
BRRAAKK
Pintu yang ada di sisi samping ruang VIP tempat dimana Claude tengah mendengarkan cerita dari Nator, terbuka lebar dan terlihat beberapa orang yang Nator kenal masuk tanpa permisi terlebih dulu. Belum lagi raut wajah ketiga orang itu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
" Kau salah paham... Kejadian yang sebenarnya tidak seperti itu.. Di dalam mobil itu juga ada Marisha, bukan hanya aku dan Pome saja.. Lagipula bukan aku yang mengantarkan Pome pulang ke rumah.. " ujar Rouge dengan nafas memburu sehingga dia begitu terenggah. Seperti baru saja berlari jarak jauh untuk bisa sampai di sana.
" Apa maksudnya ini? "tanya Nator tidak percaya melihat dan mendengar apa yang ada di depannya kini.
Pertama, Nator tidak menyangka pembicaraannya dengan Claude didengar juga oleh ketiga orang ini. Kedua, pernyataan yang Rouge katakan, jelas itu tidak bisa dipercaya karena saat itu Nator sudah menyelidiki nya. Tidak ada Marisha di mobil itu, dan terlihat jelas di rekaman CCTV, Rouge membantu Pome masuk ke dalam, duduk di kursi penumpang depan.
" Jangan bercanda.. Aku melihat semua itu di CCTV yang ada di clubs.. Kau mengantarkan Pome pulang, kalian terlihat memasuki mobil yang sama.. " Nator sudah berdiri menunjuk wajah Rouge dengan raut kesal dan marah. Bisa-bisanya Rouge masih mengelak setelah ada bukti konkret.
" Maafkan aku ikut campur masalah ini.. Clubs? CCTV? Apakah ini adalah clubs milik Galen? " tanya Ghadi, langsung diangguki oleh Rouge, " Berarti perlu kalian tahu jika semua CCTV di CLubs milik Galen itu bergerak, berputar searah dengan jarum jam. Dalam artian, apa yang kau lihat itu bisa jadi hanya sepenggal dari kejadian seluruhnya.. " terang Ghadi yang memang tahu sistem keamanan di clubs milik Galen itu dibuat oleh pemiliknya sendiri dan berbeda dari yang lain.
" Kalau kau ingin melihat kejadian secara lengkap, kau harus melihat CCTV lain yang juga ada di tempat itu karena semuanya terhubung.. " Ghadi menambahkan.
" Kenapa bisa begitu? " tanya Claude heran.. Aneh sekali menurutnya sistem yang Galen buat.
" Untuk menghindari jika satu CCTV sistemnya dihapus, maka masih melihat dari CCTV lain yang saling terhubung jika videonya disatukan.. Kalian jelas tahu siapa Galen? Pasti bisa menebak jalan pikiran anak itu.. " semuanya terdiam mendengarkan penjelasan dari Ghadi.
Nator pun terdiam, karena jika benar apa yang diucapkan oleh Ghadi, maka kebenaran yang dia miliki bisa dipatahkan. Sedikit tidak percaya, tapi kalimat terakhir Ghadi mampu membuatnya percaya karena dia pun mengenal Galen dan paham apa yang bisa dilakukan oleh orang itu.
__ADS_1
" Cara membuktikan ucapan mu? " Claude berucap memecahkan keheningan yang terjadi karena semua sibuk dengan pikiran masing-masing.
" Telepon saja Galen jika begitu.. Dia pasti mau dimintai tolong.. " Ghadi mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi Galen.
Sayangnya di dering yang kelima pun, ponsel Galen sama sekali tidak diangkat. Mungkinkah pria itu sedang sibuk atau justru sudah istirahat karena perbedaan waktu disini dan di sana.. Ketika hendak menutup panggilannya, justru dari sana sudah terhubung.
" Mana Galen? " tanya Ghadi langsung setelah pihak sana menjawab tapi dia tahu itu bukan suara Galen.
" Katakan padanya untuk menjawab telepon ku sekarang, bilang saja misi level S.. Segera atau kau akan aku buat bekerja di resto ku.. " ancam Ghadi ketika asisten Galen justru menolak untuk memenuhi keinginan Ghadi. Tapi ancaman bekerja di restonya, mampu membuat asisten Galen ketakutan.
