ini adalah bentuk cara ku menjaga mommy, karena aku tahu paman tadi bukan orang baik dan niatnya juga tidak baik... " ucap Quon langsung memotong ucapan mommy nya.
Inilah kekurangannya kalau memiliki anak yang dewasa lebih dari umurnya. Seperti Quon yang selalu bisa menyanggah apapun yang dikatakan Geya karena memiliki pikiran yang dewasa jauh diatas umurnya. Bacaan yang dibaca oleh Quon juga merupakan buku-buku pengetahuan yang sudah dipelajari oleh anak usia belasan tahun.
Quon sangat jenius sehingga dia bisa menafsirkan sendiri apa yang tersirat dalam sebuah buku. Jika pun dia memiliki kendala dia akan bertanya apa daddy nya atau mommy nya. Dan jika Quon menemukan apa yang diucapkan orang tuanya salah, maka Quon akan kekeh pada pendapatnya.
Geya menarik nafas kemudian meninggalkan putra dan putrinya yang sudah tidur siang. Geya bingung bagaimana mengubah pendapat Quon tentang Rouge. Bagaimana bisa Geya membiarkan jika putrinya membenci seseorang yang merupakan ayah biologisnya.
Geya bingung bagaimana menjelaskan semua duduk perkara yang terjadi padanya ini kepada putranya. Selain Quon yang masih kecil, Geya juga tidak mungkin mengungkap rahasia yang dia dan semua orang terdekatnya rahasiakan. Sungguh Geya begitu dilema sekarang, andai ada Claude disisinya, Geya pasti sudah bermanja-manja.
" Gimana pembicaraan kamu sama Quon, Ge? " tanya daddy Joaquin yang berdiri di depan pintu kamar cucu nya.
" Dia masih kekeh bahwa Rouge pantas mendapatkannya. Aku jadi bingung daddy harus berbuat bagaimana agar anak itu tidak membenci Rouge... " keluh Geya.
__ADS_1
" Hm... Bagaimana pun keduanya memiliki darah yang sama. Jadi sudah pasti tidak baik jika salah satunya membenci yang lain... Tapi sebenarnya apa yang membuat mu menyembunyikan ini semuanya Ge? " tanya daddy Joaquin penasaran. Sudah sejak lama ingin bertanya, hanya saja karena takut membuka luka lama Geya, daddy Joaquin baru berani bertanya sekarang.
Bukannya langsung menjawab, Geya malah justru tersenyum menatap daddy nya. Bisakah dia mengungkap alasannya? Apakah daddy Joaquin bisa menerima alasan yang selama ini mendasari perbuatannya.