
Mata Quella membola ketika melihat siapa yang ada di depan pintu kamar rawat daddy nya. Seorang pria tampan, dengan kulit tan, dan rambut pirangnya meski dipotong cepak. Pria itu tersenyum menatap Quella, membuat hati Quella berdesir melihat senyum yang sangat mempesona itu. Dalam hati Quella bertanya, siapa pria di depannya ini.
" Shounen? " panggil daddy Claude melihat pria muda yang berada di pintu.
" Hai om... Gimana kondisi om? Ehem... Permisi nona cantik, boleh saya masuk.. " Quella tersentak. Lamunannya buyar saat mendengar deheman pria di depannya ini.
" Ah... Iya... Maaf,, maaf... Silahkan masuk... " Quella mempersilahkan pria di depannya ini masuk. Dilihat dari pakaian yang dikenakannya, sepertinya pria ini juga pasien rawat di rumah sakit ini.
" Aku kira kau akan datang malam nanti.. " ucap daddy Claude senang sekali melihat pria muda yang sejak semalam menjadi teman seperjuangannya.
" Hahahaha... Oh ada makanan... Apa om tidak akan memakannya? Boleh kah untuk ku? " tanya Shouken langsung maju menuju ke nakas di samping ranjang Claude.
" Kau belum makan? "
" Belum om.. Makanan di rumah sakit, i hate it.... Boleh aku makan ini? " sepertinya Shouken tidak sabar ingin segera memakannya.
" Of course.. Masakan ini sangat baik untuk jantung karena istri ku yang memasaknya. " ucap Claude bangga.
" Benarkah.. Kalau begitu aku akan memakannya.. " Shouken terlihat beberapa detik saja nampak sedih. Setelahnya dia kembali tersenyum meski terlihat senyum itu senyum yang membawa duka.
" Siapa dia dad? " bisik Quella setelah bisa menguasai dirinya agar tidak terpesona dengan pria di depannya ini.
" Dia juga pasien di sini.. Kasian sekali dia, jantungnya memiliki kelainan sejak kecil.. " bisik daddy Claude.
__ADS_1
Melihat Shouken makan dengan lahap, membuat hati daddy Claude miris sekali. Andai saja anaknya masih hidup, mungkin dia akan sebesar Shouken saat ini. Melihat Shouken, selalu mengingatkan dirinya pada sang anak yang telah meninggal dunia bahkan sebelum melihat indahnya dunia ini.
" Enak ya? " tanya daddy Claude begitu terheran-heran melihat Shouken makan dengan lahapnya.
" Hm.. Sangat enak.. " jawab Shouken dengan mulut yang penuh dengan makanan.
" Hahahahahaha... Apakah kau tidak pernah makan makanan yang enak? " sindir daddy Claude dengan nada bicara penuh canda.
" Hahahahaha... Makan enak sering om, tapi kalau makan masakan yang dibuat oleh mommy belum pernah sama sekali... Masakan istri anda, membuat ku merasakan rasanya makan masakan buatan mommy.. " daddy Claude sedikit tersentak mendengar jawaban dari Shouken, apalagi dia melihat di sudut mata Shouken ada sedikit bekas air mata.
" Kalau begitu, Quel, telepon mommy.. Bilang untuk nanti siang masak yang lebih banyak sedikit. Biar Shouken makan sama daddy nanti.. " Quella mengangguk.
" Apa tidak apa om? "
" Tentu saja... Ada teman makan justru membuat aku makan lebih banyak lagi.. "
" Ehm... Tuan.. "
" Jangan panggil tuan.. Panggil saja Shouken.. Lagipula, sepertinya kamu lebih tua dari ku, jadi bersikapnya jangan formal begitu ya.. " Shouken langsung memotong ucapan Quella.
" Oh... Oke... Shouken, apa kamu orang Jepang? Atau keturunan blasteran Jepang begitu? Rasanya aneh, kamu tidak memiliki wajah orang Asia tapi namanya Shouken.. " tanya Quella.
" Quel, kenapa nama saja kau permasalahkan... ? " ucap Claude menegur putrinya.
__ADS_1
" Tidak apa om... Nama ku Shouken Cynfadel, kalau dibilang blasteran, mungkin.. Kakek ku adalah orang Jepang.. " ucap Shouken tidak sepenuhnya berbohong.
Quella hanya berOh ria setelah mendengar penjelasan dari Shouken. Jujur saja, menurut Quella, Shouken itu terlihat sangat manis karena kulitnya yang berwarna tan, memiliki rahang yang tegas, mata bulat, belum lagi wajahnya itu enak sekali dipandang mata. Kelihatan sangat gentle di mata Quella.
" Andai aku belum memiliki calon suami,, sudah aku sikat ini orang... Tampan, mempesona dan juga terlihat sangat berkharisma meski sifatnya mirip anak kecil... Idaman para wanita nih... Hihihihi.... " batin Quella cekikikan.
" Kak Quella, bisa minta tolong sebentar tidak? " Quella terperangah mendengar begitu merdunya suara pria ini memanggil namanya.
" Tentu.. Apa yang bisa aku bantu? " tanya Quella yang memang tidak pernah keberatan jika ada yang meminta bantuannya selama dia mampu.
" Asisten ku ada di kamar ku yang ada di sebelah kanan kamar om Claude.. Bisa minta tolong antarkan asisten ku ke ruangan dokter Quon? Perut ku terlalu kenyang untuk berjalan.. " Shouken sudah nyengir kuda, membuat Quella terkekeh pelan melihat tingkah polos dari Shouken.
" Tentu.. Aku akan mengantarkan asisten mu.. "
Begitu Quella keluar dari ruangan daddy nya, Shouken langsung mendekat dengan wajah yang sangat serius. Alis daddy Claude mengernyit melihat tingkah Shouken yang berubah sedrastis itu. Penasaran, tapi tetap tidak bisa bertanya karena itu bukan ranahnya. Shouken semakin mendekat ke arah daddy Claude dan berakhir duduk di kursi yang ada di samping ranjang.
" Jika kakek ku kemari? Bisakah om membantu ku untuk menemuinya dan membuat dia percaya bahwa dokter bernama Quon itu, adalah dokter terbaik spesialis jantung? " pinta Shouken dengan wajah yang sekarang berubah memelas.
" Memangnya ada apa? Apakah kepindahan mu ke rumah sakit ini tanpa sepengetahuan dari kakek mu? " daddy Claude tentu saja terkejut mendengar ucapan Shouken.
" Tidak.. Aku sudah dewasa tidak butuh harus dia yang selalu memutuskan apa yang aku inginkan. Aku ingin tinggal di sini, karena aku ingin mencari ayah ku.. " daddy Claude langsung iba.
" Memangnya kemana ayah mu? "
__ADS_1
" Karena suatu alasan yang tidak bisa aku jelaskan aku dan kedua orang tua ku berpisah. Dan selama ini kakek lah yang merawat dan membesarkan diri ku. Hanya saja, akhir-akhir ini aku mendengar jika kedua orang tua ku masih hidup. Jadi aku sangat ingin bertemu dengan mereka. " tidak ada keraguan di mata Shouken.
" Sungguh malang sekali nasib mu nak.. Om tidak menyangka kau sampai mengalami hal seperti itu.. "