Lama menunggu, karena Ghadi tidak menutup teleponnya, suara dari saudaranya mulai terdengar Dengan segera Ghadi menyampaikan apa urusannya agar Galen tidak marah karena diganggu ketika sedang bekerja.
" Len,, jawab saja ya aku Loudspeaker. Apa sistem CCTV di semua clubs milik mu itu berotasi? " tanya Ghadi to the point.
" Kau yakin dengan jawaban mu? " Ghafi seolah bisa membaca pikiran Nator.
" Ck.. Tentu saja aku yakin.. Sistem itu aku yang membuatnya sendiri.. Kenapa kau bertanya begitu? Meragukan kemampuan ku? Apa mau mu? " Galen mencerca dengan banyak pertanyaan sekaligus.
Glugg. .
Semua yang ada di ruangan itu langsung menelan lidah mereka kasar tidak terkecuali Nator yang ketika masih sekolah dulu sering mendengar peringai Galen. Iblis berwajah malaikat, adalah julukan Galen sejak dulu.
__ADS_1
" Hei... Sabar... Jangan marah dulu... Ekhem... Ekhem... Begini ya, bisa kau ceritakan rekaman CCTV dari empat belas tahun yang lalu, tepatnya n CCTV parkiran di Heaven Ares, Milan?! " pinta Ghadi dengan suara yang pelan dan lembut.
" Hm... Tunggu aku kabari.... Lima belas menit.. " ucap Galen datar dan langsung mematikan panggilan.
Huft....
Serempak semua orang di ruangan itu menghela nafas. Jika mood Galen jelek, sungguh sudah pasti misteri masalah ini tidak akan terpecahkan. Sambil menunggu Galen memberikan infonya, Marisha berniat menjelaskan sesuatu yang hanya dia dan Geya ketahui tentang rahasia Pomela saat masih di sekolah dulu.. Rasanya Pippin harus tahu agar tidak semakin banyak salah paham diantara mereka.
" Ehmmm.. Pippin, eh maksud ku.... Nator... Ada hal yang ingin aku katakan, ini tentang Pome.. " ucap Marisha sedikit gugup. Pria di depannya ini sangat lain dari yang dulu menjadi teman sekelasnya. Sepertinya, waktu mengubah seseorang dengan sangat cepat.
" Apa? " sahut Nator ketus.
" Jika kau menganggap Pome suka para Oge, maka kau salah besar. Pome awalnya memang suka tapi karena tahu bahwa Geya menyukai Oge jadi dengan lapang dada Pome mundur dari persaingan itu.. Aku sadar tidak pantas bicara ini, karena aku lah yang memisahkan Oge dan Geya... Tapi selain aku, Geya pun tahu bahwa saat itu, Pome berkencan dengan pria lain yang berasal dari keluarga terpandang. " cerita Marisha.
" Jangan bohong Kau!! " hardik Nator, " Pome selalu mengatakan pada ku keluar dengan Rouge.. " lanjutnya.
" Itu karena Pome tidak ingin kau marahi.. Tapi aku tahu bahwa dia berkencan dengan pria lain, bukan Rouge. Tanya Geya jika tidak percaya. Saat itu Geya merasa tidak enak karena membuat cinta Pome harus kandas... "
" Aku tidak percaya pada mu.. Seorang wanita uang mengubah dirinya menjadi rubah dan membuat sahabat sendiri menderita, apa yang bisa aku percaya dari mu? " sarkas Nator.
Marisha tidak mau kalah ketika Nator dengan terang-terangan mendebat dirinya. Memang kenyataannya seperti itu, dan itu tidak ada sangkut pautnya dengan dosa yang dia miliki. Rouge sebenarnya tidak suka ketika istrinya dipojokan seperti ini bahkan dihina dengan kata-kata yang kasar, tapi disini dia tersangkanya jadi tidak ada yang bisa dia katakan..
__ADS_1
" STOOOOOOPPP.... Galen menelepon.. " Ghadi langsung menghentikan perdebatan itu, dan semua orang langsung diam menunggu kabar dari Galen.