DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU

DADDY UNTUK ANAK KEMBAR KU
Perasaan tidak enak


__ADS_3

Quon duduk di sofa yang ada di ruang kepala sekolah bersama pria yang selalu dia panggil paman. Pertemuan mereka terjadi satu tahun yang lalu, saat Quon mewakili sekolahnya dalam lomba sains dan paman ini menjadi salah satu sponsor acara itu. Paman ini begitu terkesan dengan kejeniusan Quon, entah bagaimana ceritanya yang pasti keduanya jadi dekat.


" Ada apa paman kemari? Aneh sekali.. " tanya Quon. Selain daddy dan mommy nya, hanya dengan paman ini saja dia bisa banyak bicara.


" Maaf ya paman terpaksa ke sekolahan mu.. Tapi ini mendesak dan paman ingin pamitan.. Nanti siang paman akan kembali ke negara paman.. " pamit paman itu. Memang itulah tujuan pria ini menemui Quon.


" Apa ada masalah? " tanya Quon.


" Tidak ada.. Hanya saja putra paman sekarang sedang sakit dan pengobatan di negara paman jauh lebih mumpuni dibanding di sini.. " jawab pria itu.


" Bisa kita tetap sesekali berkomunikasi.. Jika ada beberapa hal yang tidak aku pahami, aku bisa tanya paman.. " tanya Quon.


" Tentu.. Setelah paman sampai ke negara paman, pasti paman akan langsung menghubungi mu.. "


" Sudah ya,, paman tidak bisa lama-lama dan sekolah sebentar lagi dimulai.. " pria itu berdiri dan hendak pergi setelah berpamitan pada Quon.


" Oh ya Quon, jika suatu hari nanti mommy mu sadar dari komanya, bisa kau beritahu paman? " pria itu berbalik sebentar menatap Quon.


" Tentu.. " jawab Quon sambil mengangguk mantap.


Keduanya pun berpisah. Dua orang beda generasi ini bisa cocok satu sama lain karena sama-sama jenius dan memiliki sudut pandang yang sama. Setiap Quon bertemu kesulitan, dia akan langsung bertanya pada paman ini. Bukan Quon meremehkan daddy nya, tapi melihat daddy nya sibuk mengurus adik-adiknya, membuat Quon tidak ingin menyita waktu daddy nya terlalu lama.

__ADS_1


Quon pun berjalan memasuki kelasnya yang tidak begitu jauh dari ruang kepala sekolah. Rupanya guru sudah masuk ke kelas Quon. Guru itupun meminta Quon untuk segera duduk di tempatnya agar pelajaran bisa lekas di mulai. Quon pun memperhatikan apa yang gurunya terangkan dari awal hingga kelas usai.


Waktu rehat tiba, Quon pergi ke kantin besama dengan teman-temannya. Tentu saja Quon yang paling muda jika dilihat dari umur saja, tapi fisik Quon yang memang tinggi dan badannya besar tidak terlalu kentara jika usianya dengan teman-temannya berbeda.


Setiap pergi ke kantin, atau ke tempat yang banyak ditempati oleh siswa dan siswi di sekolah ini, Quon selalu menjadi pusat perhatian. Dulu dia risih dengan itu semua, tapi kini dia sudah terbiasa, asalkan jangan mengganggunya saja. Quon pernah memarahi teman sekolahnya karena terus mengganggunya denan menyatakan cinta terus menerus padahal Quon juga sudah menolaknya.


Gila jika dia yang baru berumur sepuluh tahun sudah berpikir tentang pacaran. Bagi Quon yang terpenting adalah dia bisa sekolah dan mendapatkan nilai yang membanggakan. Kemudian meraih cita-citanya yang menginginkan untuk menjadi dokter ketika ia besar nanti.


" Quon... Kau ingin makan dengan menu apa?" tanya Peter yang merupakan teman sebangkunya.


" Sandwich saja kak.. Aku sudah maan berat tadi pagi.." ucap Quon.


" Bukan itu masalahnya... Aku tidak bisa makan berat lebih dari sekali dalam satu hari. Perut ku bisa sakit karena itu.. Sejak kecil aku sudah diet karbo.." terang Quon.


Bukan alergi, tapi tubuh Quon memang tidak bisa makan terlalu banyak karbo dalam satu hari. Untuk makan setiap kali waktunya tiba, Quon harus memperhatikan berapa karbo yang akan dia konsumsi, karena dalam satu hari dia tidak boleh melebihi batas tertentu karbo yang masuk ke tubuhnya.


Entah kelainan apa yang ada di dalam tubuh Quon, tapi selama itu bukan penyakit berbahaya, Quon tidak terlalu memikirkannya. Toh hanya diet karbo saja setiap hari, bukannya tidak boleh makan. Lagipula diet karbo juga baik untuk tubuhnya, dan sebagai anak-anak yang memiliki cita-cit sebagai dokter, Quon memang harus menerapkan pola hidup sehat.


" Quon... Quon..." seorang gadis yang Quon tahu dari kelas sebelah nampak berlari-lari mendekat memanggil namanya.


" Hah...Hah...Hah...." gadis itu mengatur nafas ketika sudah sampai di depan Quon dan kedua temannya.

__ADS_1


" Silvi... Kau kenapa berlarian seperti dikejar hantu begitu?" tanya Derek.


" Aku.... mencari.... Quon..." jawab Silvi masih dengan nafas yang terengah.


Quon mengulurkan botol minuman agar Silvi bisa meminumnya. Sudah pasti berlarian seperti itu pasti akan haus. Perhatian kecil ini membuat Silvi tersipu malu, padahal Quon sama sekali tidak ada niatan lebih. Hanya sekedar membantu teman.


" Terima kasih ya..." Silvi menyerahkan botol minuman yang baru saja diminumnya pada Quon.


" Iya... Lalu kenapa kakak mencari ku?" tanya Quon tidak sabar.


" Wali kelas memanggil mu... Katanya ada yang penting.. Tadi aku juga melihat kedua adik mu.." jawab Silvi.


Quon langsung bangkit berdiri meninggalkan makanannya dan langsung menuju ke ruang guru. Jika kedua adiknya juga ikut dipanggil, berarti ada sesuatu yang penting tengah terjadi di rumah. Pikiran Quon sudah tidak tenang saat ini. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. Quon, ketakutan untuk suatu hal yang tidak dia ketahui.


" Permisi bu.. Ada apa mencari saya?" tanya Quon pada wali kelasnya begitu dia sampai di ruang guru.


" Kamu mendapatkan izin untuk pulang Quon... Daddy mu menghubungi pihak sekolah agar kamu dan adik-adik mu bisa pulang sekarang... Adik mu sudah ada di parkiran saat ini.. Cepatlah menyusul.." wali kelas Quon mengatakan pesan sesuai yan tadi kepala sekolah sampaikan padanya.


Quon bergegas berlari menuju ke tempat parkir. Benar saja ketika matanya menangkap mobil milik daddy Claude sudah terparkir rapi di parkiran sekolah, Quon juga melihat adik-adiknya melongok di jendela mobil memanggilnya.


Hati Quon tidak tenang, kenapa daddy nya sampai menghubungi pihak sekolahan untuk memintanya pulang. Mungkinkah sesuatu hal buruk terjadi di mansion.

__ADS_1


__ADS_2